Celia

Celia
Melarikan Diri


__ADS_3

Happy reading ♥️


“Kita akan ke mana? Apa kamu tahu ke mana kita bisa pulang, Collin?” tanya Celia.


Collin hanya mengangguk. Meski tak terlalu yakin, dia pasti bisa menemukan jalan pulang.


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam, mereka baru sampai di taman kota. Di tempat itu untuk pertama kalinya mereka benar-benar berkencan seperti layaknya pasangan kekasih normal lainnya.


Celia menatap nanar tempat-tempat yang pernah menjadi saksi bisu hubungannya dengan Collin. Selama perjalanan, gadis itu dipenuhi oleh pikiran-pikiran buruk mengenai apa yang beberapa jam lalu ia alami. Semakin lama Celia merasa semakin tak pantas jika bersanding dengan Collin.


Dia merasa telah ternoda karena Rian telah menjamah tubuhnya terlebih dahulu sebelum Collin yang merupakan kekasihnya.


Bahkan bekas kemerahan itu masih tercetak jelas di tubuh gadis itu, membuat Celia merasa jijik dengan dirinya sendiri.


“Celia? Kamu tidak apa-apa?” tanya Collin saat mendapati gadis itu melamun.


Celia memaksakan diri untuk tersenyum. Dia menggelengkan kepalanya pelan mengatakan bahwa dirinya saat ini baik-baik saja.


Collin yang merasakan kalau kekasihnya saat ini sedang tak baik-baik saja, memilih untuk memfokuskan dirinya sesaat pada kekasihnya itu.


Benar saja, Collin melihat Celia mengusap air mata yang baru saja turun melewati pipinya. Pria itu kemudian mendekap erat kekasihnya yang saat ini sedang bersedih.


“Semua akan baik-baik saja, percayalah. Kita pulang, oke?” ucap Collin berusaha menghibur kekasihnya.


Celia menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan pemuda itu.


Collin kembali melajukan kendaraan yang mereka dapatkan dari rumah Ryan itu menuju rumah Oma-nya.


Tampak Oma hana berdiri di teras rumahnya. Raut khawatir tercetak jelas di wajah wanita yang sudah memasuki usia senja itu.


Saat Celia dan Collin memasuki pelataran rumahnya, wanita itu tampak bahagia. Rasa khawatir yang tadi tampak, kini mendadak sirna.


“Collin! Dasar anak bandel!” ucap wanita itu seraya memukul cucunya.


Collin mengaduh meski pukulan dari sang nenek sama sekali tak terasa sakit. Setelahnya dia tersenyum dan memeluk wanita tua itu.


“Maafkan aku, oma,” ucap Collin meminta maaf.


Pria itu meminta maaf pada sang nenek karena telah membuat wanita itu khawatir akan dirinya.


“Syukurlah kalian pulang dengan selamat. Tadi papamu menghubungi Oma. Katanya dia belum bertemu dengan kalian. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya wanita itu khawatir.


“Kami baik-baik saja, Oma. Hanya saja kami sedikit merasa lelah,” ucap pria itu.


Celia yang melihat keakraban dua orang beda usia itu hanya tersenyum. Rasanya dia tak sanggup lagi berkata-kata. Melintas sedikit rasa cemburu pada kekasihnya yang mendapatkan kasih sayang dari keluarganya. Dan bahkan mereka mendukung pilihan pria itu. Berbeda dengan dirinya yang harus menuruti kemauan Daddy-nya meski segala fasilitas ia dapatkan.


“Istirahatlah. Oma yakin kalian pasti capek. Ceritakan pada Oma nanti tentang apa yang telah terjadi.”


“Baik, Oma,” sahut Collin seraya tersenyum.


Pasangan itu kemudian masuk ke dalam rumah wanita tua itu. Tanpa mereka sadari kalau ada seseorang mengikuti mereka sejak tadi.


“Saya sudah mengirimkan lokasinya,” ucap pria itu kepada seseorang yang terhubung melalui panggilan suara di dalamnya.


***


Malam sudah begitu larut. Hewan malam pun keluar dari peraduannya, sedikit menimbulkan suara berisik karena meski rumah itu ada di kota, sekitarnya masih banyak ditumbuhi pohon tinggi dan rimbun.


Collin, Celia dan Oma hana saat ini tengah menikmati hidangan makan malam di rumahnya. Dan entah mengapa malam hari yang sunyi tiba-tiba menjadi sangat sunyi saat ini. Celia pun hanya tersenyum saat diajak bicara. Gadis itu menjadi lebih pendiam dari pada sebelumnya.


“Apa kamu sakit, Celia?” tanya Oma Hana lembut.


Celia menggelengkan kepalanya. Dia hanya merasa sedikit gelisah tanpa tahu sebab apa yang menghampirinya.

__ADS_1


“Celia izin ke kamar dulu,” pamit Celia saat makanannya sudah tandas.


Oma Hana menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. “istirahatlah,” ucap wanita itu tanpa menghalangi Celia yang tampak murung sejak tadi.


Collin dan neneknya menatap punggung yang berjalan menjauh hingga hilang di balik pintu kamar yang ditutup.


Setelah memastikan Celia tak akan keluar kamar lagi, Oma hana mendekat ke arah cucunya. “Kamu berhutang penjelasan pada Oma,” ucap wanita itu.


Oma hana bangkit dari duduknya. Wanita itu berjalan menuju ruang tengah di mana di sana terdapat sebuah sofa berukuran panjang yang sangat empuk dan nyaman.


“katakan apa yang sebenarnya terjadi,” ucap Oma Hana.


Collin menarik napas panjang sebelum menyembuhkannya perlahan. Pemuda itu kemudian menceritakan runtut kejadian yang telah mereka alami dalam waktu satu hari ini. Kejadian yang begitu cepat dan tak ubahnya seperti sebuah malapetaka itu membuat Celia berubah drastis hari itu.


“Pantas saja. Dia sepertinya trauma,” ucap Oma Hana.


Pemuda itu pun menganggukkan kepalanya setuju dengan perkataan sang nenek bahwa Celia saat ini mengalami efek traumatis.


“Apa yang akan kalian lakukan setelah ini?” tanya Oma Hana.


Belum sempat Collin menjawab pertanyaan neneknya, terdengar keributan yang berasal dari luar rumah. Collin meminta neneknya untuk pergi ke kamar Celia.


“Sepertinya mereka tadi mengikuti Collin dan Celia, Oma. Tolong Oma bersembunyi dengan Celia. Beritahu Celia agar mengamankan diri,” ucap pria itu.


Collin meraih sebuah tongkat yang ada di belakang pintu ruang tamu.


Pemuda itu bersiap menyambut seorang tamu yang akan berkunjung tanpa undangan setelah ini.


“Cepat cari mereka. Bawa mereka berdua ke hadapanku. Terutama Celia, kalian harus menemukannya!”


Collin mendengar suara Rian dari arah luar, memerintahkan orang-orangnya untuk mencari dirinya dan Celia. Bagaimanapun juga pemuda itu akan melindungi dua wanita paling berharga di hidupnya dengan segenap jiwa raga.


Kenop pintu rumah itu bergerak. Sesaat kemudian pintu kayu itu terbuka. Saat sosok pria yang membuka pintu itu mulai menampakkan diri, Collin memukul bagian kepala orang itu hingga jatuh tersungkur.


Collin tak menyangka kalau mereka saat ini memegang senjata api yang entah mereka dapatkan dari mana. Pistol itu tak seharusnya diperdagangkan dengan bebas, sehingga sudah pasti Rian mendapatkannya secara ilegal. Dia mempersenjatai orang-orangnya dengan senjata api yang seharusnya hanya dimiliki oleh pihak berwajib.


Saat lengah, Rian menembakkan peluru ke punggung Collin. Meski tak sampai menembus jantungnya, pemuda itu mengeluarkan begitu banyak Darah hingga membuatnya tak sadarkan diri apalagi tenaganya sudah menipis usai melawan anak buah Rian yang sudah tumbang tak sadarkan diri.


Rian melangkahkan kakinya melewati tubuh Collin yang bersimbah cairan berwarna merah. Pria itu menyusuri setiap ruangan seraya meneriakkan nama Celia hingga membuat gadis itu ketakutan.


Di kamarnya, Celia bersembunyi dengan Oma Hana. Dua wanita itu benar-benar ketakutan. Apalagi mereka mendengar suara tembakan dari luar.


“Apa kamu membawa ponselmu?” tanya Oma Hana pada Celia.


Beruntung Celia tak membawa ponselnya saat hendak pergi menemui Jamie. Gadis itu dengan segera membuka laci yang ada di dekat tempat tidur di kamar itu.


“Hubungi polisi,” perintah Oma Hana.


Celia menganggukkan kepalanya dan menghubungi nomor darurat 110 yang terhubung dengan kepolisian.


Gadis itu memberitahukan lokasi rumah Oma Hana di mana mereka membutuhkan bantuan karena adanya ancaman dari luar. Pihak kepolisian berkata bahwa mereka akan segera tiba di sana.


Tepat saat itu juga, Rian berhasil menemukan mereka.


“Kita bertemu lagi, sayang,” sapa pria itu seraya menyeringai.


“Kamu tak akan bisa lari ke mana-mana,” ucap pemuda itu seraya melangkah mendekati Celia dan Oma Hana.


“Kamu tak perlu takut, aku tak akan menyakitimu kalau kamu mau menurut,” imbuh pria itu dengan senyuman yang menakutkan bagi Celia.


Oma Hana menjadikan dirinya tameng untuk melindungi Celia. Wanita tua itu tak ingin Rian membawa Celia pergi. Bagaimana pun juga Celia adalah cucunya juga.


“Langkahi dulu mayatku jika kamu ingin membawa Celia,” ucap Oma Hana.

__ADS_1


Rian tersenyum miring. “Aku tak berminat menghadapi wanita tua sepertimu, Nenek! Jangan halangi aku untuk membawa istriku!” ucap Rian yang telah mengklaim Celia sebagai miliknya.


“Jangan harap!” ucap Oma Hana.


Perkataan terakhir Oma Hana berhasil memancing emosi Rian. Pria itu menarik Celia dengan paksa meski masih dihalangi oleh Oma Hana. Hingga akhirnya Rian menghempaskan tubuh tua Oma Hana hingga tubuhnya terantuk ujung meja tak jauh dari jendela.


“Oma!” pekik Celia.


Gadis itu menggigit tangan Rian yang menggenggamnya. Tak hanya itu, dia juga mengayunkan kakinya menendang sesuatu yang ada di antara dua kaki pria itu hingga lelaki itu merasakan sakit luar biasa.


Saat pemuda itu hendak bangkit dan menarik kembali tubuh Celia, sirene mobil polisi terdengar dari luar.


Pria itu mengurungkan niatnya untuk membawa Celia pergi bersama. Dia lebih mengutamakan keselamatannya dari incaran polisi.


Pria itu keluar melalui jendela, melewati Celia yang berusaha menyadarkan Oma Hana. Pria itu berlari sekuat tenaga, pergi meninggalkan rumah itu dan bersembunyi agar tak dikejar oleh pihak berwajib.


Sementara itu, Pihak kepolisian kini sudah meringkus pengawal Rian yang baru tersadar akibat hantaman tongkat yang diayunkan Collin.


Beberapa polisi menyisir setiap ruangan dan menemukan Celia di sebuah kamar bersama Oma hana yang tergeletak tak berdaya.


“Tolong,” pinta Celia yang menangis tanpa henti.


***


Rumah sakit malam itu mendadak ramai. Apalagi petugas kepolisian juga ikut serta mengawal dua orang korban yang menyebabkan keduanya dalam keadaan kritis.


Celia hanya bisa menangis seraya mendampingi dua orang yang melindunginya dengan mempertaruhkan nyawa mereka. Dua orang itu kini dibawa ke unit perawatan intensif rumah sakit dan sedang dalam penanganan.


Hanya Celia yang saat ini ada di tempat itu dan dia kali ini bertindak sebagai wali dari Collin dan Oma Hana.


Jamie baru saja tiba di Jerman. Dia juga baru mendengar informasi mengenai anak dan mamanya dari kanal berita yang baru saja di update. Pria itu kembali memesan tiket untuk kembali ke Indonesia karena khawatir dengan kondisi keluarganya.


Pria itu tak peduli dengan rasa lelah selama perjalanan, yang penting dia bisa menemui keluarganya.


***


Fabian mendapatkan kabar tentang Celia dan Collin keesokan harinya. Pria itu membawa serta Renata ke rumah sakit.


Di salah satu kursi tunggu di depan ruang rawat intensif, dia melihat Celia duduk termenung menatap kosong ruangan tertutup di depannya.


“Celia?” panggil Fabian.


Gadis itu menoleh ke sumber suara, mendapati orang tuanya berjalan mendekat. Namun Celia tak menyambut pasangan yang merupakan orangtua kandungnya itu.


“Mau apa Daddy ke sini? Apa Daddy masih ingin memaksaku menikah dengan Rian? Tidak! Aku lebih baik mati daripada harus menikah dengan pria itu, Dad! Aku akan pergi bersama dengan Collin meninggalkan dunia ini. Apa masih belum puas Daddy memaksaku untuk bersama dengan pria gila itu?!”


to be continued ♥️


hai genks apa kabar ?


ada yang berkomentar cerita ini sangat menegangkan...


yaaa memang aku sengaja membuat 2 novel dengan cerita yang berbeda dari 3 Novel sebelumnya yang selalu bercerita tentang pernikahan.


Di novel Celia ini aku memasukkan unsur thriller atau ketegangan, sedangkan di novel The Unexpected Love aku mencoba menulis genre youth atau remaja...


semoga tulisan aku berhasil masuk ke dalam kategori yang aku tujukan.


insyaallah novel lainnya kembali ke genre pernikahan padahal aku masih gadis belia wkkwkwkwkwkwk


#dikeplak masa.


hepi Wiken yaa... luph yuuuu

__ADS_1


__ADS_2