
Mobil yang bertuliskan nama sebuah yayasan itu berhenti di perempatan jalan raya. Seorang wanita paruh baya keluar dari kendaraan yang berisi anak-anak panti asuhan itu diikuti oleh sesosok gadis muda yang ikut turun setelahnya.
“Maaf kalau Ibu hanya bisa mengantar sampai di sini,” ucap ibu panti yang mendampingi anak-anak panti asuhan mengikuti acara pengajian di rumah Celia tadi.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih karena telah membantu saya,” ucap Celia menggenggam kedua tangan wanita berhijab itu
.
Keduanya kemudian berpelukan layaknya seorang ibu dan anaknya sebagai salam perpisahan.
Setelahnya, kendaraan roda empat itu kembali melaju meninggalkan Celia seorang diri di tepi jalan raya yang masih cukup ramai itu.
Hanya beberapa langkah saja menuju taman tempat ia dan Collin pernah menghabiskan waktu bersama di luar rumah saat malam hari. Gadis itu berjalan sambil sesekali memandang sekeliling di mana banyak mobil terparkit beberapa meter sebelum stan orang jualan didirikan di area taman dengan jalan memutar itu
“Apa Collin bisa menemukanku?” gumam gadis itu saat melihat suasana taman yang ramai pengunjung.
Entah mengapa malam itu tampak lebih ramai dari pada biasanya. Bahkan rasanya stan pedagang kaki lima semakin banyak didirikan di sepanjang tepian jalan itu.
Ingin ia membeli beberapa makanan yang dijual di sana. Tapi saat ini bukan itu tujuannya. Mencari kekasihnya adalah hal paling utama yang harus ia lakukan.
Sebuah tepukan di pundak gadis itu membuat Celia mematung. Dia takut kalau anak buah Rian atau Daddy-nya menemukan dirinya di tempat itu.
“Celia, ini aku.” Sebuah suara yang sangat dikenal menyapa pendengaran gadis itu.
Suara dari pria yang sangat ia rindukan. Suara kekasih yang begitu ia sayangi. Bahkan ia merelakan diri pergi saat pernikahannya sudah akan berlangsung keesokan hari.
Gadis itu spontan berbalik memeluk Collin yang saat ini benar-benar ada di hadapannya. Dia menangis. Air mata bahagia mengalir tanpa permisi membasahi kedua pipi gadis itu. Perasaan lega perlahan menelusup ke dalam relung jiwa Celia yang takut Collin akan meninggalkannya karena tak ada kabar yang ia dapatkan selama beberapa hari terakhir.
__ADS_1
“Ayo, ikut aku,” ucap Collin menarik lengan Celia.
“Ke mana?” tanya gadis itu.
“Sementara kita akan bersembunyi di rumah Oma. Tak ada satu pun dari keluargamu yang tahu di mana rumah Oma. Bahkan Rian sekalipun. Aku yakin di sana akan aman buatmu,” ujar Collin menerangkan.
Celia menganggukkan kepalanya menuruti perkataan kekasihnya dan bahkan kini gadis itu mengekor pria yang berjalan lebih dulu di depannya.
Kedua tangan pasangan muda itu saling bertaut. Menggenggam erat tanpa ingin melepaskan. Tak ingin terpisahkan lagi oleh jarak dan keadaan.
“Setelah ini, kita akan hadapi bersama. Setidaknya kamu besok tak akan menikah dengan pria itu,” kekeh Collin.
Collin tak ingin lagi mengalah dengan pria itu. Baginya, Celia adalah miliknya dan hanya akan menjadi kekasihnya, pasangannya dan ibu dari anak-anaknya. Kali ini pemuda itu tak akan membiarkan siapa pun memisahkan mereka selain ajal menjemput salah satu di antara mereka atau bahkan keduanya.
***
Namun semuanya percuma. Pencarian mereka sia-sia karena orang yang sedang mereka cari sudah berada di tempat yang jauh dengan orang lain.
Fabian sudah menghubungi Rian. Pemuda itu berkata kalau akan tiba di rumah Fabian dan telah memerintahkan orang untuk mencari keberadaan Celia.
“Maafkan aku yang tak segera ke sini, Pak. Tadi ada beberapa serangga kecil yang perlu aku bereskan,” ucap pria itu.
Tak ada yang tahu kalau serangga yang dimaksud oleh Rian adalah wanita-wanita yang haus belaian yang dikirim orang lain untuk menggodanya. Namun mereka bukan selera seorang Rian. Bagaimana pun isi kepala pria itu adalah seorang Celia. Dan segala sesuatunya itu adalah tentang Celia.
“Aku tak mau peduli dengan serangga yang kamu maksud. Yang aku mau saat ini kamu harus menemukan Celia. Jangan harap kamu akan menikahi Celia kalau gadis itu tak kembali ke sini,” ancam Fabian.
Pemuda itu tercekat. Bukankah boleh kalau tak ada mempelai wanitanya yang hadir selama wali wanita itu ada berikut saksi, ijab kabul dan maharnya yang dipenuhi?
__ADS_1
“Maksud Anda, pernikahan kami batal?” tanya Rian.
Fabian tak menjawab. Hal itu membuat Rian justru sangat murka. Bahkan pemuda itu sampai berani menggebrak meja yang ada di hadapannya hingga membuat Fabian terkejut.
“Anda tak bisa seenaknya seperti ini dong. Anda tahu kalau saya mencintai Celia. Apa aku harus menodai dia dulu baru kamu memberikan restumu kepadaku untuk menikahi gadis itu?”
Wajah Rian saat ini berubah menjadi sangat menyeramkan. Pemuda itu sudah seperti bukan Rian lagi. Pria itu bahkan sampai melotot ke arah Fabian dan tak segan mengancam Fabian.
“Anda tahu ini, Pak?” tanya Fabian seraya memainkan sebuah benda kecil yang memiliki sisi tajam serta bergerigi.
“Apa yang kamu inginkan?” tanya Fabian berusaha menyembunyikan rasa takutnya.
“Anda tahu kalau saya sangat mencintai Celia. Tapi kenapa saat ini Anda seakan tak rela membiarkan Celia menikah denganku?”
Rian memainkan belati itu tepat di hadapan Fabian. Renata yang ada di tempat itu tak banyak berkomentar. Dia bersembunyi di belakang punggung suaminya karena takut Rian akan menyerang.
“Anda harus ikut mencari Celia, Pak. Dan Anda harus menikahkan Celia dengan saya. Karena saya sangat mencintai putri Anda,” ucap Rian.
Pria itu saat ini benar-benar menyeramkan. Dia tak tampak seperti Rian yang biasanya. Pemuda yang sebelumnya penurut dan begitu santun itu saat ini berubah menjadi seorang pemuda yang sangat menakutkan dengan sebuah seringai yang terukir di wajahnya.
“Aku pun akan mencari Celia. Anda tak perlu khawatir. Tapi bagaimanapun keadaannya, Anda harus menikahkan saya dengan Celia bagaimanapun juga,” ucap pemuda itu lagi.
Susah payah Fabian menelan ludahnya yang seperti tersangkut di tenggorokan. Ada sebuah rasa sesal di hati Fabian karena memberi harapan pada pemuda itu untuk menikah dengan Celia. Juga ada sebuah penyesalan karena tak membiarkan Celia dengan Collin saja.
Tapi kini nasi sudah menjadi bubur. Kalau tak ingin ancaman Rian berubah ment kenyataan, dia harus menemukan Celia kembali, atau bahkan membiarkan gadis itu pergi dan tak perlu kembali.
Pria itu kemudian menatap istrinya yang masih sembunyi di balik tubuhnya.
__ADS_1
“Katakan! Di mana kamu menyembunyikan Celia, Re? Kalau ingin kita selamat, kamu harus memberitahuku, Renata Sayang. Katakan.” Pinta Fabian halus.