Celia

Celia
Berita Baik


__ADS_3

selamat membaca ♥️


Senyum terbit di wajah cantik seorang wanita yang tengah kehilangan induknya. Ya, Celia baru saja terpisah dari Collin meski beberapa menit saja. Walaupun wanita itu tahu berbahasa asing, rasa panik menguasai dirinya sehingga logikanya tak berjalan sesuai keinginannya. Toserba yang ramai dan dipenuhi orang asing membuat Celia semakin terasing. Namun, kini hatinya dipenuhi kelegaan saat sosok yang selalu menggenggam tangannya kini sudah menemukannya kembali.


Genggaman tangan pria itu semakin erat, seolah tak ingin kembali kehilangan dan menjauh barang sejenak. Mereka berjalan bergandengan menuju kasir, membayar barang belanjaan dan gegas menuju mobil tanpa banyak bicara.


Jangan tanyakan jantung Collin. Sangat tidak aman!


Dia benar-benar panik tak ubahnya sang istri. Pernah beberapa kali terpisah membuat Collin sedikit trauma. Dia pun berjanji tak akan melepaskan dan berpisah dari Celia apa pun keadaannya. Perjuangannya mendapat wanita yang telah menjadi istrinya itu sangat tidak mudah. Dan tak akan ia lepaskan begitu saja.


"Maaf. Aku terlalu asik memilih barang," cicit Celia yang saat ini tengah menunduk.


Embusan napas kasar terdengar memenuhi mobil yang masih belum dihidupkan mesinnya. Mereka seolah menetralkan detak jantung masing-masing karena kejadian tadi.


"Maaf aku sempat melepas tanganmu. Aku berjanji akan menggenggammu dengan erat, Celia," ucap Collin.


Kedua mata pria itu mulai mengembun. Dia benar-benar takut dan tak ingin kembali merasakan kehilangan. Terlebih kehilangan istrinya.


Tak peduli di tengah keramaian, pria itu memeluk istrinya, enggan untuk kembali terpisahkan.


***


Setelah berbelanja, pasangan muda itu bertolak menuju Frankfurt, salah satu kota di Jerman yang terletak di negara bagian Hessen. Celia sudah sejak lama ingin ke kota itu, melihat pemandangan senja yang konon sangat indah saat dilihat dari Maintower.


Gedung pencakar langit yang memiliki ketinggian sekitar 200 meter itu memiliki dua dek yang dibuka untuk umum. Pengunjung biasanya melihat pemandangan kota dari tempat itu, begitu pula dengan Celia. Pemandangan kota di hadapannya begitu mirip dengan karya lukisan terkenal.


"Cantik," puji Celia.


"Lebih cantik kamu."


Sebuah tangan melingkar ke perut wanita yang kini tengah mengagumi pemandangan dari bangunan tinggi itu.


"Setelah ini mau ke mana?" tanya Collin.


"Makan!" Ucap Celia spontan, seketika membekap mulutnya.


Collin mengecup pipi istrinya seraya mengiyakan apa mau wanita yang kini menguasai hatinya.


"Aku merindukan Oma Hana," ucap Celia.


"Aku pun. Beliau sangat berjasa. Bahkan sampai berkorban demi kita berdua."


"Mau ziarah ke makamnya setelah tiba di Indonesia?" tanya Collin.


Celia menganggukkan kepalanya. Mengiyakan usul dari suaminya, mengunjungi mendiang neneknya yang lebih dahulu berpulang.


***


Rencana berlibur ke pulau Sylt hampir saja dibatalkan karena Celia merasa tak enak badan. Mungkin karena terlalu lama berada di luar rumah dan terkena angin malam dari Maintower, membuatnya masuk angin.

__ADS_1


Beruntung dia memiliki suami seorang dokter, sehingga dia mendapatkan penanganan awal agar tubuhnya segera membaik.


Pada akhirnya mereka tetap berangkat saat hari beranjak siang. Meski di pulau itu tak memiliki deretan pohon seperti kebanyakan pantai di Indonesia, udara di sana tetap sangat segar. Aroma khas lautan menyapa indra penciuman wanita itu. Laut biru yang menghampar luas di sepanjang mata memandang begitu memanjakan mata. Jangan lupakan pasir putih yang begitu putih bersih menambah poin plus pantai itu.


Pulau yang dikenal sebagai harta karun Jerman itu membuat Celia enggan kembali. Dia masih ingin berlama-lama di pulau itu. Bagi Celia, tak masalah meski dia harus mengeluarkan banyak biaya. Tabungannya hasil bekerja dari perusahaan sang Daddy selama ini masih utuh dan tak tersentuh.


Mereka menginap di salah satu penginapan dengan fasilitas yang tak diragukan lagi. Dengan fasilitas yang sangat memadai. Terkadang Collin lupa latar belakang istrinya yang merupakan orang berada.


***


Sudah sebulan berlalu sejak perjalanan ke Jerman. Sudah kembali ke Indonesia dan beraktivitas seperti biasanya. Hanya saja sejak turun dari pesawat hingga saat ini, Celia selalu mengeluh tak enak badan. Dia selalu merasa kelelahan padahal tak melakukan pekerjaan berat yang menyita tenaga. Tak hanya itu, nafsu makan wanita itu kini semakin naik. Tubuh ramping Celia kini tampak lebih berisi.


Apa mungkin karena kurang gerak, sehingga istri dari dokter Collin itu tubuhnya semakin membengkak?


***


"Selamat ya, Bu. Usia kandungannya sekitar dua bulan."


Seorang wanita muda berkacamata yang mengenakan hijab itu tersenyum anggun kepada Celia. Wanita itu dengan tulus memberikan selamat atas kehamilan istri salah satu rekan kerjanya.


"Dok, tolong rahasiakan dari Dokter Collin, ya?" Pinta Celia.


Dokter itu menganggukkan kepalanya saat melihat wajah Celia yang tampak sedikit bingung dengan berita yang ia sampaikan.


"Apa ada hal yang mengganggu dan ingin ditanyakan?" tanya dokter itu.


"Iya, Dok. Apa dokter yakin kalau saya sudah hamil dua bulan? Soalnya saya dengan suami, melakukannya sebulan yang lalu, bukan dua bulan lalu," selidik Celia.


"Tidak ada yang salah. Apalagi tanggal HPHT atau Hari Pertama Haid terakhir Bu Celia adalah tanggal lima belas. Berdasarkan siklus bulanan ibu, saat melakukannya kalian dalam masa subur sehingga kemungkinan bertemunya sel telur dan sel sperm* saat itu sangat besar. Selain itu perhitungannya dari HPHT, bukan dari saat pertama kali Ibu dan suami melakukannya."


Dokter itu menjelaskan dengan sangat rinci agar Celia yang isi kepalanya mendadak blank, bisa menerima kabar baik yang didapatkan.


"Bu Celia tak perlu khawatir. Dokter Collin pasti sudah paham karena beliau juga seorang dokter," papar wanita itu.


"Terima kasih, Dok," ucap Celia mengangguk dan tersenyum.


Wanita itu berjalan gontai. Masih sedikit tak percaya kalau di perutnya kini telah ada makhluk kecil yang akan tumbuh dan berkembang di dalam sana. Tanpa sadar tangannya mengelus lembut perutnya yang masih datar. Senyumnya terkembang seraya berjalan menuju apotek untuk menebus obat yang telah diresepkan oleh dokter kandungan yang menanganinya.


Lamunannya buyar saat sebuah tepukan mendarat di pundaknya.


"Ngelamun aja," ucap pria itu merajuk.


Collin berulang kali memanggil istrinya. Namun, wanita itu tak memberikan respon sama sekali.


"Kok ada di rumah sakit? Kangen aku ya?" Goda Collin.


Celia tersenyum. Wanita itu masih setengah sadar karena merasa takjub hingga sedikit lupa bagaimana cara mengungkapkan kebahagiaannya itu dengan sang suami.


"Iya."

__ADS_1


"Dua jam lagi aku sudah bisa pulang. Kalau kamu mau, kamu bisa menunggu di ruanganku."


Celia hanya mengangguk singkat. Tatapannya sedikit berbeda. Wajahnya pun tampak sedikit lebih pucat. Hal itu sangat mudah disadari oleh Collin.


"Kamu sakit?" Tanya pemuda itu.


Celia menggeleng lemah. "Aku baik-baik saja. Nanti kita bicara," ujar Celia.


Collin mengangguk. Dia mengusap kepala istrinya perlahan lalu pamit untuk kembali bertugas, menemui pasiennya di rumah sakit itu.


***


Dua jam berlalu begitu cepat. Celia tertidur meringkuk di sofa yang ada di dalam ruangan Collin.


Pria itu mengambil selimut yang biasa dia gunakan saat mendapat tugas jaga malam dan memasangkan kain yang cukup tebal itu hingga menutupi leher hingga kaki wanita yang ia cintai.


"Kamu sudah selesai?" Celia yang merasakan pergerakan di dekatnya terjaga.


Collin tersenyum lembut saat melihat istrinya yang tengah mengucek kedua matanya dari kotoran yang nyaris tak tampak. Pria itu kemudian mengulurkan segelas air ke hadapan Celia.


"Terima kasih," ucap Celia seraya tersenyum.


"Kamu sedang Check-up?" Tanya Collin langsung pada intinya.


Celia menganggukkan kepalanya.


"Kamu sakit? Mananya yang sakit? Tunggu, aku akan memeriksamu," ucap Collin panik.


Celia mencekal lengan suaminya yang hendak menuju mejanya mengambil tensimeter digital dan juga stetoskop yang beberapa saat lalu ia letakkan di atas meja.


"Jangan pergi," ucap Celia.


Collin mengurungkan niatnya dan kembali duduk di samping istrinya yang tersenyum dan tampak sedikit lemah.


"Aku punya sebuah kabar untukmu. Tapi, aku masih sedikit kepikiran."


Collin mengernyitkan dahinya. Tak biasanya istrinya memikirkan masalah hingga membuat wanita itu sakit dan berkunjung ke tempat kerjanya.


"Katakan. Apa yang membuatmu kepikiran?"


"Hmm ... Begini." Celia memainkan jari di kedua tangannya.


"Dokter itu berkata kalau saat ini sudah dua bulan. Padahal kan kita melakukannya baru satu bulan yang lalu. Aku takut, kamu akan mengira aku berselingkuh darimu," cicit Celia.


Collin mengerjapkan kedua matanya. Dia masih berusaha mencerna kabar baik yang ia dengar dari istrinya itu.


"Kamu hamil?" Tanya Collin dengan wajah datar.


Celia menganggukkan kepalanya. Detik berikutnya dia tertegun karena sang suami mendadak bangkit dan keluar dari ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuknya.

__ADS_1


Apa Collin marah?


__ADS_2