
Hari masih terlalu pagi. Bahkan matahari belum meninggi. Hanya semburat jingga di ufuk timur memberikan sedikit warna di langit yang gelap. Celia terbangun di pelukan Collin yang masih terpejam. Gadis itu menatap wajah pria yang ia cintai sudah ada di sampingnya saat membuka mata. Celia tak langsung bangkit dan meninggalkan pria yang telah menjadi suaminya. Jari lentiknya bergerak menuruni hidung mancung Collin hingga jarinya berhenti di bibir pria itu.
Entah dorongan dari mana, Celia memberanikan diri mengecup bibir suaminya yang tampak menggoda. Apalagi pria itu saat ini sedang tertidur lelap.
“Jangan menggodaku,” ucap Collin dengan mata terpejam.
Celia sedikit terperanjat mendengar Collin yang ternyata sudah bangun.
“aku akan memasak dulu,” ucap Celia panik dan hendak bangkit dari ranjang mereka.
Collin mencekal lengan istrinya hingga gadis itu terjatuh tepat menimpa dadanya.
“Jangan pergi dulu,” gumam Collin seraya merapatkan pelukannya ke tubuh Celia.
“Apa kamu tak merasa aku terlalu berat?” tanya Celia.
Collin menggelengkan kepalanya.
“Jangan bergerak.” Collin mendekap erat Celia yang berusaha untuk melepaskan diri dari pelukannya.
Namun, Celia tak mengindahkan perkataan Collin. Hingga tanpa sengaja lutut Celia mengenai sesuatu yang mengeras di bawah sana.
“Auw!” Pekik Collin.
Celia pun bingung karena tak merasa menyakiti Collin. Namun, pria itu malah memekik kesakitan?
“Kenapa?”
“Sudah kubilang jangan bergerak, Celia.” Collin menatap ke arah tubuh bagian bawahnya, barulah gadis itu sadar kalau kakinya sempat menimpa sesuatu yang keras seperti sebuah keinginan.
“Maaf,” cicit Celia.
Collin mengecup kening Celia, berusaha menetralkan hasrat terpendam yang pagi ini kembali membara. Perlahan dia mengarahkan Celia untuk bangkit dan turun dari ranjang mereka.
__ADS_1
“A-aku ... aku akan siapkan sarapan dulu,” ucap Celia panik.
Collin terkekeh melihat Celia yang gugup seperti itu. Ia merasa istrinya begitu menggemaskan saat digoda seperti itu. Namun, tawanya mendadak hilang bersamaan dengan menjauhnya Celia dari kamar mereka.
Collin ingat dengan jelas bagaimana penolakan Celia semalam. Bukan karena Celia tak ingin, atau karena Celia tak mencintainya. Collin sangat yakin kalau apa yang dialami oleh Celia karena trauma kejadian malam itu.
Malam di mana mereka diculik dan dibawa paksa. Collin mengira Celia adalah gadis kuat yang tak terpengaruh dengan hal itu. Namun dia lupa, bagaimanapun Celia adalah seorang wanita. Dia akan merekam jelas kejadian buruk yang menimpanya, menyimpan dukanya sendiri hingga akhirnya itu menjadikan sebuah trauma yang bersemayam jauh di dasar jiwa.
Collin berencana untuk membawa Celia menemui psikiater. Dia akan mencari psikiatris terbaik untuk membantunya menghilangkan trauma yang dialami Celia.
***
Pernikahan Collin dan Celia tanpa terasa sudah berumur satu minggu. Selama itu, Collin dan Celia hanya tidur dengan saling berpelukan. Hingga saat ini mereka belum pernah merasakan indahnya malam pertama.
Collin sudah mulai proses verifikasi untuk kepindahannya menjadi dokter umum dan praktik di Indonesia. Karena tergolong dokter yang berprestasi dan memiliki riwayat yang bagus, semua urusannya dipermudah. Apalagi saat pihak rumah sakit tempat ia meminta izin praktek mengetahui kisah mereka yang memperjuangkan cintanya yang hampir kandas karena orang ketiga yang memiliki gangguan kejiwaan.
Collin dan Celia saat ini sedang menikmati sarapan bersama seperti biasa. Seperti pasangan pada umumnya, mereka tampak begitu romantis seperti masih dalam fase pacaran.
“Apa seperti ini yang namanya pacaran halal?” kekeh Collin.
“Oh, iya. Sore ini, kita akan pergi ke tempat temanku,” ujar Collin.
“Ke mana?” tanya Celia.
“Nanti kamu akan tahu. Sekalian kita jalan-jalan ke taman kota setelahnya. Seperti saat kita belum menikah dulu.”
Celia pun mengangguk dengan penuh antusias. Dia tak sabar untuk menantikan sore hari di mana Collin secara tak langsung mengajaknya berkencan.
Jarum jam terus berputar hingga tanpa terasa mengarah ke angka tiga. Saat ini Collin dan Celia tengah bersiap untuk pergi berdua, menikmati hidup sebagai pasangan suami istri. Mengganti saat berpacaran yang dulu pernah terhalang jarak sehingga membuat mereka lebih sering bertemu secara virtual.
Mobil dipacu dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang terpantau ramai lancar. Matahari masih cukup tinggi sebelum pulang ke peraduannya hari ini. Tanpa terasa pasangan itu kini sudah tiba di sebuah bangunan bertingkat bertuliskan tempat praktik seorang dokter spesialis kejiwaan.
Celia tertegun saat mobil berhenti di pelataran parkir tempat itu. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir indah gadis itu. Hanya saja Collin tahu kalau Celia sedikit terkejut karena dia membawanya ke tempat itu.
__ADS_1
“Kamu jangan tersinggung saat aku membawamu ke sini,” ucap Collin setelah mematikan mesin mobil mereka.
Celia masih menanti penjelasan Collin meski dia tahu kalau maksud suaminya adalah baik. Dan itu dilakukan demi kelangsungan pernikahan mereka.
“Aku hanya tak ingin kamu terus-menerus merasa trauma karena kejadian itu. Mungkin aku sedikit egois karena aku melakukan ini juga demi kepentingan mu. Tapi, tidakkah kamu juga menginginkan hal yang sama? Demi pernikahan kita?” tanya Collin dengan setengah membujuk. Ia bertutur kata lembut dan menatap Celia penuh rasa sayang.
Gadis itu menatap Collin dengan mata yang berkaca-kaca. Memang dia tersinggung karena Collin tak pernah membicarakan itu dan langsung membawanya ke tempat praktik yang lebih mirip trauma center itu. Namun, akhirnya Celia mau mengerti. Suaminya tak ingin dia terus menerus terkurung dalam rasa takut dan trauma karena perlakuan Rian yang membuatnya jijik pada dirinya sendiri.
Celia tak mengeluarkan sepatah kata, hanya mengangguk dan tersenyum. Dia tak menyangka kalau Collin bisa sesabar itu dalam menghadapi dan menunggunya agar mampu membuka diri, menerima perlakuan manis pria itu di malam hari selama perjalanan pernikahan mereka yang masih sangat panjang.
Mereka akhirnya masuk ke dalam bangunan itu, menemui seorang psikiater perempuan yang telah meluangkan jadwal untuk Collin, seorang pemuda yang ia kenal di rumah sakit beberapa minggu yang lalu.
Jujur saja, Celia saat ini merasakan cemburu yang teramat sangat saat melihat suaminya berinteraksi dengan dokter wanita itu. Terlebih wanita yang mengenakan jas kebesarannya itu sangat cantik dan ramah. Dan Collin tampak begitu serasi saat mereka bersanding dengannya.
“Dia dokter Almira,” ujar Collin memperkenalkan.
Wanita itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Celia.
“Dia adalah istriku, Celia,” ucap Collin yang tanpa ragu mengatakan bahwa hubungan mereka adalah suami istri.
“Wah, Pilihan Dokter Collin luar biasa ... Cantik. Kalian sangat serasi,” puji dokter Almira.
“Iya, dong. Susah banget dapetinnya. Benar-benar harus mengorbankan segenap jiwa raga,” ujar Collin bangga. Ia tersenyum saat mengatakannya.
Namun, hal itu sempat membuat Celia salah paham karena mengira dirinya yang sok jual mahal dan harus membuat Collin hampir kehilangan nyawa.
“Mba Celia ini memang pantas diperjuangkan kok. Aku yakin dia sangat spesial,” ujar Almira seraya menganggukkan kepalanya.
Celia pun tersenyum mendengar pujian wanita itu meski saat ini masih ada bara dalam hatinya saat melihat wanita itu menatap Collin dan begitu akrab dengannya.
to be continued ♥️
thanks for reading ♥️
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa