
Hawa dingin yang keluar dari air conditioner di ruangan Celia, tak mampu mendinginkan bara api yang tiba-tiba tersulut di hati Collin. Dia menatap Celia dengan tatapan yang sulit diartikan dengan dahi berkerut. Diguncangnya pundak gadis yang ia cintai perlahan. Dia menatap lekat ke arah manik hitam gadis itu, mencari kesungguhan akan pernyataan sebelumnya.
“Apa maksudmu, Celia?!”
Collin memaksakan tawanya yang terdengar sumbang. Dia menghibur diri, meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang diucapkan Celia tak sungguh-sungguh dari hatinya. Pasokan oksigennya ruangan itu terasa menipis, semakin menambah sesak dadanya yang diremas oleh tangan tak kasat mata.
“Jangan bercanda,” ucap Collin lagi.
Celia yang menundukkan kepalanya, menatap ragu ke arah Collin. Wajahnya basah karena tak sanggup menahan derasnya air mata yang enggan untuk terhenti.
“Aku pun sedang tidak bercanda, Collin. Menikahlah dengan orang lain. Bukan denganku.” Sungguh, hati gadis itu sangat perih menahan luka yang ia torehkan sendiri karena rasa tak percaya diri yang selalu menghantui.
Gadis itu telah berulang kali memikirkan apa yang ia katakan kepada Collin. Meski dengan berderai air mata, keputusan Celia sudah bulat. Dia merasa tak layak bersama dengan Collin karena kejadian saat itu.
Meski Collin tahu dengan pasti kalau Rian masih belum sampai memaksa Celia untuk menyatukan tubuh mereka, Celia merasa Collin berhak mendapatkan seseorang yang jauh lebih suci dan tak pernah mengalami hal serupa seperti dirinya.
“Ini sama sekali tidak lucu, Celia. Ada apa denganmu? Kenapa kamu berubah saat kita hampir mencapai tujuan kita?” suara Collin mulai meninggi.
Dia mundur beberapa langkah, menggelengkan kepala tak percaya dengan perkataan Celia yang dengan mudahnya meminta adar pemuda itu berpaling.
“Tidak! Aku tidak mau dan tak akan pernah mau.” ucap Collin terdengar dingin namun tegas.
“Aku tak pantas untukmu Collin. Kamu berhak mendapatkan seorang gadis yang lebih baik untukmu.” Celia makin terisak. Gadis itu menutup wajah dengan kedua tangannya, tak sanggup lagi menunjukkan wajahnya di hadapan Collin.
Celia menyerah dengan dirinya. Gadis itu menyerah saat mereka sudah hampir mencapai garis finish menuju halal. Padahal hanya perlu selangkah lagi, semuanya telah jelas. Namun, Celia memilih usai.
“Tak ada orang lain yang lebih baik untukku Celia. Lagi pula aku hanya menginginkan kamu.”
Collin ingin sekali mendekap Celia agar gadis itu mau mengubah pikirannya. Dia ingin meyakinkan Celia bahwa dirinya akan tetap bersamanya dan menerima semua yang menjadi kekurangannya.
Namun, sekali lagi Celia mendorong Collin. Bahkan belum sempat Collin memeluk tubuh wanita pujaan hatinya, Celia mendorong tubuh kekar pria itu dengan kedua tangannya.
“Tolong mengertilah, Collin. Aku tak pantas untukmu! Pergilah. Aku tak apa jika kamu memang bersama dengan yang lain,” ucap Celia lemah.
__ADS_1
Hening untuk beberapa saat, keduanya hanya terdiam membisu.
“Baiklah kalau itu maumu, Celia.” Pria itu menundukkan kepalanya, melangkah lemah menjauh dan keluar dari kamar Celia. Dia masih berharap Celia akan berubah pikiran dan menghentikan langkahnya. Namun, harapannya tak sesuai dengan kenyataan yang ada. Celia mendorongnya pergi.
***
Sudah seminggu berlalu, Collin tak lagi menghubungi atau mendatangi kediaman Fabian. Keadaan rumah orangtua Celia itu tampak tenang dan masih terasa dingin. Bukan ruangan atau anggota keluarga lainnya yang mendingin. Tapi suasana hati Celia yang beku dan enggan mencair setelah hari itu.
Meski Celia beraktivitas seperti biasa, bekerja di kantor papanya, mengikuti serangkaian meeting bahkan bertemu klien, nyatanya membuat hati gadis itu semakin membeku, lebih dingin dari sebelumnya.
Sepulang bekerja, gadis itu memilih menyendiri dan hanya berbaur dengan keluarganya di kala waktu makan saja. Tak ada percakapan panjang saat mereka menikmati waktu makan bersama. Lebih banyak sendok dan garpu berdenting di atas piring yang berisi makanan.
Celia saat ini sedang berada di dalam kamarnya. Gadis itu menelungkupkan badannya di atas tempat tidur seraya membaca sebuah buku dengan earphone yang terpasang di telinganya, memainkan musik yang sama yang terus ia putar dari benda pipih kesayangannya.
Pintu kamarnya diketuk oleh seorang pria muda berulang kali. Karena tak kunjung memiliki jawaban dan tak dibukakan pintu oleh si empunya rumah, dia membuka penutup kayu yang menghalangi aksesnya bertemu dengan sang kakak.
“Kak, ada undangan.”
Merasa sedikit kesal karena ternyata kakaknya tengah mendengarkan musik yang diputar dari ponselnya, Aksa melemparkan sebuah kertas berwarna putih bercorak keemasan ke hadapan gadis itu.
“Itu titipan dari Collin!”
Celia tercekat menatap sebuah nama yang sangat ia kenal tertulis di sana. Hanya melihat nama panggilan kedua mempelai saja membuat Celia enggan.
Kedua matanya mulai menggenang dan susah payah ia tahan karena sang adik masih ada di sana.
“Terima kasih,” ucap Celia lemah.
“Kuatkan hatimu, Kak. Aku yakin kamu pun akan menemukan kebahagiaanmu,” ucap Aksa tulus.
Bagaimana mungkin aku bisa bahagia kalau kebahagiaanku ternyata lebih memilih berbagahia dengan wanita lain?
Celia mengembuskan napas panjang berulang kali. Berusaha mengatur emosi yang tengah membuncah dan sangat susah untuk ia kendalikan lagi.
__ADS_1
Tangis gadis itu pecah tak terkendali. Suara tangisnya menyayat hati. Ternyata kisah cintanya selama ini tak bisa bersatu setelah badai mereka lewati. Celia kini merasakan bagaimana pedihnya menjaga jodoh orang yang dikira akan menjadi jodohnya.
Aku sudah menduga kalau kamu bisa mendapatkan seorang yang lebih baik dariku, bukan? Aku sudah menduganya Collin. Aku turut berbahagia untukmu.
Di dalam heningnya malam, dalam kamar yang sangat sepi, suhu pendingin ruangan terasa begitu menusuk.
Sekuat tenaga dia berusaha mengendalikan diri, mengikhlaskan kekasihnya bersama dengan wanita lain, ternyata tak mudah.
Celia memandang langit malam yang begitu cerah dengan hamparan bintang dan pantulan sinar rembulan yang begitu terang.
“Akankah kamu masih memandang langit yang sama dan menyampaikan rindumu padaku seperti dulu, Collin?” gumam gadis itu.
“Apa yang kamu tangisi Celia? Mengapa kamu masih menangis? Bukankah itu semua adalah keinginanmu sendiri?”
Celia menyeka air mata yang membasahi pipinya. Ada sedikit sesal di dadanya karena telah mendorong Collin pergi. Dan saat pria itu benar-benar pergi menjauh dari hidupnya, barulah ia merasakan hampa yang ternyata hanya bisa diisi oleh kehadiran Collin saja. B
erulang kali ia memejamkan kedua matanya, mengenang kembali momen indah saat mereka bersama. Dia baru menyadari kalau kehadiran pria itu sangat berarti. Dan baru bisa ia sadari saat pemuda itu telah pergi ... Tak mengganggu hidupnya lagi.
“Apa kamu pikir tangisanmu itu tangis bahagia melihatku dengan yang lain, Celia?”
Sebuah suara membuyarkan lamunan Celia tentang pria yang masih bertakhta di hatinya. Gadis itu memicingkan kedua matanya, bahkan mengucek matanya yang sembab itu untuk memastikan kalau penglihatannya benar-benar melihat sosok pria yang menari-nari di pikirannya kini nyata berdiri tak jauh dari tempatnya menatap langit melalui jendela kamar.
“Bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanya Celia tak percaya.
“Aku hanya ingin bertemu Daddy dan Mommy-mu awalnya. Tapi mereka memintaku untuk kesini melihat keadaanmu. Meski aku yakin kalau kamu baik-baik saja seperti yang kamu katakan.” jawab Collin.
“Ya. Aku baik-baik saja. Selamat untuk pernikahan kalian.” sahut Celia dengan sebuah senyuman yang ia paksakan.
“Hanya itu?”
to be continued ♥️
Thanks for reading ♥️
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa