
Happy reading ♥️
Tak terasa sudah tiga hari berlalu. Collin kini tak lagi menginap di kamar Celia. Pemuda itu berkata sedang mengurus dokumen yang entah apa.
Celia memandang langit sore dari dalam kamarnya. Langit dengan semburat jingga itu tampak sangat indah dan menenangkan jiwa. Hanya saja entah mengapa hati Celia merasa gelisah. Semakin hari, intensitas pesan yang dikirim oleh kekasihnya berkurang. Hingga sore hari ini, tak ada kabar yang dia dapatkan dari pria itu.
“Apa kamu baik-baik saja?” gumam Celia masih menatap langit yang semakin lama semakin gelap.
Hingga lamunan gadis itu dibuyarkan oleh suara ketukan yang berasal dari pintu. Celia hanya menatap pintu yang tertutup itu tanpa berniat untuk membukanya sebelum orang yang mengetuk pintu kamarnya bersuara.
“Princess, ini Daddy,” suara Fabian terdengar dari balik pintu kayu itu.
Dengan malas gadis itu berjalan menuju pintu dan memutar kenopnya. Dia memaksakan diri untuk tersenyum menatap Daddy-nya yang saat ini tersenyum menatapnya.
“Boleh Daddy masuk?” tanya Fabian pada gadis itu.
Celia membuka pintu itu lebih lebar, mempersilakan Daddy-nya masuk ke dalam kamarnya.
“Daddy ingin berbicara.”
Celia masih bergeming. Dia hanya menatap pria yang ia cintai pertama kali itu dengan wajah serius.
“Apa kamu marah dengan Daddy?”
Celia menggelengkan kepalanya. “Bukankah Celia tak punya hak untuk marah? Bukankah selama ini Daddy menentukan semuanya sendiri?”
“Maafkan Daddy,” ucap lirih pria itu.
“Celia sudah terima dengan keputusan Daddy. Sekarang apa yang ingin Daddy tanyakan lagi?” Tanya Celia, namun Fabian terdiam.
“Kalau tak ada yang ingin dikatakan lagi, Daddy bisa keluar. Celia mau tidur,” ucap gadis itu mengusir Daddy-nya secara halus.
Fabian tak terlalu banyak berkomentar. Pria itu hanya bisa menundukkan kepalanya lalu melangkahkan kaki keluar dari kamar anak gadisnya.
“Maafkan Daddy,” ucap pria itu hingga akhirnya menghilang di balik pintu.
Celia bergegas menutup pintu kamarnya. Tubuhnya merosot diiringi tangis yang ia tahan cukup lama. Rasa sedih, kecewa dan marah tercampur aduk menjadi satu. Gadis itu merasa putus asa. Terlebih saat dia mengingat kalau hari pernikahannya kurang beberapa hari saja.
__ADS_1
“Ke mana kamu Collin? Apa kau akan menepati janjimu?”
***
Sementara itu, Collin saat ini tengah mempersiapkan dokumen untuk kepindahannya ke Indonesia. Banyak hal yang perlu dia siapkan sehingga dia lupa untuk menghubungi Celia. Paling tidak saat semuanya sudah diterima oleh Kemenristekdikti, pemuda itu akan memiliki waktu luang sembari menunggu proses penyetaraan dan pemberitahuan mengenai prosedur konsil kedokteran Indonesia dan IDI.
Pemuda itu tak lupa membawa semua berkas-berkasnya di Jerman ke Indonesia. Dia hendak menitipkan sementara dokumen miliknya ke rumah Oma-nya.
“Semoga kamu sabar menanti, Celia,” batin pemuda itu.
Ponsel pemuda itu berbunyi. Sebuah notifikasi dari pengingat kalendernya menampilkan tulisan H-5 pernikahan Celia. Pemuda itu lalu bergegas menuju bandara setelah mengepak barang penting dan baju ganti seadanya.
“Tunggu aku di sana Celia,” gumam pemuda.
Pesawat yang ditumpangi Collin mengudara di atas gumpalan awan putih yang begitu indah memanjakan mata. Perjalanan pria itu akan menjadi awal dan penentu kelanjutan hubungannya dengan Celia.
***.
“Kamu masih belum mendapatkan kabar dari Collin?”
“Belum, Ma. Tidak seperti biasanya dia tak memberikan kabar,” sahut Jamie pada ibunya.
Jamie menautkan alisnya. Mendengar sang Mama menyebutkan kekasih Collin, pria itu menjadi penasaran.
“Apakah itu Celia?"
Oma Hana menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. “Berarti kamu sudah tahu dan merestui mereka?” tanya Oma Hana dengan wajah semringah.
“Kau tahu? Aku pikir Collin tak pernah menyukai seorang wanita karena kamu juga tak kunjung memberikan Mama baru untuknya.”
Jamie mendadak tersedak oleh ludahnya sendiri. “Mengapa Mama selalu mempermasalahkan hal itu?” tanya Jamie.
“Mama takut kalau kamu di sana melakukan hal-hal yang menyimpang. Bukankah sekarang sedang marak hal seperti itu?”
“Ma, Jamie tak menikah lagi hanya karena Jamie belum menemukan pengganti yang tepat. Lagi pula Collin lebih butuh perhatian Jamie dibanding menghabiskan waktu untuk mencari pengganti Mamanya,” elak Jamie.
“Jadi. Apa kamu tahu di mana pemuda itu?”
__ADS_1
“Jamie tak yakin. Tapi sepertinya, dia akan lebih lama berada di sini.”
“Jangan lupa katakan padanya kalau tak perlu mencari rumah lain. Di sini adalah rumahnya. Tinggallah di sini saja.”
“Iya, Ma. Nanti akan Jamie sampaikan.”
Dua orang yang merupakan ibu dan anak itu berbincang banyak hal, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima. Tak lama lagi hari akan berganti malam, terlebih matahari kini sudah pulang ke peraduannya.
Dua orang itu saat ini tengah menikmati makan malam bersama. Sesekali mereka berbincang karena sudah lama tak jumpa. Dan pembicaraan mereka masih sama, tak jauh dari pembahasan Collin dan Celia yang membuat hati Oma Hana gembira.
“Mama sudah tidak sabar ingin menggendong cicit,” ucap wanita yang rambutnya sudah mulai memutih itu.
Jamie hanya tersenyum. Pikiran ya sedikit kacau terlebih Mamanya tampak menginginkan Celia menjadi cucu menantunya.
“Bagaimana aku bisa menjelaskan ke Mama tentang Celia?” gumam pria itu.
“Apa yang ingin kamu katakan, Jamie?” tanya Oma Hana.
“Oh, tidak ada, Ma. Hanya saja, Jamie sedikit heran mengapa Mama begitu senang jika Collin dengan Celia. Bagaimana kalau misalnya mereka tak bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan?”
“Huss. Tak baik berkata seperti itu. Apalagi kepada anak sendiri. Semoga tadi tidak dicatat malaikat sebagai doa,” ucap Mama dari pria itu.
“Jamie hanya khawatir karena Mama begitu menginginkan gadis itu untuk menjadi pasangan Collin. Apa yang membuat Mama yakin?”
“Gadis itu sangat tulus dan baik hati. Dia juga cantik dan sangat anggun dan juga ramah. Mama tak melihat adanya sifat sombong dari gadis itu.”
Jamie menganggukkan kepalanya. Meski pria itu tak pernah bertemu dengan Celia secara langsung, mendengar pengakuan Mamanya membuat pria itu ingin tahu apakah kekasih anaknya itu benar-benar seperti yang dikatakan Mamanya. Dia takut kalau hanya sebuah ajang pencitraan saja. Terlebih saat mengingat bagaimana menyebalkannya Fabian, ayah dari gadis itu.
“Semoga gadis itu mewarisi sifat Mommy-nya, bukan Daddy-nya.”
“Jadi, kamu mengenal keluarganya?” tanya Oma Hana.
Jamie terkejut saat menyadari kalau saat ini dirinya sedang menikmati makan malam dengan Mamanya.
“Bagaimana kalau kita melamar Celia untuk Collin? Dia pasti akan sangat senang saat kita melakukannya,” ucap Oma Hana menggebu.
“Tak semudah itu, Ma,” ucap Jamie kepada Mamanya.
__ADS_1
“Kenapa?” Wanita yang kulitnya itu sudah sedikit mengendur, menautkan keningnya saat mendengar bahwa cucunya tak bisa bersama dengan Celia.
“Mengapa dia tak bisa menikah dengan Collin? Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan, Jamie?”