Celia

Celia
Kembali Menyusup


__ADS_3

Matahari kini sudah pulang ke peraduannya. Langit cerah pagi hari kini perlahan berubah menjadi gelap. Celia sudah dalam perjalanan kembali ke rumahnya. Sepanjang hari, tak ada pesan dari Collin yang ia terima. Hal itu membuat Celia kesal dan tak fokus mengerjakan pekerjaannya. Dia sangat mengkhawatirkan pemuda itu. Takut terjadi sesuatu lagi dengan kekasihnya yang belum diketahui kabarnya.


Celia membuka pintu kamarnya saat tiba di rumahnya. Gadis itu mendapati ruangannya sangat gelap, seperti biasa gadis itu menekan sakelar lampu kamarnya. Ruangan pribadinya yang gelap berubah menjadi terang. Tanpa dia sadari, sesosok orang tak dikenal menariknya dan mengunci pintu kamarnya dengan gerakan yang cepat. Mulut gadis itu dibekap saat ingin berteriak.


“Ini aku, Celia ... Collin,” bisik pria itu.


Celia bisa bernapas lega saat mendapati bahwa Collin yang ada di kamarnya. Dia pikir orang asing yang memiliki niat tak baik sudah masuk ke kamarnya.


Collin melepaskan bekapan tangannya dari gadis itu. Tubuhnya dipeluk oleh gadis yang kini sudah berhadapan dengannya.


“Aku merindukanmu. Aku takut kalau bukan kamu yang ada di kamar ini,” ucap Celia seraya menengadahkan kepalanya menatap intens pada kekasihnya itu seolah-olah sudah lama tak bertemu.


“Bukankah aku sudah berjanji kalau aku akan kembali?” ucap Collin sembari merapikan anak rambut Celia di dahinya. Ia menatap gemas pada Celia yang tengah memeluknya sangat erat.


Gadis itu menganggukkan kepalanya lalu menempelkan pipinya di dada bidang kekasihnya itu. Celia menikmati debaran jantung Collin yang berdetak lebih cepat.


“Ceritakan, apa yang terjadi di kantor,” pinta Collin ingin mendengar apa yang terjadi di tempat kerja gadis itu.


“Tak ada yang spesial,” ucap Celia seraya memalingkan wajahnya.


“Hei, katakan ... Ada apa?”


“Daddy berencana memajukan tanggal pernikahan kami,” lirih gadis itu.


“Kenapa?”


Celia menggelengkan kepalanya. Dia sendiri tak tahu apa yang membuat Daddy-nya memajukan tanggal pernikahannya dengan asisten Daddy-nya yang bernama Rian itu.


“Aku tak tahu apa yang pria itu katakan sehingga Daddy menuruti permintaannya,” ucap Celia pasrah.


“Bagaimana denganmu? Apa kamu akan menikah dengan pria itu?” tanya Collin.


“Tidak,” ucap Celia tegas.


“Apa kamu tak ingin mengajakku pergi dari tempat ini, Collin?” tanya Celia.


“Ayo menikah di luar negeri,” ucap pemuda itu memberikan ide.


“Tak mungkin, Collin. Aku masih memiliki Daddy.”


Celia berjalan menjauh dari Collin. Gadis itu berjalan menuju jendela kamarnya. Menatap kosong ke arah luar kamarnya yang langitnya sudah gelap.


“Sembunyikan aku, Collin.” Pinta gadis itu pada akhirnya.


“Aku akan mengusahakannya. Aku akan membuat pengaturan terbaik untukmu nanti. Oh iya, mana ponselmu?”


“Untuk apa?” tanya Celia lalu memberikan ponselnya.

__ADS_1


Collin mengutak-atik ponsel kekasihnya. Sebelumnya dia memastikan bahwa ponsel Celia tidak sedang diretas. Namun, kekhawatirannya kini terbukti. Ponsel Celia ternyata diretas dan disadap oleh orang lain.


“Sudah kuduga,” gumam pria itu.


Celia terkejut saat mendengar perkataan Collin. Selama ini dia tak pernah berpikir kalau ponselnya telah diatur sedemikian rupa untuk dimata-matai oleh orang lain yang mana itu adalah perbuatan Rian.


“Aku yakin kalau Daddy-mu tak tahu kalau ponselmu diretas.”


“Kamu berhati-hatilah. Aku memasang aplikasi ini. Dan namaku di ponselmu adalah, Calista.”


Celia menggigit bibirnya. Dia membekap mulutnya sendiri, menahan tawa karena ulah kekasihnya yang memberi nama seorang wanita sebagai nama kontaknya.


“Jangan tertawa. Kalau aku memberi nama kontakku sebagai bengkel, tak mungkin kalau terus berkomunikasi. Aku khawatir mereka akan kembali meretas ponselmu. Oleh karena itu aku memberi nama wanita lain.”


Celia menganggukkan kepalanya pertanda paham dengan penjelasan Collin. Hal itu demi kelangsungan hubungan mereka yang saat ini sedang tak diketahui akhirnya. Gadis itu berharap semuanya berakhir segera. Sehingga dia bisa bahagia bersama dengan Collin, kekasihnya.


Tapi, apakah bisa?


“Semoga semua ini segera berakhir dan Daddy merestui kita,” ucap gadis itu berharap.


***


Collin menginap lagi di kamar Celia. Rasanya enggan untuk berjauhan dengan gadis itu. Dia tak ingin menyiakan setiap waktu yang ada di depan matanya.


“Apa kamu tak bosan denganku?” tanya Celia kepada pemuda yang saat ini tengah mendekapnya.


“Bagaimana mungkin aku bisa bosan?”


“Tak sedikit pun terbersit pikiran seperti itu. Bahkan, aku lebih baik hidup sendiri daripada tak bersamamu,


Aku mencintaimu,” ucap Collin.


Dada Celia menghangat mendengar ucapan kekasihnya itu. Kata-kata cinta yang Collin ucapkan bagaikan mantra yang bisa membuat hatinya lebih tenang dan Celia percaya Collin akan berjuang untuk cinta mereka.


***


Mereka tak menyadari kalau saat ini mereka tertidur sambil berpelukan. Malam hari yang gelap kini sudah menjadi terang karena matahari sudah terbit dan mulai meninggi.


“Aku kesiangan!” pekik gadis itu.


Saat gadis itu hendak bangkit dari tidurnya, dan berniat menuju kamar mandi, pintu gadis itu diketuk dari luar.


“Celia, apa kamu tidak apa-apa?” sebuah suara terdengar dari luar kamar gadis itu.


“Celia ... Mommy masuk, ya?” tanya orang itu yang tak lain adalah Renata.


Gegas Celia berlari ke arah pintu. Membuka papan kayu yang menutupi kamarnya sedikit.

__ADS_1


“Pagi, Mom,” sapa Celia.


“Pagi. Kenapa kamu membuka pintumu hanya sedikit? Apa kamu menyembunyikan sesuatu?” selidik Renata.


“Mana mungkin. Celia tak menyembunyikan apa pun,” elak gadis itu.


Renata menautkan keningnya. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan anak gadisnya hingga tampak gugup saat menjawab pertanyaannya.


“Kamu yakin?” tanya Renata lagi.


Celia mengangguk. “Celia benar-benar tak apa. Dan tak ada yang disembunyikan.”


“Baiklah kalau begitu. Turunlah dan sarapan. Kata Daddy-mu, tak apa kalau hari ini kamu tak bisa pergi ke kantor,” ucap Renata memberitahukan pesan suaminya pada gadis itu.


“Kenapa?”


“Mommy juga tak tahu.”


Renata kemudian berjalan pergi meninggalkan Celia yang masih terpaku di balik pintu.


Collin yang mendengar perkataan Renata seperti tengah memikirkan sesuatu. Seperti ada sesuatu yang dirahasiakan dari Celia. Dan dia akan mencari tahu itu apa.


“Apa kamu juga merasa sesuatu yang aneh, Collin?” tanya Celia.


“Iya. Tapi apa kamu tahu apa kira-kira?” tanya Collin.


“Apa kita perlu ke kantor?”


“Jangan kamu. Itu terlalu berbahaya,” ucap Collin.


“Aku akan meminta Davin untuk pergi berkunjung ke sana.”


“Apa kamu yakin kalau dia akan membantu kita?” tanya Celia sedikit tak yakin mengingat bagaimana dia dan Darrel mencoba untuk menghalangi gadis itu menjalin kasih dengan orang lain.


“Apa kau lupa kalau aku bisa sampai di sini karena bantuannya?” kekeh Collin.


Tak berapa lama, suara notifikasi pesan masuk terdengar. Terdapat pop up dari sebuah pesan di aplikasi berwarna hijau di layar ponsel Collin.


“Dari Davin.”


“Apa yang dia katakan?”


“Dia meminta untuk bertemu nanti siang. Aku yakin ada sesuatu yang penting hang ini. Dia katakan,” ucap Collin.


“Aku ikut?”


“Tidak. Itu akan terlalu mencolok. Kamu diam di rumah atau pergi ke kantor saja.”

__ADS_1


Celia mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan Collin. Gadis itu merasa benar-benar tak berguna saat ini.


“Tunggu kabar dariku. Kamu bersikaplah seperti biasa agar tak membuat orang lain curiga,” pinta Collin yang dijawab anggukan oleh Celia.


__ADS_2