Celia

Celia
Menuntut


__ADS_3

Celia melangkah lebar, berjalan menuju ke dalam kamar dan mengunci rapat pintu ruangan itu. Collin yang masih memarkirkan mobil, terkejut dengan perubahan sikap Celia yang berubah 180 derajat. Pria itu gegas menyusul sang istri. Namun, pintu terlanjur terkunci.


“Sayaaang ... Buka pintunya, dong,” pinta Collin seraya mengetuk papan kayu yang tertutup rapat itu.


Tak ada jawaban dari dalam ruangan yang ada di hadapannya. Meski diketuk berulang pintu kayu itu tak bergeming. Hanya bunyi tangan yang beradu dengan permukaan kayu bercat putih mengiringi pertanyaan Collin.


“Celia ... Kamu kenapa? Tolong buka pintunya,” rengek Collin.


Sungguh Collin tak mengerti apa yang membuat istrinya itu tiba-tiba menghukumnya dengan cara mendiamkan dirinya selama perjalanan hingga tiba di rumah mereka.


“Maafin aku ... Aku gak akan mengulanginya lagi.” ucap Collin memelas.


Terdengar suara kunci yang diputar dari dalam, diikuti perputaran kenop pintu di hadapan. Derit pintu terdengar samar saat papan kayu itu terbuka perlahan.


“Minta maaf untuk apa?” tanya seorang wanita yang menampakkan diri dibaliknya.


“Minta maaf untuk ....” Collin memegang tengkuknya yang mendadak kaku.


“Tidak bisa menjawab, bukan? Malam ini kamu tidur di luar!” ucap Celia yang kemudian kembali menghempaskan pintu di hadapan suaminya.


“Tapi ... Celia ... Bukankah kita akan berkencan?” tanya Collin setengah berteriak.


“Batal!” sahut Celia berteriak dari dalam kamarnya.


Collin hanya bisa menelan ludahnya. Udah gagal malam pertama, kencan dibatalkan, ditambah malam ini harus tidur di sofa. Pintu di hadapannya sepertinya tak akan terbuka lagi hingga matahari terbit saat pagi. .Collin sendiri bingung apa yang membuat Celia semarah itu padanya. Padahal dia sama sekali tak menyinggungnya.


Collin berjalan lesu. Dia menjatuhkan bobotnya di atas sofa ruang tengah yang menghadap ke arah televisi. Diraihnya remote layar yang menempel di dinding dan menekan tombol merah di bagian atasnya.


Berkali-kali Collin menekan tombol di atas benda mini itu, mengganti channel yang baginya tak ada yang menarik. Bahkan acara stand-up Comedy yang tayang di petang hari tak mampu menghibur hatinya yang sedang gundah gulana.


Collin menarik rambutnya, frustrasi ia rasakan malam ini.


Mendadak sebuah ide melintas di benak pemuda yang masih belum berusia tiga puluh tahun agar istrinya mau membukakan pintu. Kembali Collin berdiri di depan pintu, mengetuk papan kayu yang masih tertutup.


“Celia ... Aku mengaku salah ... Bisa kita bicara?” pinta Collin dengan suara yang terdengar menyedihkan.


Hening, tak ada jawaban dari dalam kamar. Tak menyerah, pria itu kembali mengetuk pintu.

__ADS_1


“Celia ... Aku-“


Belum sempat Collin melanjutkan perkataannya, pintu itu terbuka, menampilkan sosok cantik yang matanya sedikit sembab.


“Kamu menangis?” tanya Collin khawatir.


“Ada apa lagi?” ucap Celia ketus.


“Maafkan aku. Aku mengaku salah. Kamu jangan menangis lagi, oke?”


Pada akhirnya Celia menghambur ke pelukan suaminya, mencari ketenangan di sana, tak memedulikan lagi perkataan pemuda itu yang sudah pasti pria itu tak akan tahu salahnya di mana.


Hanya saja Celia akui, dia terlalu cemburu apalagi saat melihat kedekatan Collin dengan wanita lain.


“Hei. Lihat aku Celia!” Collin memegang bahu istrinya dan memintanya untuk menatap kedua matanya meski saat ini wajahnya sangat basah dengan mata sembab.


“Maaf. Katakan, apa aku telah menyakitimu?” lirih Collin.


Celia hanya menganggukkan kepalanya. Dia masih enggan untuk mengeluarkan kata. Dia merasa malu untuk mengungkapkan bahwa saat ini dia cemburu.


“Maaf karena telah membuatmu menangis,” ucap Collin yang kembali memeluk istrinya.


Mendengar pengakuan istrinya yang masih gadis itu, Collin tersenyum. Dia tak habis pikir, bagaimana jadinya kalau dia benar-benar menikah dengan orang lain, menuruti kemauan Celia untuk meninggalkannya begitu saja. Collin mengeratkan pelukannya, tak ingin lagi melepaskan tubuh wanita yang ia sukai sejak lama.


“Aku benar-benar tak bisa membayangkan ekspresimu kalau aku menikah dengan orang lain,” canda Collin.


Seketika tatapan tajam ia dapatkan dari wajah Celia. Wanita yang masih sesenggukan itu tampak menyeramkan dengan mata merah dan kelopak mata yang bengkak karena menangis.


“Aku hanya bercanda,” ucap Collin menyunggingkan senyumnya.


“Kamu tahu? Aku senang kamu cemburu. Itu artinya kamu benar-benar mencintaiku. Hanya saja ....”


Celia menatap wajah Collin, menantikan pria itu melanjutkan kalimatnya yang ia gantung di pertengahan.


“Apa?” tanya Celia.


“Kamu tahu? Biasanya wanita itu membutuhkan bukti, bukan sekedar janji. Pun laki-laki menginginkan hal yang sama, ingin bukti bukan sekedar untaian kalimat tak pasti.”

__ADS_1


“Maksudmu?” Celia kembali bertanya dengan menautkan kedua alisnya.


Sebuah pikiran licik melintas di kepala Collin. Pria itu tersenyum miring. Begitu tipis hingga tampak semakin mencurigakan.


“Tak inginkah kamu membuktikan kesungguhan cintamu padaku?” tanya Collin yang sukses membuat Celia mengerutkan dahi.


“Aku ... Aku ....” Celia tergagap.


“Jangan salahkan aku jika nanti kamu mendapati seorang wanita mendekatiku dengan bukti bahwa dia mencintaiku,” ujar Collin santai.


Celia tampak menelan ludahnya. Collin yakin istrinya sangat paham dengan apa yang dia maksud. Ya, Collin saat ini menuntut haknya, meminta Celia menjalankan kewajibannya sebagai istri, melayani sang suami.


Tak menunggu jawaban, tangan Collin menarik tengkuk istrinya. Seolah tak ingin mendengar penolakan yang keluar dari mulut istrinya, Collin membungkam bibir Celia, me-lumatnya dengan rakus.


Selesai mengabsen seisi mulut istrinya, kecupan bibir Collin menjelajahi leher jenjang istrinya, meninggalkan bekas kepemilikan diiringi sebuah des*han yang lolos dari bibir ranum Celia.


Entah dorongan dari mana, Celia tak lagi memberikan reaksi penolakan seperti saat pertama kali Collin melakukannya. Mungkin karena gadis itu khawatir Collin melakukannya dengan wanita lain hingga akhirnya Celia memberanikan diri membuka hati untuk suaminya yang memang sudah waktunya mendapatkan apa yang tertunda.


Raut kecewa tercetak jelas di wajah Celia saat Collin menghentikan aksinya yang perlahan membuatnya lupa akan trauma yang sebelumnya mendominasi pikirannya. Perlakuan singkat suaminya tampaknya berhasil membuatnya ingin mengulang kembali apa yang terjadi.


“Kenapa berhenti?” tanya Celia lirih.


“Aku takut kamu menendangku lagi seperti saat terakhir kali,” kekeh Collin.


Sebuah pukulan kecil mendarat di dada bidang pemuda itu. Celia menyembunyikan wajah dengan menutupnya menggunakan tangan. Wajah gadis itu memerah karena malu.


“Akan tiba saatnya ... Bukan hanya kamu yang menantikan saat itu. Hanya saja, kita akan memulainya perlahan. Apa kamu keberatan?” bisik Collin.


Celia yang masih menyembunyikan wajahnya menggelengkan kepala, tak keberatan dengan keputusan yang Collin buat. Ada rasa syukur di hatinya karena Collin tak memaksanya melakukan hal itu.


“Terima kasih,” lirih Celia.


Collin menganggukkan kepalanya. Melihat Celia yang masih malu untuk menampakkan wajahnya, membuat Collin gemas. Tanpa aba-aba, pemuda itu mengangkat tubuh Celia, membawanya masuk ke dalam kamar dan mengunci ruangan pribadinya bersama sang istri.


“Sepertinya aku tak sanggup menahan diri kalau istriku begitu menggemaskan seperti ini,” bisik Collin sangat jelas di telinga istrinya yang sukses membuat wanita itu membulatkan kedua matanya.


to be continued ♥️

__ADS_1


thanks for reading ♥️


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚😚


__ADS_2