
Selamat Membaca ♥️
Collin mengurungkan niatnya untuk mengembalikan Celia ke rumah orangtuanya. Setelah berulang kali berpikir, dia masih belum siap untuk menghadapi orang tua gadis itu lagi. Pemuda itu bahkan menghentikan mobilnya tak jauh dari rumah Celia.
Pemuda itu bingung, antara ingin mengembalikan Celia ke rumahnya atau menuruti bisikan untuk mengambil kesempatan memiliki Celia yang sudah ia buat tak sadar. Akan tetapi, semua itu dia urungkan. Dia tak ingin membuat nama Celia buruk sehingga akhirnya dia memilih membawa gadis itu ke sebuah apartemen yang ia sewa.
Dia membopong tubuh Celia yang saat ini tengah terpejam. Gadis itu tertidur sangat lelap hingga tak menyadari kalau tubuhnya sedang dipindahkan dari mobil kekasihnya. Collin meletakkan tubuh Celia dengan sangat hati-hati ke atas sebuah ranjang berukuran king size di dalam kamar. Setelah menyelimuti tubuh kekasihnya, Collin keluar dari ruangan itu menuju sebuah ruangan di mana terdapat alat memasak yang lengkap dan sangat tertata.
Jam sudah melewati pukul dua belas malam. Sudah 4 jam pemuda itu menghabiskan waktunya sia-sia Di jalan.
Kini setelah terdiam beberapa saat, pemuda itu mengeluarkan beberapa bahan makanan. Diolahnya bahan makanan itu agar menjadi sebuah hidangan makan malam untuk ia nikmati bersama sang pujaan hati.
“Aku di mana?” sebuah suara mengejutkan Collin yang memasak dengan setengah melamun.
“Kau sudah bangun?” ucap pemuda itu seraya tersenyum.
Celia menganggukkan kepalanya, mengusap matanya yang terasa sedikit kotor seraya berjalan mendekat ke arah kitchen bar di mana terdapat makanan yang baunya menggoda hidung gadis itu.
“Kau memasak apa?”
“Hanya tumis sayuran dan daging bumbu,” sahut Collin.
“Sudah selesai,” imbuh pemuda itu usai menuangkan masakannya ke atas piring.
Dia meletakkan hidangan makan malam itu di hadapan Celia sehingga kesadaran gadis itu terisi penuh.
“Jam berapa ini?” tanya Celia seraya menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.
“Jam dua dini hari,” jawab Collin santai.
Gadis itu tersedak mendengar jawaban dari pemuda yang ada di depannya. Mereka terpisahkan oleh kitchen bar yang membentang sebatas dada.
“Bagaimana mungkin,” desis gadis itu.
Collin hanya terdiam meski mendengar suara lirih dari kekasihnya. Perasaan bersalah hinggap di relung hati pemuda itu. Pandangannya seketika menatap gadis yang tangannya bergerak meraba tubuhnya, seperti tengah memastikan sesuatu yang Collin tahu apa.
“Kita tidak melakukan hal itu, bukan?” tanya Celia.
Collin mengangkat sebelah alisnya, tak kunjung menjawab pertanyaan gadis yang ia sukai itu meski dia tahu ke mana arah pembicaraan mereka. Setelah beberapa saat, barulah pemuda itu bersuara.
“Kenapa?”
“Aku saat tidur tak menyerangmu, bukan?” tanya Celia dengan wajah lugunya.
__ADS_1
Pemuda itu tersedak setelah mendengar perkataan lugu Celia.
‘Padahal aku yang tadinya hendak menyerangmu. Tapi kenapa kamu malah berkata kamu yang menyerangku?’ batin pria itu.
“Maaf,” ujar gadis itu seraya menuangkan air dalam botol terdekat ke dalam gelas lalu menyerahkannya kepada Celia.
Collin menenggak air itu tak sampai habis. Hanya saja perasaan aneh ia rasakan saat air bening itu melewati kerongkongannya.
“Kenapa?” tanya Celia dengan wajah polosnya.
Belum sempat Collin menjawab, gadis itu justru menghabiskan sisa air bening dalam gelas.
“Air apa ini? Mengapa pahit sekali?” ujar gadis itu seraya meletakkan gelas itu kembali.
Celia tampak berulang kali menggelengkan kepalanya. Rona wajahnya tampak memerah. Tubuhnya pun tampak hampir limbung akibat minuman bening yang menyerupai air putih biasa itu. Salahkan dirinya yang lupa menyembunyikan botol minuman itu. Pemuda itu pun tak menyangka kalau pada akhirnya akan membawa Celia ke apartemennya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Collin seraya melambaikan tangannya ke hadapan Celia.
Gadis itu melambaikan tangannya seolah dirinya baik-baik saja meski Collin tahu kalau gadis di hadapannya sudah setengah sadar.
“Sepertinya lebih baik kamu tidur lagi saja,” ujar Collin seraya bangkit mendekat ke arah Celia, hendak memapah gadis itu kembali ke kamar.
“Collin ... Apa kamu sangat mencintaiku?” tanya gadis itu mulai berbicara tak beraturan.
Mendengar pertanyaan Celia yang mempertanyakan kesungguhan perasaannya membuat sesuatu dalam dirinya seperti tergores. Sakit tapi tak berdarah.
Namun, pemuda itu tak menyalahkan Celia. Baginya wajar gadis itu ragu. Dia mengingat kejadian beberapa jam yang lalu di mana pemuda itu menyerah dan memilih mundur karena penolakan orang tua Celia.
Terlebih alasan penolakan orang tua gadisnya itu adalah sang ayah yang bahkan pemuda itu tak tahu ada hubungan apa antara ayahnya dan orang tua gadis itu.
“Kalau kamu memang mencintaiku, bawa aku pergi Collin! Bawa aku pergi dari sini!” ujar Celia seraya memukul ringan dada lebar kekasih yang saat ini berdiri di hadapannya.
Collin hanya bisa diam. Kalaupun dia akan membawa Celia ke Jerman, dia tak memiliki kuasa. Celia tak membawa apa-apa saat keluar dari rumah orangtuanya.
“Ayo aku antar kamu ke kamar,” ujar Collin yang tanpa aba-aba menggendong tubuh Celia ala bridal.
Setelah tiba kembali di dalam kamar yang hanya ada satu di apartemen itu, Collin meletakkan tubuh kekasihnya ke atas ranjang.
“Jangan pergi, Collin. Aku mohon,” ucap gadis itu yang tiba-tiba mengeratkan pegangannya ke pakaian yang dikenakan pemuda itu.
Melihat wajah Celia yang memerah dan juga bibir ranum kekasihnya itu, membuat Collin tergoda. Pemuda itu mengikuti instingnya untuk mendekatkan bibirnya.
Celia pun tersenyum saat melihat kekasihnya yang semakin mendekat ke arahnya. Hingga akhirnya mereka saling mengungkapkan perasaan mereka kembali melalui penyatuan bibir keduanya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat bertukar saliva dan saling mencecap rasa, keduanya melepaskan pagutan mereka.
Napas mereka masih terdengar memburu. Namun, penyatuan bibir mereka harus terhenti karena pasokan oksigen yang mereka rasa semakin menipis.
“Miliki aku, Collin!” pinta Celia dengan hembusan napas ringan yang sedikit bau alkohol itu.
Collin membelalakkan kedua matanya. Mendengar perkataan gadis yang saat ini terbaring di atas ranjang, membuat dia terkejut.
“Jangan memancingku, Celia,” ujar pria itu dengan napas yang terdengar berat.
Sebagai lelaki normal, Collin pun tergoda. Pendiriannya seketika runtuh saat gadis itu dengan beraninya menyusuri setiap jengkal tubuh pemuda yang masih tertutup kain itu. Hingga akhirnya pemuda itu menangkap tangan kekasihnya yang sudah bergerak turun dan hendak memegang apa yang belum saatnya gadis itu rasakan.
“Miliki aku, Collin!” sekali lagi gadis itu meminta sesuatu yang beberapa saat lalu masih dijaga oleh pemuda itu.
Collin akhirnya mengunci tangan Celia ke atas kepala gadis itu. Dia pun menindih tubuh kekasihnya yang terbaring di atas ranjang empuk miliknya.
***
Sinar mentari menyelinap masuk melalui sela-sela jendela sebuah kamar. Bunyi alarm yang ada di meja kecil di sebelah ranjang itu pun berbunyi dengan begitu nyaring.
Seorang gadis perlahan membuka matanya yang terasa silau karena sinar matahari pagi yang sudah mulai meninggi. Sesuatu yang besar terasa menindih perut datarnya. Gadis itu meraba benda itu yang kemudian dia kenali sebagai sebuah tangan seorang pria.
“Tunggu! Tangan siapa ini?” gumam gadis itu.
Celia membuka matanya lebar-lebar, kesadarannya pun sudah terkumpul. Dia menatap sebuah tangan kekar yang begitu erat mendekapnya. Dia menengok ke sebelah kanannya yang ia rasakan ada seseorang sedang terbaring di sana.
“Collin?” gumam gadis itu.
Dengan sangat pelan gadis itu memindahkan tangan kekasihnya itu. Berharap pemuda di sebelahnya tak terusik hingga terbangun dari tidurnya.
Celia kemudian duduk di sandaran ranjang itu. Hingga tanpa dia sadari selimut yang sejak semalam menutupinya saat ini merosot hingga ke perutnya. Dia merasa hawa dingin menyapa perutnya. Sesaat kemudian barulah dia menyadari bahwa dirinya nyaris tak memakai apa-apa.
“Tidak mungkin kami melakukannya, bukan?” gumam gadis itu menatap ngeri pria yang saat ini masih terbaring tanpa mengenakan pakaian.
To be continued ♥️
Thanks for reading 🥰
jangan lupa like komen vote dan hadiah yaa
kabooooor aaahhhhh 🤣🤣🤣🤣
kecuali banyak sogokan 😎😚
__ADS_1