Celia

Celia
Lelaki Paling Beruntung


__ADS_3

Collin membawa Celia ke dalam kamar yang telah dihias seperti kamar pengantin. Kelopak mawar di atas ranjang kini berserakan, terjatuh ke lantai kamar pasangan pengantin lama yang baru akan merasakan indahnya mengarungi dunia penuh bara asmara.


Bibir keduanya masih bertaut, saling menyesap rasa manis yang melebihi manisnya madu. Kecapan lidah keduanya terdengar memenuhi ruangan temaram yang telah disiapkan dengan begitu sempurna.


Collin melepaskan tautannya, menatap wajah cantik yang kini sudah berada di dalam kuasanya. Entah mengapa malam ini istrinya tampak sangat cantik meski di bawah pencahayaan minim.


“Katakan sekarang kalau kamu ingin aku berhenti karena aku tak akan menghentikannya setelah ini meski kamu meminta dan memohon,” lirih Collin masih dengan napas memburu.


Celia menatap dalam mata suaminya dan mengalungkan tangannya ke leher Collin. Gadis itu kemudian mendekatkan wajah suaminya kembali seraya berkata lirih, "Jangan berhenti." Diikuti penyatuan bibir keduanya.


Mendapatkan sambutan seperti itu dari Celia membuat tubuh Collin bergetar penuh hasrat.


Tangan kiri Collin mengangkat tangan Celia ke atas kepalanya. Sementara tangan lainnya menyentuh sesuatu yang selama ini menjadi mainannya setiap malam.


Tak perlu mengeluarkan banyak tenaga, Collin berhasil melepas kaitan segitiga penutup benda favoritnya. Jangan tanyakan pakaian yang menutup tubuh wanita itu, dalam sekali tarikan, kain tipis itu sudah teronggok tak berdaya di atas lantai.


Collin sesaat menghentikan gerakannya, pemuda yang masih mengenakan pakaian lengkap itu, melepas pakaiannya sendiri. Matanya yang meredup sayu terus menatapi sang istri yang sudah tergolek indah. Pandangan mata penuh puja terus Collin layangkan pada Celia tanpa jeda.


Rona merah jambu tampak jelas di wajah Celia. Gadis itu memalingkan wajahnya saat melihat tubuh Collin kini terekspos sempurna, menyisakan celana pendek yang mencetak jelas tubuh bagian bawahnya. Dia susah payah menelan ludahnya, membayangkan sesuatu yang ada di balik celana pendek itu.


Collin kembali menyatukan napas mereka, memulai permainan yang akan menjadi pengikat kuat hubungan mereka yang telah lama tertunda. Kini tak ada lagi tabir yang menghalangi pasangan muda itu dalam mengarungi dalamnya lautan asmara.


“Apa kamu ingin berhenti, Sayang?” tanya Collin yang masih belum memulai puncak penyatuan mereka. Sekali lagi pria itu menanyakan penerimaan Celia atas dirinya.


Celia menggelengkan kepalanya. Tak ada hal lain yang kini ia pikirkan selain perlakuan lembut suaminya yang melenakan.


Collin pun kembali membenamkan bibirnya di atas bibir Celia dan mengulumnya rasa-rasa. Menggiring hasr*t sang istri agar lebih membara lagi. Jari jemarinya memberikan sentuhan-sentuhan seringan bulu di setiap inci kulit mulus istrinya.

__ADS_1


Des*h manja dan erangan tertahan menggema begitu merdu mengisi kesunyian malam. Keduanya bermandikan peluh di dalam ruangan dengan mesin pendingin yang menyala.


Celia memelantingkan tubuhnya dengan kepala menengadah. Kuku gadis itu mencengkeram erat punggung Collin yang baru saja berhasil menerobos pertahanan terakhir gadis itu.


“Aku tak gadis lagi,” rengek Celia saat Collin menghentikan gerakannya agar Celia terbiasa dengan keberadaan dirinya yang telah menyatu sempurna.


Collin terkekeh geli. Pria itu mengecup kening Celia, cukup lama hingga Celia memejamkan kedua matanya berusaha melupakan rasa tak nyaman yang disertai perih tiada terkira.


“Ich liebe dich, mein schatz,” ucap Collin dalam bahasa Jerman sebelum kembali menyesap manisnya bibir istrinya yang sedikit bengkak karena ulahnya.


Perlahan Collin menggerakkan tubuhnya hingga saat Celia mulai merasa nyaman, pria itu menambah kecepatan hujamannya yang membuat sang istri menjerit manja. Hal itu semakin menambah semangat Collin untuk memuaskan wanita yang masih ada dalam kungkungannya.


Collin merasa ada yang berkedut dan mencengkeram semakin erat saat ia menggerakkan tubuhnya. Dia tahu kalau Celia akan mencapai puncaknya yang pertama.


“Lepaskan saja, Sayang,” bisik Collin lembut sembari terus memperdalam penyatuan mereka.


Kedua tangan Celia meremas kuat kain sprei yang ada dibawahnya. Tubuh wanita itu sedikit bergetar sebelum akhirnya lemas karena dorongan sesuatu yang ingin menyeruak keluar, baru pertama kali ia rasakan. Nafasnya menderu terengah-engah dengan matanya yang meredup sayu menatap pada Collin.


“Aku masih belum tiba di garis finish,” bisik pria itu dengan seringai penuh arti.


Tanpa diajari lagi, Celia paham kalau suaminya masih belum merasakan apa yang baru saja ia rasakan. Mereka pun mengulang penyatuan mereka. Sudah hampir setengah jam, Collin masih belum tiba di puncaknya. Celia nyaris kewalahan karena mereka telah melakukan berbagai macam hal baru namun Collin masih belum mencapai titik akhir penyatuannya.


Hingga pada akhirnya Celia menyadari kalau ada yang berbeda dengan ritme penyatuan mereka. Collin melakukannya dengan irama yang lebih cepat dari sebelumnya.


Entah sudah berapa kali Celia mendapatkan pelepasannya, wanita itu kini kembali merasakan dorongan yang sama disertai dengan suara lirih suaminya yang mengatakan dia akan mendapatkan puncak pertamanya.


Keduanya melenguh dan mengerang secara bersamaan saat pelepasan mereka tiba.

__ADS_1


“Semoga apa yang aku tanam membuahkan kebaikan untuk kita semua,” ucap Collin kembali mengecup kening Celia cukup lama.


Pria itu berguling memisahkan diri dan mengistirahatkan tubuhnya. Dia mengatur napas dan menaikkan selimut hingga menutupi tubuh istrinya agar tak merasakan dingin yang kini mulai terasa.


Celia yang sangat kelelahan langsung memejamkan mata dan menyelami alam mimpinya. Collin tersenyum lembut dan menatap istrinya itu dengan rasa cinta yang membuncah. "Ich liebe dich, mein schatz," (aku mencintaimu, kekasihku) ucap Collin entah untuk yang ke berapa kalinya.


Malam ini Collin banyak sekali mengucapkan kata-kata cinta untuk Celia, karena itulah yang ia rasakan pada gadis yang kini sudah menjadi wanitanya.


Cukup lama Collin pandangi wajah Celia yang sudah terlelap tidur. Dalam hatinya berucap banyak kata syukur karena ia merasa menjadi lelaki paling beruntung di dunia.


Dan.. Celia lah yang menjadikan Collin merasa seperti itu..


***


Entah berapa lama mereka terpejam, Celia terbangun kembali karena merasakan ada sesuatu yang saat ini tengah menggodanya.


“Istirahatlah. Kau hanya perlu menikmati dan menerima saja,” ucap Collin yang kini sudah ada di bawah tubuh istrinya seolah merasa kurang jika hanya melakukannya sekali.


Pria itu seolah tak memberikan ampun pada istrinya dengan meluapkan apa yang telah menyiksanya selama ini.


Celia menggigit bibir bawahnya malu-malu. Ia pun sama-sama menginginkannya. Ingin merasakan sentuhan-sentuhan lembut Collin yang syarat akan rasa cinta.


Celia pun anggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. "good girl," gumam Collin sambil tersenyum lembut.


Babak kedua yang penuh gelora asmara pun kembali dimulai.


to be continued ♥️

__ADS_1


thanks for reading 🥰♥️


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚


__ADS_2