Celia

Celia
Bantuan Lainnya


__ADS_3

Selamat Membaca ♥️


Collin berniat membawa Celia ke rumah Oma Hana. Satu-satunya tempat paling aman yang bisa mereka tuju adalah rumah nenek dari pria itu karena tak mungkin dia membawanya ke kamar sewa miliknya.


Budaya di Indonesia berbeda dengan budaya barat di mana di sini, pasangan yang bukan suami istri dilarang untuk tinggal serumah.


“Bagaimana kalau Oma marah?” tanya Celia saat di depan rumah nenek kekasihnya.


“Dia tak akan marah. Dia sangat menyayangimu. Mungkin aku yang akan dimarahi, bukan kamu,” kekeh pemuda itu.


Celia menggigit bibir bawahnya. Dia tak memiliki tujuan lain. Kalau dia tak bersembunyi untuk saat ini, dia yakin Rian akan memaksa untuk menikah dengannya.


“Baiklah. Semoga semuanya baik-baik saja,” gumam gadis itu.


Mereka mengetuk pintu kayu yang menutupi rumah bergaya klasik di hadapannya. Seorang wanita yang rambutnya mulai memutih membukakan pintu yang tertutup sebelumnya. Sebuah lengkungan senyum terbit di wajah senja wanita itu.


“Celia?”


“Selamat malam, Oma,” sahut gadis itu.


Keduanya berpelukan, saling melepas rindu setelah beberapa hari tak bertemu. Rasanya sudah berbulan-bulan mereka tak saling sapa dan kini bertemu dengan kondisi yang penuh tanda tanya.


“Oma tak merindukanku?” tanya Collin mengerucutkan bibirnya.


“Kamu ... Anak nakal. Selalu saja bertamu saat malam tiba.” Wanita itu memukul ringan cucu laki-lakinya setelahnya mendekap pemuda itu dengan penuh haru.


“Masuklah.” Oma Hana membukakan pintu rumahnya lebih lebar, mempersilakan pasangan itu masuk ke dalam rumahnya lalu menutupnya kembali seperti biasa.


Setelahnya, mereka duduk di sofa ruang tamu yang cukup empuk dan nyaman.


“Kamu tak bertemu papamu saat ke sini?” tanya Oma Hana.


“Papa? Apa dia ke Indonesia?”


“Iya. Dan dia mencarimu. Kamu ke mana saja? Mengapa ponselmu tak bisa dihubungi?” tanya Oma Hana tanpa jeda.


“Oma, bisakah menanyakan pertanyaan itu satu per satu?”


“No! Jelaskan. Apa yang sedang terjadi. Firasat Oma mengatakan kalau kalian sedang tak baik-saja,” ujar wanita itu menebak kondisi cucunya.


Celia menundukkan kepalanya. Sementara Collin, hanya bisa mengembuskan napas kasar berusaha melepaskan beban yang cukup berat ia tanggung.


“Sebelum menjawab pertanyaan Oma, apa Papa nanti akan kembali ke rumah ini?” Tanya Collin.


“Sepertinya akan kembali sedikit lama. Karena dia mendapatkan pesan darimu kalau kamu memintanya mengurus kepindahanmu ke sini. Benar seperti itu?” selidik Oma Hana.


Collin mengangguk. “Tapi sudah aku urus. Dan hanya tinggal menunggu.”

__ADS_1


“Dan kamu tak mengabari papamu lagi?” tanya Oma Hana dan dijawab anggukan oleh cucunya.


“Apa yang terjadi?” ulang Oma Hana.


“Begini Oma. Kami membutuhkan bantuan. Izinkan kami untuk tinggal di sini? Ah, lebih tepatnya Celia.”


“Mengapa harus?” tanya Oma Hana bergantian menatap Collin lalu Celia.


“Ceritanya sedikit panjang, Oma. Dia kabur dari rumah-“


“Apa? Mengapa?” Oma Hana mulai panik.


“Tenang, Oma. Percayakan pada kami.”


“Apa hubungan kalian terhalang restu?”


Collin tercekat mendengar perkataan Omanya. Bagaimana wanita tua itu tahu kalau penyebab utama mereka harus bersembunyi?


“Apa ... Papa menceritakan sesuatu pada Oma?”


Wanita itu menggelengkan kepalanya.


“Katakan ada apa, Nak,” pinta wanita itu.


Celia yang sejak tadi menundukkan kepalanya, kini mengangkat wajahnya menatap nenek dari kekasihnya.


“Orangtuaku menolak Collin dan menjodohkanku dengan pria lain, Oma.”


“Lalu kenapa kamu masih ke sini?” tanya Oma hana tak terima.


“Kami saling mencintai, Oma.”


Celia kembali menyembunyikan wajahnya. Hanya dengan sepatah kalimat saja Oma hana sudah sangat marah terhadapnya.


“Hubungan kalian sampai kapan pun tak akan pernah menjadi sebuah kemungkinan, Collin. Kalau ayahnya tak menyetujui hubungan kalian, kalian tak akan pernah bisa bersatu karena dia masih dalam perwalian ayahnya.”


“Collin tahu itu, Oma. Tapi izinkan Collin berjuang untuk membuktikan bahwa aku tak seperti dugaan Daddy-nya,” ucap Collin berusaha meyakinkan neneknya.


“Baiklah. Oma akan membantu kalian. Tapi kalau sampai ayahnya menemukan kalian dan membawanya pulang, Oma tak bisa melarang,” ucap Oma Hana memutuskan.


“Mereka tak akan bisa menemukan Celia selama Celia tak keluar dari rumah ini dan Oma tak memberitahu keberadaannya di sini,” ucap Collin penuh dengan penekanan.


“Apa dia tak akan bisa kalau tak keluar rumah?” tanya Oma Hana.


“Celia yakin bisa, Oma,” ucap gadis itu yakin.


“Baiklah kalau begitu. Kamu bisa tidur di kamar tamu,” ucap Oma Hana lalu bangkit meninggalkan pasangan itu. Namun beberapa saat kemudian wanita itu menghentikan langkahnya.

__ADS_1


“Kamu jangan pernah sekali-kali beralasan menginap di sini selama Celia ada di rumah ini,” ucap Oma Hana memberi peringatan.


“Iya Oma,” jawab pria itu lirih.


Collin mengantar Celia ke kamar tamu yang dimaksud oleh neneknya. Gadis itu melihat isi kamar yang cukup luas itu.


“Aku akan pergi sebentar. Membelikan baju ganti untukmu. Di sini tak ada baju ganti perempuan selain baju milik Oma,” kekeh pria itu.


Celia menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum mendengar perkataan Collin. Seperti yang dikatakan Mommy-nya, dia yakin kalau Collin merupakan pria bertanggung jawab.


Celia menyerahkan beberapa lembar uang yang dia miliki kepada pemuda itu.


“Tak perlu, aku tak semiskin itu hanya untuk membelikanmu beberapa helai baju. Tapi jangan harap kalau aku akan membelikanmu baju branded,” kekeh pemuda itu.


“Tenang saja, aku cukup tahu diri,” sahut Celia


“Pintar sekali pacar aku ini,” ucap Collin seraya mengacak rambut Celia.


Celia mencebikkan bibirnya. Rambutnya saat ini berantakan seperti rambut singa jantan yang tak pernah menyisir rambutnya.


***.


“Aku tak akan memberitahukan di mana dia berada, Fabian!”


“Jadi kamu lebih memilih Rian bertindak di luar batas dibanding mengatakan Celia pergi ke mana?” tanya Fabian.


“Semua ini salah kamu, Bi. Andai saja kamu tak menghalangi Celia dengan Collin, semua tak akan serunyam ini.”


Mendengar nama Collin, membuat Fabian semakin kesal.


“Kamu membiarkan anak kita bertemu dengan pria itu? Kenapa, Re? Apa kamu masih menyukai ayah dari anak itu?”


Sebuah tamparan mendarat di pipi Fabian. Untuk pertama kalinya wanita itu mendaratkan tangannya ke pipi suaminya. Wanita itu menatap telapak tangannya yang masih merasa sedikit panas.


“Maafkan aku, Bi,” ucap Renata pada akhirnya.


Wanita itu spontan melakukannya karena perkataan Fabian yang menuduhnya tanpa bukti. Padahal Renata sudah mengubur masa lalunya dan tak pernah sedikit pun memikirkan Jamie.


Sementara itu Fabian tertawa cukup keras usai mendapatkan tamparan dari istrinya untuk pertama kalinya.


Tatapan pria itu berubah nyalang. Detik berikutnya, Fabian menyeret Renata ke dalam kamar, memberi hukuman pada istrinya agar tak lagi melawan dan memberitahukan ke mana putri pertamanya pergi.


To be continued ♥️


thanks for reading 🥰


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚

__ADS_1


__ADS_2