Celia

Celia
Rian


__ADS_3

"Hai," sapa seorang pria yang kini tengah berdiri di trotoar dekat persimpangan jalan dekat kantor Celia.


Seorang pria berkacamata dengan rambut yang tertata rapi tersenyum kepada seorang wanita muda yang menghampirinya dengan senyum terkembang.


"Kamu sudah menunggu lama?" tanya riang wanita itu.


Sebuah anggukan dari pria berkacamata itu membuatnya tersenyum.


Siapa sangka, seorang pria memanggil gadis itu dan menghampiri pasangan muda yang bertemu di persimpangan. Sebuah tatapan tak suka dilayangkan oleh pria berkacamata itu kepada pemuda yang memanggil kekasihnya.


"Maaf, tapi ini tertinggal," ucap pria itu.


"Apa itu?" Tanya pria berkacamata yang tak lain adalah Rian.


"Bukan apa-apa, Kak. Itu hanya ungkapan terima kasihku karena dia menemaniku tadi malam," ucap pria itu tersipu.


"Maksudmu, bukan menemani ...."


Sengaja Rian menggantung perkataannya. Dia yakin pria yang di hadapannya paham dengan apa yang dia maksud.


Dengan polosnya pemuda itu menganggukkan kepalanya. Mengakui bahwa dia dengan wanita yang ada di antara mereka menjalin sebuah hubungan.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, kakak siapanya Amalia?" tanya pemuda itu lagi?


Tangan Rian terkepal di samping tubuhnya. Dia merasa sangat kesal karena wanita yang ia suka ternyata menjalin hubungan dengan pria lain. Bahkan mereka telah menghabiskan malam bersama. Lalu, dianggap apa dia selama ini oleh wanita di depannya kini?


"Em. Maaf, Kak. Aku belum memberitahu kamu. Kami audah menjalin hubungan dua bulan terakhir. Dan kami berniat untuk menikah. Dan aku meminta bertemu karena ingin meminta restu," ucap Amalia dengan raut bahagia.


Rian tersenyum menyembunyikan isi hatinya yang paling dalam. Dia tampak bahagia dengan apa yang telah dia dengar dari bibir wanita yang kini tersenyum menawan.


"Kak Rian tak keberatan, bukan?"


"Aku turut berbahagia dengan hubungan kalian. Aku ucapkan selamat untukmu," ucap Rian seraya mengulurkan tangannya.


Bunyi klakson mobil terdengar sangat nyaring ketika pemuda itu ternyata jatuh ke jalan aspal yang saat ini sangat ramai. Sebuah mobil box berukuran cukup besar menghantam tubuh pemuda yang baru saja terjatuh karena kehilangan keseimbangannya.


Rian yang sudah mengira kejadian itu akan terjadi, menarik Amalia yang meraung hendak membantu kekasihnya yang bersimbah cairan merah karena tubuhnya bertubrukan dengan mobil yang melaju cukup kencang.


"Lepaskan aku, Kak. Kamu tak berhak memaksaku meninggalkan dia. Kamu bukan siapa-siapaku. Dia calon suamiku! Lepaskan aku, Kak," raung Amalia yang tangan ya dicekal sangat erat oleh Rian.


"Itu masih belum seberapa, Amalia. Kamu pun akan menerima hukuman karena membiarkan orang lain menyentuhmu!"


"Aku hanya menganggapmu kakak! Jangan berlebihan!"

__ADS_1


"Kakak?" Ulang Rian yang diikuti dengan tawa.


Hal itu membuat Amalia menghentikan tangisnya. Dia sangat takut melihat pria yang ia kira baik, pemuda yang sudah merawatnya dan seperti seorang kakak padanya.


"Kamu sangat senang jika tubuhmu dinikmati oleh pria itu bukan? Aku juga bisa membuatmu puas seperti dia yang memuaskanmu, Amalia."


Rian segera membawa Amalia ke dalam mobilnya. Dia mengunci pintu di sampingnya. Setelah itu Rian masuk ke dalam kendaraan roda empat itu dari pintu yang lain, menghadap ke kemudi mobil.


Ia menyalakan mesin mobil itu dan melesat cepat membawa Amalia menuju sebuah tempat di pinggiran kota. Mobil itu berhenti di sebuab perkampungan yang masih sedikit penduduk. Listrik belum menjangkau tempat itu sehingga alat elektronik seperti televisi atau internet belum menjangkau wilayah itu.


Rian menarik Amalia yang masih meronta sekuat tenaga ingin kabur. Namun, kekuatannya tak sebesar kekuatan Rian. Apalagi saat pria itu marah, cengkeramannya sangat erat hingga menimbulkan bekas kemerahan di lengan mulus wanita itu.


Rian melemparkan tubuh Amalia dengan kasar ke atas ranjang satu-satunya di dalam sebuah rumah yang ia sewa. Pria itu mengabaikan Amalia yang ketakutan melihatnya.


Tak membutuhkan waktu lama, Rian berhasil menaklukkan Amalia dan memiliki tubuh wanita itu seutuhnya. Seolah menghilangkan jejak yang dibuat oleh pria yang ia "jatuhkan" tadi hingga menyisakan jejak kepemilikannga saja.


"Kamu hanya milikku Amalia. Bukan milik orang lain. Tak ada yang boleh memilikimu selain aku," ucap Rian yang baru saja menyelesaikan penyatuannya dengan Amalia.


Pria itu tak segan menabur benih di rahim Amalia yang kini terbaring berurai air mata. Tak hanya itu, Rian mengikat kaki Amalia dengan sebuah rantai yang dikaitkan dengan ranjang tempat mereka beradu. Rian juga hanya memberikan sehelai baju yang panjangnya di atas lutut untuk menutupi tubuh Amalia. Pria itu sengaja melakukannya agar Amalia tak kabur dan selalu siap jika Rian menginginkan tubuhnya.


"Kamu hanya milikku, Amalia. Hanya milikku," bisik pria itu mengulang perkataannya ke telinga Amalia.

__ADS_1


__ADS_2