Celia

Celia
Kata Bapak Mertua


__ADS_3

Sejak tadi Collin merasa gelisah. Begitu jelas kalau dia tak bisa duduk dengan benar saat melihat kedua mertuanya datang bertamu di pagi hari. Dan terlalu awal bagi pengantin baru itu menemui tamu hari itu.


"Daddy dan Mommy sudah sarapan? Akan saya siapkan dulu," ucap Collin hendak bangkit menuju dapur.


Fabian mengangkat tangannya. Mengisyaratkan agar pemuda itu tak meneruskan niatnya untuk menghindar ke dapur.


"Kami sudah sarapan tadi dua jam yang lalu," ujar Fabian dengan wajah datarnya.


"Ada perlu apa Daddy dan Mommy ke sini?" Selidik Celia.


Baginya sedikit aneh jika kedua orangtuanya mendadak datang menemui mereka dan membuat keributan di pagi hari. Perempuan itu bahkan bersiap untuk membujuk kedua orangtuanya untuk pulang jika memang tak ada yang penting untuk mereka katakan.


"Katakan, ada apa?" Ulang Celia.


Collin pun tampak menanti kedua mertuanya berbicara. Pria itu menggenggam tangan istrinya yang disembunyikan di bawah meja. Mereka merasa bersalah atas apa yang tidak mereka ketahui. Apa mungkin karena mereka sampai lupa waktu?


Fabian mengembuskan napas kasar. Pria yang beberapa tahun lagi akan memasuki usia emasnya itu menatap putrinya yang masih tampak seperti anak kecil baginya.


"Daddy-mu hanya khawatir kamu terluka saat kalian melakukan itu," ucap Renata sembari menautkan kedua jarinya di hadapan pasangan muda itu.


"Mungkin Daddy-mu malu mengatakannya. Tapi dia sangat mengkhawatirkanmu," imbuh Renata.


"Ehem!"


Fabian berdeham seraya memalingkan wajahnya. Dia merasa malu karena masih saja khawatir berlebihan.


"Oh, iya. Kami juga ingin mengonfirmasi sesuatu."


"Collin. Daddy ingin berbicara berdua denganmu," ucap Fabian memotong perkataan istrinya.


Pria itu menggelengkan kepala, memberi isyarat larangan kepada istrinya yang dijawab anggukan oleh wanita itu. Fabian kemudian meninggalkan dua wanita yang masih sangat ia cintai, istri dan anaknya. Dia enggan meninggalkan mereka barang sebentar saja. Namun, sesuatu hal yang hendak ia bicarakan cukup penting mengingat itu demi kelangsungan rumah tangga putrinya.


Melihat Collin dan Fabian meninggalkanya bersama Celia, Renata berinisiatif untuk mengajak Celia memasak. Dia juga ingin mengajari putrinya memasak untuk menyenangkan perut sang suami.

__ADS_1


"Kebetulan sekali kemarin Celia beli ikan besar, Mom. Tapi Celia tak tahu mau masak apa," ujar Celia yang berjalan beriringan bersama Mommy-nya ke dapur.


"Oh, ya? Memangnya ikan jenis apa?"


"Celia juga tak paham dengan jenis ikan, Mom," kekeh Celia menampakkan gigi putihnya.


Renata mengetuk kening putrinya perlahan. Diiringi dengan senyuman wanita itu menasehati Celia yang masih enggan melepaskan tautan tangannya.


"Biar Mommy lihat," ucap Renata yang kemudian membuka isi kulkas putrinya.


Ternyata tak hanya satu jenis ikan. Celia menumpuk beberapa jenis ikan yang ia masukkan ke dalam lemari pendingin itu.


"Ini abis beli apa ngeluarin isi akuarium?" Sindir halus Renata.


Celia hanya tersenyum mendapat sindiran halus Mommy-nya. Dia melihat wanita yang melahirkan dan membesarkannya itu mengambil seekor ikan tawar yang ada di dalam kantong plastik. Ikan itu sudah dibersihkan oleh penjual ikan di pasar atas permintaan Celia yang terang-terangan mengatakan kalau dia tak bisa membersihkan ikan dan isian dalamnya.


"Baiklah, Mommy akan menunjukkan padamu bagaimana mengolah ikan ini. Kamu siapkan bumbunya. Kita akan masak ikan dengan bumbu asam manis," ujar Renata memberi klu pertama untuk masakan mereka sebagai santapan makan siang di rumah pengatin lama yang seperti baru itu.


"Oh, iya. Kamu bawakan teh dan kudapan dulu buat dua pria itu," ucap Renata yang hampir melupakan dua lelaki berharga bagi putrinya itu.


Sementara itu, Collin dan Fabian sudah ada di dalam ruang kerja dokter muda itu. Mereka saat ini duduk berhadapan dan hanya dihalangi oleh sebuah meja yang cukup lebar.


Fabian masih sedikit enggan untuk berbicara dengan pria yang telah berhasil merebut anak gadisnya. Namun, dia takbisa melarang atau mengekangnya.


"Apa yang ingin Daddy tanyakan?" Tanya Collin tanpa menunggu pria itu memulai pembicaraan.


Saat pria itu ingin bersuara, terdengar ketukan dari pintu ruang kerja yang tertutup itu.


"Masuk!" ucap Collin sedikit mengeraskan suaranya.


Seorang wanita muda datang menghampiri dua pria itu dengan tersenyum. Di tangannya, tersapat sebuah nampan dengan dua buah gelas berisi teh dan sepiring kudapan untuk menemani mereka.


Setelah meletakkannya di atas meja, Celia kemudian pamit untuk kembali ke dapur, menamui Mommy-nya yang sudah selesai mengasah pisau.

__ADS_1


Setelah Celia pergi, Collin dan Fabian menyesap perlahan teh yang hangat yang dibawakan oleh Celia. Sekadar untuk membasahi tenggorokan ya.


"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu."


"Katakan, Dad. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Tanya Collin yang dengan mudahnya menebak isi kepala Fabian.


Fabian mengangguk. Dia kemudian berkata, "Apa kamu mendapat kabar tentang Rian?"


Collin yang tadinya masih bisa tersenyum untuk menyembunyikan gugupnya, kini lengkungan senyum itu memudar. Raut wajahnya berubah menjadi sangat serius.


"Aku yakin kamu pasti tak tahu dan tak mendengar apa yang terjadi pada pria itu."


Collin menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Fabian. Dia hampir tak mengingat kalau Rian masih berkeliaran bebas di luar sana.


"Aku mendengar kabar kalau salah seorang karyawanku didatangi oleh Rian. Sepertinya masih gadis. Dan ... Cukup cantik. Hanya saja aku merasa sedikit aneh,' ucap Fabian.


"Apa yang aneh, Dad?"


"Beberapa waktu lalu aku melihat Rian menjemput wanita itu. Dan dia seperti tak mengingatku. Seolah poros hidupnya hanya ada di wanita itu."


"Apa mungkin ... Dia memiliki gangguan kejiwaan?" Lirih Collin.


"Itu yang ingin aku tanyakan kepadamu. Bisakah kamu mencari tahu apa kemungkinan yang terjadi pada pria itu? Akan sedikit sulit membawanya ke ranah hukum jika pria itu mengalami sedikit gangguan mental," ujar Fabian.


Collin mengangguk pasti. Dia sedikit paham dengan hukum di negara yang ia tinggali kini. Meski seseorang terbukti melakukan kejahatan, terkadang hukuman yang diterima itu tak sesuai karena banyaknya alasan tak masuk akal. Apalagi kalau memang Rian terbukti mengalami gangguan mental, pria itu hanya akan menjalani hukumannya di dalam rumah sakit khusus.


"Collin akan mencari informasi itu segera, Dad. Mommy dan Daddy tak perlu khawatir. Bagaimanapun Celia adalah tanggungjawabku. Dan aku tak akan melepaskan siapa pun yang telah membuat Celia seperti ini," gumam Collin tanpa sadar mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih.


Fabian menganggukkan kepalanya. Dia merasa sedikit lega mendengar perkataan Collin.


"Ngomong-ngomong, apa pabriknya semalam benar-benar beroperasi? Durasi berapa lama? Bukan lima detik bukan?"


Collin yang tengah menyesap tehnya mendadak terbatuk mendengar pertanyaan mertuanya.

__ADS_1


"Maaf!" Ujar Collin seraya menyeka bibirnya.


"Kalau kamu membutuhkan rekomendasi jamu biar tahan lama, Daddy punya kenalannya. Kapan-kapan kita ke sana biar istri kita masing-masing klepek-klepek," bisik Fabian.


__ADS_2