Celia

Celia
Di Rumah Oma


__ADS_3

Happy reading ♥️


“Maafkan aku, Renata,” ucap Fabian mendekap erat istrinya usai menghukum wanita itu tanpa henti.


Kini wanita yang tak lagi muda itu terlelap dalam pelukan sang suami. Bukan tertidur. Dia pingsan usai dipaksa suaminya untuk melayani pria itu menuntaskan amarah yang sudah tak terbendung lagi.


“Aku harus bagaimana, Re. Agar kalian mengerti kalau aku tak ingin jauh dari kalian.”


“Aku tak sanggup berjauhan dengan kalian. Kau tahu ketakutanku dengan sangat pasti. Aku takut kalian justru meninggalkanku kalau Celia menikah dengan anak dari pria itu.”


“Maafkan aku, Re. Maafkan aku,” gumam Fabian yang tak sadar meneteskan air matanya.


Pria itu bergumam sendiri dengan Renata yang masih memejamkan kedua matanya. Fabian menutup tubuh istrinya dengan selimut hingga leher. Mendekap hangat wanita yang ia cintai penuh dan bahkan berlebihan. Rasa cintanya yang terlalu besar pada Renata membuat Fabian ketakutan. Dan hukuman yang Fabian berikan pada Renata sebagai klaim jika istrinya itu hanya miliknya seorang.


***


Kicau burung di luar rumah mengusik tidur seorang gadis yang cukup nyenyak di sebuah kamar bernuansa klasik berukuran 4x4 meter. Gadis itu tersenyum saat menyadari hari sudah pagi. Dia masih mengingat bagaimana kemarin dia dibawa pergi bahkan harus berlari meninggalkan rumah miliknya. Dia pun sadar kalau saat ini sedang tidak berada di dalam kamar kesayangannya.


Pintu kayu kamar itu diketuk cukup nyaring. Namun, tetap memiliki irama, seperti halnya sebuah kode yang selama ini diam-diam menjadi isyarat bagi dirinya dan sang kekasih tiap kali pemuda itu hendak menyelinap ke kamarnya melalui jendela.


Gegas gadis itu melompat dari ranjang empuk yang ada di sebuah kamar yang Oma Hana bilang kalau itu adalah kamar tamu. Dengan tersenyum lebar gadis itu kemudian membuka pintu kamar dan di baliknya ia bisa mendapati sosok pria yang ia cintai.


“Pagi, Princess,” sapa pria itu seraya tersenyum.


“Selamat Pagi,” sahut Celia yang penampilannya masih acak-acakan karena baru bangun dari tidurnya.


“Ditunggu Oma untuk sarapan. Ayo,” ajak Collin.


Gadis itu mengangguk. “Tunggu sebentar,” pinta gadis itu.


Collin menganggukkan kepalanya. Pria itu dengan sabar menunggu Celia yang saat ini tengah berada di kamar mandi.


Gadis itu mengetuk perlahan kepalanya. Dia mengutuk kebodohannya yang tak bangun lebih awal padahal saat ini dirinya sedang “menumpang”.

__ADS_1


Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, gadis itu bergegas untuk turun. Ingin mandi tapi dia tak ingin membuat nenek dari kekasihnya menunggu lebih lama.


Pasangan muda itu bergegas menuju ruang makan yang berada di antara dapur dan ruang tengah kamar itu. Di sana seorang wanita dengan rambut yang sudah hampir memutih seluruhnya, duduk dengan tenang menanti cucunya datang untuk sarapan bersama.


“Pagi, Oma,” sapa Collin seraya mencium pipi kiri neneknya.


“Selamat pagi, Oma,” sapa Celia tersenyum kikuk.


“Hhh.. Dasar anak muda zaman sekarang,” ujar Oma Hana seraya menggelengkan kepalanya.


“Maaf,Oma. Karena Celia, Oma harus menunggu kami,” ucap Celia merasa bersalah. Gadis itu menundukkan kepalanya seraya berdiri, belum duduk karena sang pemilik rumah belum mempersilakan gadis itu untuk duduk dan sarapan bersama,


“Duduklah,” titah Oma Hana kepada gadis yang ia harapkan menjadi cucu menantunya.


“Terima kasih, Oma,” sahut Celia.


“Sarapanlah dulu, ada banyak hal yang ingin Oma tanyakan padamu,” ucap wanita yang sudah memasuki usia senja itu.


Celia menganggukkan kepalanya. Mengiyakan permintaan wanita yang sudah ia anggap sebagai neneknya itu.


“’Celia, bolehkah Oma menanyakan sesuatu?” Wanita tua itu meraih dan menggenggam tangan Celia.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, membuat Celia bingung. Gadis itu menoleh kepada Colin yang mana pemuda itu kemudian menganggukkan kepalanya.


“Oma mau tanya apa ke Celia?” cicit gadis itu menatap wajah wanita yang kulitnya mulai sedikit berkerut.


“Oma sebenarnya ingin menanyakan sesuatu tentangmu. Tapi Oma belum ada cukup keberanian,” kekeh wanita itu.


“Oma bisa bertanya apa saja tentang Celia. Celia pasti akan menjawab pertanyaan itu.”


“Sebenarnya, Oma ingin tahu mengenai latar belakang keluargamu. Bukan mengenai status sosialmu. Oma hanya ingin tahu siapa orang tuamu, namanya, pekerjaannya, dan berapa saudaramu,” ucap wanita itu seraya tersenyum.


“Celia masih memiliki orang tua lengkap, Oma. Orang tua Celia bernama Fabian dan Renata. Celia punya seorang adik yang bernama Aksa,” sahut Celia tanpa menaruh rasa curiga.

__ADS_1


“Siapa? Fabian? Kenapa nama itu rasanya tak asing.” Wanita itu tampak berpikir.


“Kamu anak Fabian dan Renata??” pekik wanita itu saat menyadari kalau Fabian yang dimaksud adalah keponakan jauhnya.


“Ya Ampun. Bagaimana kabar mereka?” tanya Oma Hana penuh antusias. “Oma sudah lama tak bertemu dengannya.”


Celia menatap Collin. Pria itu kini mengangkat kedua bahunya. Pemuda itu bahkan tak tahu kalau papanya dengan daddy-nya Celia masih ada hubungan saudara.


“Berarti kami berdua adalah saudara jauh?” tanya Collin.


Sebuah anggukan diterima pemuda itu. Oma Hana akhirnya menjelaskan kekerabatan mereka berdua kepada pasangan muda itu. Hana pun senang karena jodoh cucunya masih kerabatnya dan tak perlu diragukan lagi.


“Tapi ... kenapa daddy tampak tak suka kalau Collin adalah anak dari paman Jamie?”


“Oma juga tak tahu ada masalah apa di antara mereka berdua. Kalian mungkin bisa menanyakan hal itu kepada orang tua kalian,” jawab Oma Hana.


“Aku rasa itu akan sangat sulit kalau bertanya pada daddy-mu,” ucap Collin kepada Celia.


“Akan kucoba menanyakannya kepada papa.


Ngomong-ngomong, apa papa sudah kembali ke Jerman, Oma?” tanya Collin kepada neneknya.


“Seharusnya sih belum. Dia berkata ingin mencarimu dan membawamu pulang ke Jerman dulu. Coba kamu hubungi dulu, barangkali kembali ke rumah lama papamu,”ungkap wanita tua itu?


Celia dan Collin menganggukkan kepalanya. Saling memberi isyarat bahwa mereka akan mencari keberadaan Jamie untuk mendapat penjelasan pria itu. Celia yakin, kalau mereka tahu apa penyebab sang daddy begitu posesif padanya dari Jamie, mereka bisa menyelamatkan hubungn mereka, bahkan mungkin akan mendapat restu dari Fabian.


“Apa Oma menyimpan nomor papa yang masih bisa dihubungi?” tanya pemuda itu lagi.


“Sepertinya ada. Tolong ambilkan ponsel Oma terlebih dahulu,” pinta Hana kepada cucunya.


Collin pun beranjak menuju kamar sang nenek yang tak terlalu jauh dari kamar tengah itu. Sebuah ponsel biasa tergeletak di meja kecil di kamar neneknya. Setelah itu, dia kembali menghampiri sang nenek yang masih bersama dengan Celia.


Pemuda itu menyerahkan ponsel milik Oma-nya dan diterima oleh Hana yang kemudian menekan-nekan tombol yang ada pada benda itu perlahan. Cukup hati-hati karena usianya yang tak lagi muda membuat penglihatan wanita itu sedikit rabun.

__ADS_1


“Ini nomornya,” ucap Hana lalu memberikan kembali benda yang menampilkan deretan angka itu kepada cucunya.


__ADS_2