
Terdengar suara keributan di luar rumah sederhana yang ada di daerah terpencil di salah satu wilayah Jawa barat itu. Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke rumah sederhana yang ukurannya lebih kecil dibanding rumah warga yang lain. Suara pintu diketuk membuat seorang pria menoleh dan sedikit waspada.
Pria itu mendekat ke arah pintu yang tertutup kayu setinggi dua meter berwarna coklat. Hendak mengintip mekalui celah jendela yang ada di sebelahnya.
"Siapa?" Tanya Rian dari dalam rumah.
"Mohon maaf Pak. Saya ketua RT di wilayah ini. Apa saya boleh bertamu?" Tanya seorang pria yang ada di baliknya.
Tak biasanya ketua RT daerah itu mendatangi rumahnya. Hal itu karena rumah yang ditempati Rian bukanlah rumah sewa. Melainkan rumah pribadi yang dia beli dengan harga murah dari seseorang yang kini sudah berpindah ke kota.
Tanpa menaruh rasa curiga, Rian membukakan pintu rumahnya untuk tamu yang merupakan perangkat desa wilayah itu.
Empat orang berseragam lengkap merangsek masuk ke dalam rumah, melumpuhkan pergerakan Rian yang hendak melakukan perlawanan.
Pria yang baru saja selesai bergulat dengan wanita yang konon sangat ia cintai itu dibekuk polisi dikarenakan dirinya masuk ke dalam DPO atas kasus yang menimpa Celia. Rian yang belum siap akhirnya berhasil ditangkap lalu dibawa keluar dari rumah itu. Mereka menggiring Rian ke arah sebuah mobil bertuliskan Patroli yang di belakangnya lebih mirip penjara berjalan karena memiliki penutup di belakang kendaraan roda empat itu.
Orang-orang di sepanjang jalan pemukiman itu berkasak-kusuk karena adanya seorang pria yang diborgol tangannya oleh polisi.
Rian hanya menundukkan kepalanya menatap ke dua tangannya yang kini memiliki gelang besi yang saling bertautan kanan dan kiri.
"Pak, boleh saya menemui istri saya di rumah?" Tanya Rian kepada petugas yang membawanya serta.
__ADS_1
"Istri?"
Rian menganggukkan kepalanya. "Izinkan saya berpamitan dulu padanya agar dia tak menunggu saya di rumah."
Rian mengeluarkan air mata dari sudut matanya, berpura-pura sedih karena harus meninggalkan rumah sementara ada orang lain yang saat ini menunggunya. Ya, menunggu untuk dibebaskan. Namun, Rian berpikir seseorang itu menunggunya karena sangat mencintainya.
"Apa kamu benar-benar memiliki seorang istri?" Tanya salah seorang petugas sangsi.
Dengan penuh semangat Rian menganggukkan kepala, mengiyakan perkataan pria berseragam yang mengawalnya ke arah mobil berwarna abu-abu. Dia berharap akan segera dibebaskan agar bisa mendatangi seseorang yang dia cintai di dalam rumah mereka.
"Benar, Pak. Saat ini istri saya sakit. Tolong, Pak. Izinkan saya berpamitan," ucap Rian memohon.
Salah seorang polisi memberi isyarat kepada yang lain untuk kembali ke dalam rumah itu. Mereka ingin membuktikan kalau perkataan Rian adalah benar.
Rian mendadak seperti orang lain saat melihat beberapa anggota polisi kembali menuju rumah mereka, bukan melepaskan borgolnya. Dia takut kalau orang-orang itu menemukan Amalia. Dia tak ingin orang lain menyicipi tubuh Amalia yang hanya boleh untuknya saja.
"Kalian tidak boleh ke sana! Itu istriku! Jangan kalian sentuh dia!!" Raung Rian.
Pria itu benar-benar marah dan meronta sekuat tenaga agar berhasil melepaskan diri. Hanya saja dua orang polisi itu bukan lawan tandingannya. Dua polisi yang berdiri di kanan dan kiri memegang lengan Rian dengan erat. Dia tak peduli dengan Rian yang menangis dan meronta hanya beralasan istrinya di rumah itu.
Tak berjalan lama, seorang wanita berjalan keluar dari dalam rumah itu dnegan penampilan acak-acakan. Meski pakaian wanita itu rapi karena dia mengenakan kembali pakaiannya yang tadi dilucuti oleh Rian.
__ADS_1
Pandangan wanita itu tampak kosong, sesekali dia bergerak mundur saat tangan polisi yang mengawalnya hendak menyentuhnya. Saat menatap Rian, wanita itu bersembunyi di balik tubuh kekar polisi dj hadapannya.
"Amalia? Kenapa kamu keluar? Harusnya kamu di dalam rumah saja, Sayang. Jangan mau dengan mereka!" Seru Rian yang kini hanya berjarak sekitar lima belas langkah sana.
Amalia masih bersembunyi, takut melihat Rian yang mengaku sebagai suaminya namun bersikap kasar kepadanya. Dia tak ingin berdekatan dnegan pria itu lagi. Bahkan tampak dari wajah wanita itu kalau dia enggan bertemu.
"Jangan mendekat!" Lirih wanita yang dipanggil Amalia oleh Rian.
"Masuklah, Sayang. Kembalilah ke rumah kita. Jangan ikut mereka!"
Amalia mengabaikan pria itu. Berpura-pura tak mendengar dengan tetap bersembunyi di belakang polisi yang mengantarnya menuju sebuah mobil khusus.
"Amalia. Jangan pergi. Jangan pergi Amalia. Aku mencintaimu. Kamu jangan pergi!"
Rian berhasil melarikan diri, hendak mengejar mobil yang berjalan menjauh.
Sebuah peluru melesat cepat mengenai betis pria itu. Pria itu mengabaikan rasa sakit akibat musibah itu.
"Jangan bergerak!!" Pinta seorang pria yang usianya cukup tua menodongkan pistolnya ke arah Rian.
Rian yang mengabaikan perintah pria bersenjata itu, akhirnya mendapatkan kembali tembakan ke dua yang mengenai kakinya yang lain.
__ADS_1
To be continued
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa 🥰