
Celia saat ini sudah ada di dalam kamarnya. Setelah pulang bekerja, gadis itu kembali ke rumahnya dan langsung masuk ke kamarnya seperti biasa. Tak mendapatkan kabar tentang Collin membuat gadis itu tak berselera melakukan apa-apa. Bahkan untuk makan dan mandi saja dia merasa enggan.
Gadis itu menatap sosial media Collin yang masih aktif. Berharap tanda hijau tampak di perpesanan sosial media itu yang menandakan bahwa lelaki itu sedang online di tempat yang berbeda.
“Aku merindukanmu,” lirih gadis itu hampir tak terdengar.
“Apa kita masih menatap langit yang sama?” ucapnya lagi dengan suara bergetar menahan tangisnya karena rasa rindu yang Celia rasa sudah tak terkira lagi. Sungguh ia sangat menderita menahan rasa rindu yang menggebu.
Pintu kamar gadis itu diketuk dari luar. Suara seorang wanita yang sangat dia kenal terdengar dari luar, mengingatkan dirinya bahwa sudah waktunya makan malam.
“Mommy dan yang lainnya tunggu di bawah,” ucap Mommy gadis itu sebelum kemudian terdengar suara langkah menjauh dari ruangan itu.
Celia menutup layar ponselnya dan meletakkan kembali benda pipih itu ke atas nakas yang ada di samping tempat tidurnya. Dia tak menyadari kalau benda pipih itu dalam mode getar.
Benda pipih itu bergerak karena getaran yang ditimbulkan saat ada sebuah pesan atau panggilan masuk ke nomornya. Berulang kali ponsel gadis itu menyala dan bergetar di atas meja kecil di samping tempat tidur Celia. Lebih dari sepuluh kali panggilan masuk ke dalam benda berukuran 5,5 inci itu.
Namun, sang pemilik tak meraih benda itu karena masih menikmati makan malam bersama.
Tepat saat jam makan malam, saat semua orang tengah sibuk menikmati hidangan makan malam, Collin melancarkan aksinya. Pria itu tak mau kalah dengan Celia yang jago memanjat dinding menuju kamar gadis itu.
Dengan kunci cadangan yang telah ia simpan sebelum memberikan dua kunci lainnya pasca memperbaiki jendela kamar itu, Collin dengan mudah membuka jendela kamar itu dari luar. Tak lupa pria itu mengeluarkan obeng untuk membuka teralis besi yang masih terpasang di jendela itu.
Beruntung teralis besi itu dipasang dengan menggunakan beberapa baut yang masih mudah ia buka dengan obeng yang pria itu bawa.
Semua telah tersusun sempurna di kepala Collin. Rindunya kepada Celia rasanya sudah tak bisa terbendung lagi. Apalagi mendengar bahwa Celia akan dijodohkan dengan pria yang sama sekali tak ia harapkan untuk menjadi suaminya.
Pria itu berhasil membuka teralis besi yang menghalangi dirinya masuk. Tak lupa pria itu memasang kembali baut yang sebelumnya ia lepaskan, namun pria itu memasangnya longgar agar mudah saat dia hendak keluar dari kamar itu.
Dengan langkah mengendap-endap tanpa suara, pria itu berjalan menuju meja rias gadis itu.
__ADS_1
Collin meletakkan sebuah benda kecil di tempat tersembunyi yang ada di meja dengan cermin sedikit besar itu. Benda itu akan membantu pergerakan Collin untuk memantau Celia saat pria itu tak sedang berada di tempat itu dengan Celia.
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Pria itu cukup lama berada di kamar itu. Pun Celia yang cukup lama makan malam dengan keluarganya.
Hingga terdengar suara langkah kaki mendekat dan pintu yang menutupi ruangan itj berputar kenopnya. Tak lama seseorang muncul dari balik kamar gadis itu.
Collin bersembunyi di balik pintu kamar itu. Hingga akhirnya gadis itu menutup pintu kamarnya, barulah Collin meraih kunci pintu kamar gadis itu, memutar anak kuncinya dan menggeser kunci ganda yang ada di kamar gadis itu.
“Aa-“ tangan Collin sigap membungkam mulut Celia yang hendak berteriak.
“Ini aku ... Collin,” bisik pria itu.
Celia menganggukkan kepalanya. Tepat saat pria itu melepaskan tangannya, gadis itu langsung menabrak tubuh pria itu. Memeluknya dengan sangat erat, menyalurkan rindu tertahan yang sudah beberapa hari terakhir nyaris padam karena sebuah ancaman.
“Aku merindukanmu, Collin,” bisik gadis itu tanpa bisa menahan laju air matanya hingga membasahi kain pakaian kekasihnya.
“Aku juga merindukanmu,” balas Collin dan membalas pelukan gadis itu sama eratnya. Ia memberikan ciuman di puncak kepala Celia berulang kali seolah tak kunjung puas.
Hingga akhirnya penyatuan bibir mereka terlepas saat pasokan oksigen yang masuk ke paru-paru mereka mulai berkurang. Keduanya terengah dengan masih menyatukan kening mereka, menikmati sisa rindu yang sudah cukup lama tak tersalurkan meski hanya sekedar bertemu.
“Terima kasih telah bertahan menungguku, Celia,” ucap Collin saat melepas tautan bibirnya dari Celia.
“Terima kasih juga kamu telah kembali untukku, Collin,” balas gadis itu.
Keduanya kembali berpelukan, tak lagi ingin terpisahkan. Dengan sengaja Celia pura-pura terjatuh saat menyadari bahwa mereka saat ini dekat dengan ranjang. Gadis itu menjatuhkan dirinya hingga akhirnya Collin menindih tubuh Celia yang kini terlentang di atas tempat tidurnya.
Collin berusaha bangkit, namun Celia memeluk pria itu dengan sangat erat.
“Apa kamu mencintaiku, Collin?” tanya Celia
__ADS_1
menatap manik hitam Collin yang sangat dalam.
“Apa kamu masih meragukanku?” tanya Collin membalas tatapan kekasihnya.
“Aku tak yakin dengan perkataanmu. Kamu tak pernah membuktikan bahwa kamu benar-benar mencintaiku.”
Mendengar perkataan Celia, ego pria itu sedikit terpancing. Pria itu menatap wajah Celia yang sedikit memerah. Collin tahu kalau saat ini Celia tampak frustrasi dengan hubungan mereka. Pemuda itu pun demikian. Namun, dia tak ingin gegabah dan salah langkah.
“Bagaimana caranya agar kamu yakin kalau aku benar-benar mencintaimu, Celia?” tantang pria itu sembari merapikan anak rambut yang menutupi wajah gadis itu.
“Bukankah sudah jelas?” ucap Celia.
Tanpa menunggu lama, gadis itu kembali menarik Collin dan kembali menautkan bibirnya dengan pria itu, menyesap bibir kekasih yang sangat dia cinta. Tak hanya itu, Celia dengan beraninya mengeksplor mulut pria itu dengan lidahnya hingga kedua lidah pasangan itu menari-nari dan saling bertautan di dalam sana.
Tak berhenti di sana, Celia menggerakkan tangannya menuju bagian bawah lelaki yang saat ini ada di atasnya. Beberapa kali gadis itu mengusap bagian luar celana pria yang saat ini tengah beradu bibir dengannya.
Setelahnya tangan gadis itu berusaha membuka pengait dan resleting celana yang dipakai oleh Collin. Namun apa yang dilakukan gadis itu digagalkan oleh pemiliknya. Collin menangkap tangan Celia, menghentikan pagutan yang sedang ada di puncaknya.
Collin menatap Celia dengan tatapan tajam. Salah satu tangan pria itu masih memegang dengan erat Lengan Celia yang hampir membangkitkan jiwa lelaki pria itu.
“Hentikan, Celia!” Suara pria itu masih terdengar sedikit terengah. Collin tak menampik kalau dirinya mulai terbakar oleh apa yang dilakukan gadis yang ada di bawahnya.
“Kenapa Collin? Apa kamu tak mencintaiku?” tanya Celia seraya menatap dalam mata sang kekasih.
“Apa menurutmu dengan cara ini menunjukkan kalau aku mencintaimu?" tanya Collin.
Celia menganggukkan kepalanya. “Apa kamu tak akan menyesal?” tanya pria itu lagi.
to be continued ♥️
__ADS_1
thanks for reading ♥️
jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚