
Selamat membaca ♥️
Sudah lama dia tak mendapatkan kabar dari Celia. Setelah hari itu, kekasihnya tak lagi menghubunginya. Bahkan panggilannya ditolak oleh Celia.
“Ada apa dengannya?” gumam Collin seraya menatap ponsel yang masih ada di tangannya.
“Kenapa?” Tanya Jamie yang kebetulan melintas menuju dapur, tak jauh dari tempat anaknya berdiri dan menatap benda pipih di tangannya.
“Celia tak menjawab panggilanku, Pa. Tak seperti biasanya,” keluh pria itu.
“Apa kamu melakukan kesalahan?” Selidik Jamie kepada putranya.
Collin menggelengkan kepalanya. Dia merasa tak pernah salah bicara hingga menyakiti gadis itu.
“Coba datangi rumahnya esok pagi. Datangi dengan baik-baik dan cari tahu kabarnya melalui orangtuanya,” ujar Jamie sambil menepuk pundak anaknya.
***
Sudah hampir setengah jam Collin sudah berdiri di depan pintu rumah Fabian. Debar jantungnya tak karuan saat menatap pintu kayu yang masih tertutup sempurna. Keringat dingin membasahi pelipis pria berperawakan tegap itu padahal hari masih sangat pagi, bahkan matahari belum naik terlalu tinggi. Tangannya berkali-kali terulur dan ia urungkan untuk mengetuk pintu utama rumah itu. Menekan bel yang tak jauh dari pintu itu pun dia rasanya ragu.
Collin menghirup udara segar sebanyak-banyaknya sebelum mengembuskannya perlahan. Tak lupa doa ia rapalkan agar kedatangannya tak mendapat penolakan. Dia sadar kalau kedatangannya terlalu pagi untuk bertamu.
Terdengar suara kunci yang diputar dari dalam. Tak lama papan kayu itu terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya yang menautkan alisnya saat menatap Collin. Namun, sesaat kemudian wanita itu tersenyum dan membukakan pintu rumah lebih lebar.
“Siapa, Re?” Suara Fabian terdengar dari dalam rumah itu.
Sepertinya dia juga ingin tahu siapa yang tak sopan bertamu saat hari masih pagi. Bahkan waktu masih menunjukkan pukul enam kurang lima menit.
Fabian menampakkan wajah tak bersahabat saat melihat pria yang beberapa waktu lalu cukup berjasa menyelamatkan nyawa putrinya. Meski demikian, bukan berarti Fabian bisa membiarkan pria itu bertamu terlalu pagi, bukan?
“Mau apa?” tanya Fabian ketus.
“S-saya ... Bolehkah saya ikut sarapan bersama?” tanya Collin terbata-bata.
Fabian mengangkat sebelah alisnya. Dia menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
“Apa kamu pikir aku akan mengizinkanmu ikut sarapan dengan keluargaku?” sinis Fabian.
“Kenapa tidak? Bahkan waktu itu Anda pernah mengajak Rian untuk sarapan bersama,” ujar Collin.
__ADS_1
Entah mendapat keberanian dari mana, pria itu tiba-tiba saja dengan lancar menjawab pertanyaan Fabian yang cukup membuat nyali lawannya menciut.
“Hah! Sudahlah.” Pria itu mengalah. “Ayo masuk sebelum aku berubah pikiran,” lanjut Fabian seraya berjalan mendahului Collin dan Renata yang masih berdiri tak jauh dari pintu.
Collin menatap Renata, seolah menanyakan persetujuan wanita itu dan dijawab dengan anggukan oleh ibu dari kekasihnya.
“Terima kasih, Tante,” ujar Collin yang mengangguk.
Mereka kini sudah berkumpul di ruang makan, duduk menghadap sebuah meja berukuran cukup besar di depannya.
Celia pun hadir di sana, berhadapan dengan Collin yang duduk di samping Aksa. Sementara Celia duduk di samping Renata.
Hening.
Tak ada percakapan berarti pagi itu. Sedikit berbeda dari biasa, tak seperti sebelumnya. Mereka tampak larut dalam pikiran masing-masing seraya menandaskan makanan yang tersaji di atas piring.
“Aksa sudah selesai,” ucap pria itu setelah makanan di piringnya habis. Pemuda itu kemudian beranjak dari kursinya seolah mengerti orang-orang dewasa itu ingin berbicara mengenai sebuah hal yang serius ...
Perihal sang kakak.
Setelah Aksa meninggalkan tempat itu dan menenteng tas sekolahnya ke luar rumah. Barulah Fabian menyelesaikan makanannya.
Celia pun sejak tadi tampak enggan untuk makan. Makanan di piringnya hanya beberapa sendok saja dia masukkan ke dalam mulutnya.
Meja di hadapan empat orang itu telah dibersihkan. Alat makan dan sisa makanan telah berpindah ke dapur rumah itu, dibereskan oleh Renata dibantu oleh Bi Sumi yang usianya sudah tak lagi muda.
“Ada perlu apa kamu ke sini pagi-pagi?” tanya Fabian sedikit ketus.
Renata yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan kepada sang suami agar tak berlaku demikian kepada Collin. Bukan karena hutang nyawa saja, tapi karena pemuda itu telah membuktikan kesungguhannya terhadap Celia.
“Baiklah. Sampaikan maksud dan tujuanmu,” ulang Fabian.
“Saya ke sini untuk meminta Celia menjadi istri saya, Om.”
Fabian mengangkat sebelah alisnya. Dia berpikir, kenapa Collin menjadi lebih menyebalkan daripada dirinya? Berani-beraninya dia melamar putrinya sendirian dan tak membawa apa-apa. Ditambah pemuda di hadapannya datang ke rumah ini di pagi hari dan ikut mengurangi jatah hidangan pagi ini. Ya meski Fabian tak seperhitungan itu, tetap saja dia merasa jengkel karena pemuda itu.
“Kenapa kamu tak datang melamar putriku bersama dengan keluargamu?”
“Bukankah Om Fabian tak mengizinkan Papa ikut dan bertemu ... Kalian?” Collin sekilas melirik ke arah Renata yang ikut menyimak pembicaraan antara dua pria itu.
__ADS_1
Renata pun tampak salah tingkah saat dua pria yang sama-sama menyebalkan itu saling bicara. Dia yang tak merasa melakukan kesalahan pun kena getahnya.
“Sepertinya aku dan Celia lebih baik pergi dari sini,” ucap Renata mengajak Celia bangkit dari tempat itu.
“Duduk!” titah Fabian sehingga dua wanita itu kembali duduk, mengurungkan niatnya untuk beranjak.
“Kalian juga perlu mendengarkan.” titah Fabian.
Collin menarik napas panjang dan mengembuskannya begitu saja.
“Jadi, apa Om Fabian menerima lamaranku?”
“Kamu melamarku? Maaf aku tak mau. Aku masih normal. Meski suka terong balado, aku tak mau terong imitasi seperti kamu.”
Renata menahan tawanya. Hampir saja dia kelepasan tertawa. Namun, tak demikian dengan Celia. Wanita itu tetap seribu bahasa. Seperti enggan untuk terlibat dalam pembicaraan itu.
“Apa kalian tak ingin mendengar pendapatku?”
Mereka kemudian menoleh ke arah Celia yang masih menundukkan wajahnya sejak tadi. Celia yang sebelumnya ceria, tak lagi menyunggingkan tawa seperti yang lainnya.
Fabian mengernyit. Begitu pun Collin. Raut wajahnya berubah menjadi cemas.
“Aku sudah tak ingin menikah!” ujar gadis itu kemudian bangkit dari duduknya.
Celia berlari menuju kamarnya yang ada di lantai dua, menutup dan mengunci pintu kamarnya agar tak ada orang luar yang bisa membukanya. Gadis itu meninggalkan meja di mana kedua orangtua dan juga pria yang ia cintai berada.
Renata dan Fabian menoleh bergantian ke arah Collin yang juga mengangkat bahu, tak tahu apa yang terjadi pada kekasihnya itu. Dia datang baik-baik dari rumahnya benar-benar serius untuk meminta Celia menjadi istrinya.
“Apa kamu menyakiti Celia?” tanya Fabian penuh selidik. Ia memicingkan matanya saat bertanya.
“Tidak, Om. Bahkan sejak dari rumah Oma Hana, Celia tak membalas pesanku satu pun,” ungkap Collin.
Pria itu tak mengerti dengan sikap Celia. Apa berarti saat ini dia mendapat penolakan dari Celia sendiri? Tapi, mengapa?
Ada apa dengan Celia?
to be continued ♥️
thanks for reading 🥰
__ADS_1
jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚