
Happy reading ♥️
Usai menetralkan rasa terkejut atas pertanyaan neneknya, Collin kembali bersuara.
“Apa menurut Oma, aku seperti seseorang yang menyukai pria?” tanya Collin dengan nada suara sedikit kesal
Sang nenek pun menggeleng.
“Lalu?”
“Oma hanya tak yakin kalau kamu memiliki teman wanita,” kekeh perempuan yang masih cantik meski rambutnya memutih itu.
Collin menepuk keningnya ringan. Dia tak habis pikir dengan keluarganya. Sebenarnya siapa yang salah? Collin atau keluarganya?
lelaki itu menggelengkan kepalanya perlahan.
“Aku masih normal, Oma. Aku masih menyukai makhluk Tuhan paling indah yang disebut sebagai wanita,” ujarnya seraya menatap awang sambil tersenyum.
“Syukurlah. Oma pikir kamu tak minat pada wanita,” kekeh Oma Hana.
“Aku hanya belum bisa mengenalkannya pada keluarga kita, Oma. Lagi pula belum tentu juga restu begitu cepat kami dapatkan.” Collin menundukkan kepalanya. Lelaki itu mengingat perkataan papanya. Dan kemungkinan mereka bisa bersama pun sangat kecil.
Tapi Collin tak ingin menyerah begitu saja. Dia akan membuktikan bahwa cinta mereka layak berakhir bahagia. Bagi Collin, ungkapan bahwa cinta tak harus memiliki itu tak berlaku. Karena kalau cinta, sudah pasti harus memiliki. Kalau tak bisa memiliki, berarti itu bukan cinta.
“Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah ini?”
“Aku masih belum tahu, Oma. Tapi, bisakah Oma menjadi orang yang mendukungku jika orang lain bahkan semesta menolak hubunganku dengan Celia?”
Oma Hana menautkan alisnya. Sebuah nama tanpa sadar diucapkan oleh cucunya itu.
“Namanya adalah Celia?” tanya wanita yang sudah berumur itu.
Collin menunduk dan menganggukkan kepalanya. Dia takut neneknya ikut menentang hubungannya dengan gadis itu.
“Kau tak ingin mengenalkannya pada Oma?” tanya Hana seraya tersenyum.
.Perkataan wanita itu membuat lengkungan senyum terbit di wajah Collin. Ketakutan akan penolakan neneknya ternyata tak terjadi.
“Aku akan segera memperkenalkan dia kepada nenek.” ucap Collin dengan wajahnya yang sumringah bahagia. Matanya berbinar ketika mengatakan hal itu.
Wanita itu mengangguk dan tersenyum. Dia ikut bahagia saat melihat cucunya mendapatkan kebahagiaannya.
Collin bergegas mengirim pesan kepada gadis kesayangannya. Dia tak sabar menunggu malam hari tiba.
__ADS_1
***
“Nanti aku akan membawamu ke suatu tempat. Apa kau ada waktu?” Celia membaca pesan Collin yang baru saja dia terima.
Gadis itu saat ini sedang duduk di atas kursi kerjanya. Mendapat pesan dari sang kekasih, membuat gadis itu ingin segera pergi menemui lelaki itu. Namun apa daya, saat ini dua pengawal suruhan daddy-nya saat ini berjaga tepat di depan meja kerjanya. Hampir saja salah satu dari mereka mengambil ponsel gadis itu dan membaca pesan dari Collin.
“Tak bisakah kalian menunggu di luar?” pinta Celia.
Pertanyaan gadis itu dijawab dengan sebuah gelengan yang berujung pada sebuah penolakan.
“Kami diminta oleh Tuan Fabian untuk berada di sekitar Anda. Bahkan kami diharuskan berada pada radius jarak satu meter dari Anda.”
Perkataan salah satu pengawal itu membuat kedua mata Celia membola.
“Yang benar saja! Apa itu berarti kalau aku pergi ke toilet, kalian akan masuk juga?” tanya Celia pada dua pengawal itu.
Tak ada jawaban. Hal itu semakin membuat Celia kesal.
Hari cerahnya saat ini benar-benar terasa muram. Padahal dia mengira bisa sedikit bebas karena daddy dan papa Sakti ada meeting mendadak di luar kantor. Dan juga saudara sepupunya yang memiliki jadwal dengan klien di tempat yang berbeda tak bisa mengawasi juga. Namun, siapa sangka kalau sang Daddy menyuruh dua orang pengawal wanita yang kaku untuk mengawalnya hari ini.
Padahal dia bukan seorang narapidana. Namun, untuk hari itu Celia merasa berbeda.
“Bagaimana bisa aku bebas dari dua mereka banti kalau dua orang ini selalu mendekatiku?” gumam Celia pada dirinya sendiri.
Gadis itu segera menyelesaikan tugasnya. Gadis itu ingin segera pulang. Dia benar-benar merasa tak nyaman.
Waktu begitu cepat berlalu. Tanpa terasa hari sudah mulai gelap. Beruntung Celia bisa menyelesaikan pekerjaannya pukul empat sore. Dan dua pengawal itu meninggalkannya saat dirinya sudah masuk ke dalam rumah.
Celia tak sabar ingin kembali melewati jendela dan menemui pujaan hatinya yang konon katanya ingin membawanya pergi ke sebuah tempat.
Sekali lagi, Celia mengunci pintu kamarnya dan mematikan lampu kamarnya. Setelah menunggu beberapa saat, gadis itu kembali keluar melalui jendela di lantai dua yang cukup tinggi dan akan sangat menyakitkan kalau dia terjatuh dari sana.
Beruntung Celia bisa mendarat dengan sempurna ke rerumputan di halaman rumahnya tanpa diketahui oleh pengawal yang berjaga di rumahnya.
Gadis itu segera berjalan menjauh. Dia menoleh ke kanan dan kiri, mencari mobil sang kekasih yang katanya sudah terparkir di tepi. Saat mendapati mobil kekasihnya, dia bergegas masuk ke dalam kotak besi beroda itu dan menjauh dari kediamannya bersama dengan pria yang berstatus sebagai kekasihnya.
“Kita akan ke mana?” tanya Celia pada pria yang saat ini fokus melihat jalan raya.
“Kita akan bertemu dengan seseorang yang sangat spesial,” sahut pria itu seraya tersenyum. Dia tak mengalihkan pandangannya dari jalanan yang tak terlalu ramai itu.
Celia menautkan kedua alisnya. Dia penasaran dengan siapa orang spesial yang dimaksud pria itu. Apakah itu orang tua pria itu?
Oh, tidak!
__ADS_1
Celia saat itu hanya berpakaian seadanya. Dia tak pernah terpikir untuk menemui orangtua pria itu saat ini.
“Apa kedua orangtuamu sudah kembali dari Jerman?” tanya Celia dengan suara yang nyaris tak terdengar.
“Orang yang ingin bertemu denganmu bukan orangtuaku. Tapi seorang wanita lain yang sudah lama ada di Indonesia. Salah satu wanita yang juga aku sayangi.”
Perkataan lelaki itu berhasil membuat celia merasa nyeri di dada sebelah kirinya. Seolah ada sebuah hantaman batu yang besar yang mengenainya saat pria itu berkata bahwa dia memiliki wanita lain yang dia sayangi.
Apa tidak cukup dengan mencintai aku saja? Jerit Celia dalam hati.
Celia nyaris menangis. Namun sebisa mungkin ia menahannya saat menyadari bahwa mereka sudah tiba di tempat yang dimaksud oleh Collin. Sebuah rumah mewah yang tampak sangat asri meski di malam hari.
“Rumah siapa ini?” tanya Celia.
Gadis itu mengedarkan pandangannya. Hingga akhirnya dia mendapati seorang wanita yang berdiri di depan teras rumah seolah menanti kedatangan mereka berdua.
“Dia adalah nenekku, Oma Hana,” ujar Collin kepada kekasihnya.
“Selamat malam, Oma,” sapa Celia pada wanita itu
“Bagaimana, Oma? Celia cantik, bukan?” ucap pria itu bangga.
“Selamat malam, Celia, cucu menantu Oma,” jawab wanita itu dengan senyum lebar.
Wanita tua itu seolah mendapatkan anugerah besar karena cucunya membawa kekasihnya yang sangat cantik. Pantas saja kalau Collin tak pernah mengenalkan wanita lain selama hidupnya. Itu karena wanita cantik yang kini ada di hadapannya yang tengah tersenyum malu.
“Ayo, Sayang. Kita masuk. Oma sudah menyiapkan makan malam untukmu,” ajak Oma Hana kepada Celia.
Wanita itu seolah mengabaikan Collin yang merupakan cucunya sendiri.
“Cucu Oma itu Celia apa Collin, sih?” gerutu lelaki itu.
“Oma sudah punya cucu baru. Kamu pulang saja!” jawab Oma Hana bercanda.
Namun perkataan wanita itu sukses membuat Collin mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil.
“Celia, apa kamu yakin dengan lelaki yang kekanakan seperti itu?” goda Oma Hana seraya menunjuk Collin yang merajuk di belakang mereka.
To be continued ♥️
thanks for reading ♥️
jangan lupa like komen vote dan hadiah ya...
__ADS_1