Celia

Celia
Rindu


__ADS_3

Celia menggigit kukunya mendengar perkataan pria itu.


“Atau ....”


“Kau tak akan pernah bertemu dengannya lagi,” imbuh pria itu.


“Baiklah. Tapi beri aku waktu,” pinta Celia pada akhirnya.


Pria itu menyunggingkan senyum. Meski tak sedang bertatapan dengan wanita yang bersuara dalam panggilan itu, Rian cukup puas dengan jawaban gadis itu.


“Kau tahu, Celia? Aku bukanlah orang yang suka mengulur waktu. Menyiakan waktuku hanya untuk menunggu saja aku sangat benci itu. Jadi, katakan alasan mengapa aku harus menunggu?


Tak terdengar suara dari dalam benda pipih yang saat ini menempel di telinga pria itu. Hanya terdengar embusan napas lembut yang berasal dari dalam panggilan.


Sepertinya Celia tengah berpikir akan alasan apa yang ingin dia berikan kepada pria itu. Sebenarnya Rian malas untuk bernegosiasi. Hanya saja, karena Celia yang meminta akan dia turuti.


Lagi pula Celia tak pernah tahu kalau sebenarnya Collin tak disandera olehnya. Foto yang dikirim Celia saat tangan Collin terikat itu adalah sebuah foto saat salah seorang pengawalnya akan mengantarkan pemuda itu ke bandara. Rian meminta anak buahnya agar kedua tangan Collin diikat menghindari kabur saat di jalan.


“Bukankah akan lebih baik kalau aku memberikan diriku padamu dengan kerelaan hati?” cicit Celia.


Seperti tengah musim semi, bunga bermekaran di hati pria itu. Lengkungan ke atas terbit di wajah pemuda itu sekali lagi. Membayangkan Celia merelakan dirinya saat waktu pernikahan itu tiba tampak nyata di hadapannya.


“Aku akan memberikanmu waktu satu bulan. Jangan harap kamu bisa menghindar. Jangan lupa, aku bisa menemukanmu di mana saja,” ujar Rian memberi peringatan.


Panggilan suara itu berhasil. Pengakuan yang diharapkan Rian akan terkabul tak lama lagi. Tak ada lagi penolakan atau bahkan drama kejar-kejaran seperti sebelumnya karena pria itu yakin kalau Celia tak akan kabur untuk ke sekian kalinya.


Sementara itu, Celia mengembuskan napas berat. Gadis itu terpaksa menyetujui perkataan Rian. Dia tak ingin menikah dalam waktu dekat. Hatinya benar-benar tak siap terlebih dia tak mendapatkan kabar mengenai keberadaan kekasihnya.


Meski Rian memberi gambar kalau Collin disekap olehnya, bukan berarti Celia harus diam saja. Setidaknya, Celia ingin Collin kembali ke negara asalnya dari pada menjadi incaran Rian dan anak buahnya.


Gadis itu membuka kembali galeri fotonya bersama dengan Collin. Hanya beberapa saja, tapi sangat bermakna. Terkadang ada sebuah sesal karena tak mengabadikan banyak momen bersama. Di saat seperti ini, barulah terasa kalau waktu dan kebersamaan begitu berharga.


“Di mana kamu, Collin?” gumam gadis itu.


“Aku merindukanmu.”

__ADS_1


***


Collin saat ini harus hidup sembunyi-sembunyi agar tak lagi dikejar oleh anak buah Rian. Pemuda itu terus bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Sesekali pria itu lewat di kompleks rumah di mana kekasihnya tinggal.


Pemuda itu berjalan dari ujung gang menuju perumahan dan berjalan memutar setelah tiba di ujung jalan kecil yang merupakan akses keluar masuk kekasih dan keluarganya. Berharap untuk sekedar berpapasan atau melihat bayangan gadis itu saja sudah cukup bagi Collin.


Rindu....


Pria itu lebih merindukan Celia dibanding saat dia di Jerman dulu. Apa gunanya dia berada di negara yang sama, di kota yang sama namun tak bisa bertemu? Bahkan hanya untuk menatap wajah gadis itu melalui layar ponselnya saja dia tak mampu.


“Di mana ponselku?”Pemuda merogoh saku celana dan saku jaketnya.


Pemuda yang saat ini hanya mengenakan kaos polos dengan luaran jaket kulit hitam itu mencari benda pipih yang biasanya selalu dia bawa.


Tak mendapati benda itu di pakaiannya, Collin mengeluarkan isi tas selempang dada yang ia bawa.


Nihil!



Pemuda itu berusaha mengingat kembali kapan terakhir kali dia memiliki benda berlayar 5,5 inci itu bersamanya.


Saat turun dari mobil di bandara, pria itu ingat kalau dirinya masih memegang benda itu. Hingga ingatannya kembali ke saat di mana dia tak sengaja menabrak seseorang di bandara. Dan setelahnya lari dari kejaran pengawal yang dibayar oleh Rian.


Pria itu mengumpati kebodohannya. Dia merasa terlampau ceroboh. Sekarang, dengan apa dia harus menghubungi Celia?


Tapi, apakah ponsel Celia telah kembali pada gadis itu?


Collin akhirnya memilih kembali ke kamar kost yang dia sewa di daerah pinggiran itu. Pemuda itu berencana untuk beristirahat dahulu karena badannya masih terasa pegal di sekujur tubuhnya.


Tanpa terasa hari telah berganti. Kokok ayam kampung milik tetangga terdengar nyaring bersahutan membangunkan setiap orang yang semalam mengistirahatkan badan.


Collin pun sudah terbangun bahkan sebelum ayam jantan itu berkokok di luaran. Dia tak bisa tidur semalam. Memikirkan Celia yang tak dia tahu kabarnya.


Hari ini, dia berencana akan menuju ke anjungan tunai mandiri untuk mengambil beberapa uang tunai sebagai bekal berjaga-jaga. Uang tunai miliknya telah habis karena dipakai untuk membayar kamar kost yang kebetulan harganya sama dengan isi dompetnya kemarin.

__ADS_1


Setelahnya pria itu berniat untuk menuju konter ponsel untuk membeli ponsel dan juga nomor baru.


“Aku lupa belum mengabari Papa,” gumam pria itu pada dirinya sendiri.


Entah mengapa dia merindukan papanya, Menyesali keputusannya yang pergi dari rumah tak menuruti perkataan sang papa agar tak nekat ke Indonesia.


Tapi semuanya sudah terlanjur. Semuanya sudah terjadi dan seperti ini. Namun, Collin bertekad akan membawa Celia sebagai menantu keluarganya tak peduli kalau ada pertentangan keluarga.


Pria itu yakin kalau papanya bisa menjembatani dirinya dengan keluarga Celia. Tapi, saat ini apa masih mungkin untuk bertemu dengan papanya?


Collin mendapatkan ponsel barunya. Dia bergegas memasukkan nomor Celia dan juga papanya ke dalam benda pipih itu.


Pria itu mencoba menghubungi Celia terlebih dahulu. Namun, hingga dering ke sepuluh, panggilan itu masih tak kunjung mendapat jawaban. Hingga operator pesan suara menyapa telinga pria itu. Collin masih berusaha untuk mencoba kembali. Namun, hasil yang sama dia dapatkan untuk usahanya menghubungi sang kekasih.


“Apa kamu tak diperbolehkan memakai ponselmu?” gumam Collin pada diri sendiri seolah Celia ada di sana.


Karena tak kunjung mendapat jawaban, Collin mengganti nomor panggilannya untuk menghubungi papanya. Sepertinya pria itu akan meminta jadwal cuti lebih panjang atau meminta untuk dipindah tugaskan saja ke Indonesia meski dia tahu perizinannya tentu tak akan mudah.


Pria itu mencoba menghubungi nomor ayahnya. Namun, tak terhubung. Nomor pria yang sangat ia hormati itu justru tak aktif dan di luar jangkauan.


“Apa mungkin Papa masih berada di jam kerja?” gumam pria itu lagi.


“Lalu dengan apa lagi aku bisa menghubungi kalian berdua?”


Collin mencoba masuk ke dalam sosial media miliknya. Sebuah tanda merah di kolom perpesanan menyita perhatiannya.


Sebuah pesan ia terima. Dan pesan itu ternyata dikirim satu hari yang lalu.


to be continued ♥️


thanks for reading 🥰


Jangan lupa like komen vote dan hadiah ya


mumpung Senin vote yuuu

__ADS_1


__ADS_2