Celia

Celia
Tunggu Aku


__ADS_3

happy reading ♥️


“Oh, itu kado dari saya, Bi. Mohon bantuannya, ya?” ucap seorang pria dari dalam rumah Celia.


Collin bisa melihat seorang pria yang usianya hanya selisih beberapa tahun dengannya itu mendekat ke arah Dua orang yang sebelumnya berbincang mengenai kado yang kini sudah berpindah tangan.


“Tolong bawakan itu ke kamar Celia ya, Bik,” imbuh pria itu.


Collin sangat mengenal suara pria itu. Pemuda yang konon mengklaim bahwa dialah calon suami Celia. Pria yang mencari dan membuat Collin berpisah dengan Celia.


“Sejak kapan pria itu di rumah ini?” gumam Collin.


“Apa mungkin?”


Collin menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin.” Pria itu berusaha menepis pikiran buruk tentang apa yang sedang terjadi di lantai bawah hingga menyebabkan Celia tak kunjung kembali ke kamar.


Suara kenop pintu yang diputar membuat Collin panik. Pemuda itu segera bersembunyi di dalam kamar mandi Celia. Tepat saat Collin menutup pintu kamar mandi, pintu kayu yang menutup kamar Celia dari luar itu terbuka menampilkan sosok paruh baya yang membawakan sebuah kotak dengan pita yang ditujukan untuk Celia.


Setelah meletakkan kotak hadiah itu, Bik Sumi keluar dari kamar Celia dan kembali ke lantai bawah melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Setelah mendengar pintu kamar Celia yang kembali tertutup, Collin keluar dari persembunyiannya. Setelah semua dirasa aman, pemuda itu berjalan ke arah tempat tidur Celia di mana di atasnya terdapat sebuah kotak yang dihias dengan sangat cantik.


Ingin rasanya Collin membuka kado itu dan bahkan membuangnya. Namun, dia ingin melihat bagaimana reaksi Celia mengenai kado itu.


Collin mengurungkan niatnya untuk pergi mencari sarapan. Pemuda itu rela menahan lapar hingga Celia kembali ke kamar itu.


Gadis itu menundukkan kepalanya. Wajahnya kusut nyaris tak berbentuk usai sarapan bersama keluarganya. Saat melihat Collin yang berdiri tak jauh dari ranjangnya, Celia bergegas mendekap erat pria itu.


“Maaf sudah membuatmu menunggu.” Celia menundukkan wajahnya.


“Tak apa. Aku justru khawatir kalau kamu tak kunjung kembali.


“Maaf. Aku tak tahu kalau-“


Collin mendekatkan telunjuknya hingga menyentuh bibir gadis itu. Membuat Celia bungkam.


“Bukankah sudah aku bilang kalau akan ada orang lain di luar. Apa kamu mengenakan pakaian seperti ini?” tanya Collin saat melihat Celia tak lagi menutup pundak yang terdapat tanda merah dan membiarkan sisi lainnya terbuka. Celia justru menutup kedua bahunya dan membiarkan tanda merah itu tetap terpampang dan dilihat oleh semua yang ada di sana.


“Mereka tak berkomentar tentang ini?”


“Tidak. Mereka mengira kalau aku hanya digigit oleh serangga.”


“Kenapa bisa begitu?”

__ADS_1


“Ya karena mereka tak tahu kalau kamu di sini. Andai saja mereka tahu....” suara Celia terdengar semakin lirih.


Collin mendekap erat gadis itu. Seandainya hubungan mereka tak tentang oleh Fabian, semua ini pasti tak akan terjadi.


“Kamu jangan khawatir. Aku akan memastikan kalau hanya kamu yang akan menjadi pengantinku. Akan kupastikan kalau kamu hanya akan menikah denganku,” ucap Collin sungguh-sungguh.


***


“Kau tak merasa lapar?” tanya Celia saat menyadari kalau pemuda itu belum sarapan.


Collin menggelengkan kepalanya. “Aku sepertinya sudah kenyang.”


“Makan apa?”


“Makan angin,” kekeh pria itu.


Celia merasa bersalah karena tak sarapan dengan pemuda itu tadi.


“Tunggu sebentar.”


Celia kemudian keluar dari kamarnya. Entah apa yang dilakukan oleh gadis itu hingga dia kembali ke dalam kamarnya dengan membawa satu cup mi instan yang telah disiram air panas.


“Aku hanya bisa membawakan ini. Maaf,” cicit gadis itu.


“Tapi mungkin nanti siang aku akan keluar. Bukankah kamu nanti masih harus pergi ke kantor?” tanya pemuda itu.


Celia mengangguk. Gadis itu kembali menunduk dengan wajahnya yang terlihat sedih.


“Ngomong-ngomong, kamu tak ingin membuka kado itu?” tanya Collin menoleh ke arah sebuah kota yang terbungkus rapi di atas tempat tidur.


“Apa aku harus membukanya?” tanya Celia sedikit ragu.


Collin mengangkat kedua bahunya. Pria itu tak ingin melarang Celia untuk membuka isi kotak itu meski sebenarnya ada rasa tak suka dalam hati pria itu.


Celia berjalan ke arah kotak yang konon bernama hadiah itu. Gadis itu mengangkatnya. Namun, tak lama Celia membawa kotak itu mendekat ke arah keranjang sampah yang ada di salah satu sudut ruangannya. Membiarkan benda itu tergeletak di sana tanpa dibuka isinya.


“Kita akan bertemu di depan,” ucap Celia usai mengecup singkat bibir Collin.


Collin yang tak siap menerima serangann dari gadis itu, menjadikannya terpaku. Saat menyadari apa yang baru saja terjadi, Collin tersenyum.


***


Kini pemuda itu sudah ada di dalam mobil yang dikemudikan oleh Celia. Mereka meninggalkan rumah besar gadis itu tanpa takut diikuti seperti sebelumnya.

__ADS_1


Tak ada yang tahu kalau Collin ada di dalam mobil itu bersama Celia. Keluarga Celia pikir kalau Collin kini sudah kembali ke Jerman sejak insiden di pagi hari itu.


“Setelah ini kamu akan ke mana?” tanya Celia.


“Sepertinya aku akan kembali ke kost dulu.”


“Di mana?”


“Turun di depan sana,” ucap Collin menunjuk ke arah halte yang tak jauh di depan.


Celia pun menurut. Gadis itu menghentikan mobilnya tak jauh dari halte di sana.


“Kenapa turun di sini?”


“agar tak merepotkanmu. Juga supaya kamu segera tiba di kantor tepat waktu.,"


“Tapi kan-“ Celia berusaha untuk protes.


“Sudah. Aku akan mengabari kamu nanti,” ucap Collin kepada Celia.


“Sampai jumpa nanti malam,” ucap Collin diikuti bibirnya yang menyentuh kening gadis itu, menciumnya sedikit lama. Ia pejamkan matanya, menikmati setiap momen kebersamaan dengan gadis yang sangat dicintainya itu. Sungguh Collin merasa berat hati untuk berpisah.


“Aku akan merindukanmu,” ucap Celia.


“Aku juga akan merindukanmu,” jawab pria itu.


Tak lama setelahnya, sebuah kendaraan umum berhenti di halte yang tak jauh dari tempat mereka berada. Collin bergegas menuju transportasi umum itu dan meninggalkan Celia yang masih menatapnya dari dalam mobil mewah itu.


Keduanya saling berpandangan, pasangan muda itu enggan saling melepaskan meski pemuda itu berjanji akan menemui Celia seperti malam sebelumnya.


Beberapa saat kemudian, kendaraan yang dikemudikan oleh Celia berbelok berlawanan arah dengan kendaraan umum yang ditumpangi Collin. Pemuda itu menatap kendaraan kekasihnya yang semakin menjauh.


“Tunggu aku Celia. Akan kupastikan kita akan berakhir bahagia. Aku berjanji akan membuat Daddy-mu sadar kalau kita serius menjalani hubungan kita.”


“Aku tak rela jika harus melepaskanmu dengan pria itu, Celia.” Collin berkata pada dirinya sendiri.


Pemuda itu kemudian meminta sang sopir kendaraan itu untuk berhenti di halte berikutnya. Sebenarnya kamar kost Collin tak terlalu jauh dengan halte pertama dia berpisah dengan Celia. Hanya saja Celia tak boleh tahu di mana Collin tinggal. Dia tak ingin membahayakan gadis itu yang mungkin saja masih diikuti oleh anak buah Rian.


to be continued ♥️


thanks for reading 🥰


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚😚

__ADS_1


__ADS_2