
Selamat membaca ♥️
Pernikahan sederhana yang digelar begitu mendadak, baru saja usai. Dia masih sedikit bingung, bagaimana bisa nama mempelai yang tertera di backdrop yang menjadi pelaminan versi modern itu berubah menjadi namanya.
Semua berlalu dengan sangat cepat, hingga Celia tak mampu untuk mengelak lagi. Dia merasa dipaksa secara halus untuk menikah dengan Collin. Ya ... Meski memang sebenarnya gadis itu sangat ingin.
Saat ini Celia sudah berada di kamar pengantinnya bersama Collin. Mereka saat ini sudah berada dalam sebuah kamar dalam rumah yang baru pertama kali ia singgahi.
Collin memang tak pernah mengajak Celia ke rumah itu karena memang dia baru membeli rumah baru itu beberapa minggu lalu.
Jamie menyuruh Collin untuk menjual rumah peninggalan Oma Hana. Awalnya, pemuda itu menolak permintaan papanya karena merasa rumah itu memberikan banyak kenangan untuknya.
“Apa kamu yakin Celia sanggup untuk tinggal di rumah ini?” tanya Jamie kala itu.
“Maksud Papa?”
“Kamu tahu sendiri kalau rumah itu menjadi saksi bisu kejadian buruk yang mungkin masih membuat Celia trauma.”
Perkataan Jamie membuat Collin tertampar. Dia nyaris melupakan kalau Celia mungkin akan sedih dan ketakutan karena mengingat malam mengerikan yang membuat Oma Hana akhirnya berpulang.
“Baiklah. Kita akan menjual rumah ini,” ucap Collin pada akhirnya.
Jamie menganggukkan kepalanya, menepuk pundak putra satu-satunya yang begitu ia sayang. “Gunakan uang hasil penjualan rumah untuk membeli rumah baru bagi kalian.”
“Apa Celia masih tak ingin menikahimu?” kekeh Jamie.
Collin mengangguk lemah. Dia merasa frustrasi karena Celia yang mendadak berubah.
“Aku harus apa, Papa? Dia selalu memintaku menjauh, menyuruhku untuk menikah dengan orang lain.”
“Apa dia berani menatapmu saat mengatakannya?” tanya Jamie kepada putranya yang menggeleng.
“Papa tahu kamu pasti bisa mendapatkannya. Papa yakin kalau Celia terpaksa memintamu untuk menyerah.” Jamie menepuk pundak anaknya yang sudah mulai beranjak Dewasa.
__ADS_1
“Apa papa akan hadir di pernikahanku?” tanya Collin.
Jamie menggelengkan kepalanya. “Maafkan Papa. Walau Papa tak ada di sana, restuku selalu menyertaimu. Papa tak hadir bukan karena tak menyayangimu. Hanya saja kamu tahu sendiri bagaimana posesifnya mertuamu,” ucap pria itu diiringi tawa.
***
Gadis itu masih berulang kali mengangkat tangannya, menatap jari manisnya yang tak lagi kosong. Sesekali dia menepuk pipinya agar terbangun dari mimpi indah yang terasa begitu nyata itu.
“Kamu tak sedang bermimpi, Celia,” ucap Collin yang entah sejak kapan telah mengganti pakaiannya.
Saat ini mereka berdua sudah berada di sebuah rumah yang cukup asing. Dia baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat itu. Tak hanya itu, melihat Collin dengan bathrobe berwarna navy itu masih sangat asing di penglihatannya.
“Mandilah. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu,” ucap Collin yang saat ini sudah tampak segar.
Pria itu lebih dulu mandi, mendahului Celia yang masih menatap jari manisnya sejak usai akad nikah hingga acara resepsi usai. Wajah gadisnya itu sungguh menggemaskan saat sedang kebingungan seperti itu.
Sementara itu, Collin tak pernah tahu kalau saat ini Celia mulai gugup saat melihatnya yang tampak memesona meski hanya dengan pakaian seadanya.
Pikiran gadis itu melayang entah ke mana. Pikiran bahwa mereka akan melakukan malam pertama pun melintas di kepalanya begitu saja.
Tapi, apakah dia siap?
Usai mandi dan mengenakan piamanya, rasa gugup di dadanya kian membesar. Namun, ekspektasinya dihempaskan begitu saja oleh Collin yang saat ini sudah rapi mengenakan sarung dan baju koko. Pria itu berdiri di atas hamparan sajadah yang telah ia siapkan.
“Sudah berwudhu?” tanya pria itu.
Celia menggeleng lemah, gadis itu menunduk menyembunyikan rona merah jambu yang samar muncul menghiasi pipinya. Dia pun bergegas kembali ke kamar mandi dan bersuci sebelum melaksanakan ibadah sunah dua rakaat sebelum menjalankan kewajibannya untuk pertama kalinya sebagai suami istri.
Gadis itu mendapati Collin tersenyum ke arahnya. Kemudian pria itu pun membantu Celia mengenakan mukena yang entah sejak kapan ada di sana. Seingat gadis itu, dia tak membawa apa pun ke rumah Collin. Dia bahkan tak tahu kalau Collin akan mengajaknya tinggal di sana.
Usai melaksanakan salat, Collin mendoakan Celia dan menyentuh pucuk kepala istrinya, mendoakan kebaikan agar istrinya menjadi wanita saleha.
Setelahnya, pria itu mencium kening Celia.
__ADS_1
Desiran halus dirasakan gadis itu saat Collin mencium keningnya. Berbeda dengan saat mereka pertama kali berciuman. Celia merasakan sendiri jauhnya perbedaan antara yang sudah sah dan saat belum menikah.
‘Ternyata seperti ini rasanya menikah,' batin Celia.
“Semoga semua ini bukanlah mimpi,” gumam gadis itu.
Mendengar gumaman lirih istrinya Collin tersenyum tipis. “Apa kamu masih perlu bukti kalau semua ini adalah nyata?” tanya Collin.
Celia yang masih belum paham ke mana arah percakapan pria itu, menganggukkan kepalanya.
Perlahan, pemuda itu mendekatkan wajahnya. Dia menautkan bibirnya dan mulai mencecap manis bibir gadis yang telah halal untuknya. Tautan yang awalnya lembut itu kini mulai diselimuti gairah. Baik Collin maupun Celia, mulai terbawa keinginan untuk mencapai tujuan bersama.
Saat tangan Collin mulai bergerilya, Celia menghentikannya. Dia menghentikan tangan Collin yang mulai menelusup ke dalam pakaiannya.
“Tidak! Jangan! Jangan!”
Celia beringsut mundur. Gadis itu menutup telinganya dan menjauh dari Collin.
Berulang kali Celia mengatakan agar Collin tak melakukan hal itu.
“Celia. Sadarlah! Ini aku Collin. Aku suamimu!” ucap Collin yang berusaha mendekati Celia.
Perlahan kesadaran Celia kembali. Dia menghambur ke arah pria itu dan memeluknya dengan erat. Celia pun menangis tanpa bisa dicegah.
“Tenanglah. Aku ada di sini. Kamu jangan takut. Ada aku,” ucap Collin seraya menepuk ringan punggung istrinya.
Pada akhirnya, Collin membimbing istrinya menuju tempat tidur mereka. Dia menyingkap kelopak mawar yang masih menghiasi peraduan pasangan muda itu.
Collin meminta istrinya untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang mereka. Dia meyakinkan Celia bahwa tak akan terjadi apa-apa malam ini. Dia berjanji akan menjaga istri barunya itu dan tak akan meminta haknya malam ini.
Sesuai janji, mereka tidur hanya dengan berpelukan. Tak melakukan apa-apa selain saling mendekap erat satu sama lain.
Hanya saja Celia tak tahu kalau saat ini Collin mati-matian menahan “keinginan” yang sempat membara apalagi mereka sedang dalam keadaan yang sangat dekat bahkan mereka sudah dalam ikatan yang sah untuk melakukannya.
__ADS_1
“Sabar Collin. Tahan! Kamu pasti bisa menahannya lagi!” lirih pria itu.
Saat melihat Celia tertidur, perlahan pemuda itu turun dan berjalan menuju kamar mandi untuk mendinginkan api yang sulit dipadamkan dalam tubuhnya.