
Selamat Membaca ♥️
“Daddy sudah memutuskan agar kamu menikah dengan Rian.”
Senyum kemenangan terukir dalam wajah asisten Fabian itu. Sesuatu yang awalnya dia pikir susah untuk mendapatkan Celia, ternyata tak sesulit yang dibayangkan. Hanya dengan sedikit bubuhan salah paham, membuat orangtua wanita yang dia cintai memberikan restu padanya.
Keberuntungan seperti sedang berpihak pada pria itu. Bahkan, Renata dan Celia memilih diam dan meninggalkan Fabian dan juga Rian.
Renata kecewa dengan keputusan sepihak Fabian. Wanita itu kesal karena suaminya tak mendiskusikan tentang keputusan pernikahan Celia dengannya. Jujur saja ada rasa tak suka wanita itu pada pemuda pilihan suaminya.
“Kamu kembalilah ke kantor. Tolong urus urusan kantor hari ini.”
“Baik, Pak,” ucap Rian mengangguk.
Fabian kemudian mengejar istrinya yang saat ini merajuk kecewa karena ulahnya. Meninggalkan Rian yang pamit pergi menuju kantor.
Fabian membuka pintu kamar di mana sang istri kini duduk termenung di tepi ranjang. Pria itu tersenyum melihat sang istri yang ternyata ada di kamar mereka.
Sementara Renata hanya menoleh sesaat saat pria itu masuk ke dalam kamar. Wanita itu masih tak habis pikir dengan suaminya yang benar-benar keterlaluan.
Sangat!
“Hei, apa masih marah?” Fabian mencoba merayu wanita yang saat ini ia dekati.
Pria itu duduk di samping istrinya, mencoba merengkuh istrinya. Namun, sentuhannya berkali-kali ditepis oleh Renata.
“Apa yang membuatmu memutuskan untuk menjadikan Rian sebagai calon suami Celia?” tanya Renata buka suara.
Fabian terdiam sesaat. Pria itu mengembuskan napas kasar. Dia sendiri bahkan tak tahu dengan apa yang di pikirannya. Rasa trauma ditinggalkan dan rasa takut kehilangan Renata dan Celia berulang kali menghantui pria itu. Dia bahkan tak rela ada orang lain membawa Celia seperti halnya Renata yang nyaris ‘dibawa’ oleh Jamie.
“Aku hanya tak ingin kalian pergi jauh dariku. Hanya itu,” jawab Fabian yang masih belum mau terus terang.
Renata menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. Keningnya berkerut mendengar jawaban suaminya yang tak sepenuhnya diungkapkan oleh pria itu.
__ADS_1
“Celia sudah berkali-kali mencoba untuk pergi. Apa menurutmu keputusan menikahkannya dengan Rian tidak akan membuatnya pergi?” tanya Renata.
“Setidaknya Rian telah berjanji kalau setelah menikah, dia tak akan membawa Celia pergi dari rumah ini.”
Renata membulatkan mulutnya, tak sanggup lagi berkata-kata. Menjawab perkataan suaminya pun rasanya percuma. Tapi ...
“Apa kamu mengenal latar belakang Rian?” tanya Renata memicingkan kedua matanya.
“Bukankah setiap orang yang menjadi asistenku harus mengirim CV saat melamar pekerjaan?”
“Lalu?”
“Semua datanya valid. Tempat tinggal dan latar belakangnya sesuai dengan data yang ada. Dia bukan orang berada, tapi juga bukan dari kalangan ekonomi rendah.”
***
Sepanjang perjalanan, wajah pria itu tak lepas dari senyuman. Pikirannya saat ini benar-benar dipenuhi oleh wajah gadis cantik yang merupakan anak dari bosnya. Pria itu tak menyangka kalau pertemuan pertama dengan gadis itu akan membawanya menjadi menantu keluarga Fabian.
Tak lama lagi semua itu tak hanya akan menjadi khayalan Rian saja. Semuanya akan berubah menjadi kenyataan.
Pria itu akan menyingkirkan semua halangan yang ada untuk memiliki Celia. Termasuk Collin.
Dia tahu kalau pemuda itu adalah saingan terberatnya. Dan satu-satunya cara untuk menjadi pemenangnya adalah mendapatkan restu Fabian dan mencari tahu apa yang sebenarnya membuat Fabian begitu ketat menjaga Celia.
Malam itu, Rian melihat Celia berusaha keluar dari rumah besarnya. Dia yang saat itu baru pulang dan hendak memberikan laporan kepada Fabian, mengurungkan niatnya dan menunda menemui Fabian malam itu dengan alasan tak ingin mengganggu family time keluarga itu.
“Sepertinya mereka tak tahu kalau Celia akan pergi. Tapi dia mau ke mana?” gumam Rian saat itu.
Hingga akhirnya Rian menyadari ada seorang pria yang ternyata sudah menunggu Celia dan mengajak gadis itu pergi menuju mobilnya yang terparkir sedikit jauh dari rumah Celia.
“Mau ke mana mereka? Sepertinya aku harus mengikuti mereka,” ucap pria itu lagi.
Pria itu mengekor Celia yang pergi dengan pemuda lain yang tampaknya bukan warga asli daerah itu. Pria itu lebih mirip orang luar negeri. Dan sepengetahuan Rian, pria itu baru pertama kali bertemu dengan Celia.
__ADS_1
“Aku harus mencari tahu siapa dia.”
Saat mereka tiba di taman kota, terasa seperti ada sesuatu yang terbakar dalam dirinya. Pria itu mengepalkan kedua tangannya saat melihat Celia bermesraan dengan pemuda lain. Pemuda yang tak dikenalnya dan baru pertama kali dia lihat.
“Siapa pun kamu, akan kupastikan kamu tak akan bisa memiliki Celia,” ujar pria itu berbicara pada dirinya sendiri.
Rian mengabadikan setiap momen kebersamaan Celia dengan pemuda itu. Berencana akan mengirimkannya kepada Fabian kalau pria itu marah esok hari karena laporannya gagal dikirimkan oleh sang asisten.
Hanya saja keesokan harinya Fabian bersikap biasa saja. Seperti tak terjadi apa-apa. Dan itu justru membuat Rian semakin kesal
“Apa Fabian sudah tahu Celia bersama dengan seorang pria?” gumam Rian.
“Tidak! Celia tidak boleh bersama dengan orang lain. Celia hanya untukku. Dan hanya boleh bersamaku. Dia milikku!”
Setelah hari itu, Rian diam-diam menempatkan pengawal di sisi Celia. Meski tanpa persetujuan Pak Fabian, pria itu yakin kalau Fabian tak akan marah dan bahkan akan senang dengan keputusannya. Rian sangat yakin akan hal itu.
Benar saja, meski ada dua pengawal yang Rian tempatkan di sisi Celia, tak sedikit pun Fabian mempermasalahkannya. Semuanya biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa.
Rian pun bahkan dengan berani mengirimkan hasil tangkapan layar kameranya kepada atasannya. Menggunakan nomor lain yang Fabian tak tahu, Rian mengirim semua gambar itu. Dia tak sabar menanti akan apa yang terjadi jika Fabian tahu Celia pergi dengan seorang lelaki.
“Segala cara akan aku tempuh untuk mendapatkanmu, Celia. Kamu tak akan pernah aku lepaskan!”
Setelah membelah jalanan yang tak terlalu ramai pagi itu, Rian akhirnya sampai di kantor. Pria itu menyapa karyawan lain yang ditemuinya. Seolah sudah menjadi pemilik perusahaan itu.
“Setidaknya aku harus mulai membiasakan diri menjadi menantu pemilik perusahaan ini,” gumam Rian bangga.
Pemuda itu tak langsung menuju ruangannya. Pria itu menaiki lift menuju ruangan Celia. Rian membuka ruangan Celia yang tertutup. Aroma parfum Celia masih bisa ia hirup dari dalam ruangan yang penghuninya.
To be continued ♥️
jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚😚
maaciw zheyeenk 🥰
__ADS_1