Celia

Celia
Damai


__ADS_3

Bayi kecil yang beberapa jam yang lalu lahir itu kini sudah ada di ruangan khusus di mana pihak keluarga hanya bisa melihat makhluk mungil itu dari luar ruangan, melalui jendela besar berlapis kaca. Mereka takjub dengan malaikat kecil yang tengah menggeliat dengan begitu menggemaskan. Benar-benar perpaduan yang pas antara Celia dan Collin.


“Cucuku!” celetuk Fabian saat menatap makhluk mungil yang diberi nama Langit itu.


Pria paruh baya itu menyeka sudut matanya yang basah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya saat ini menggenggam sang istri yang juga turut menyaksikan bayi kecil itu di dalam kotak bayinya.


Collin baru saja selesai membersihkan diri. Kini dia menemui mertuanya yang tengah menatap Langit kebanggaannya.


“Kapan dia bisa dibawa pulang?” tanya Fabian saat menyadari menantunya kini mendekat.


“Kalau dalam enam jam kondisi bayi dan ibunya membaik, besok sudah bisa dibawa pulang ke rumah, Dad,” jawab Collin.


“Pulang ke rumahku!”


“Bi,” sela Renata menghentikan kegilaan suaminya yang masih sedikit susah dihilangkan.


“Kenapa?” aku juga ingin bersama dengan cucuku.”


“Mereka sudah punya rumah sendiri. Jai biarkan Celia mandiri,” ucap Renata mengingatkan Fabian.


“Tapi, aku juga ingin mengawasi tumbuh kembang cucuku.”


“Dia juga cucuku!” sebuah suara tiba-tiba terdengar dari kejauhan.


Seorang pria yang usianya tak jauh beda dengan Fabian kini berjalan mendekat ke arah mereka.


“Pa?” Collin menyambut tangan papanya dan menciumnya dengan takzim.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Jamie kepada putranya yang tampak sedikit kelelahan.


“Aku baik, Pa. Papa kapan sampai? Kenapa tak menghubungiku, biar aku bisa menjemputmu,” ucap Collin menatap papanya yang tersenyum tanpa mengeluarkan kata balasan atas pertanyaan pemuda itu.


Jamie menatap tajam kerabat yang juga merupakan besannya itu. Genggaman tangan yang posesif itu membuat Jamie geli melihatnya. Fabian masih tampak kekanakan saat berhadapan dengannya.


“Kenapa kamu ke sini? Bukannya kamu berjanji kalau kamu tak akan datang ke sini lagi?” tanya Fabian tajam.


“Aku ke sini ingin menemui anak dan putriku saja. Ah, dan juga menemui cucuku,” cibir Jamie.

__ADS_1


Fabian sudah hampir meluapkan amarahnya kepada pria yang pernah terlibat jauh dengan keluarganya itu kalau saja Renata tak menahan lengannya. Rasa cemburu itu terkadang masih saja muncul saat mengingat kembali bagaimana pria itu hampir merebut istrinya.


“Maaf mengganggu pembicaraan kalian. Sepertinya Celia saat ini membutuhkan bantuan,” seorang wanita menyela pertikaian dua pria yang memiliki masa lalu tak menyenangkan itu.


“Saya akan ke sana. Tolong jagakan papa saya,” ucap Collin kepada wanita yang kini sudah menggenggam erat lengan Jamie di hadapan semua orang.


“Oh, iya. Perkenalkan, dia istriku,” ucap Jamie tersenyum.


Entah mengapa senyum yang terbit di wajah pria itu tampak sangat menyebalkan di mata Fabian.


Renata melepaskan genggaman tangannya pada lengan Fabian. Dia menghambur ke arah wanita yang kini bisa menaklukkan hati serang Jamie setelah sekian tahun lamanya pria itu hidup sendiri membesarkan Collin.


“Hai, aku Renata. Dan dia adalah suamiku, Fabian,” ucap Renata seraya mengulurkan tangannya kepada wanita yang berdiri di samping Jamie.


“Hai. Saya Tiffany. Senang berkenalan dengan Anda,” sahut Tiffany seraya menyambut uluran tangan Renata


“Tak perlu terlalu formal. Bagaimanapun dua pria aneh itu adalah bersaudara. Lebih baik kita tinggalkan mereka berdua. Mereka memang suka begitu,” ucap Renata seraya mengajak istri dari Jamie yang masih sangat muda. Bahkan ia bisa menebak kalau usianya taj terlalu jauh dengan usia putrinya, Celia.


Dua wanita itu kini benar-benar meninggalkan Jamie dan Fabian yang tengah berdiri canggung di depan jendela kaca ruang bayi. Keduanya masih menatap jendela besar itu dengan pikiran masing-masing.


“Tak terasa ya, kita sudah mempunyai cucu,” Jamie memulai pembicaraan degan saudaranya itu. Meski mereka bukan saudara kandung, setidaknya dulu mereka pernah dekat dan bermain bersama. Saling mendukung da tak terpisahkan saat masih remaja.


Fabian yang tak percaya dengan apa yang didengarnya itu pada akhirnya menoleh ke arah Jamie.


“Setidaknya aku sudah meminta maaf dan bukan sepertimu yang masih terjebak dengan masa lalu,” sindir Jamie.


Fabian menundukkan kepalanya. Dia pun sadar kalau dirinya masih terjebak dengan masa lalu yang masih terus membayanginya dan seperti enggan pergi dari pikirannya.


“Aku benar-benar sudah tak memiliki perasaan apa pun pada Renata. Aku tahu kalian saling mencintai. Ya ... meski sempat oleng karenaku sebentar,” kekeh Jamie.


Fabian akhirnya menyunggingkan senyumnya. Dia merasa lega karena benang kusut yang selama ini mengikat kuat isi kepalnya terurai begitu saja.


“Aku akan menemui Celia dulu,” pamit Jamie kepada besannya itu.


Fabian menganggukkan kepalanya sebagai bentuk jawaban. Dia masih merasa belum cukup melihat cucunya yang benar-benar membawa berkah bagi dua keluarga yang kini benar-benar bisa menjadi satu.


***

__ADS_1


Sementara itu, di dalam kamar rawat Celia, hampir semua yang ada di sana menggoda Tiffany yang bisa-bisanya menyukai Jamie yang usianya sudah kepala empat.


“Yang matang biasanya itu sangat manis,” celetuk Tiffany tanpa menyadari kalau Jamie sudah ada di belakangnya.


“Memangnya apa yang Tante sukai dari Papa?” tanya Celia.


“Entah mengapa aku merasa menjadi tua seketika kalau kamu memanggilku dengan sebutan Tante,” ucap Tiffany menundukkan kepalanya.


“Lalu? Harus dipanggil apa?” suara Jamie membuat wanita itu membolakan kedua matanya.


Seketika Tiffany berbalik dan menutup wajahnya yang memerah. Kulit putih wanita itu benar-benar membuatnya memerah seperti udang rebus.


“Jangan menggoda mama mudaku seperti itu, Pa,” ledek Collin kepada papanya.


“Kapan kalian mengadakan pernikahan? Kenapa tak mengundang kami?” tanya Renata.


“Jangankan Mommy, kami saja diberitahu hanya melalui telepon dan itu pun saat Papa sudah mengucap ijab kabul pernikahannya.” Celia kembali angkat suara.


“Bagaimana ceritanya?” tanya Renata yang kini menatap pasangan baru itu dengan antusias.


“Ceritanya panjang,” ucap Jamie hendak memulai kisahnya dengan Tiffany.


Hanya saja sebuah suara yang berasal dari balik pintu membuat semuanya menoleh ke arahnya.


“Maaf mengganggu sudah waktunya bayi menyusu,” ucap seorang perawat seraya tersenyum.


Mereka pun diminta keluar terlebih dahulu. Hanya menyisakan Collin dan Celia yang ada di dalam ruangan bersama dengan Langit dan sang perawat yang membantu Celia dalam menyusui bayinya.


“Lekaslah bertumbuh, Nak. Terima kasih kamu telah hadir di antara kami,” lirih Collin seraya mendekap dari belakang istrinya yang tengah menyusui buah hati mereka


“Aku tak sabar menantikannya tumbuh besar.” Collin beralih menatap Celi yang tersenyum.


“Ngomong-ngomong, apa kamu ada rencana memberikan adik untuk Langit?”


Celia menatap tajam suaminya. Rasa sakit pasca melahirkan itu masih belum hilang ia rasakan, dan kini Collin sudah berencana ingin menambah pasukan? Yang benar saja!


to be continued ♥️

__ADS_1


thanks for reading ♥️


__ADS_2