Celia

Celia
Langit Dillan Arkarna


__ADS_3

"Kamu hamil?" Tanya Collin dengan wajah datar.


Celia menganggukkan kepalanya. Detik berikutnya dia tertegun karena sang suami mendadak bangkit dan keluar dari ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuknya.


Collin berteriak tertahan di depan pintu ruangannya. Pemuda itu tak bisa membendung rasa bahagianya atas kabar menggembirakan yang akan hadir di antara dia dan Celia.


Dia kemudian merogoh ponsel di sakunya, menghubungi sang papa yang kemudian memberikan selamat atas kehamilan Celia. Hanya saja sang Papa tak bisa datang ke Indonesia, menemui anak dan menantunya karena terikat janji dengan Fabian.


Setelah mendapat wejangan dari sang papa, panggilan mereka pun berakhir. Collin berganti menghubungi ibu mertuanya. Namun, yang menjawab panggilannya adalah ayah mertua pria itu, Fabian.


"Ada apa kamu menghubungi Mommy? Apa masih belum cukup kamu mengambil putriku?" ucap Fabian posesif di ujung telepon. Lelaki itu kadang tak bisa memakai nalarnya jika itu berhubungan dengan wanita yang sangat dicintainya.


Collin mendengar sedikit keributan dari dalam panggilan suara itu. Renata terdengar merajuk karena Fabian sesekali masih ketus dengan menantunya.


"Ini Mommy, Nak. Ada apa?" Tanya Renata setelah menjawab salam yang diucapkan oleh Collin.


"Mom, Dad. Celia hamil," ucap Collin tanpa berbasa-basi.


Hal itu membuat Renata bersyukur. Hanya Fabian yang sedikit tak terima dengan kabar baik itu.


Diam-diam Celia mendengar perkataan Collin kepada kedua orangtuanya melalui sambungan telepon yang masih terhubung. Dia sebelumnya berpikir kalau Collin tak bahagia dengan kabar yang ia berikan. Ternyata semuanya jauh di luar dugaannya. Collin begitu antusias karena tak lama lagi akan menjadi seorang papa baru.

__ADS_1


Celia membuka pintu yang tak tertutup sempurna di hadapannya, membuat Collin terkejut. Apalagi Celia saat ini menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Bahkan samar terlihat ada jejak basah yang melewati pipinya.


Collin mengusap sisa air mata itu lalu memeluk wanita cantik yang ada di hadapannya.


"Terima kasih, Celia. Terima kasih telah membuatku menjadi pria beruntung dan paling berbahagia di dunia ini," ucap Collin yang tak juga tak bisa menahan laju air mata bahagianya.


Celia menganggukkan kepalanya dalam pelukan sang suami. Keduanya tersenyum dan menangis haru di saat yang bersamaan karena rasa bahagia yang luar biasa.


***


Waktu bergulir begitu cepat. Tanpa terasa saat ini kehamilan Celia sudah memasuki usia kandungan 38 minggu. Selama dua trimester kehamilannya, tak sedikit pun wanita hamil itu rewel. Rasanya Celia hampir tak pernah mengidam. Apalagi Collin selalu menuruti permintaan wanita itu untuk bermanja-manja dengannya.


Saat ini, Celia tengah berada di ruang tamu rumahnya. Seperti sebelumnya, wanita itu selalu bersemangat saat ada makanan di hadapannya. Tak merasakan mual membuat nafsu makannya semakin tinggi. Pipi dan seluruh tubuhnya pun sedikit membengkak dan itu membuat dokter kandungannya sedikit khawatir.


Collin takut kalau istrinya akan kelelahan saat proses persalinan. Dia masih ingat keinginan sang istri bahwa dia ingin menjalani prosedur persalinan Normal.


Hanya saja kalau Celia tak mengurangi makannya, dia akan mudah lelah dan mungkin tak akan sanggup melahirkan normal.


Namun karena kadar hormon ibu hamil yang tak stabil, membuat Celia begitu sensitif saat suaminya membujuknya agar tak makan berlebihan.


"Collin, aku ngompol," ucap Celia disela tangisnya.

__ADS_1


Collin memeriksa bagian bawah Celia. Benar saja, cairan putih itu keluar karena kontraksi yang disebabkan oleh Celia yang menangis.


"Tunggu di sini sebentar ya. Kamu atur napas kamu, tarik napas dan keluarkan perlahan. Jangan langsung mengejan."


"Tapi rasanya aku tak sanggup lagi. Seperti ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dari sana," rengek Celia.


Collin kembali mengalihkan pikiran Celia , mengulur waktu seraya menghubungi rekannya yang merupakan Dokter kandungan tempat istrinya berkonsultasi.


Collin menggendong Celia ke dalam kamar mereka saat mendapat konfirmasi kalau dokter kandungan akan segera tiba. Beruntung pria itu juga seorang dokter sehingga dia masih sedikit bisa mengontrol kepanikannya agar tak semakin membuat Celia khawatir.


Wanita paruh baya itu akhirnya tiba setelah lima menit Collin menghubunginya. Karena kebetulan dokter itu juga sedang tak jauh dari lokasi rumah pasangan muda itu.


Wanita itu masuk dan membantu proses persalinan Celia yang sedikit susah. Mungkin karena ini adalah kali pertama Celia akan melahirkan dan karena tubuhnya yang sedikit berisi.


Setelah tiga puluh menit berlalu, suara bayi terdengar mengisi ruangan luas yang menjadi saksi bisu atas hubungan kedua orang tuanya dan menjadi tempat Celia dan Collin membuat mahluk mungil yang hanya bisa menangis itu.


"Apa kamu sudah menyiapkan namanya?" Tanya Celia.


Collin pun mengangguk. " Langit Dillan Arkana." jawabnya tanpa ragu.


to be continued ♥️

__ADS_1


thanks for reading ♥️


__ADS_2