
Collin mencoba menghubungi papanya menggunakan nomor lokal pria itu. Meski masih tak ada jawaban hingga dering ke sepuluh, tak membuat Collin patah semangat untuk kembali menghubungi papanya. Dia perlu penjelasan demi hubungannya dengan sang kekasih tercinta.
Karena tak kunjung mendapat jawaban, pria itu mengirim pesan kepada sang papa bahwa itu adalah nomornya dan ingin bertemu dengan pria itu. Collin pikir kalau saat ini sang papa tak menjawab panggilannya karena mengira itu adalah nomor iseng.
Benar saja, beberapa detik setelah pesan pemuda itu terkirim, tertera nomor Jamie memanggil kembali nomor anaknya. Tanpa menunggu lama, Collin menjawab panggilan suara dari sang papa dan berharap bisa bertemu dengan pria itu hari ini.
Jamie memberitahu bahwa saat ini dia sedang ada di Tangerang.
“Temui Papa di kafe dekat Bandara.” Tulis pesan yang diterima oleh Collin.
Collin membalas pesan dari sang Papa mengiyakan permintaan orangtuanya itu dan memberitahu Celia.
“Kita akan pergi ke Tangerang. Papa menunggu kita di dekat bandara. Bersiaplah,” pinta Collin kepada Celia.
***
Collin dan Celia berkendara menuju Bandara. Mereka hendak menuju kafe di mana Jamie menunggu mereka. Dengan menggunakan motor, keduanya berangkat menyusuri jalanan kota yang hari itu cukup ramai.
Tanpa mereka sadari, ada beberapa pengendara motor yang mengikuti bahkan memepet motor mereka. Hingga akhirnya pengendara misterius itu mencekal motor yang dikendarai oleh Celia dan Collin.
Pasangan muda itu terpental ke samping. Beruntung di pinggir jalan itu terdapat lahan kosong yang masih belum dibangun. Baik Collin maupun Celia, terguling hingga keduanya terpisah cukup jauh.
Pasangan itu tak mengalami luka yang serius. Hanya sedikit lecet di bagian kaki dan tangannya saja. Kepala mereka terlindung oleh helm dan bagian tubuh mereka tertutup jaket yang cukup tebal sehingga tak sampai melukai bagian tubuh bagian atas mereka.
Belum sempat mereka bangkit dan lari dari orang-orang misterius itu, seseorang berpakaian serba hitam dengan helm yang penutupnya masih terpasang, berdiri di belakang Collin dan siap mengayunkan balok kayu ke arah pemuda itu.
“Collin awas!” seru Celia saat melihat kekasihnya dalam bahaya.
Belum sempat Collin menoleh ke belakang, punggung pria itu dipukul dengan sangat keras hingga menyebabkan dokter muda itu tak sadarkan diri. Sementara beberapa orang lain menyeret Celia menuju sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari lokasi kejadian.
“Collin! Bangun!” seru Celia.
Celia masih berusaha melepaskan diri. Gadis itu mencoba berlari menghampiri Collin yang saat ini tak sadarkan diri diseret oleh pria asing semakin menjauh darinya.
“Apa yang kalian inginkan?! Lepaskan aku!”
Bagaimanapun Celia memberontak, kekuatn gadis itu tetap akan kalah dengan kekuatan orang-orang Celia kini telah dimasukkan ke dalam sebuah mobil van di mana ada empat orang pria yang tak pernah ia kenali sebelumnya.
Hingga sebuah suara menyapa indra pendengaran gadis itu. Suara familier dari orang yang susah payah Celia hindari.
“Apa masih belum cukup, senang-senangnya, Sayang?” tanya pria yang duduk di kursi penumpang samping kemudi.
“Lepaskan aku Rian! Kamu tak bisa memaksaku. Sampai kapan pun aku tak ingin denganmu!” pekik Celia.
Rian tertawa. Pria itu seolah menganggap lucu perkataan Celia. Bahkan dia tak peduli dengan sumpah serapah yang dilontarkan gadis itu padanya.
Mobil terus melaju, membawa Celia dan empat orang pria di dalamnya menuju sebuah rumah besar yang ada di pinggiran kota. Mobil yang mereka tumpangi berhenti di pelataran rumah besar itu. Saat Celia turun dari dalam mobil, sebuah mobil hitam yang lain juga tiba di tempat yang sama.
Celia melihat seorang pria yang sedang tak sadarkan diri dipapah oleh dua oirang lelaki bertubuh kekar memasuki rumah yang tak jauh besar dari rumah orang tuanya.
“Collin!” desis gadis itu.
Celia berusaha memanggil Collin berharap pemuda itu terjaga dan menyadari keberadaan mereka. Namun percuma.hingga mereka membawa Collin ke dalam rumah, pria itu belum juga terjaga.
Setelah mereka menghilang di balik pintu utama rumah itu, kini giliran Celia yang dipaksa untuk masuk ke dalam rumah besar yang memiliki interior bergaya Eropa itu. Gadis itu dibawa menuju sebuah kamar yang berada di lantai dua bangunan. Sebuah kamar bernuansa putih abu, menyapa penglihatan Celia.
__ADS_1
“Bagaimana kamar kita? Indah bukan?” tanya Collin mendekat ke arah Celia.
Pria itu juga memberi isyarat kepada pengawalnya untuk pergi meninggalkan mereka berdua di kamar itu. Tak lupa Rian mengunci kamar yang sangat luas itu hingga menyisakan dirinya dan Celia di dalamnya.
“Bukankah kamu menyukai kamar besar seperti in, Celia?” bisik Rian seraya membuka tali yang mengikat Celia sejak tadi.
Pria itu menuntun Celia untuk duduk di tepi ranjang. Setelahnya pria itu berjalan menuju sebuah meja yang berada di sisi tempat tidur. Di sana terdapat sebuah kotak kesehatan.
Pria itu melepas sepatu dan kaos kaki Celia. Dia juga menyingkap Celana yang dipakai gadis itu.
“Mau apa kamu?!” seru Celia seraya menggeser tubuhnya.
Pria itu tersenyum. Setelahnya menatap Celia yang saat ini sedang ketakutan.
“Aku hanya ingin mengobati luka di kakimu. Aku sakit saat melihatmu terluka seperti itu,” jawab Rian lembut.
Celia melihat ke arah kakinya. Dia baru menyadari kalau kakinya terluka. Sebelumnya gadis itu tak merasakan sedikit pun rasa sakit yang berasal dari lukanya. Dia hanya memikirkan Collin yang tadi terluka lebih parah di tubuhnya. Apalagi saat melihat orang suruhan Rian yang menyeret Collin begitu saja.
“Aku tak akan menyakitimu, Celia. Menurutlah.”
Celia akhirnya memberanikan diri, membiarkan pria yang saat ini berlutut di hadapannya mengobati luka yang ada di kakinya.
Gadis itu mendesis saat cotton bud yang telah dilumuri obat merah itu menyentuh lukanya.
“Sakit?” tanya Rian.
Celia bergeming. Dia tak menjawab apa pun.
“Sesakit itu saat aku melihatmu bersama dengan pria lain, Celia,” lirih pria itu yang masih fokus mebersihkan luka kaki gadis yang dia sukai itu. Bukan hanya suka, tapi juga cinta.
Rian sudah menyelesaikan pekerjaannya mengobati Celia. Pemuda itu mengembalikan kotak obat ke tempatnya semula. Setelahnya pemuda itu berjalan menuju sebuah lemari yang ada di salah satu sisi ruangan itu. Entah sejak kapan di dalam lemari itu ada pakaian wanita lengkap dengan **********. Dan yang lebih mengejutkan lagi, semuanya merupakan ukuran pakaian Celia.
Rasa takut kembali menyusup relung hati gadis itu. Dia heran mengapa pemuda itu bisa mengetahui dengan pasti ukuran tubuhnya. Padahal selama ini mereka hampir tak pernah berinteraksi kecuali saat pemuda itu menjalankan tugasnya sebagai asisten Daddy-nya.
“Semua di dalam ini adalah barang-barang yang aku siapkan untukmu. Semuanya merupakan ukuranmu. Jadi tak akan ada drama kebesaran atau kekecilan untuk ukuran baju hingga sepatu yang kamu pakai nanti.”
Rian mengambil sehelai dres berwarna biru muda, begitu pula dengan dalaman yang ia pilihkan warna yang senada. Setelahnya pria itu berjalan menuju Celia yang masih belum beranjak dari duduknya di tepi ranjang.
“Bersihkan dulu tubuhmu. Setelah itu bergantilah dengan pakaian ini.” titah pria itu sembari membayangkan akan cantiknya Celia jika memakai baju pilihannya.
Celia tak kunjung menerima pakaian yang telah disiapkan pria itu. Dia benar-benar mengabaikan Rian.
Tak putus asa, Rian meletakkan baju ganti Celia di samping gadis itu.
“Akan ku tunggu kamu di bawah. Kita akan makan siang bersama,” ucap pria itu berjalan menuju pintu.
“Di mana Collin?”
Rian menghentikan langkahnya. Kedua matanya terpejam. Mendengar Celia menyebutkan nama lelaki lain, membuat emosi pria itu kembali meninggi.
“Menurutlah kalau kau ingin pria itu baik-baik saja!” Rian kemudian membuka pintu yang sebelumnya ia kunci itu. Dengan kasar dia membanting papan kayu tak bersalah itu cukup keras hingga Celia terkejut melihatnya.
Celia mengembuskan napas kasar. Gadis itu menatap ke arah pakaian yang dipilihkan oleh Rian. Dia membawa pakaian itu dan berjalan menuju lemari tempat helaian kain itu berasal. Setelahnya, Celia mengembalikan pakaian dalam yang dipilih oleh pemuda itu dan menggantinya dengan yang lain.
***
__ADS_1
Celia sudah membersihkan dirinya. Gadis itu kemudian turun ke ruang makan sesuai permintaan Rian yang mengajaknya makan bersama. Di atas meja, sudah tersedia beberapa jenis hidangan favorit gadis itu. Namun, Celia masih enggan untuk mendekat ke arah meja makan.
“Kemarilah dan duduk di sini,” pinta Rian.
“Makan dan duduklah. Kalau kamu tak ingin makan, setidaknya temani aku menghabiskan makanan ini,” ulang Rian tanpa menoleh lagi kepada Celia.
Gadis itu bergeming. Dia hanya menatap Rian yang mulai mengaduk makanan.
“Apa aku harus menyiksa pria itu dulu baru kamu mau menurutiku?” Tanya Collin seraya tersenyum miris.
“Kamu tahu Celia ... aku sebenarnya bukan seorang pemaksa. Tapi kalau orang itu menentangku, aku pun tak akan segan.”
Mendengar ancaman pria itu, Celia memilih duduk di kursi yang sudah disiapkan Rian, kursi yang berada di seberang meja, berhadapan dengan tempat pria itu duduk.
“Kamu menyembunyikan Collin di mana?”
Rian menggebrak meja makan di hadapannya. Moodnya kembali hancur berantakan. Gadis yang ia sukai, yang sangat ia cintai sejak tadi menanyakan pria lain selain dirinya.
“Kanu tak akan menemukannya, Celia,” ucap pria itu seraya menyeringai.
“Meski aku memberitahu kamu dia ada di mana, kamu tak akan pernah bisa menemuinya. Karena apa? Hanya dia yang bisa melihat kita, tapi kamu tak akan pernah tahu dan bertemu dengannya. Jadi menurutlah,” pinta pria itu.
Celia mengepalkan tangannya yang saat ini berada di bawah meja makan. Dia sama sekali tak menyentuh makanan yang telah terhidang di sana. Dia tak peduli dengan makanan itu. Untuk apa dia makan enak dan diperlakukan layaknya seorang putri sementara kekasih hatinya saat ini mendapat perlakuan tak menyenangkan bahkan dia tak tahu di mana pria itu berada.
Hingga makan siang Rian habis, Celia masih tetap duduk tanpa menyendokkan makanan di atas piringnya.
“Apa kamu tidak lapar?” tanya Rian saat melihat Celia tak sedikit pun menyentuh makanannya.
Rian memberikan isyarat kepada pekerja di rumahnya itu untuk mengambil piring di atas meja, membereskannya tak peduli Celia belum mengisi perutnya.
Rian kemudian bangkit dan meninggalkan Celia yang masih tetap duduk menahan kesal. Pria itu hampir kehilangan kendali atas dirinya karena mendapat penolakan terus-menerus dari Celia.
“Kesabaranku ada batasnya, Celia,” ucap pria itu menoleh sebelum meninggalkan gadis yang tertunduk di kursi itu.
Setelah kepergian Rian, Celia mulai menangis. Tanpa mengeluarkan suara, gadis itu meneteskan air matanya dan terisak. Bukan karena takut dengan Rian. Dia takut Rian menyakiti Collin yang tak berdaya saat dibawa ke tempat ini. Dua orang itu kini menjadi sandera hidup seorang Rian.
Celia bangkit, berjalan menyusuri setiap sudut rumah. Gadis itu memeriksa setiap kamar yang mungkin terkunci.
Nihil.
Tak ada satu pun kamar yang terkunci yang kemungkinan Rian menyekap Collin di dalamnya. Sesuai perkataan Rian, tempat itu sama sekali tak sedikit pun memberi petunjuk kalau kekasihnya masih di tempat itu. Kendati demikian, Celia tak berputus asa.
“Aku akan menemukanmu, Collin,” gumam gadis itu yakin.
“Apa mungkin di rumah ini memiliki ruang bawah tanah?” Pikiran Celia mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada.
Karena saking fokusnya mencari Collin dan ruang rahasia yang gadis itu yakini, Celia tak menyadari kalau saat ini Rian menatapnya dari kepala hingga ujung kaki.
“Kamu cantik memakai pakaian itu. Aku pikir aku akan membelikan setelan pakaian yang serupa,” ujar Rian santai namun sukses membuat Celia terkejut.
Gadis itu tanpa sengaja menjatuhkan sebuah benda yang merupakan sebuah patung kuda tak jauh di dekatnya. Melihat patung kuda berwarna keemasan itu jatuh, membuat wajah Rian merah padam.
to be continued ♥️
thanks for reading
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa 🥰