Celia

Celia
Bertemu


__ADS_3

Selamat Membaca ♥️


Celia masih terisak saat Mommynya masuk ke ruang makan, menyusul Daddy-nya yang beberapa saat lalu mengusir pemuda yang ia cinta. Gadis itu masih tak habis pikir dengan hati dan pikiran orangtuanya.


Entah terbuat dari apa, mereka begitu keras seolah tak akan pernah bisa dilunakkan. Padahal Collin sudah datang menemui mereka dengan baik. Namun, penolakan masih saja mereka berikan karena masa lalu mereka yang masih tak usai meski terlihat sudah terselesaikan.


Gadis itu menghapus jejak air mata di pipinya saat menyadari bahwa pintu rumahnya terbuka. Dan tak ada seorang pun yang berjaga di luar rumah. Sepertinya mereka lupa akan keberadaan dirinya yang menangis di ruang tengah. Keluarganya seperti sedang lengah hingga saat Celia melangkah, tak ada yang menyadari bahwa gadis itu telah melewati pintu rumah mereka.


“Sepertinya masih sempat,” gumam gadis itu.


Dia bergegas berjalan menuju jalan depan rumahnya. Berniat mengejar kekasihnya yang mungkin saja belum terlalu jauh. Tanpa membawa apa-apa, hanya membawa diri dengan pakaian yang melekat di tubuhnya, Celia berlari menyusuri jalanan komplek rumahnya dengan sekuat tenaga.


Hingga saat di persimpangan, ada dua orang pria yang mendekat ke arah gadis itu.


“Hai, Cantik! Sendirian aja, nih?” ujar seorang pria bertubuh besar dengan perut yang sedikit membuncit itu.


“Apa mau kami temani? Atau kalau kamu keberatan, kamu bisa kok menemani kita. Iya, nggak?” tanya pria yang lain yang wajahnya tak jauh mengerikan dibanding pria sebelumnya.


Celia berjalan mundur. Namun, dua pria yang lengannya dipenuhi dengan tato itu justru berjalan semakin mendekat ke arahnya.


“Jangan mendekat! Atau aku akan berteriak!” ancam Celia pada dua pria itu.


Dua pria itu tertawa. Kemudian mereka menyeringai, mengabaikan ancaman dari gadis seperti Celia. Bagi mereka, ancaman Celia bukan apa-apa. Dua orang itu beradu pandang, seolah memberikan kode melalui kedua mata mereka untuk melancarkan aksinya berbuat sesuatu kepada Celia.


Saat salah satu dari pria itu memegang tangan mulus Celia dan hendak menarik gadis itu, sebuah pukulan mendarat ke wajah pria bertubuh besar itu.


“Sialan!” maki pria itu seraya memegangi pipinya.


Ujung mulut pria itu mengeluarkan sedikit darah karena pukulan yang begitu keras ia terima.


“Kau tak apa?” tanya pria lainnya yang hendak membantu rekannya itu.


“Kejar mereka. Habisi mereka berdua!” ucap pria yang masih kesakitan itu.


Tanpa menunggu waktu lama, pemuda yang tadi melayangkan bogem mentahnya ke arah pria pengganggu itu menarik lengan Celia dan membawa gadis itu pergi. Sekuat tenaga mereka berlari, menghindari dua orang tak dikenal yang hendak berbuat tak pantas kepada Celia.

__ADS_1


Hingga pada akhirnya pemuda itu membukakan pintu sebuah mobil yang berhenti tak terlalu jauh dari tempat kejadian tadi.


“Cepat masuk!” titah pemuda itu.


Meski Celia ingin menanyakan banyak hal kepada pemuda itu, sebisa mungkin dia menahannya. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya-tanya. Mereka harus menjauh dari tempat itu dulu.


Pemuda itu kemudian melajukan mobilnya. Dari spion tengah kendaraan roda empat itu, bisa mereka lihat kalau salah satu pria itu mengejar mereka. Namun, langkahnya kalah cepat dengan kereta besi bermesin itu.


“Kamu tak apa-apa?” tanya pria yang masih fokus mengemudikan mobilnya.


Sesekali pria itu menengok ke arah kaca spion, untuk memastikan kembali kalau mereka sudah tak terkejar.


Celia hanya menganggukkan kepalanya. Gadis itu masih merasa sedikit terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Dia tak menyangka kalau pemuda itu menyelamatkannya.


“Untung saja tadi Aku melihat spion. Kalau tidak aku tak akan pernah tahu kalau kamu mengejarku,” ucap pemuda itu.


“Terima kasih,” cicit Celia.


“Aku akan mengantarmu pulang.”


Pemuda itu menautkan alisnya. Bukannya dia tidak menyukai Celia. Hanya saja dia menghormati kedua orang tua gadis itu, yang begitu menyayanginya meski dengan cara yang berbeda.


“Bagaimana dengan kedua orang tuamu?”


“Mereka akan baik-baik saja meski aku tak ada di sana. Bawa aku pergi. Aku tak ingin pulang untuk saat ini,” pinta Celia.


Collin yang merupakan penyelamat Celia beberapa saat lalu dari preman yang mengganggunya, menghentikan laju mobilnya. Pemuda itu menatap ke arah kekasihnya yang saat ini kedua matanya tampak berkaca-kaca. Dia tak tega. Namun mengingat orang tua gadis itu dan juga keinginan untuk bersama dengan Celia, membuat pemuda itu akhirnya memutuskan sesuatu yang berbeda untuk hubungannya dengan Celia.


“Aku ingin bertanya terlebih dahulu padamu sebelum aku mengiyakan permintaanmu,” ucap Collin menatap manik mata kekasihnya.


“Kamu benar-benar menyerah denganku? Kamu ingin mengembalikanku ke rumah?” tanya Celia dengan air mata yang kembali jatuh dari kedua matanya.


“Bukan begitu Celia. Aku ... Hanya takut kamu akan menyesal pergi denganku,” ucap lirih pemuda itu.


Collin mengusap air mata yang masih mengalir dari netra indah kekasihnya. Pemuda itu pun sangat sedih dengan penolakan orangtua gadis itu. Hanya saja dia masih belum memiliki kekuatan untuk membuat orangtua wanitanya luluh. Kecuali satu hal!

__ADS_1


“Kamu percaya denganku, bukan?” tanya Collin menangkup wajah Celia yang duduk di kursi penumpang sebelahnya.


Celia mengangguk. Gadis itu masih menatap wajah Collin meski saat ini wajahnya berantakan. Cinta telah membutakan Celia. Dia sangat mempercayai pemuda itu. Bahkan dia rela mengorbankan apa saja hanya untuk kekasihnya saat ini.


“Baiklah kalau begitu. Aku sudah memberi kamu kesempatan untuk pulang ke orangtuamu.”


Collin mulai melajukan mobilnya kembali membelah jalanan yang cukup sepi meski malam belum terlalu larut.


Celia menelan ludahnya kasar. Pikirannya memikirkan segala kemungkinan yang mungkin akan terjadi jika dia akan dibawa pergi oleh kekasihnya itu. Celia berusaha mempercayai Collin meski saat ini sebuah keraguan menyelimuti dirinya bersama dengan rasa dingin yang tiba-tiba mendera.


Hingga tiba di sebuah minimarket yang buka 24jam, Collin menghentikan laju mobilnya.


“Tunggu sebentar. Jangan keluar dari mobil. Aku hanya sebentar,” ucap pemuda itu.


Pemuda itu kemudian melangkahkan kakinya menuju ke dalam minimarket, meninggalkan Celia yang melihatnya dari dalam mobil, patuh dengan perkataan lelaki itu.


Beberapa menit kemudian, Collin keluar dari minimarket itu dengan menenteng sebuah kantong plastik yang terlihat berisi air mineral dan beberapa barang lain yang tak pernah Celia tahu itu apa.


Collin menyodorkan sebotol air mineral itu kepada Celia.


“Aku yakin kamu haus setelah berlarian tadi,” ujar Collin.


Celia menerima botol air mineral itu. Dia memang merasa sedikit haus karena lelah berlari dan juga karena terlalu lama menangis. Gadis itu pun meminum lebih dari setengah botol air itu.


Gadis itu mengernyit saat merasa air mineral itu terasa sedikit berbeda dari air bening biasa. Meski sedikit merasa aneh, Celia tak terlalu menghiraukannya.


“Kita akan menginap di hotel. Tak mungkin kalau aku membawa kamu ke rumah Oma malam ini. Beliau pasti akan terkejut.”


Celia hanya menganggukkan kepalanya lagi. Gadis itu tak terlalu banyak bicara. Mungkin karena kelelahan, gadis itu dalam waktu beberapa menit saja memejamkan kedua matanya. Terlelap dalam tidur seraya duduk bersandar di sandaran kursi mobil itu.


“Maafkan aku, Celia,” ucap pria itu seraya mengusap pucuk kepala kekasihnya yang tertidur karena air minum yang ia berikan.


To be continued ♥️


thanks for reading ♥️

__ADS_1


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚😚😚


__ADS_2