
happy reading ♥️
Merasa dikerjai dan digoda habis-habisan oleh Celia, Collin menghentikan aktivitasnya. Pemuda itu mengembuskan napas kasar kemudian menatap Celia yang saat ini menahan tawa.
Pria itu kemudian berjalan ke arah Celia yang masih berdiri tanpa menggunakan busana selain jubah mandi yang lebih menyerupai handuk menutupi bagian tubuhnya sebatas atas lutut. Dengan tatapan seperti elang yang hendak memangsa buruannya, Collin mendekat ke arah Celia yang mulai gugup.
“Kamu bersungguh-sungguh apa hanya ingin menggodaku?” Pemuda itu kini sudah berhadapan dengan Celia, mengembuskan napasnya ke telinga kekasihnya yang membuat gadis itu meremang.
Tubuh Celia sedikit bergetar. Padahal dia yang mulai menggoda, namun dia kini justru ketakutan.
“Apa kau menginginkan ini?” tanya Collin yang membelai lengan Celia dengan sangat lembut.
Gadis itu melangkah mundur, takut kalau mereka benar-benar melewati batas.
“Jangan memancingku kalau kau tak bersungguh-sungguh Celia,” ucap pemuda itu dengan suara beratnya.
Collin benar-benar menahan diri agar tak lepas kendali meski rasanya keinginan memiliki Celia sudah berada di puncaknya.
“Pilihlah sendiri bajumu. Lekas pakai agar tak masuk angin. Turunlah untuk sarapan,” ujar Collin yang hanya dijawab anggukan berulang kali oleh Celia.
Gadis itu lekas melangkahkan kakinya ke arah lemari. Setelah memilih pakaian yang dia rasa sesuai, gadis itu kembali menuju kamar mandi untuk berganti baju. Karena ada Collin di kamar itu, tak mungkin baginya mengganti pakaian di tempat yang sama. Dia takut terjadi sesuatu hal yang sangat mereka inginkan. Eh?
Beberapa saat kemudian, Celia keluar dari kamar mandi dengan pakaiannya yang telah terpasang. Namun, masih belum sempurna.
“Collin, bisakah kamu membantuku?” tanya Celia.
Gadis itu kemudian membalikkan tubuhnya memperlihatkan pakaian yang belum tertutup sempurna pada bagian belakangnya.
Punggung mulus tanpa cela gadis itu membuat Collin kembali diselimuti kabut gairah. Pemuda itu mendekat ke arah Celia. Kedua tangannya menahan resleting yang ada di belakang tubuh kekasihnya itu.
Collin tanpa sadar mendekatkan wajahnya ke tubuh Celia, menyesap harum sabun yang masih melekat pada tubuh gadis itu. Sesaat dia kehilangan akal sehatnya. Kedua tangan yang sebelumnya ada di belakang tubuh Celia, entah sejak kapan menyusup ke bagian depan tubuh gadis itu.
Suara manja gadis itu lolos saat pria itu mengusap tubuh bagian depannya dan terdengar sangat menggoda di telinga Collin. Sentuhan lembut pria itu kini semakin kasar namun Celia tak merasa kesakitan.
Collin bahkan tanpa sadar membuat jejak kemerahan di bahu gadis itu.
“Maaf,” ucap Collin saat kesadarannya telah kembali.
__ADS_1
“Maafkan aku, Celia. Aku tidak bermaksud-“
Collin tampak merasa bersalah dengan gadis itu. Sementara Celia tampak sedikit kecewa karena pemuda itu menghentikan apa yang beberapa saat lalu terjadi.
“Aku mau ganti baju dulu.”
Celia kemudian berbalik dan mengambil baju yang lain. Gadis itu tersenyum, menyembunyikan rasa kecewa karena kejadian yang baru saja terjadi.
***
“Tunggu di sini. Aku akan mengambilkan makanan untuk kita,” ucap Celia saat keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang berbeda.
“Tidak perlu. Kamu sarapanlah dengan keluargamu. Aku-“
“Tidak. Kamu tak akan ke mana-mana. Tunggu aku, Collin,” ucap gadis itu memotong perkataan kekasihnya.
“Celia, tunggu!”
Celia membalikkan tubuhnya, menatap pemuda yang memanggilnya. Entah sejak kapan Collin sudah berada di belakang gadis itu. Hingga saat Celia berbalik, hampir menubruk tubuh kekasihnya.
“Pakai ini,” ucap Collin menyodorkan yang Collin yakini sebagai bedak milik kekasihnya itu
“Kemari. Apa kamu ingin menampakkan itu pada kedua orangtuamu?” tanya Collin yang menyeret Celia berdiri di depan cermin.
Celia melongo. Dia tak tahu sejak kapan bahunya berwarna merah. Padahal saat berganti pakaian tadi, dia tak melihatnya.
“Sepertinya kalau seperti ini tak akan kelihatan,” ucap Celia membetulkan pakaiannya hingga bahunya yang memiliki tanda merah itu tertutup.
Namun, Collin tak suka dengan penampilan Celia saat ini. Meski bahu dengan bekas merah itu tertutup, bahunya yang lain justru terbuka.
“Tidak! Pakai ini. Aku tak ingin kamu menampakkan bahumu kepada orang lain!” ketus Collin.
Celia tertawa karena Collin yang cemburu dengannya. Gadis itu merasa kekasihnya sangat lucu.
“Apa kamu lupa kalau di rumah ini hanya ada aku dan keluargaku yang akan sarapan?” kekeh Celia.
“Aku tetap tak suka. Bisa saja kalau tiba-tiba ada orang lain selain keluargamu datang.”
__ADS_1
Celia menatap tajam pemuda yang saat ini mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Collin tak berani menatap Celia yang seperti tengah mengintimidasinya.
“Memangnya siapa yang mungkin datang?” tanya Celia seraya menatap wajah kekasihnya lekat-lekat.
Collin mengembuskan napas kasar. Pria itu benar-benar tak rela kalau tubuh Celia dilihat oleh pria lain selain dirinya. Dia juga khawatir kalau Rian tiba-tiba ada di rumah gadis itu. Terlebih Rian merupakan asisten Fabian yang mungkin saja akan menggunakan pekerjaan sebagai alasan untuk bisa sarapan bersama keluarga gadis itu.
“Aku tahu kekhawatiranmu. Tapi, percayalah kalau tak mungkin dia akan datang se-pagi ini ke rumah ini,” ucap Celia meyakinkan.
“Tunggu aku di sini. Aku akan membawa sarapanku ke sini agar kamu tak cemburu lagi,” ucap Celia yang bergegas pergi ke arah pintu, meninggalkan Collin yang belum sempat menyahut perkataan gadis itu.
Collin pun menunggu di kamar Celia. Pemuda itu memainkan ponselnya sembari menunggu kedatangan kekasihnya. Saking asyiknya melihat postingan orang-orang di sosial media miliknya, Collin baru menyadari kalau Celia tak kunjung kembali ke kamar.
“Sepertinya dia memang sarapan bersama keluarganya,” gumam pria itu berusaha mengabaikan pikirannya yang tiba-tiba saja tak tenang.
Hingga suara perutnya terdengar begitu jelas, membuat pemuda itu berniat untuk pergi dari rumah Celia hendak membeli makanan.
Pemuda itu menuliskan sesuatu di atas sebuah kertas dan meletakkannya di atas meja kecil di dekat tempat tidur. Berharap Celia mengerti kalau dia akan pergi dan segera kembali.
Setelah selesai menulis, pemuda itu meletakkan kertas itu dan berjalan ke arah jendela di mana dia bisa masuk ke dalam ruangan itu.
Collin menggunakan obengnya dan melepaskan baut yang semalam ia pasang longgar. Saat pemuda itu selesai membuka teralis besi yang menghalangi jendela itu, Collin menyadari kalau ada sebuah mobil yang terparkir di depan rumah Celia.
“Mobil siapa itu? Kenapa ada mobil orang lain sepagi ini?” gumam Collin.
Pemuda itu hendak mengurungkan niatnya untuk pergi dari kamar Celia. Namun, samar-samar terdengar suara orang berbincang di luar rumah itu.
“Bi Sumi, tolong bawakan ini ke kamar tamu, ya?”
Seorang pria berseragam hitam tampak memberikan sesuatu kepada asisten rumah tangga Fabian.
“Katanya itu kado untuk Nona Celia,” ucap pria itu lagi.
“Memangnya kado dari siapa, Pak? Kami tak bisa menerima paket atau kado dari orang yang tak dikenal.” ucap Bik Sumi lagi.
to be continued ♥️
thanks for reading ♥️
__ADS_1
jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚