Celia

Celia
Kerja Sama


__ADS_3

Happy reading


Pria itu membuka pesan sosial medianya yang ternyata dari papanya. Sesaat pria itu terkekeh saat mengetahui pria tua itu masih bermain sosial media bergambar kamera yang biasanya menjadi alat komunikasi antara dirinya dan juga Celia.


Collin membalas pesan sang papa dan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Bahkan pemuda itu meminta tolong kepada papanya untuk mengajukan pindah tugas dari Jerman ke Indonesia. Semua itu dia lakukan demi Celia. Lagi pula keluarga besarnya seharusnya ada di negara ini juga, bukan?


Saat pria itu sedang asyik bermain ponselnya membalas pesan dari sang ayah, tanpa sengaja dia menabrak seseorang. Orang itu membawa beberapa tumpuk barang seperti baru saja memborong barang belanjaan dari sebuah pertokoan.


"Maaf," ujar Collin seraya membantu pria itu menyusun tumpukan barang itu.


“Collin?” suara seseorang yang dia kenal menyapa pendengaran pria keturunan Indo Jerman itu.


“Davin?” sahut Collin sedikit terkejut.


“Hai, bagaimana kabarmu? Kenapa kamu menghilang tanpa kabar?” tanya pria itu.


Sepertinya sepupu dari Celia itu tak mendengar apa yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Sepertinya pia itu juga tak mengetahui apa yang terjadi di antara dirinya dan sepupu pria itu. Apa mungkin keluarga Celia menutup rapat menyembunyikan hal itu?


“Kabarku baik. Bagaimana denganmu?” tanya pria itu.


“Hei. Seperti ini kau bilang baik?” ucap pria itu.


“Ayo ikut denganku. Kita akan bicara di tempat lain,” imbuh pria itu mengajak Collin pergi ke suatu tempat.


Keduanya kemudian berkendara menuju sebuah kafe yang tak terlalu jauh dari tempat semula. Keduanya kemudian turun dari mobil, dan masuk ke dalam bangunan bernuansa klasik. Kafe itu buka sejak pagi hingga pukul sepuluh malam.


Pengunjungnya lumayan banyak dan kebanyakan pemuda dan remaja duduk di sana dengan temannya meski hanya sekedar meminum kopi dan berbincang masalah random bersama.


Dua orang itu memesan minuman dan beberapa camilan seperti mini sandwich dan mix gorengan. Saat menu yang mereka pesan sudah dihidangkan, keduanya terlibat pembicaraan serius dan tentu saja menegangkan.


“Jadi, ke mana saja kamu selama ini? Kenapa tak memberi kami kabar?” tanya pria itu lagi mengulang pertanyaan yang sama dengan sebelumnya.


“Aku ... hanya mendapatkan sedikit masalah,” kekeh pria itu.

__ADS_1


Davin menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar. “Apa kamu sudah mendengar kabar bahwa Celia akan menikah?” selidik pria itu.


Collin mengangkat wajahnya. Pria itu tampak terkejut mendengar pernyataan bahwa Celia benar-benar akan menikah.


“Kamu tahu siapa calon mempelai prianya?” selidik Collin.


“Daddy Bian masih belum memberi pernyataan resmi tentang siapa calon suami Celia. Hanya saja keluarga besar sudah diberitahu kalau gadis itu akan menikah.”


Collin tampak mengepalkan tangannya. Pria itu marah mendengar berita itu. Padahal mereka tahu kalau Celia memilikinya sebagai kekasih. Namun, mengapa mereka justru menikahkan Celia dengan orang lain?


“Tak ku sangka gadis itu akan menikah juga,” kekeh Davin.


“Apa kamu tahu sesuatu yang sebenarnya?” tanya Collin.


Davin mengangkat sebelah alisnya. Pria itu bahkan menghentikan gerakannya yang hendak menyeruput minuman dingin di hadapannya. Pemuda itu menunggu apa yang akan dikatakan oleh teman baiknya itu. Karena Collin tak kunjung berbicara, akhirnya Davin menyedot minuman dingin itu untuk meredakan dahaga setelah memakan beberapa camilan ringan di depannya.


“Aku dan Celia berkencan. Kami menjalin hubungan ... berpacaran.”


Mendengar perkataan pria itu, Davin menyemburkan minuman yang belum sempat ia telan. Membuat pria di hadapannya terkena sedikit minuman yang sudah bercampur dengan cairan lain dari mulutnya.


“Kamu serius?”


Collin pun mengangguk mengiyakan pertanyaan pria di hadapannya.


"Benar-benar serius maksudku ?" tanya Davin meyakinkan.


"Iya, demi Tuhan.. aku sangat serius," jawab Collin penuh tekanan dalam intonasi suaranya. "Aku membutuhkan bantuanmu. Apa kamu akan membantuku?” lanjutnya.


“Tunggu dulu. Bagaimana bisa aku percaya pada perkataanmu? Ap bukti kala kamu berkencan dengan sepupuku, Celia? Maksudku, aku tahu kita berempat adalah orang dekat. Kau, aku, Darell dan Celia, bagaimana mungkin? Sejak kapan?” tanya Davin beruntun, ia masih tak percaya dengan apa yang Collin utarakan.


“Aku akan menjelaskannya nanti. Hanya saja, yang perlu kamu tahu, aku benar-benar mencintai Celia. Aku tak rela kalau dia menikah dengan Rian.”


“Tunggu! Apa maksudmu calon suami Celia adalah Rian? Asisten Daddy Bian?” tanya pria itu lagi masih tak paham.

__ADS_1


Collin menganggukkan kepalanya. “Dan apa kamu tahu? Aku babak belur seperti ini karena ulah pria itu.”


“Kau pantas merimanya,” kekeh Davin.


“aku memang pantas menerima ini tapi itu kalau Aksa atau Om Fabian yang menghajarku. Tapi ini ... Rian bahkan ingin melenyapkanku. Dan aku yakin sebenarnya dia telah mengadu domba aku dan Om Fabian,” ujar Collin menerangkan.


“Jujur saja aku masih terkejut karena kamulah pria yang disukai oleh Celia. Kalau pria lain, aku yakin mereka hanya akan mempermainkan Celia. Tapi aku tak suka kalau sampai rian masuk ke dalam keluarga besar kami.”


“Apa itu berarti kamu mendukungku?” tanya Collin dengan mata berbinar.


“Terpaksa! Daripada Celia harus dengan Rian. Jadi, apa yang bisa aku bantu untukmu?” tanya pria itu lagi.


Collin pun memberitahu rencana dan keinginannya untuk Celia. Pria itu sungguh tak rela jika kekasihnya harus bersanding dengan pria lain yang entah mengapa Collin merasa kalau Rian bukanlah orang biasa. Dari sikap dan perkataan pria itu seolah ada sesuatu yang mencurigakan. Sesuatu yang tak kasat mata yang mungkin akan menyakiti Celia ke depannya.


“Baiklah. Aku akan membantumu. Tapi aku akan menemui Celia dahulu malam ini. Kita akan memulai rencanamu besok,” ujar Davin memutuskan.


Collin menganggukkan kepalanya. Setelah berbincang banyak hal termasuk bercerita mengenai awal mula hubungannya dengan Celia, mereka akhirnya memutuskan pulang ke rumah masing-masing. Tak lupa Collin bertukar nomor dengan Davin karena dia tak ingat nomor pria itu, pun nomor ponselnya saat ini adalah nomor baru.


“Aku akan menghubungimu lagi nanti.”


Collin menganggukkan kepalanya. Pria itu kemudian pergi, kembali menuju ke lokasi di mana kamar kostnya berada. Pria itu tak menyadari kalau ada seseorang yang mengikuti dirinya di belakangnya.


Pria itu terlalu sibuk memikirkan Celia hingga tak sadar kalau ada orang lain yang kini mengetahui di mana keberadaannya.


Seseorang yang mengikuti Collin cukup terkejut melihat pria yang tumbuh di kalangan orang berada itu pada akhirnya harus hidup di sebuah tempat di pinggiran kota bahkan tinggal di sebuah kamar sewa yang bahkan tak lebih luas dari kamar pria itu sendiri.


“Ternyata kamu tinggal di sini,” gumam pria yang mengikuti Collin itu.


“Sungguh menyedihkan,” lanjut pria itu lagi kemudian pergi meninggalkan area tempat tinggal sementara Collin.


to be continued ♥️


thanks for reading ♥️

__ADS_1


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚


__ADS_2