Celia

Celia
Karena Cinta


__ADS_3

Happy reading ♥️


Memang ia baru saja bertemu dengan Celia, tapi kenapa ia merasa jika perempuan itu adalah tempatnya untuk pulang. Jika Celia tak ada di sisinya, maka dirinya serasa tak berarti lagi. Perasaan ingin terus berdekatan dengan Celia kian menggebu dalam dada Collin. Tak pernah ia menginginkan sesuatu seperti ini.


Celia tatapi wajah Collin dengan rasa tak percaya, ia naikkan ke dua alisnya seolah bertanya "apa kamu serius dengan apa yang baru saja kamu ucapkan, Collin ?" lewat pandangan mata Celia mengungkapkan itu karena bibirnya tak sanggup untuk berbicara.


"A-aku suka Indonesia, setengah jiwaku juga berada di sini," untuk ke sekian kalinya ucapan Collin terdengar ambigu dan ia mengatakan itu semua seraya membalas tatapan Celia seolah dapat membaca pikiran Celia dan menjawab pertanyaannya.


"Bagus pindah saja ! nanti aku kenalin sama teman-teman aku yang cantik biar kamu semakin betah, siapa tahu bisa dapat pacar di sini" sahut Dareel tanpa dosa. Sontak saja itu membuat Celia langsung memalingkan wajahnya menatap pada Dareel. Begitu juga collin.


Celia mengepalkan tangannya dengan kuat dibawah meja. ingin rasanya ia mencabik-cabik Dareel dengan tangannya dan berteriak pada sepupunya itu bahwa Coliin adalah miliknya tapi ia tak bisa melakukan itu semua. Yang Celia lakukan hanya tertawa hambar menanggapinya.


"Aku serius ! tanya saja sama Celia, teman-temanku banyak yang cantik. Iya kan ?" Dareel bertanya pada Celia dengan wajah datarnya.


"Hu'um, aku rasa kamu akan menyukai mereka," Celia membenarkan dengan senyum yang dipaksakan. "Awas kalau kamu macam-macam !" lagi-lagi Celia mengisyaratkan dengan matanya hingga Collin tersenyum geli melihatnya.


Walaupun begitu, Collin merasakan senang karena dengan cemburunya Celia menandakan perempuan itu benar-benar mencintainya. "Tapi sayangnya aku sudah memiliki seseorang yang spesial dan percaya atau tidak, aku ini tipe orang yang setia jika sudah jatuh cinta," jawab Collin pada Dareel.


"Tapi di akun Instagram kamu gak pernah ada postingannya," Dareel memberikan tanggapannya.


"Mmm... karena aku tak mau seorang pun tahu, cukup aku saja," jawab Collin.


"basi !" sahut Dareel tergelak. "Aku yakin kamu sama aja kaya aku dan Celia, sama-sama jomblo !! Kecuali Davin, dia udah laku duluan," lanjutnya lagi.


Collin tertawa mendengarnya, sedangkan di bawah meja Celia mencubit tangannya gemas.


"Kalau kamu masih sendiri, boleh gak kita lebih dari sekedar berteman ?" tanya Collin pada Celia.


Mendengar pertanyaan Collin membuat Celia seketika terdiam, tak menyangka jika lelaki itu akan berani bertanya sesuatu yang sangat berbahaya. "Eh ?" gumam Celia pelan.


"Kamu baik, Celia juga baik tapi sepertinya tidak akan mudah karena Daddy Celia sangat posesif," sahut Davin.

__ADS_1


"Kalau menurut kalian bagaimana ? apa aku pantas untuk Celia ?" tanya Coliin terdengar lebih serius dari sebelumnya dan itu membuat Davin dan Dareel saling beradu pandang dan hening untuk beberapa saat.


"Celia sangat berarti bagi kami, walaupun kamu ( Collin ) dan aku berteman dekat tapi bila menyangkut Celia beda urusannya," jawab Dareel dengan mimik wajah serius, sangat berbeda dari Dareel yang bicara sebelumnya.


" udah ah, bercanda kalian gak lucu !" ucap Celia yang kini merasa cemas.


"Sebenarnya tak masalah jika kamu tertarik dengan Celia, tapi jika kamu berani menyakiti hatinya maka kamu akan berhadapan dengan kami," kali ini Davin yang berbicara. Ia menatap Coliin lekat-lekat ketika mengatakan itu.


Celia pun menundukkan kepalanya frustasi, "here we go again...," gumamnya pelan. Dia merasa cukup lelah karena kini kedua kakak sepupunya sedang dalam mode pengawalan lagi. Hal yang tak pernah berubah sejak dulu saat ia masih sekolah.


"kalian sudah kenal aku sejak lama, tak mungkin aku berbuat buruk pada perempuan terutama Celia," sahut Collin.


Davin menganggukkan kepala membenarkan, ia dan Collin telah berteman cukup lama dan selama mereka saling mengenal tak pernah sekalipun ia mendengar hal buruk tentang Collin.


"Sebaiknya kita kembali ke kantor, aku masih banyak kerjaan." ucap Celia beralasan, ia ingin segera pergi dari tempat itu karena kini atmosfer diantara semuanya berubah tegang.


"Apa kamu yakin ? makan siangmu saja belum habis" sahut Davin.


Melihat itu, Davin pun mengalah. Ia memanggil pelayan untuk membayar semuanya tapi Collin lebih dulu yang melakukan itu. Ia yang membayarnya.


Setelah itu, Celia terlihat sedikit menghindari Collin dan tentunya lelaki itu menyadarinya.


***


Pukul setengah delapan malam Celia sudah bergelung dalam selimut sembari memainkan ponselnya, pikirannya melayang memikirkan Collin yang terus memenuhi hati dan kepalanya. Sejak makan siang tadi, keduanya belum lagi berkomunikasi. Celia sangat sibuk dengan pekerjaannya dan ia pun tak mau kedua kakak sepupunya menaruh rasa curiga hingga ia berusaha untuk bersikap biasa saja.


"Sayang, lihat ke luar," Celia mendapatkan pop up pesan dari Coliin sang kekasih.


Ia pun menurunkan kaki telanjangnya dari atas kasur dan berjalan menuju jendela kamar. Celia mengintip dari balik tirai dan melihat ke arah luar. Bibirnya melengkungkan senyuman dengan lebar saat ia melihat sang kekasih hati yang berdiri di sebrang jalan dan melambaikan tangan padanya.


"Tunggu, aku !" balas Celia pada aplikasi pesannya. Secepat kilat ia berganti baju dengan celana jeans dan mengenakan jaket hitamnya.

__ADS_1


"Dimana sih ?" Celia tolehkan kepalanya ke kanan-kiri, mencari dus sepatu yang baru ia beli dan senyum Celia kian lebar ketika menemukan sepatu kets yang baru dibelinya beberapa hari lalu dan mengenakannya.


Celia pastikan untuk mengunci pintu kamar sebelum ia berjalan menuju kaca jendela kamarnya yang besar dan membukanya. Pelan-pelan Celia keluar dari jendela itu, menyelipkan tubuh rampingnya di antara teralis besi yang cukup lebar untuk ia lewatl. Setelah berhasil keluar, Celia tapaki tepian atap dengan hati-hati karena letak kamarnya yang berada di lantai 2.


Collin yang melihat itu membulatkan matanya tak percaya, ia menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi tak menyangka Celia akan melakukan hal itu. Melarikan diri dari kamarnya dengan begitu lincah.


Beruntung bagi Celia yang memiliki gaya rumah western. Walaupun besar dan mewah tapi tidak ada pagar pelindung di sekelilingnya hingga ia bisa langsung menemui Collin ketika sampai di lantai bawah.


Celia berlari dengan senyuman yang tak surut dari wajah cantiknya. Rambutnya yang dikuncir kuda ikut bergoyang-goyang ketika ia berlari menuju sang kekasih dan langsung berhambur dalam pelukan Coliin saat ia sampai.


"Ya Tuhan !! apa yang kamu lakukan ??" tanya Collin seraya mengecupi puncak kepala Celia.


"Melarikan diri untuk menemui kamu," jawab Celia seraya menengadahkan kepalanya dan menatapi wajah Collin lekat-lekat.


"Apa kamu sering melakukannya ?" tanya Collin masih tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Tidak ! ini pertama kali bagiku," jawab Celia.


"hah ? kok bisa ?" Collin menaikkan kedua alisnya karena merasa takjub.


"Karena cinta !! ternyata karena cinta aku mampu melakukannya," jawab Celia dan itu membuat Collin tak mampu untuk berkata-kata.


"Ayo pergi !! bawa aku !! sebelum Mommy dan Aksa tahu aku tak ada di dalam kamar," Celia menarik-narik lengan Coliin agar lelaki itu segera membawanya pergi.


to be continued


thanks for reading ♥️


jangan lupa like dan komen yaaa 🥰


maaciw 😚

__ADS_1


maaf masih slow update 🙏


__ADS_2