Celia

Celia
Mencoba


__ADS_3

happy reading ♥️


“Aku tak akan memaksamu jika kamu masih belum siap,” ucap Collin menghentikan aksinya yang hampir melewati batas.


Dia menyadari reaksi Celia yang masih sedikit kaku saat jarak di antara mereka terkikis sempurna. Pria itu menghentikan pagutan bibirnya yang sudah berhasil membuat Celia nyaris terbang ke awang. Collin sedikit memundurkan tubuhnya, membuat jarak dengan istrinya yang menatapnya dengan mata sayu.


Raut kecewa begitu kentara di wajah Celia saat Collin menghentikan cumbu*nnya. Tanpa sadar lelehan bening mengalir dari sudut mata gadis itu.


Detik kemudian Celia terisak karena Collin memalingkan wajahnya, menghindar


“Maaf,” cicit Celia merasa bersalah.


“Ini bukan salahmu, Celia. Jangan bersedih. Aku akan menunggumu sampai benar-benar siap menerimaku,” hibur Collin seraya mendekap sang istri ke dalam pelukan.


“Aku ... Aku takut kamu tergoda oleh wanita lain,” lirih gadis itu. Namun, suaranya cukup jelas terdengar oleh Collin.


Pria itu tersenyum seraya mengusap punggung istrinya yang masih gadis. Dia merasa beruntung karena dicintai sepenuhnya oleh sang istri.


“Ayo kita coba lagi,” ujar Celia dengan penuh percaya diri.


Collin mengecup pucuk kepala Celia. Untuk saat ini dia sudah cukup puas karena istrinya berinisiatif untuk mulai mendekatinya, ingin mencoba melewati malam dengan penuh bara asmara.


“Jangan dipaksakan.” ucap Collin dengan lembut. Ia tak ingin membuat Celia tertekan karenanya.


Celia mengerucutkan bibirnya saat mendapat penolakan halus dari suaminya. Padahal saat ini dia bersungguh-sungguh dengan tawarannya.


“Aku tak ingin kalau nanti saat sampai di tengah jalan, kamu justru menendangku,” kekeh Collin.


Wajah Celia mendadak memerah mendengar perkataan Collin.


“Kita habiskan malam ini dengan bercerita saja. Ayo,” ucap Collin menuntun Celia untuk menjatuhkan tubuhnya di ranjang mereka.


Collin menjadikan lengannya sebagai bantal untuk sang istri. Dia tak peduli meski rasa kebas dia rasakan. Membuat istrinya nyaman saat tidur adalah keinginannya.


“Katakan, apa yang membuat Celia-ku berubah?” tanya Collin saat mereka saat ini sudah berbaring di atas ranjang.


Celia menundukkan wajahnya, ragu untuk menatap wajah sang suami yang penasaran namun tetap menampilkan senyum menawan.


“Dokter Almira ... Bagaimana kalian saling kenal?” tanya Celia.

__ADS_1


Collin tersenyum mendengar perkataan Celia. Fix! Saat ini istrinya sedang cemburu pada seorang dokter wanita yang menanganinya. Namun, Collin hanya semakin mengembangkan senyum yang selaras dengan debar jantungnya yang menggila.


Pria itu gemas kepada istrinya yang benar-benar seperti seorang gadis remaja yang baru mengenal cinta. Padahal sebaliknya, Collin yang baru mengenal cinta dan itu hanya Celia.


“Kalau aku menjawab pertanyaanmu, apa kamu bisa berjanji agar tak marah?” tanya Collin.


Celia mengalihkan tatapannya dari Collin yang nyaris tak berkedip menatapnya.


“A-aku kan hanya ingin tahu. Kalau kamu enggan menjawab, ya sudah. Lupakan!” Celia membalikkan tubuhnya membelakangi Collin.


Pria itu mendekap erat istrinya dari arah belakang, menghirup aroma sampo yang menguar dari rambut lebat wanita yang telah halal untuknya. Collin mengusal wajahnya ke tubuh bagian belakang istrinya. Dan tanpa sengaja itu membuat sang istri mulai merasakan sensasi aneh untuk pertama kalinya.


Tangan pria itu mulai bergerilya mengusap lengan sang istri yang tak sepenuhnya terbuka.


“Dokter Almira dan aku hanya rekan kerja. Kami bertemu tanpa sengaja. Dan aku baru tahu kalau dia merupakan spesialis kejiwaan.”


“Apa kamu mengira aku gila sehingga kamu membawaku padanya?” ketus Celia.


Collin menggelengkan kepalanya meski sang istri tak melihat gerakan kepalanya yang menggeleng ke kanan dan kiri.


“aku bukan ingin menyinggungmu Celia. Itu semua karena aku sangat mencintaimu. Apa kamu tak takut kalau aku melirik wanita lain?"


Celia kini membalikkan tubuhnya menghadap sang suami. Dia membulatkan kedua matanya, memberi peringatan kepada pria yang seranjang dengannya agar tak macam-macam.


“Jangan harap itu akan selamat kalau kamu berkhianat,” ucap Celia melirik ke arah bawah bagian tubuh Collin.


“Aku tak bisa menjamin,” goda Collin.


“Apa?” Celia bertanya dengan membolakan matanya.


“Bukankah lebih baik aku menikah lagi daripada aku memiliki istri namun enggan aku sentuh?"


Perkataan Collin sukses membuat hati Celia terluka. Dengan suara bergetar, gadis itu berkata, “kalau begitu untuk apa kamu menikahiku? Lepaskan saja aku kalau kamu berniat untuk menikahi orang lain. Karena sampai kapan pun aku tak akan mau berbagi hati apalagi berbagi tubuhmu.”


“Aku pun sebenarnya enggan untuk berbagi tubuhmu dengan Rian, Celia. Jujur saja, saat aku melihatmu disentuh oleh Rian melalui layar monitor yang sengaja mereka pasang untuk membuatku meninggalkanmu, ingin rasanya aku hapus jejak itu di tubuhmu. Hanya saja aku masih menahan diri karena tak ingin kamu semakin terluka karena ulahku. Apa bedanya aku dengan Rian kalau aku melakukan hal yang sama tanpa persetujuanmu, tanpa restu orangtuamu?”


“Aku ....” Celia mulai terisak. Dia gak sanggup lagi mengeluarkan kata. Tangis yang ia tahan akhirnya pecah juga.


Collin menghapus jejak air mata sang istri dengan mengecup kedua pipinya. Sementara Celia memejamkan kedua matanya, menikmati sentuhan lembut sang suami.

__ADS_1


Perlakuan lembut Collin membuat Celia tak lagi ingat bagaimana Rian menyentuhnya dengan kasar. Tubuhnya sedikit menegang, terkejut dengan keberadaan dua tangan suaminya yang sangat nakal.


Entah sejak kapan tangan besar pria itu menangkup aset berharganya. Tanpa sadar Celia mendesis saat bibir Collin mulai menuruni lehernya.


Satu persatu pria itu melepas penutup tubuh Celia yang menghalangi dirinya menikmati setiap inci keindahan istrinya dengan nyata.


Sentuhan melenakan dari sang suami membuat Celia tak sadar kalau saat ini pakaiannya sudah tersingkap ke atas. Bahkan pengait kain segitiga yang ada di punggungnya kini sudah terlepas.


Gadis itu baru menyadari keadaannya, saat menyadari suaminya sudah menikmati aset berharganya bergantian antara yang kiri dan kanan.


Pria itu sudah seperti bayi yang kehausan, enggan melepaskan sumber kenyamanan yang nantinya akan dikuasai oleh keturunan mereka.


Napas Celia semakin memburu. Saat ia begitu ingin Collin memperdalam kegiatannya mengabsen, memberikan tanda kepemilikan di setiap bagian tubuhnya, pria itu menghentikan aktivitas yang membuatnya hampir lupa daratan.


“Kenapa?” tanya Celia dengan wajahnya yang sudah memerah.


Collin kembali mengaitkan penutup mainan barunya dan merapikan kembali pakaian istrinya. Namun, Celia menolak untuk memakai pakaiannya, sengaja melepasnya dan membiarkannya terbuka.


“Pakailah kembali. Aku tak ingin kamu masuk angin,” pinta Collin kepada istrinya.


“Ada kamu yang bisa menghangatkan.” sahut Celia.


Collin menganggukkan kepalanya, kemudian mendekap tubuh istrinya yang terbuka bagian atasnya. Pria itu kembali menetralkan napas dan detak jantungnya meski kesusahan.


Terlebih istrinya kini dengan berani menggerakkan tubuhnya, menggesekkan kakinya hingga mengenai sesuatu yang masih belum saatnya ia tunjukkan kemampuannya.


“Tidurlah.” Collin membenarkan selimut agar menutupi tubuh sang istri yang tengah ia dekap.


Celia mendongak ke arah pria yang detak jantungnya terdengar sangat kencang.


“Hanya sampai ini saja?” tanya Celia menggoda dengan suara manjanya. Hal itu membuat Collin kesusahan menelan ludahnya karena godaan yang luar biasa.


to be continued ♥️


thanks for reading 🥰


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya


maaciw zheyeenk 😚♥️

__ADS_1


__ADS_2