Celia

Celia
Ketahuan


__ADS_3

Selamat Membaca ♥️


Renata menyembunyikan wajahnya dalam dekapan suaminya. Itu bukan sesuatu yang direncanakan. Mereka hanya terbawa perasaan.


“Tolong, Dad. Kalau kalian ingin menikmati makan malam yang berbeda, setelah kita makan malam yang mengenyangkan perut saja,” ujar Aksa yang kemudian melangkahkan kakinya kembali ke ruang makan meninggalkan orangtuanya yang melakukan aktivitas pencemaran kedua matanya.


“Ayo kita makan malam dulu,” ujar Renata yang kini menatap wajah suaminya.


Rona merah jambu masih tercetak jelas di kedua pipi wanita yang merupakan separuh nyawa Fabian.


Fabian mengangguk. “Nanti aku akan menagih makan malam lagi, jangan lupa disiapkan,” balas Fabian mengerling nakal.


Wajah Renata terasa semakin panas. Wanita itu menutup wajah dengan kedua tangannya layaknya seperti anak muda yang tengah dimabuk asmara.


Wanita itu mengekor suaminya menuju meja makan di mana berbagai menu sudah terhidang di sana, hampir dingin.


“Apa perlu aku panaskan lagi?” tawar Renata.


“Menu lain saja yang perlu dipanaskan,” celetuk Fabian yang mulai mengambil lauk dan sayuran ke piringnya.


Sementara Aksa memutar bola matanya. Kedua orangtuanya seperti tak kenal waktu mengumbar kemesraan. Dia tak habis pikir dengan pasangan itu. Meski tak lagi muda, kemesraan pasangan itu justru semakin menggelora.


Pemuda itu segera menghabiskan makan malamnya. Rasanya tak sanggup lagi dirinya menjadi pihak ketiga di antara dua orang yang selalu dimabuk cinta.


“Aksa sudah selesai. Aksa izin kembali ke kamar, Mom, Dad,” pamit pria itu usai menandaskan air putih di gelasnya setelah menandaskan makanan di atas piring miliknya.


Renata dan Fabian belum sempat berkata, anak laki-lakinya sudah bangkit dan meninggalkan mereka menuju kamarnya.


***


Setelah makan malam bersama, pasangan itu kembali ke kamar mereka. Menghangatkan kembali apa yang sebelumnya sempat terjeda. Menyalakan api asmara yang kian menggelora seperti malam biasanya. Entah mengapa rasanya mereka tak pernah bosan mengulang kegiatan yang memacu adrenalin pasangan itu bila malam tiba.


Renata sudah siap di atas ranjang empuk berukuran besar menunggu suaminya yang saat ini sedang ada di kamar mandi. Wanita itu sudah bersiap dengan pakaian dinas malamnya yang begitu menggoda. Wanita itu yakin suaminya pasti akan senang mendapati hidangan besarnya sudah tersedia di depan mata saat dia keluar dari ruang kecil yang bernama kamar mandi.

__ADS_1


Suara gemercik air yang sebelumnya terdengar di kamar itu sudah terhenti. Tak lama lagi orang yang ada di ruangan itu akan keluar.


Benar saja, sesosok pria yang sudah mengenakan kaos polos dengan celana pendek kesayangannya. Lelaki itu sesaat terdiam mematung saat mendapati istrinya saat ini berada di atas tempat tidur mereka. Pria itu seperti kesusahan menelan ludahnya. Pemandangan di hadapannya benar-benar menggoda. Dan tanpa menunggu waktu lama, dia menghampiri hidangan makan malamnya yang manis dan membuat ketagihan.


***


Sementara itu, Celia dan Collin saat ini sudah dalam perjalanan pulang. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Dan Celia saat ini seharusnya sudah ada di dalam rumahnya.


Gadis itu takut kalau orangtuanya membuka kamarnya dan menyadari bahwa kamarnya kosong karena pemiliknya sedang berkeliaran dengan seorang pria yang merupakan kekasihnya.


“Kamu masih belum memberitahuku mengapa kamu cuti seminggu dari pekerjaanmu. Bukankah tiga hari sudah cukup?” tanya Celia pada kekasihnya itu.


“Justru seminggu terlalu singkat buatku. Aku terlalu merindukanmu. Apa kamu mencintaiku?” jawab Collin seraya melemparkan pertanyaan lain. Ia masih saja membutuhkan pengakuan Celia tentang perasaan cintanya.


“Justru karena aku terlalu mencintaimu aku menanyakan itu. Rasanya enggan berpisah denganmu terlalu lama. Tapi, aku khawatir dengan bagaimana posesifnya Daddy padaku. Rasanya sulit untuk menghadapinya dan membuatnya luluh atas hubungan kita karena dia bukan orang yang mudah.”


jawab Celia takut-takut.


“Kita akan berjuang bersama. Dan kalau pun kamu menyerah, aku tetap akan memperjuangkanmu hingga akhir hayatku. Aku rela mati-“


“Jangan dilanjutkan. Lebih baik kita membicarakan hal baik tentang hubungan kita.” sahut Celia tak percaya dengan apa yang Collin ucapkan. Celia merasa haru dan juga takut di waktu yang bersamaan. Tak terbayangkan jika Collin benar-benar melakukan hal itu.


Collin menganggukkan kepalanya sebagai bentuk persetujuan atas perkataan Celia. lelaki itu lantas tersenyum mendengar pernyataan kekasihnya. Bukankah itu berarti Celia memiliki pandangan baik tentang keberlangsungan hubungan mereka? Dan Collin yakin akan hubungan mereka yang akan memiliki akhir bahagia.


Tanpa terasa mereka berdua sudah sampai di daerah rumah Celia. Pria itu menghentikan mobilnya di tempat biasanya, di depan sebuah rumah yang hanya berjarak sekitar tiga rumah dari kediaman gadis itu.


“Kenapa waktu berputar begitu cepat,” ujar Celia mengerucutkan bibirnya.


“Kamu tahu? Saat ini rasanya aku ingin melahap bibirmu,” goda Collin.


Celia segera menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Bibirnya juga tak lagi ia majukan karena tak ingin pria itu tergoda meski sebenarnya dia juga menginginkannya. Terlebih mereka berstatus sebagai pasangan kekasih.


“Segeralah pulang. Nanti jangan lupa menghubungiku sebelum kamu tidur,” ucap Collin seraya mengusap ringan pipi gadis cantik itu.

__ADS_1


“Kamu juga jangan lupa menghubungiku kalau sudah sampai rumah,” pinta Celia.


Collin menganggukkan kepalanya, menyanggupi permintaan kekasihnya yang sangat mudah untuk dilakukan olehnya.


“Aku pulang dulu. Hati-hati berkendara,” pamit Celia kepada kekasihnya ynag masih duduk di balik kemudi.


Gadis itu melambaikan tangannya ke arah pria yang masih tak melajukan kendaraan roda empatnya meninggalkan area itu.


Lelaki itu ingin memastikan kekasihnya baik-baik saja hingga masuk ke dalam rumahnya. Dia tak ingin terjadi sesuatu pada Celia saat dia meninggalkan tempat itu. Sedikit pun dia tak ingin lengah untuk menjaga wanita yang bertakhta di hatinya.


Hingga samar-samar pria itu menyadari sesuatu. Dia merasa ada yang tengah mengikutinya saat ini. Collin baru menyadari kalau ada sebuah mobil yang sejak tadi mengikutinya. Bahkan mobil itu saat ini ikut berhenti tak jauh dari tempat ia berada.


“Siapa dia? Dan siapa yang sedang diincar olehnya?” gumam Collin dalam mobil.


Setelah memastikan Celia masuk ke dalam rumahnya, Collin akhirnya melajukan kendaraan roda empatnya meninggalkan area rumah Celia. Dan sesuai perkiraan, mobil yang mengikutinya sejak awal, kembali mengekor dirinya yang hendak pulang.


***


Celia berjalan mengendap-endap mendekati dinding rumahnya. Gadis itu memanjat dinding rumah itu untuk menjangkau kamarnya yang berada di lantai dua. Dengan susah payah akhirnya gadis itu berhasil sampai di balkon kecil kamarnya, kemudian membuka jendela kamarnya secara perlahan.


Cahaya rembulan masuk ke dalam kamarnya yang gelap seiring terbukanya jendela yang berukuran cukup besar itu. Dia selalu mematikan lampu kamarnya seperti biasa karena kedua orangnya tahu bila saat lampu kamarnya sudah tak menyala, itu berarti dia sudah tidur.


Gadis itu bersyukur bahwa kedua orang tuanya tak mengetahui kalau selama beberapa jam yang lalu kamar itu kosong.


“Syukurlah semuanya masih aman terkendali,” lirih gadis itu.


Celia menutup jendela kamarnya kembali. Dia pun menutup kembali tirainya.


Tepat saat tirai tertutup, lampu kamarnya menyala dengan sendirinya, mengejutkan Celia yang masih tak berani membalikkan badannya menghadapi orang yang menyalakan sakelar listrik ruangannya.


to be continued ♥️


thanks for reading ♥️

__ADS_1


jangan lupa like, komen, vote dan hadiah ya 😚


terimakasih ♥️


__ADS_2