
Happy reading ♥️
Celia mengangkat sebelah alisnya, berusaha bersikap biasa saja dan kembali memasang wajah menyebalkan di hadapan pria yang sangat ia rindukan selama ini.
Gadis itu masih enggan mengakui kalau dirinya begitu merindukan Collin yang tak memberinya kabar selain sebuah undangan yang beberapa menit lalu tiba sebelum kedatangan pemuda itu. Dia berusaha untuk terlihat tegar dan tak goyah dengan keputusan yang telah ia buat.
“Apa lagi? Tidak mungkin kalau kamu memintaku datang untuk melihat kalian menikah, bukan?” kekeh Celia.
“Kamu pikir aku memberimu salah satu undangan ini untuk apa kalau bukan supaya kamu datang ke pernikahanku?” Collin tersenyum miring melihat Celia yang masih keras kepala.
“Tapi-“
“Bukankah kamu berkata kalau kamu turut berbahagia karena aku menikah dengan yang lain, Celia?” potong Collin.
Dia tak memberikan Celia kesempatan untuk berbicara, memberikan penolakan dan alasan bahwa dirinya tak akan datang ke acara pernikahannya. Bagaimana pun juga Celia harus datang.
“Maka dari itu ... Saksikanlah! Kamu harus menjadi salah satu saksi untuk pernikahanku agar kamu turut berbahagia untukku!”
Collin menekan Celia.
Dia hanya bermaksud memberitahu kalau sebenarnya hatinya masih sakit dan sangat sakit saat gadis itu mendorongnya pergi berulang kali.
Namun, bukan Collin namanya kalau mudah menyerah. Meruntuhkan dinding ego yang dibangun oleh Fabian saja dia mampu. Tak menutup kemungkinan dia bisa meruntuhkan kerasnya hati Celia yang baru dibangun oleh gadis itu.
“Kamu ingin membuatku tersiksa, bukan?” ucap gadis itu yang mulai terisak. Tubuhnya bergetar karena tangis yang kini menyeruak tanpa bisa dihentikan.
Collin tertawa miring, membuat Celia takut dan melangkah mundur, menjauh dari pemuda yang tampak berubah dari sebelumnya.
“Bagaimana mungkin aku membuatmu tersiksa? Aku hanya menuruti kemauanmu Celia. Bukankah kamu memintaku untuk menikahi orang lain?”
“Aku bukan ingin menyiksamu. Aku hanya ingin kamu turut merasakan kebahagiaan dengan membuatmu melihat bagaimana aku memperlakukan wanita lain dengan sepenuh jiwa.” Collin menyeringai menyebalkan.
“Itu sama dengan kamu menyiksaku, Collin!” teriak Celia pada akhirnya.
__ADS_1
Collin tertegun dengan perkataan Celia. Secara tak langsung gadis itu mengakui bahwa sebenarnya Celia masih mencintainya. Dan gadis itu mendorongnya pergi bukan karena tak lagi ada cinta di antara mereka.
“itu bukan hal menyiksa jika kamu sudah tak mencintai aku lagi Celia!” Collin tersenyum samar. Dia masih memasang wajah menyebalkan, sengaja agar Celia mengungkapkan apa yang membuatnya berubah di akhir perjuangan cinta mereka. Collin ingin dia dan Celia melangkah menuju akhir yang bahagia.
“Karena aku masih mencintaimu jadi aku memintamu untuk bersama dengan yang lain!” ucap Celia menundukkan kepalanya.
Collin tersenyum samar. Namun, seketika dia menguburnya saat Celia menatapnya dengan berurai air mata. Dia tetap pada tujuannya. Pernikahannya tetap akan terlaksana.
“Sama sepertimu, aku pun tersiksa, Celia. Tak akan adil jika hanya aku yang terluka karena semua ini. Jadi, terimalah.”
Collin meninggalkan kamar Celia, membiarkan gadis itu menangis tanpa ada yang mendekapnya lagi.
Collin kini berhati dingin, tak lagi peduli jika Celia tak ingin. Dengan mantap, dia melangkah dan pamit ke orang tua Celia. Samar, mereka menganggukkan kepalanya, mengisyaratkan semua akan baik-baik saja.
***
Tubuh Celia merosot, kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya yang terluka dalam karena ulahnya sendiri. Bukan sayatan atau goresan luka di luar tubuhnya yang menimbulkan sakit hanya sementara. Namun luka tak kasat mata yang ia torehkan sendiri di hatinya hingga Collin memilih menghukumnya seperti itu.
“Kenapa harus seperti ini? Kenapa kamu harus memberiku hukuman seperti ini, Collin? Tak bisakah kamu meninggalkanku begitu saja, tanpa memintaku untuk datang?”
“maafkan Aku, Collin. Maaf.” lirih Celia diantara isakkan tangisnya.
***
Waktu bergulir dengan sangat cepat. Setelah mengantarkan undangan pernikahannya, Collin benar-benar hilang tanpa kabar. Bahkan kedua orangtua Celia pun tak lagi membahas apapun tentangnya dan juga Collin. Sedikit aneh karena biasanya Renata dan juga Fabian masih sering menanyakan apakah Collin masih menghubunginya atau tidak.
Hari itu, Renata meminta Celia untuk bersiap. Dia akan menghadiri pernikahan Collin bersama. Renata bahkan sudah menyiapkan sebuah gaun berwarna putih senada dengan milik Mommy-nya. Tentu saja dengan model yang berbeda.
“Kenapa harus putih, Mom?” tanya Celia saat menatap gaun putih yang diberikan oleh Mommy-nya.
Rasanya sedikit aneh. Apalagi untuk menghadiri pernikahan seseorang.
“Itu dress code hari ini. Apa Collin tak memberitahumu?” tanya Renata sembari mengerutkan alisnya.
__ADS_1
Celia menggelengkan kepalanya dengan lemah. Dia benar-benar tak tahu karena enggan untuk pergi. Tapi ternyata Mommy-nya justru memaksa dan mengajaknya pergi bersama.
“Ke mana Daddy? Kenapa kalian tidak berangkat berdua saja?”
“Daddy sudah berangkat dengan Aksa. Jamie meminta tolong mereka untuk menjadi penerima tamu undangan.” jawab Renata dengan tenang.
Celia membulatkan mulutnya meski merasa ada sesuatu yang tak wajar baginya. Dengan malas, Celia berjalan menuju kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Gadis itu hendak protes saat menyadari pakaian yang diberikan oleh Renata terlalu berlebihan kalau hanya untuk seorang tamu undangan.
“Mom, kalau aku berpakaian seperti ini, yang ada pengantin wanitanya akan merasa tersaingi,” keluh Celia.
Namun Renata mengabaikan penolakan putrinya. Dia menghalangi Celia yang hendak kembali ke dalam kamar mandi mengganti pakaiannya. Wanita yang masih cantik meski usianya sudah tak lagi muda itu menuntun anak gadisnya untuk duduk di depan meja rias. Dengan kemampuannya, Renata mengubah penampilan Celia bak seorang putri.
“Cantik!” ucap Renata usai menciptakan keajaiban dengan tangan lentiknya.
Celia ingin protes. Namun, Renata menariknya turun dan memintanya untuk bersiap karena acara sudah akan dimulai.
“Tak ada waktu lagi!”
Renata memaksa putrinya untuk segera masuk ke dalam mobil. Bersamanya duduk di kursi penumpang belakang, menuju lokasi diadakannya pernikahan Collin.
Setelah dua puluh menit berkendara, mereka akhirnya tiba. Celia menatap bingung ke sekelilingnya yang mana tak ada satu pun undangan yang tiba di sana. Hanya ada dirinya yang mengamati sekitar. Renata pun mendadak menghilang, meninggalkan dirinya yang kebingungan.
Celia kini berada di ruang terbuka yang dihias sedemikian rupa. Kursi-kursi pun berbaris rapi menghadap ke sebuah meja yang dikelilingi enam kursi lain dengan hiasan bunga dan renda yang mengikat sandarannya.
Belum hilang kebingungannya, Collin berjalan dari balik tirai menuju ke arahnya seraya tersenyum. Tatapan mereka bertemu. Namun, Celia mendadak menundukkan wajahnya. Dia menutup kedua matanya berharap semua itu adalah mimpi.
“Sadarlah Celia! Bangunlah dari mimpimu! Collin sudah akan menikah dengan orang lain!” ujar Celia pada dirinya sendiri.
“Aku sudah menduga kalau kamu tak akan membaca kartu undangan yang kukirimkan padamu,” kekeh Collin.
Celia pun membuka kedua matanya. Dia melihat Collin meraih tangannya dan menariknya berjalan menuju meja akad di mana Fabian dengan seorang penghulu sudah duduk di tempatnya. Kursi yang semula kosong itu kini terisi oleh tamu undangan yang entah sejak kapan ada di sana.
Celia masih tertegun. Dia tak sanggup berkata-kata lagi. Hingga saat semua orang mengucap kata “SAH!” barulah Celia sadar, kalau semuanya adalah sesuatu yang nyata. Terlebih ia kini melihat Collin sudah berhasil menyematkan sebuah cincin di jari manisnya.
__ADS_1
to be continued ♥️
jangan lupa like komen dan vote yaaa