
Selamat Membaca ♥️
Celia mengalihkan pandangannya. Saat ini sangat berbahaya baginya untuk menatap Collin yang entah mengapa pesonanya seakan meningkat berkali-kali lipat.
“Ayo makan dulu sebelum makanannya dingin,” ujar Celia.
Collin pun tersenyum. Dia tahu kalau kekasihnya saat ini memikirkan sesuatu yang tak seharusnya dipikirkan oleh gadis itu.
“Suapi aku!” ucap lelaki itu terdengar manja dan tak ingin dibantah.
Meski enggan, Celia menyodorkan makanan yang ada di hadapannya ke mulut lelaki itu.
Masih sedikit kesal, dia mengambil lebih banyak makanan pedas khas Korea yang dibelinya. Makanan yang biasanya dijajakan di jalanan negeri ginseng itu tampak menggiurkan meski dari warna dan aromanya sudah dapat dipastikan kalau makanan itu memiliki rasa pedas. Namun, hal itu tetap tak ingin dilewatkan oleh Celia.
“A ... Ayo buka mulutmu!” ujar Celia sembari menyodorkan makanan pedas itu sedikit lebih banyak.
“Jangan bercanda, Sayang,” ujar Collin sembari menatap ngeri makanan di depannya.
Namun, gadis itu tetap tersenyum dengan tatapan memaksa. Mau tak mau akhirnya Collin menyambut makanan itu.
Sangat pedas!
Lelaki itu kemudian meneguk air minum yang ada di hadapannya. Dia tak peduli meski minuman itu telah ia habiskan sendiri. Sementara Celia tertawa lebar karena berhasil membuat wajah Collin memerah.
Collin menatap Celia dengan tatapan yang sulit diartikan. Lebih ke tatapan horor dan mengerikan. Karena wajah merah pria itu berhasil menambah kesan bahwa pria itu saat ini sedang emosi karena ulah kekasih kesayangannya itu. “Untung sayang!” gumam Collin sembari mengembuskan napas beratnya.
“Maaf,” cicit Celia.
Namun, gadis itu kembali terkekeh kemudian karena wajah lelaki blasteran itu masih tak kunjung kembali ke rona wajah aslinya.
Keduanya saling melempar canda hingga tanpa sadar mereka menghabiskan semua makanan yang telah mereka beli. Collin mengusap perutnya yang terlalu kenyang. Pria itu duduk bersandar ke bangku taman itu. Dia menghela napas panjang sesekali karena merasa perutnya benar-benar penuh saat ini.
“Sudah berapa bulan kandungannya, Pak?” kekeh Celia sembari ikut mengusap perut Collin yang sedikit membusung. Lelaki itu menepis tangan Celia yang masih terkekeh karena ulahnya.
“Tak terasa kalau kita berdua menghabiskannya, bukan?” ujar gadis itu terkekeh.
Collin juga tak menyangka kalau malam ini dia benar-benar merasa kekenyangan. Dengan susah payah lelaki itu bangkit. Setelah merasa isi perutnya mulai turun, lelaki itu menarik lengan Celia dan mengajaknya berlari.
__ADS_1
“Kau harus bertanggungjawab atas ‘kehamilanku’ ini. Jangan coba-coba lari dari tanggung jawab,” ujar lelaki itu sembari melebarkan kakinya, berlari kecil hanya untuk membakar kalori yang entah berapa jumlahnya.
Celia hanya bisa tertawa dan pasrah. Dia tak menghindar karena memang itu ulahnya.
Gadis itu tak mengalihkan pandangannya dari pria yang saat ini mengajaknya berlari dengan menggenggam erat tangannya. Dia seperti tersihir dengan wajah pria itu. Celia bukan fokus menatap jalan yang ada di hadapannya. Dia justru mengagumi keindahan kekasihnya yang sempurna di matanya.
Karena tak hati-hati, kaki gadis itu tersandung sebuah batu kecil namun efeknya membuat sesuatu yang besar. Celia nyaris terjungkal ke depan kalau tidak ditangkap oleh Collin yang dengan sigap menahan tubuh kekasihnya itu agar tak jatuh.
“Hati-hati.”
“Terima kasih,” lirih Celia dengan wajah yang bersemu merah.
Kini keduanya tampak salah tingkah karena kejadian tak terduga beberapa saat yang lalu. Terasa canggung meski keduanya berstatus sebagai kekasih.
“Kira-kira, kita akan kembali jam berapa?” tanya Collin berusaha mencairkan suasana.
Namun, pertanyaan lelaki itu ditanggapi berbeda oleh Celia. Gadis itu merasa bahwa lelaki yang bersamanya itu ingin segera mengakhiri kencan mereka. Padahal untuk pertama kalinya gadis itu nekat kabur dari rumahnya di malam hari. Bahkan melarikan diri melalui jendela kamar rumahnya di lantai dua.
“Ya sudah kalau kamu sudah enggan berlama-lama denganku, antarkan aku pulang sekarang saja.” Celia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Bu-bukan begitu, Celia Sayang. Aku bukannya tak mau berlama-lama denganmu.” ujar Collin seraya meredupkan pandangannya.
Collin meraih tubuh kekasihnya dan mendekap erat gadis itu agar tak lagi banyak bicara. “Kamu berpikir terlalu jauh, Sayang,” ujar Collin sembari mengusap bahu Celia.
“Aku mengkhawatirkan kamu. Aku takut orangtuamu mencari dan memarahi kamu karena keluar rumah di malam hari. Ah, aku lupa kalau untuk memarahimu rasanya Daddy Fabian tak akan tega.”
Celia mengangkat wajahnya, menatap manik mata pria yang masih mendekapnya dengan erat.
“Kemungkinannya pasti aku yang babak belur. Memang kamu mau kekasihmu ini tak rupawan lagi?” kekeh Collin.
Celia memukul pelan dada kekasihnya. “Bercandamu tidak lucu!” ucap gadis itu mengerucutkan bibirnya.
“Aku rasa sudah cukup olahraga kita malam ini. Ayo kita pulang!” ajak Collin.
Celia mengangguk. Keduanya kemudian berjalan ke arah tempat parkir di mana mobil yang tadi membawa pasangan itu berada.
Mereka tak menyadari kalau ada sepasang mata yang sejak awal mengikutinya. Orang tak dikenal itu membuntuti Celia dan mengambil banyak gambar dua orang itu dengan kameranya tanpa diketahui oleh Collin dan Celia.
__ADS_1
“Maafkan aku, Celia. Sampai kapan pun aku tak rela kalau kalian bersama,” ujar pria itu dengan rahang mengeras.
***
“Celia, apa kamu sudah tidur?”
Terdengar suara lembut seorang wanita diiringi ketukan pintu yang menutupi sebuah kamar. Wanita itu mengetuk pintu perlahan dan kembali menanyakan pertanyaan serupa.
Tak mendapati jawaban dari seseorang yang dipanggil namanya itu, membuat wanita paruh baya itu mencoba membuka kamar yang tertutup itu.
Dikunci.
Beruntung dia membawa kunci cadangan kamar itu karena tahu kalau putrinya akan selalu mengunci kamarnya usai makan malam. Yang pasti wanita itu paham betul kalau anak gadisnya itu selalu kembali ke kamarnya dan tak ingin diganggu oleh orang lain.
Pintu akhirnya berhasil dibuka. Perlahan dia membuka pintu itu agar sang pemilik ruangan tak terganggu dengan kehadirannya. Ruangan itu tampak gelap. Lampu utama telah dimatikan. Hanya lampu tidur yang ada di dekat ranjang yang masih menyala. Samar-samar terlihat seseorang sedang tidur di balik selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.
“Selamat tidur, Sayang,” ujar wanita itu kemudian kembali menutup pintu usai memastikan kalau anaknya sudah beristirahat di kamarnya.
Setelah menutup kembali kamar anaknya, wanita itu berjalan menuju kamarnya sendiri. Kamarnya bersama sang suami yang telah menunggu untuk istirahat bersama di atas ranjang empuk berukuran besar milik mereka.
“Apa Celia sudah tidur?” tanya Fabian kepada istrinya.
Sebuah anggukan menjadi jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh suaminya.
“Dia sudah tidur. Sepertinya dia terlalu lelah sehingga saat aku ke sana, dia tampak tak terusik tidurnya.”
Fabian masih sibuk dnegan tablet yang ada di tangannya saat sang istri memasuki kamar dan mengunci rapat pintu ruangan itu. Melihat sang istri berjalan ke arahnya, Fabian meletakkan tablet dan juga ponsel yang sejak tadi menemaninya sebelum Renata masuk ke dalam kamar mereka.
Melihat suaminya yang sudah siap untuk tidur, wanita itu kemudian ikut masuk ke dalam selimut. Namun, pria itu ternyata sepertinya tak ingin membiarkan dirinya tidur begitu saja. Sejak sang suami sudah memberi isyarat untuk mendekat, wanita itu tahu kalau suaminya akan mengajak dia melakukan olahraga malam versi pasangan itu.
Tanpa menunggu waktu lama, keduanya pun melaksanakan olahraga malam memabukkan yang rasanya seperti sebuah candu.
To be continued ♥️
thanks for reading ♥️
jangan lupa like komen dan share ya
__ADS_1
tq ♥️♥️♥️