Celia

Celia
Jalan-jalan


__ADS_3

“Akan ke mana kita hari ini?” tanya Celia yang masih bergelung di bawah selimut dengan sang suami.


Pria itu masih mendekap erat istrinya dan enggan untuk bangun meski waktu sudah menunjukkan pukul delapan waktu setempat.


“Kamu ingin pergi ke mana saja?” tanya Collin dengan mata yang masih terpejam.


“Bolehkah kalau ke Frankfurt? Atau ke Pulau Sylt?”


“Eh? Kamu tahu dari mana lokasi wisata di daerah sini?” Celia mengangguk.


“Tapi hanya cari info dari gugel,” kekeh gadis itu.


“Aku pikir kamu pernah ke sini,” ucap Collin seraya mencolek hidung istrinya.


“Kan kamu tahu sendiri kalau Daddy saaangaat posesif padaku,” gerutu Celia.


“Tapi ada bagusnya Daddy melakukan hal itu.”


Celia memicingkan kedua matanya ke arah suaminya. Sementara pria yang kini tengah mendekapnya tampak sedang menahan tawa.


“Memang apa bagusnya? Yang ada aku sangat tersiksa. Oh iya, akan berapa lama kita di sini?” tanya Celia yang sudah tak sabar ingin berjalan-jalan di daerah sana.


“Ayo mandi dulu,” ucap Collin yang kini sudah membopong Celia.


Nyaris saja istrinya itu berteriak karena ulah spontan Collin. Namun, mereka akhirnya tertawa dan mengunci pintu kamar mandi, menikmati momen kebersamaan sebagai pasangan suami istri yang tengah dimabuk cinta.


***


Sarapan sudah terhidang di atas meja makan. Celia yang baru saja selesai mengeringkan rambutnya, disambut dengan aroma masakan yang menggugah selera. Perutnya sudah mulai meronta minta diisi. Rasanya energinya sudah hampir habis dan perlu diisi kembali setelah melakukan kegiatan menyenangkan bersama yang diulang berkali-kali.


“Masak apa?” tanya Celia yang masih melihat suaminya mengenakan apron memasak di rumah itu.


“Hanya nasi goreng dengan telur mata sapi saja. Tak masalah, kan?” tanya Collin.


Celia menganggukkan kepalanya. Wanita itu tersenyum lalu duduk di kursi menghadap ke piring yang sudah berisi nasi goreng di atasnya.


“Kamu tidak pakai telur?” tanya Celia.


Collin menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Kenapa?” selidik Celia.


Karena enggan menjawab pertanyaan istrinya, Collin menyendok makanan mendahului istrinya.


Celia mengerucutkan bibirnya karena suaminya menghindari pertanyaannya.


“Nanti kita belanja dulu. Bagaimana?” tanya Collin.


Celia masih terdiam. Dia mengunyah nasi goreng yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya. Entah mengapa Celia merasa sedikit sensitif dengan pertanyaan suaminya.


Apakah mungkin dia sedang mengalami PMS (Pre-menstruation Syndrom)?


Bukan ide buruk jika berbelanja setelah ini. Mungkin dia bisa mendapatkan benda unik yang mungkin hanya ada di negara tempat suaminya menghabiskan masa remajanya.


Celia lebih dahulu menandaskan makanannya. Dia meletakkan sendok dan garpunya tanda dia telah selesai makan. Tanpa banyak bicara, wanita itu berjalan menuju kamarnya dan hal itu membuat Collin bertanya-tanya.


“Apa aku salah bicara?” Collin menggaruk kepalanya.


Collin bergegas menghabiskan sarapannya. Setelah itu, dia membersihkan alat makan dan memasak yang telah ia gunakan. Setelahnya dia berniat menyusul istrinya di kamar.


Pria itu khawatir istrinya benar-benar marah akan sesuatu yang tak pernah ia sengaja untuk menyakiti hati istrinya. Collin benar-benar khawatir. Namun, seketika rasa khawatirnya lenyap saat dia mendapati sang istri sudah siap untuk pergi.


Collin mendapati istrinya sudah rapi dengan riasan tipis dan pakaian kasual membalut tubuh indahnya. Tak lupa tas selempang berwarna hitam ia bawa serta.


Cantik!


Itulah kata yang selalu ia lontarkan untuk Celia. Istrinya selalu tampil menawan dan paripurna dengan pakaian apa saja.


“Bukannya tadi kamu mengajakku jalan-jalan?” tanya Celia yang sedikit pun tak merasa bersalah karena membuat suaminya berpikiran yang tidak-tidak.


Collin hanya mengerjapkan kedua matanya tanpa sanggup lagi berkata-kata.


“Kenapa?” tanya Celia yang melihat suaminya justru terdiam.


“Ah, tidak ada. Tunggu sebentar. Aku mau ganti baju,” ucap Collin yang tersadar dari lamunannya.


Untuk pertama kalinya Collin dibuat kebingungan dengan tingkah makhluk yang bernama wanita. Pria yang hanya dibesarkan oleh papanya itu sedikit pun tak memiliki petunjuk bagaimana memperlakukan wanita dengan baik. Dia hanya berusaha berhati-hati agar tak menyinggung wanitanya, itu saja.


“Ayo!” ajak Collin.

__ADS_1


Collin menggenggam tangan istrinya dengan sangat erat. Menggandengnya keluar dari rumah sang Papa yang masih belum pulang dari rumah Tiffany. Entah apa yang dilakukan oleh mereka hingga tak pulang setelah sore kemarin.


“Kita ke supermarket dulu lalu kita jalan ke Frankfurt. Bagaimana?” tanya Collin.


Celia mengangguk. Setidaknya Collin mengajaknya jalan-jalan dan tidak menghabiskan waktu di kamar saja.


Lengkungan senyum terukir di wajah cantik Celia. Wanita itu pun takjub dengan pemandangan kota yang ia lewati. Celia yang baru pertama kali ke luar negeri, seperti burung yang baru keluar dari sangkar emasnya. Di mata Collin, hal itu sangat menggemaskan. Sesekali pria itu mencuri pandang ke arah istrinya seraya mengemudikan kendaraan roda empat milik papanya yang ia gunakan.


Mereka berkendara sekitar lima belas menit menuju supermarket. Mereka berniat membeli bahan makanan untuk mengisi lemari makanan dan kulkas papanya. Collin yakin papanya pasti tak akan mengisi barang dapur kalau bukan karena Collin yang selalu minta tolong wanita paruh baya yang biasa membersihkan rumah papanya tiap minggu.


Sebuah pemandangan mengejutkan Celia lihat di hadapannya. Wanita itu tertegun saat melihat seseorang yang berjarak beberapa meter saja di depannya berjalan dengan santainya seraya bergandengan tangan seperti orang yang sedang dimabuk cinta.


Tanpa sadar, Celia mengikuti dua orang yang sangat mirip dengan orang yang dia kenal. Akan tetapi saat Celia melihat orang itu, ternyata dia salah orang.


“Maaf. Saya kira mertua saya,” ucap Celia meminta maaf.


Pasangan yang dikira Jamie dengan Tiffany itu mengangguk dan tersenyum. Dia tak paham dengan apa yang dibicarakan Celia dan hanya tersenyum menanggapinya.


Bahkan Celia sendiri lupa kalau saat ini dia bukan di Indonesia.


Celia bahkan tak menyadari kalau dia berpisah jauh dengan Collin. Dia melihat ke sekeliling, suaminya tak dijangkau penglihatannya. Wanita itu kemudian berbalik dan kembali menyusuri lorong demi lorong yang terpisahkan oleh rak berisi barang-barang. Celia tampak kebingungan karena tak bisa menemukan suaminya.


“Collin?” Celia mulai panik.


Gadis itu masih berjalan tak tentu arah mencari suaminya yang entah terpisah sejak kapan. Supermarket itu sangat luas bahkan hampir seukuran lapangan sepak bola dengan beberapa lantai dalam bangunan itu.


“Collin di mana kamu?” Celia benar-benar panik.


Saking paniknya, wanita itu mengabaikan suara ponsel yang sejak tadi berdering. Hingga salah seorang wanita paruh baya menasihatinya agar menjawab ponselnya terlebih dahulu.


“Kamu di mana?” sebuah suara pria yang ia cari saat ini terdengar dari dalam panggilan.


“Aku ada di wilayah perkakas dapur. Kamu di mana?” suara Celia terdengar bergetar karena menahan tangis.


“Tunggu di sana!”


to be continued


thanks for reading ♥️

__ADS_1


__ADS_2