Celia

Celia
Marah


__ADS_3

Tepat saat tirai tertutup, lampu kamarnya menyala dengan sendirinya, mengejutkan Celia yang masih tak berani membalikkan badannya menghadapi orang yang menyalakan sakelar listrik ruangannya.


“Dari mana kamu?”


Sebuah suara mengejutkan Celia yang baru saja menutup tirai kamarnya. Gadis itu memejamkan kedua matanya, menetralkan detak jantungnya karena dikejutkan oleh suara orang lain di dalam kamarnya. Dia perlahan membalikkan badannya, bersiap menghadapi seseorang yang menyalakan lampu kamarnya


"Katakan, baru datang dari mana kamu ?"


Celia menundukkan kepalanya. Dia tak berani menjawab pertanyaan yang terlontar dari salah satu anggota keluarganya itu. Jangankan untuk menjawab, mengangkat kepalanya saja dia tak berani.


Celia mengaku kalau dia salah. Tak pamit kepada orang tua, memanjat jendela, meninggalkan rumah di malam hari, hanya saja dia tak mengaku kalau pergi dengan seorang pria, kekasihnya.


“Masih ada yang belum kamu katakan dengan jujur,” ungkap Fabian yang memergoki putrinya itu.


Celia mendongak, menatap ke arah Daddy-nya yang wajahnya jelas tercetak sebuah amarah.


“Celia sudah mengatakan semuanya, Dad.” Celia memelas.


Fabian mengembuskan napas berat. Tak menyangka dengan putrinya yang kini mulai menentang larangannya. “Apa kamu bisa menjelaskan ini?” tanya Fabian seraya menunjukkan sebuah gambar yang terpampang di layar ponselnya.


Celia menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang dia lihat. Sebuah gambar dirinya dengan sang kekasih begitu jelas terlihat di layar benda pipih milik Daddy-nya.


“Siapa dia, Celia?” tanya Fabian lagi karena gadis itu masih tak kunjung menjawab pertanyaannya.


“Dia ... Dia-“


“Putuskan hubunganmu dengannya. Atau Daddy yang akan memutuskan hubungan di antara kalian!”


Celia tak sanggup menjawab. Dia tak mampu membela dirinya sendiri. Dia pun merasa gagal memperjuangkan hubungan mereka. Gadis itu menggelengkan kepala, menolak permintaan Daddy-nya. Setelah dipikir lagi, dibandingkan dirinya, Collin lebih banyak berkorban. Dia tak ingin perjuangan lelaki itu sia-sia.


“Beri Celia waktu seminggu, Dad,” pinta Celia berusaha mengulur waktu.


“Daddy tunggu sampai besok. Kalau kamu masih berhubungan dengan pria itu, jangan salahkan Daddy untuk mencabut semua akses fasilitas dari Daddy.”


Belum sempat Celia bersuara, Fabian sudah meninggalkan kamar gadis itu, menutup kembali pintu kamar anak gadisnya dengan kasar dan kembali ke kamar di mana istrinya berada di sana.

__ADS_1


Tubuh Celia merosot ke lantai. Gadis itu menangis dan meraung. Dia tak habis pikir dengan Daddy-nya yang sangat over-posesif padanya. Dia merasa diperlakukan berbeda dengan Aksa. Adiknya itu tak pernah dikekang seperti dirinya. Bahkan untuk menjalin hubungan saja, dia tak bisa leluasa.


Celia mengambil ponselnya yang sejak tadi dia letakkan di saku belakang celana jeansnya. Dia mengetikkan sebuah nama dan menghubungi nomor yang ia cari itu.


Nada tersambung terdengar berulang kali. Namun, panggilannya tak kunjung dijawab. Gadis itu mencoba kembali hingga lebih dari sepuluh kali. Tetap tak ada jawaban.


“Apa mungkin Daddy melakukan sesuatu padanya?” gumam Celia pada dirinya sendiri.


“Tidak mungkin. Daddy masih memberi waktu sampai besok. Mungkin dia saat ini sudah tertidur. Semoga dia baik-baik saja di sana,” gumam Celia lagi.


Celia mengetikkan pesan melalui ponselnya kepada seseorang yang berusaha ia hubungi tadi. Berharap esok hari, yang bersangkutan membuka pesan dan menjawabnya.


***


“Apa Celia sudah di kamarnya?” tanya Renata yang menutupi tubuhnya dengan selimut sejak tadi menunggu suaminya yang tiba-tiba menghentikan aktivitas mereka.


Fabian hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan istrinya. Rahangnya masih tampak mengeras. Raut wajahnya masih tampak suram. Entah mengapa Fabian merasa dikhianati oleh salah satu wanita kesayangannya.


“Apa kasih sayang dariku masih belum cukup untuknya?” gumam Fabian kepada istrinya.


Renata mendekat ke arah suaminya. Masih dengan selimut yang menutupi tubuhnya dari dada ke bawah.


Pria itu menganggukkan kepalanya. Dia tak ingin cinta anaknya diberikan kepada lelaki lain.


“Anak kita sudah waktunya menikah, Bi. Apa kamu tak ingin melihat dia bahagia?”


“Rasa takutku akan orang lain yang menyakiti putriku lebih besar. Aku tak akan rela kalau putriku disakiti pria lain.” sahut Fabian dengan suara bergetar, menampar rasa cemas dan takut yang ia rasakan secara bersamaan.


Renata menangkup wajah suaminya yang masih muram. “Sudah saatnya dia menentukan kebahagiaannya sendiri, Bi,” ujar Renata diiringi kecupan singkat di bibir pria itu.


Pancingan wanita itu berhasil. Mereka berhasil menghangatkan kembali apa yang tadi sempat tertunda. Meski pikiran pria itu masih kacau akibat pesan gambar di mana Celia sedang bersama dengan seorang pemuda. Pria itu bahkan menghentikan aktivitasnya yang sudah mulai memuncak saat dirinya mendapat pesan anonim itu.


Peningnya kepala karena apa yang seharusnya ia tuntaskan menambah emosi pria itu akan anak gadisnya. Amarahnya hampir tak terkendali saat putrinya mengakui bahwa apa yang ada dalam gambar itu adalah sebuah kebenaran.


“Apa aku harus mencari tahu siapa pria itu?” tanya Fabian pada Renata usai menyelesaikan tugas malamnya.

__ADS_1


“Apa pengirim anonim itu tak memberi informasi mengenai pemuda itu?” tanya Renata.


Fabian menggelengkan kepalanya. “Hanya pesan gambar saja yang dikirimkan oleh orang itu.”


“Kalau boleh tahu, misal kamu sudah mengetahui siapa pemuda itu, apa yang akan kamu lakukan, Bi?” tanya Renata berhati-hati.


Fabian tak kunjung menjawab pertanyaan istrinya. Rasanya dia masih tak siap menerima kenyataan kalau putrinya mulai dewasa. Pria itu masih tampak memikirkan pertanyaan itu. Dia sendiri bingung dengan keputusan apa yang akan diambil untuk putrinya itu. Dia tak ingin salah memilihkan pasangan untuk putrinya. Fabian tak ingin Celia tersakiti.


“Apa aku lebih baik menyewa detektif swasta untuk mencari tahu mengenai pemuda itu?” tanya Fabian menatap langit-langit kamarnya.


“Kita istirahat dulu. Ini sudah larut. Kita tanyakan dulu kepada Celia mengenai latar belakang pemuda itu sebelum menyewa detektif. Kalau putri kita tak mengatakan siapa pemuda itu, barulah kita yang mencari tahu dengan cara kita sendiri. Dan apa pun keputusanmu, aku akan mendukungnya jika itu untuk kebaikan putri kita,” ujar Renata yang mulai memejamkan matanya dalam dekapan sang suami.


Fabian mengangguk. Dia akan mengikuti saran istrinya, menanyakan lebih dahulu kepada putrinya agar putrinya tak tersakiti karena dirinya. Dia tak ingin mendapatkan pasangan yang buruk seperti dirinya pada saat itu yang menyakiti Renata. Di hanya tak ingin putrinya terluka.


Pria itu kemudian menyusul istrinya yang terlebih dahulu mengarungi alam mimpi.


***


Keesokan harinya, seperti biasa Renata sudah bangun di pagi hari. Wanita itu sudah menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Hanya tinggal menunggu suami dan anak-anaknya tiba di meja makan.


Wanita itu kembali ke kamarnya bersama sang suami untuk membantu suaminya bersiap. Sembari menunggu anak lelakinya yang masih belum pulang jogging padahal biasanya pria itu tiba di rumah sejak lima menit yang lalu.


Hingga pada akhirnya Renata yang memasangkan dasi Fabian mendengar sebuah keributan di ruang tamu rumah mereka. Suara kedua anaknya yang sedang bertengkar hebat di pagi hari.


Renata dan Fabian bergegas menuju ruang tamu di mana Aksa masih berusaha tak melepas cekalan tangannya di lengan sang Kakak. Hingga sebuah suara menghentikan pertengkaran mereka.


“Apa yang kalian lakukan? Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar di pagi hari?” tanya Fabian kepada kedua anaknya.


Aksa melepaskan cekalan tangannya dan menundukkan kepalanya. Begitu pula dengan Celia.


Fabian menoleh ke samping Celia di mana sebuah kotak berada di samping gadis itu.


“Kamu mau ke mana dengan koper itu, Celia?” tanya Fabian dengan rahang mengeras.


to be continued ♥️

__ADS_1


thanks for reading ♥️


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚


__ADS_2