Celia

Celia
Tekanan


__ADS_3

selamat membaca..


Celia termenung di dalam kamarnya, menatap jendela kamar yang masih belum dibuka pembatas kayu dan teralis besinya. Pikiran gadis itu menerawang jauh. Ada sebuah perasaan ingin bertemu dengan seorang yang bertakhta dalam hatinya. Namun, semuanya terasa sia-sia sudah.


Kini, keputusan Daddy-nya adalah hal final yang harus dituruti. Pria itu seolah tak lagi mendengar keinginan Celia yang hatinya telah bertaut dengan seorang pria yang entah di mana dia berada.


“Aku merindukanmu, Collin,” gumam gadis itu.


Celia mengingat kembali momen indah yang telah mereka buat meski singkat. Rasa bersalah pun menyergap hati kecil Celia.


“Andai dia tak datang ke sini. Semua ini tak akan terjadi.”


Kembali gadis itu berandai-andai menyesali akhir hubungannya dengan Collin yang masih belum pasti.


“Andai kamu sekali lagi membawaku pergi,” lirih Celia yang kemudian terisak-isak.


Celia menangkap sebuah benda dengan layar yang berkedip di atas meja kecil yang dulunya adalah meja belajarnya. Entah kapan Daddy-nya meletakkan benda itu di sana. Celia berpikir kalau orangtuanya meletakkan benda itu tanpa alasan.


***


Saat ini, Rian mengerjakan semua tugasnya sebagai asisten Fabian di kantor. Pria itu bekerja cukup profesional. Bahkan saat atasannya tak ada di kantornya, pemuda itu menjalankan pekerjaannya dan menyelesaikan semuanya sebagai wakil dari Fabian dengan sempurna.


Tak ada yang tahu kalau dirinya saat ini adalah calon menantu dari Fabian. Dia tak perlu diakui oleh orang lain. Dia hanya ingin diakui Fabian dan memiliki Celia tanpa larangan.


“Maaf, Pak Rian. Boleh saya masuk?” suara seorang wanita masuk ke dalam ruangan Rian.


Rian mengangguk tanpa melihat ke arah wanita cantik yang baru saja mengetuk pintu ruangannya.


Seorang wanita yang merupakan anggota divisi keuangan itu berjalan mendekat ke arah Rian dengan sedikit menggoda pria itu.


Pakaian formal yang menampilkan lekuk tubuh wanita dari divisi keuangan itu sangat menggoda. Terlebih dua buah kancing kemeja bagian atasnya sengaja dibuka oleh gadis itu agar terlihat belahan menarik yang menggoda iman kebanyakan pria.


“Berhenti!” Sekilas Rian menatap gadis itu.


Wanita itu pun berhenti. Hanya berjarak lima langkah dari meja pria itu, wanita divisi keuangan tadi mengangkat sebelah alisnya.


“Rapikan pakaianmu itu! Kalau tidak, lebih baik kamu keluar dari ruangan ini!” ujar Rian dengan nada dingin.


Wajah wanita itu memerah, malu karena ulahnya sendiri yang sengaja berniat menggoda Rian yang terkenal sebagai pria single dan mapan karena kerja kerasnya sejak muda.


“Tapi, Pak-“


“Keluar! Rapikan dulu pakaianmu. Atau berikan pada orang lain agar mengantar berkas itu padaku!” ucap Rian tanpa mau ditawar.

__ADS_1


Wanita itu mengentakkan kedua kakinya kesal dengan perkataan Rian yang di luar dugaan. Dia tak menyangka kalau asisten baru Fabian itu sangat dingin kepada wanita lain.


“Jangan sekali-kali mencoba untuk menggodaku lagi. Apa yang kamu lakukan justru membuatku jengah!” sinis Rian.


Segera wanita itu merapikan kemejanya. Memasang kembali kancing yang terbuka dan lebih tertutup dibanding sebelumnya.


“Keluarlah!” ucap Rian usai menerima berkas dari gadis itu.


Tanpa peduli dengan gadis itu yang merasa malu, Rian memeriksa berkas dari divisi keuangan yang sejak kemarin dia minta.


“Ada-ada saja!"


Sementara gadis tadi masih mengerucutkan bibirnya. Sebuah pikiran aneh terlintas dalam benak gadis itu.


“Apa pak Rian menyukai sesama sehingga tak menginginkan gadis cantik dan menggoda sepertiku?” ujar gadis itu kesal.


Hingga akhirnya gadis itu pergi dari depan ruangan Rian dengan penuh kekesalan.


Bagi Rian, wanita lain tak ada yang bisa disamakan dengan Celia. Hanya Celia dan cukup gadis itu saja yang ada di benak pria itu. Tak ada orang lain dan tak boleh ada orang lain selain mereka berdua yang ada dalam hubungan mereka. Rian bahkan tak segan mengusir wanita lain yang mendekatinya. Begitu juga pria lain yang mendekati Celia.


“Aku merindukanmu, Celia,” gumam pria itu.


***


“Apa kamu menyerah denganku, Collin?” gumam Celia.


Gadis itu kembali mencoba menghubungi Collin. Sekali lagi dan untuk terakhir kalinya gadis itu mencoba.


Nada panggilan tersambung terdengar dari dalam benda pipih itu. Hingga akhirnya sebuah suara menjawab panggilan yang dilakukan Celia.


“Halo? Dengan siapa ini?” tanya seorang wanita dari seberang panggilan.


Celia tercekat saat mendengarnya.


“Siapa wanita itu?” pikir Celia.


“Apakah benar ini nomor Collin?” tanya gadis itu.


“Oh, maaf. Sepertinya pemilik ponsel ini pergi entah ke mana. Saya menemukannya saat di bandara,” sahut wanita dalam panggilan itu.


“Oh, kalau begitu, terima kasih.”


Celia akhirnya memutuskan panggilan suara itu. Pikirannya berkecamuk.

__ADS_1


“Di mana Collin?”


Hingga dering ponselnya kembali mengejutkan gadis itu. Sebuah Nomor tak dikenal tertera dalam layar panggilan ponselnya. Tanpa curiga, gadis itu mengangkat panggilan suara itu.


“Halo, dengan siapa ini?” tanya Celia sopan.


“Hai Cantik. Bagaimana kabarmu? Kau tak merindukanku?” tanya sebuah suara dari seberang panggilan.


Celia menatap layar ponselnya, dia berpikir kalau pemanggil itu salah menekan nomor.


“Aku Rian. Calon suamimu. Dan aku ... Merindukanmu,” ujar pria itu terang-terangan melalui panggilan suara itu.


Mendengar hal itu, Celia reflek menekan tombol merah dan mengakhiri panggilan suara itu. Dia tak menyangka kalau Rian ternyata terlalu percaya diri seperti itu.


Dia masih tak bisa menerima Rian di dalam hatinya. Tak akan pernah!


Layar ponsel Celia kembali berkedip. Notifikasi pesan diterima tertera dalam layar benda pipih itu. Sebuah pesan gambar dari seorang pria yang mengaku sebagai Rian itu tampak di layar ponselnya.


Jangan berpikir macam-macam. Bahkan berniat menghindariku kalau kamu tak ingin terjadi sesuatu dengan pria ini.


Celia menatap gambar yang dikirim beserta pesan tertulis dari pria itu. Gadis itu menutup mulutnya yang menganga karena terkejut akan gambar yang ada di dalam layar ponselnya.


Seorang pria dalam keadaan terikat dengan wajah babak belur ada dalam gambar itu. Wajah pria itu mulai sedikit membiru dengan sedikit noda merah di ujung bibirnya. Celia yakin kalau itu adalah kekasihnya yang selalu dia khawatirkan usai kejadian yang tak terduga itu.


“Apa yang kamu lakukan kepada Collin?!” Celia menghubungi nomor Rian kembali.


Pria itu langsung menjawab panggilan dari Celia tanpa menunggu lama.


“Aku jadi cemburu karena kamu terlalu mengkhawatirkannya. Apa harus aku hilangkan saja dia agar kehidupan kita bahagia?”


“jangan!”


“Kalau begitu, turuti permintaanku, Celia. Menikahlah denganku?” Ucap pria itu.


Celia menggigit kukunya mendengar perkataan pria itu.


“Atau ....”


“Kau tak akan pernah bertemu dengannya lagi,” imbuh pria itu.


To be continued ♥️


thanks for reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2