Celia

Celia
Bantuan Lainnya


__ADS_3

Happy reading ♥️


Sesaat tak ada jawaban dari Jamie akan pertanyaan wanita dengan rambut memutih itu. Pria itu tampak berpikir mencoba menghindari pertanyaan dari mamanya yang secara tak langsung membuka kejadian masa lalu yang mungkin sulit untuk diterima.


“Mama doakan saja yang terbaik untuk Collin. Semoga harapan Mama bisa terwujud,” ucap Jamie sungguh-sungguh.


***


Hari ini, rumah yang biasanya tampak sepi mulai ramai. Para pekerja pun sibuk membantu sang pemilik rumah yang mulai mempersiapkan acara pernikahan. Meski nantinya resepsi pernikahan akan dilaksanakan di sebuah gedung serba guna, tapi di rumah besar itu juga diadakan tasyakuran di mana mereka juga mengundang anak yatim piatu dari sebuah panti asuhan untuk berbagi kebahagiaan.


Sementara sang calon pengantin wanita saat ini tak bisa mendeskripsikan apakah dia bahagia atau terluka. Lengkungan tipis ke atas tak tampak di wajah gadis itu. Beberapa hari terakhir, gadis itu selalu duduk termenung di dekat jendela kamarnya, menatap langit yang setiap hari cerah namun berbanding terbalik dengan hatinya.


“Apakah kamu menyerah akan hubungan kita, Collin?” gumam gadis itu.


Ketukan pintu kamarnya membuat gadis itu menoleh. Ia mengusap jejak air mata yang mengalir tanpa permisi beberapa saat yang lalu. Gadis itu kemudian bangkit dan berjalan menuju pintu yang sengaja ia tutup namun tak di kunci.


“Boleh Mommy masuk?” tanya Renata yang ada di balik pintu.


Senyum tipis Celia sunggingkan untuk Mommy tercintanya.


Setelah orangtua perempuannya masuk ke dalam kamar, gadis itu bergegas menutup pintu kamarnya kembali. Celia terkejut saat Renata tiba-tiba memeluk gadis itu. Suara tangis wanita paruh baya itu terdengar meski Sangat samar.


“Celia tak apa-apa, Mom,” ucap gadis itu memaksakan senyum.


“Jangan lagi berbohong Celia,” ucap wanita itu.


Renata memberikan sebuah kertas kepada gadis itu beserta amplop cokelat besar yang sedikit tebal.


“Davin mengirimkan itu. Maaf karena Mommy membuka surat itu terlebih dahulu,” ungkap Renata.


“Bacalah!”

__ADS_1


Celia bergegas membuka secarik kertas putih yang terpisah dari amplop itu. Irama jantungnya berdetak tak karuan. Pikirannya pun mulai berkeliaran tanpa terkendali.


Sebuah surat di mana di bagian ujung bawahnya tertera sebuah nama orang yang sangat dia rindukan.


Celia


Hai, apa kabar? Kamu merindukanku, bukan? Aku juga. Maafkan aku tak memberimu kabar. Tapi aku sedang mengusahakan agar selanjutnya kita tak akan mendapat kendala secara administratif dalam menjalin hubungan. Tunggu aku. Aku akan benar-benar datang membawamu, mempersuntingmu dan menghadapi Daddy-mu meski sangat sulit untuk meminta padanya mengganti mempelai prianya.


Bersiaplah. Mungkin surat ini akan tiba terlambat. Namun, mungkin bertepatan dengan hari di mana akan ada sebuah hal besar yang akan aku lakukan. Aku sudah memikirkannya baik-baik. Aku akan menunggumu di taman kota, malam hari. Kamu masih ingat bagaimana caranya kabur bukan?


Dari kekasihmu


Collin


***


Untaian kata yang begitu lugas tertulis dalam kertas berwarna putih itu. Tangan gadis itu bergetar diiringi tetes bening yang membanjiri kedua matanya hingga tak terbendung melewati pipinya.


Kebahagiaanmu lebih penting,” ucap Renata tegas.


Wanita itu sudah yakin dengan keputusannya kalau akan membantu anaknya keluar dari rumah ini. Memberikan restu bagi putrinya dengan lelaki pilihan Celia sendiri. Dia tak ingin putrinya terjebak dalam ikatan pernikahan yang tak diinginkan.


“Terima kasih, Mom,” desis Celia.


Gadis itu kemudian memeluk mommy-nya yang saat ini ada di hadapannya. Berkali-kali mengucapkan rasa terima kasih kepada wanita itu.


“Bersiaplah. Tak perlu membawa koper. Mommy yakin uang ini cukup untukmu membeli beberapa pakaian. Selebihnya Mommy pasrahkan kamu kepada Collin. Dia pasti akan bertanggung jawab atas kamu,” ucap Renata seraya membelai rambut putrinya.


“Bagaimana dengan acara hari ini, Mom?” tanya Celia khawatir.


“Serahkan semua kepada Mommy.”

__ADS_1


Kedua mata gadis itu berkaca-kaca mendengar perkataan wanita gang paling ia cintai, Mommy-nya. Wanita itu rela mengorbankan apa pun bahkan menentang suaminya demi anaknya meski ia tahu kalau bukan hal baik saat dia menentang sang suami. Bagaimanapun dia adalah istri seorang Fabian. Tapi dia tak ingin putrinya tertekan karena menikah dengan pria lain yang tak diinginkan oleh anak gadisnya untuk dijadikan suami.


***


Malam ini, satu per satu anak yatim piatu dari panti asuhan datang ke rumah Fabian. Sesuai undangan, mereka datang pukul tujuh malam setelah menjalankan ibadah empat rakaat di malam hari. Dengan hati gembira mereka datang ke rumah orang yang mengundang mereka.


Celia juga ikut serta menyambut anak-anak yang tak memiliki ayah, ibu, bahkan tak memiliki dua orangtua. Kebanyakan dari mereka masih berusia di bawah lima belas tahun. Ada yang masih balita dan mereka sangat menggemaskan.


Acara doa bersama itu diadakan dengan sangat khidmat, terlebih Fabian meminta anak-anak itu mendoakan putrinya yang akan menikah. Berharap mereka ikut mendoakan pernikahan Celia yang akan diadakan esok harinya akan berlangsung tanpa hambatan dan berharap agar kedua mempelai bahagia.


Doa yang tulus mereka panjatkan bagi Celia yang juga ikut serta dalam kegiatan itu. Dia saat ini diapit oleh dua orangtuanya yang berpakaian putih polos senada dengannya.


Lantunan doa mereka panjatkan untuk Celia yang tampak begitu khusyuk hingga memejamkan mata merapalkan doa.


Tak ada yang tahu bahwa gadis itu memanjatkan doa agar dirinya bisa bersanding dengan Collin. Gadis itu juga berdoa agar dia bisa pergi bersama dengan lelaki pilihan hatinya yang sudah menantinya di tempat yang sudah ditentukan.


“Apa kamu sudah siap?” bisik Renata kepada anak gadisnya.


Celia menganggukkan kepalanya. Dia sudah diberitahu kalau malam ini pengamanan dilonggarkan karena semua pekerja dan pengawal ikut serta dalam acara doa bersama.


“Mommy sudah berpesan kepada pengasuh panti untuk membawa serta kamu. Mommy akan mengalihkan fokus Daddy-mu.”


“Bagaimana kalau ketahuan, Mom?”


“Mereka sudah mengatur cara agar kamu ikut dalam rombongan. Mommy yakin kamu bisa lolos. Doa Mommy menyertaimu, Nak,” ucap Renata.


Celia menganggukkan kepalanya. Gadis itu perlahan mendekat ke arah anak-anak panti yang mulai berkerumun. Bahkan saat acara usai, mereka tak lagi fokus dengan Celia karena tadi gadis itu mencoba berinteraksi dengan anak-anak panti yang hadir.


Saat anak-anak itu pulang, Fabian merasa ada sesuatu yang hilang. Namun pria itu masih belum menyadari apa yang ia lewatkan. Saat acara malam itu selesai dan mobil panti asuhan yang membawa anak-anak itu pergi, barulah dia menyadari sesuatu.


“Di mana Celia?!”

__ADS_1


Renata memainkan perannya dengan sangat baik. Wanita itu ikut berpura-pura panik karena melewatkan pengawasannya akan Celia.


__ADS_2