Celia

Celia
Tiffany


__ADS_3

“Oh, maaf. Papa lupa mengenalkannya pada kalian. Dia ...”


“Tiffany. Rekan kerja dokter Jamie,”sela wanita itu.


Collin tersenyum dan menyambut uluran tangan wanita yang terlihat awet muda itu. Entah memang karena umurnya yang memang masih muda atau awet muda karena perawatan. Hanya saja wanita itu masih cukup cantik dan masih layak untuk digandeng ke mana-mana. yang paling sehat


"Collin... Anaknya pria di sampingmu, dan ini istriku,” ucap Collin yang tak lupa mengenalkan Celia juga pada wanita itu.


“Ngomong-ngomong, Miss Tiffany dokter spesialis apa?”


“Saya bukan dokter,” ucap Tiffany seraya tersenyum.


Collin menatap tajam pada Papanya yang menyembunyikan wajahnya di telapak tangannya.


***


Mereka berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari pintu kedatangan bandara. Mereka berencana untuk makan siang bersama sebelum kembali ke rumah Jamie untuk beristirahat.


"Apa kamu tidak keberatan kalau kita makan siang dulu?" Tanya Jamie kepada wanita yang kini duduk di kursi penumpang di sampingnya.


Tiffany mengangguk seraya tersenyum. Wanita yang masih terlihat muda itu tampak santai seraya menatap ke arah jalanan di hadapannya yang tak begitu ramai.


"Hari ini kamu benar-benar tak ada janji dengan orang lain bukan?" Selidik Jamie.


"Meskipun ada, itu adalah hal membosankan seperti biasa," kekeh Tiffany.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang ke sebuah resto yang menyajikan makanan Indonesia. Jamie khawatir menantunya belum terbiasa dengan makanan negara itu.


Collin dan Celia duduk berdampingan sementara di hadapan mereka ada Tiffany yang duduk di kursi di samping Jamie. Mereka tampak seperti keluarga apalagi melihat Celia yang mudah sekali akrab dengan wanita yang datang bersama mertuanya.


"Kalau boleh tahu, kapan kalian pertama kali bertemu?" tanya Collin.


Pemuda itu menyadari ada sebuah ketimpangan dalam hubungan dua orang berlainan jenis itu. Ada sesuatu yang entah terasa sedikit asing dan perlu ia konfirmasi.


Collin melihat papanya menatap Tiffani dengan tatapan hangat. Sementara wanita yang menjadi pusat perhatian hanya menunduk dan tersipu.


"Apa kalian menjalin hubungan khusus? Apa dia calon mama sambungku, Pa?" tanya Collin.


Pertanyaan itu membuat Tiffany salah tingkah. Sementara pria yang duduk di sampingnya nyaris tersedak.


"Kami tidak sedang dalam hubungan yang seperti itu," ucap Jamie saat sudah merasa tenggorokannya sedikit lebih baik.

__ADS_1


Tiffany tertegun mendengar perkataan Jamie. Wanita itu menoleh dengan menatap pria di sampingnya dengan tatapan yang tak biasa. Pernyataan Jamie membuat raut wajah Tiffany sedikit mendung.


"Aku ke toilet dulu," pamit Tiffany.


Tanpa menunggu jawaban yang lain, wanita itu bangkit dan bergegas ke toilet yang ada di salah satu sudut restoran itu.


Collin dan Celia saling berpandangan. Mereka seolah menyadari kalau ada kesedihan yang hadir di antara mereka.


"Pa?"


Jamie menundukkan wajahnya seraya tersenyum tipis. Dia menatap anak dan menantunya bergantian.


"Dia masih terlalu muda untuk menggantikan mendiang mamamu," ucap Jamie.


"Lagi pula apa yang bisa diandalkan dari duda tua sepertiku. Bahkan sudah akan memiliki cucu," kekeh pria itu lagi.


"Bukankah Papa menyukainya?" Selidik Collin.


"Iya. Tapi banyak juga yang menyukainya. Dia juga masih muda. Masa depannya pun masih panjang. Papa yakin dia akan mendapatkan pasangan yang sepadan dengannya," ujar Jamie menjelaskan.


"Bagaimana kalau dia menyukai Papa dan lebih memilih Papa dibanding yang lainnya?"


"Itu tidak mungkin," elak Jamie.


"Jangan sia-siakan masa mudamu hanya untuk merawatku," kekeh Jamie.


Tiffany kembali ke kursinya, duduk menghadap pria yang ia dengar telah menolaknya.


"Apa mungkin hanya aku yang salah paham dengan semua kebaikanmu?"


"Maksudnya?" jamie menautkan alisnya.


"Apakah hanya aku yang memiliki perasaan sepihak, menyukaimu sementara kamu tidak?"


"Bukan begitu. Tapi-"


"Papaku sudah menyetujui." potong Tiffany cepat.


"Kami pun setuju kalau Papa ingin menikah lagi." Collin menyela pembicaraan dua orang di hadapannya.


Hal itu membuat kedua mata Tiffany berbinar. Kini restu dari calon anak sambungnya sudah ia dapatkan. Meski mungkin usia wanita itu tak terlalu jauh perbedaannya dengan Collin, Tiffany tampak lebih dewasa dibanding wanita lain yang seusia dengannya.

__ADS_1


"Kalau Papa masih sering labil seperti kebanyakan anak muda jaman sekarang, bawa saja dia untuk menikah."


Perkataan Collin sontak membuat Tiffany tertawa hingga kedua sudut matanya mengeluarkan tetes bening yang sebelumnya tertahan.


***


Collin dan Celia berencana menginap semalam di rumah Jamie. Saat ini Collin dan Celia membiarkan Jamie bersama dengan Tiffany menemui orang tua Tiffany yang ternyata salah satu mantan pasien Jamie. Orangtua Tiffany bahkan dengan sukarela menawarkan putrinya yang ternyata memang menyukai Jamie karena pernah menolongnya saat dia hampir dilecehkan ketika kencan buta dengan pemuda lain.


Rumah itu masih sama. Tak ada yang berbeda meski Collin sudah meninggalkannya hampir satu tahun lamanya. Collin menggandeng istrinya, melangkah ke kamar lamanya yang ada di lantai dua.


Mereka berencana menempati kamar Collin yang tak pernah diubah isinya oleh sang papa selama di negara itu. Setiap hari kamar itu hanya dibersihkan agar tak berdebu, khawatir Collin tiba-tiba kembali ke rumah itu seperti saat ini.


“Ini kamarku,” ucap Collin saat mereka tiba di rumah Jamie.


Celia menatap ke sekeliling. Kamar bernuansakan abu-abu itu benar-benar mencerminkan Collin. Terdapat sebuah meja belajar di sisi kamar, tak jauh dari jendela besar dengan kaca yang lebar.


“Di sini, tempat kamu biasa memandang langit yang sama bukan?”


Collin mengangguk. Pria itu membukakan kaca jendela yang bisa digeser ke samping. Jendela yang sekaligus menjadi pintu akses menuju balkon kamar, spot spesial saat ia merindukan wanita yang kini bisa ia dekap sesuka hatinya.


"Di sini sangat indah," ujar Celia saat melihat gurat oranye di langit yang mulai berwarna keunguan.


"Kamu lebih indah," ucap Collin yang tak berhenti menghirup aroma tubuh istrinya dari belakang.


"Apa kamu tak lelah?" Tanya Celia yang saat ini sudah berbalik menghadap suaminya.


"Apa kamu merasa kelelahan?" Tanya Collin.


Dengan memasang raut sedih penuh penyesalan, Celia menganggukkan kepalanya. Hal itu membuat Collin semakin gemas dan ingin memangsa istrinya.


"Istirahatlah lebih dulu," ucap Collin yang kemudian memilih mengusap pelan rambut istrinya.


Tanpa menunggu waktu lama lagi, Celia mengangguk. Dia kemudian berjalan menuju kamar, meninggalkan Collin sendiri yang menatapnya dari belakang. Setelah beberapa saat, Celia menghentikan langkahnya. Dia berbalik menatap suaminya seraya menyunggingkan senyum.


Detik kemudian, wanita itu menanggalkan kain yang melekat ditubuhnya satu per satu, sengaja menggoda sang suami yang kini menatapnya dengan tatapan lapar.


"Oh, Tuhan! Godaan apa lagi ini." Collin meraup wajahnya kasar.


"Sudah mulai nakal, ya?" Ucap Collin mulai mengikis jarak dengan istrinya yang kini hanya mengenakan penutup aset berharganya saja.


to be continued ♥️

__ADS_1


thanks for reading 🥰


__ADS_2