
Entah berapa kali mereka mengulang kegiatan melelahkan yang menjadi candu bagi pasangan baru itu. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Celia kembali mengeringkan rambutnya setelah keramas untuk yang kedua kalinya. Usai subuh, pasangan yang baru merasakan bagaimana indahnya surga dunia itu kembali mengulang kegiatan mereka semalam.
Saat ini wanita itu menunggu sang suami yang tak kunjung keluar dari kamar mandi usai sesi lanjutan yang seolah tiada henti sembari mengeringkan rambutnya dengan hairdryer yang dalam sehari sudah dinyalakan dua kali. Dia tak bisa membayangkan kalau Collin akan membuatnya keramas setiap hari. Membayangkannya saja membuat Celia bergidik ngeri.
Dia tak menyangka kalau stamina suami dokternya itu sangat tinggi, seolah tak merasakan lelah sama sekali.
"Tidak mungkin kalau dia balas dendam, bukan?" gumam Celia.
"Siapa yang balas dendam?" tanya Collin yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya.
Pria itu tampak begitu segar setelah upaya membuka pabrik produksi bayi semalam. Tak seperti Celia yang tampak kelelahan karena telah dihisap madunya oleh sang kumbang.
Collin mengambil alih mesin pengering rambut di tangan istrinya. Dengan telaten, dia mengeringkan rambut wanita yang ia cinta hingga mengering sempurna. Aroma shampo menguar dari rambut Celia. Padahal mereka menggunakan produk sampo dengan varian yang sama. Namun, terasa berbeda saat sang istri yang menggunakannya.
Tanpa sadar, pria itu mengendus rambut istrinya hingga membuat empunya berusaha menghindar karena geli.
"Ayo kita sarapan dulu," ajak Celia.
"Aku maunya sarapan kamu," bisik Collin yang menahan pundak istrinya agar tak pergi.
"Ini sudah siang, Sayang. Apa kamu tak bekerja?" tanya Celia.
"Hari ini aku kebagian shift malam. Makanya aku ingin membawa bekal sebanyak-banyaknya agar semangat bekerja," lirih pria itu yang entah sejak kapan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Celia dan permintaan bekalnya terdengar ambigu.
"Kita sarapan dulu. Bagaimanapun kita butuh mengisi energi. Konon melakukan hal itu akan menyerap energi sepuluh kali lebih banyak," ujar Celia memberitahu. Dia seolah lupa saat ini berhadapan dengan siapa.
Collin terkekeh dan mencubit hidung istrinya.
"Kamu tunggu di sini saja. Aku akan menyiapkan makanan untukmu," ujar Collin.
"Aku mau ikut," rengek Celia seperti anak kecil.
"Apa kamu tak takut?"
"Takut kenapa?"
"Apa kamu ingin mencobanya di dapur?" Bisik Collin tepat di teling Celia.
Embusan napas pria itu membuat Celia geli. Belum lagi dengan perkataan suaminya yang membuat kepalanya menggeleng dengan cepat.
__ADS_1
"Menurutlah. Kalau tidak, jangan salahkan kalau aku menjadikanmu sarapanku di dapur," kekeh pria itu yang kemudian mendaratkan bibirnya ke kening sang istri.
***
Collin dan Celia kini sudah menghabiskan sarapan mereka di dalam kamar. Makan sepiring berdua untuk pertama kalinya membuat wajah Celia merona. Perlakuan manis suaminya benar-benar mengubahnya dan membuatnya berani melewati malam pertama sebagai suami istri.
Padahal mereka sudah menikah empat bulan lalu.
Ada rasa sesal di hati gadis itu karena selama ini terlalu takut untuk mendapatkan sentuhan dari orang lain, bahkan dari suaminya sendiri. Rasa trauma itu benar-benar membuatnya menjadi seorang pengecut. Dan saat mengingat bagaimana ia dengan berani menggoda sang suami, membuat wajahnya mendadak memerah.
Sungguh, dia merasa seperti orang lain karena untuk pertama kalinya dia memakai pakaian yang hanya berupa kain tipis berongga seperti kain saringan santan yang tetap menampakkan sesuatu yang tersembunyi dibaliknya.
"Kenapa?" tanya Collin yang mendapati wajah istrinya mendadak berubah.
Dia bingung karena sarapan yang ia bawa sedikit pun tak terasa pedas. Asin berlebihan pun rasanya tidak.
'apa indra perasaku bermasalah?' batin pemuda itu.
"Tidak apa-apa," ucap Celia yang wajahnya semakin merah seperti kepiting rebus.
Gadis itu menenggak segelas air putih yang ada di sampingnya tanpa sisa.
"Eh, i-iya," sahut Celia sedikit tergagap.
Pria itu tampak berpikir. Padahal makanan yang dia bawa dalam keadaan hangat, pendingin ruangan di kamar mereka pun saat ini sedang menyala.
Collin tersedak saat menyadari sesuatu yang mungkin dipikirkan oleh istrinya.
"Kamu tidak apa-apa?" Celia menyodorkan segelas air minum kepada suaminya.
Collin menggeleng. "Aku tidak apa-apa," jawab Collin sedikit canggung.
***
Hari ini, pasangan muda itu seperti enggan untuk turun dari tempat tidur. Mereka saat ini bersandar di sandaran tempat tidur dengan saling berpelukan. Sebuah laptop mereka nyalakan di hadapan mereka. Menampilkan film dengan rating dewasa yang mendadak menampilkan adegan semalam.
Keduanya tak berkedip melihat tayangan yang begitu mirip dengan apa yang mereka praktikan semalam. Tubuh keduanya terasa memanas. Mereka merasa sedikit menyesal melihat film romantis yang mana ada adegan samar yang sangat mereka pahami apa itu.
"Haruskah kita mengulang kembali apa yng terjadi semalam?" Lirih Collin yang tak berani menatap wajah istrinya.
__ADS_1
"Besok saja sepulang kamu kerja saja, bagaimana?" Cicit Celia memberi penawaran.
Dia merasa bagian bawahnya masih sedikit perih dan ngilu karena ulah nakal suaminya. Bahkan itu terasa seperti membengkak dan sedikit tak nyaman. Seolah ada sesuatu yang mengganjal hingga dia sulit merapatkan kembali kedua kakinya.
Collin yang keinginannya sempat membara, kini harus menahannya karena penolakan halus dari sang istri. Namun, dia tak habis akal.
"Kalau itu tak sanggup untuk memanjakanku, bosakah aku meminta bantuan lain untuk menidurkan ini?"
Collin membawa tangan Celia ke arah sesuatu yang kembali menegak tanpa aba-aba.
Celia terperanjat saat menyentuh sesuatu yang terasa keras dari luar. Dia hanya bisa menelan ludah kasar. Tak mungkin dia bisa melayani sang suami seperti tadi malam. Apa mungkin???
Collin menganggukkan kepalanya, pria itu membopong tubuh Celia ke dalam kamar mandi untuk membantunya.
***
Bel terus saja berbunyi karena pintu kayu bercat putih itu masih tertutup. Tak mungkin rasanya kalau pemilik rumah itu pergi dari rumah. Karena setahu mereka menantunya belum memiliki cuti untuk sekedar berlibur bersama.
"Apa mereka tak di rumah?" tanya Renata kepada suaminya.
"Tak mungkin. Bukankah semalam anak kesayanganmu itu berkata dengan semangat bahwa mereka akan berinvestasi?"
"Tapi kenapa mereka tak kunjung membukakan pintu? Apa mereka kecapekan?" gumam Renata.
"Apa mereka tak sarapan? Ah, ini tak bisa dibiarkan. Aku akan membuat perhitungan dengan pria itu karena tak memberi putriku makan. Masa putri kesayanganku dipaksa bekerja terus?"
Fabian tak hanya menekan bel di rumah Collin dan Celia. Dia juga menggedor pintu kayu rumah itu dengan sekuat tenaga.
Sementara sang pemilik rumah yang baru saja menyelesaikan kepentingan mereka, bergegas turun ke pintu utama saat mendengar pintu rumah mereka digedor dengan cukup keras.
"Ngapain aja kalian sampai lama membuka pintu?" sungut Fabian.
"Kalian tidak sedang memproduksi cucuku setiap jam, bukan?"
to be continued ♥️
thanks for reading ♥️
jangan lupa tinggalkan jejak yaa....
__ADS_1