
happy reading ♥️
Celia tercekat. Gadis itu masih terdiam di tempatnya terlebih saat melihat tatapan Rian yang tak lagi bersahabat. Dia benar-benar tak sengaja menjatuhkan barang itu hingga membuatnya patah.
Rian yang sebelumnya masih bisa bersabar dengan penolakan Celia, kini mulai tersulur amarah. Kedua matanya tampak memerah saat melihat patung kuda kesayangannya itu patah. Patung itu adalah benda paling berharga pria itu yang memiliki kenangan terbaik dengan orang yang sangat ia cintai sebelum Celia.
Rian yang sejak dahulu memiliki sifat posesif dan obsesif melebihi Fabian, kini benar-benar murka. Dengan langkah lebar pria itu menghampiri Celia yang masih belum beranjak dari tempat semula.
Mengabaikan patung kesayangannya itu, Rian menarik Celia, menyeret gadis itu menuju kamar di lantai dua di mana kamar untuk Celia yang telah disiapkan oleh Rian.
“Lepaskan Rian!” pinta Celia seraya berontak.
Genggaman tangan pria itu sangat kuat hingga Celia merasakan sakit dan sedikit perih di pergelangan tangannya. Genggaman itu sangat kuat meski Celia berulang kali menggigit tangan pria itu agar terlepas, nyatanya genggamannya semakin erat.
“Maafkan aku, Rian. Aku mohon, lepaskan aku,” raung Celia.
Saat tiba di dalam kamar, Rian melempar tubuh Celia ke atas ranjang besar di kamar itu. Setelah itu Rian mengunci pintu kamar itu dan membuangnya asal.
Pria itu kemudian kembali melangkahkan kakinya mendekat ke arah Celia. Tak hanya itu, Rian membuka ikat pinggang yang sebelumnya selalu ia gunakan. Setelahnya, pemuda itu melepas kancing bajunya satu per satu dan terus mendekat ke arah Celia yang saat ini beringsut mundur karena ketakutan.
Melihat Rian yang tak seperti sebelumnya, membuat Celia benar-benar ketakutan. Gadis itu turun dari tempat tidur besar itu dan berlari ke arah jatuhnya kunci yang dilempar oleh Rian. Celia nyaris mendapat kunci itu sebelum Rian menarik rambutnya hingga kepala gadis itu tertarik ke belakang.
“Mau ke mana kamu, Sayang?” bisik Rian tanpa melepaskan tangannya yang menjambak rambut Celia.nRian mengabaikan Celia yang merasakan sakit akibat ulahnya.
“Kamu gila, Rian! Lepaskan aku! Sampai kapan pun aku tak mau denganmu!” pekik gadis itu.
Rian menulikan telinganya. Dia tak peduli dengan sumpah serapah yang diucapkan Celia padanya.
“Aku sudah pernah meminta dirimu secara baik-baik, Celia. Tapi kamu berkali-kali menolaknya. Bukankah itu berarti kamu menginginkan sesuatu yang seperti ini?” ujar Rian dengan seringai yang terbit di wajahnya.
“Tidak, Rian! Sampai kapan pun aku tak akan pernah menerimamu!”
Rian mengikat tangan Celia dengan ikat pinggang yang masih ia pegang. Setelahnya pemuda itu menarik Celia kembali mendekati ranjang. Keinginannya untuk membawa Celia dan memiliki gadis itu di atas ranjang kini ia urungkan. Pria itu mengaitkan sabuk yang mengikat tangan Celia ke kaki tempat tidur.
__ADS_1
“Lihatlah bagaimana aku menjadikan Celia milikku, Collin,” ujar Rian dengan suara lantang seolah Collin ada di dalam sana.
Pria itu kemudian mendekat ke arah Celia yang saat ini berurai air mata. Gadis itu tak bisa melakukan perlawanan. Dia hanya bisa berdoa, berharap akan ada seseorang yang akan membantunya keluar dan terlepas dari Rian.
***
Di sisi lain, Collin saat ini berhasil melepas tali yang mengikat tubuhnya. Pria itu dibiarkan sendiri dalam keadaan terikat di mana ada sebuah layar yang sangat lebar terpampang di hadapannya. Layar itu menampakkan kegiatan Rian dan Celia bersama di rumah itu. Bahkan saat Celia dibawa paksa oleh Rian, Collin bisa melihatnya dengan jelas. Collin berusaha melepaskan diri dari tempat itu.
Saat pemuda itu berhasil melepas ikatan tali yang sangat rapat, pemuda itu kini harus mencari pintu keluar ruangan yang sangat gelap dan rasanya tak berujung. Di ruangan itu hanya ada layar yang terpasang di dinding. Di sudut lain yang terkena pantulan cahaya layar, tak tampak ada celah untuknya keluar.
“Satu-satunya kemungkinan adalah di bawah layar besar itu pasti ada sebuah pintu keluar.”
Collin berjalan mendekati layar itu. Benar saja, sesuatu tampak berbeda dari dinding yang ia sentuh.
Teriakan Celia membuat pria itu kembali melihat ke arah layar.
“Celia!”
“Aku harus segera keluar dari tempat ini.”
Collin masih mengamati layar besar itu. Mencari celah dan memastikan kalau penjagaan di tempat-tempat yang mungkin ia lewati tak dijaga ketat.
Benar saja, saat pemuda itu mendobrak pintu yang tertutup di depannya, tak ada seorang pun yang berjaga di sana. Silau cahaya dari luar ruangan gelap itu membuat Collin memejamkan kedua matanya sesaat untuk menyesuaikan diri.
Setelah penglihatannya kembali normal, ia berjalan perlahan keluar dari tempat itu. Collin mendapati dirinya ada di lantai dua di mana dia berada di antara dua pintu kamar. Pemuda itu mengingat bahwa Rian membawa kekasihnya itu melewati sebuah anak tangga. Di mana itu berarti mereka kini ada di lantai yang sama.
“Celia pasti ada di salah satu ruangan itu,” gumam Collin. Pemuda itu berjalan perlahan ke kamar yang ada di sebelah kanannya.
Nihil! Celia tak ada di sana.
Pemuda itu dengan cepat menuju kamar yang lain yang saat ini pintunya tertutup. Dia tak bisa membuka pintu itu karena terkunci.
Sementara itu, Rian yang sudah hampir melucuti dalaman yang dipakai Celia, mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Dia mendengar keributan dari luar sana. Namun, detik berikutnya pria itu mengabaikan apa yang sedang terjadi di luar.
__ADS_1
Rian kembali menjelajahi tubuh Celia yang saat ini pakaian luarnya tak lagi berbentuk di sebelahnya akibat ulah Rian.
Celia memejamkan kedua matanya dengan air mata yang terus mengalir saat Rian akhirnya membuka pengait kain penutup asetnya.
Rian menatap tubuh Celia dengan tatapan lapar. Di pun takjub saat melihat keindahan dari gadis yang selalu ia inginkan untuk menjadi miliknya.
“Ternyata pilihanku tidak salah,” kekeh pria itu.
Seperti baru mendapatkan mainan baru, Rian menyentuh aset berharga Celia yang ada di bagian depan tubuhnya itu. Tatapan Rian sudah tertutup kabut gairah. Dia hendak melahap sesuatu yang sang tampak ranum dan bergelantungan di sana.
Namun, belum sempat pria itu memasukkan benda itu ke dalam mulutnya, sebuah hantaman keras mengenai kepala pria itu.
Celia terkejut saat ia mendengar suara dentuman keras yang begitu dekat dengannya.
“Collin!” seru Celia penuh haru.
Pria yang disebutkan namanya itu bergegas menuju lemari pakaian yang ada di dalam ruangan itu. Dia mengambil sehelai pakaian secara acak untuk menutup tubuh Celia. Tak lupa pemuda itu melepas tali yang mengikat tubuh gadis itu.
Setelah Celia mengenakan pakaiannya dengan baik, Collin membawa gadis itu pergi. Dia menggenggam tangan kekasihnya dengan sangat erat.
“Kita akan ke mana, Collin?” tanya Celia.
Kita harus keluar dari tempat ini dulu,” ucap Collin yang saat ini berjalan menuju tempat parkir. Di sana dia melihat ada sebuah motor yang kuncinya masih terpasag. Dengan cepat, Collin melompat naik ke atas kuda besi itu diikuti Celia.
Dua orang yang kabur itu diketahui oleh salah seorang pengawal yang baru selesai beristirahat. Dia kemudian mengejar Collin dan Celia tanpa diketahui oleh pasangan muda itu.
“Kita akan ke mana? Apa kamu tahu ke mana kita bisa pulang, Collin?” tanya Celia.
Collin hanya mengangguk. Meski tak terlalu yakin, dia pasti bisa menemukan jalan pulang.
to be continued ♥️
jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚
__ADS_1