
Alarm jam digital di atas nakas, berbunyi cukup nyaring, membangunkan seorang gadis yang entah berapa jam terlelap dalam dekapan seseorang.
Sebuah lengan melingkar di atas pinggangnya, mendekap begitu erat seperti sulit untuk dilepaskan. Dadanya pun terasa berat disertai embusan napas hangat menerpa kulitnya.
Celia membelai rambut pria yang menyembunyikan wajahnya seperti bayi. Dengan gemas, ia menyusupkan jemarinya di rambut lebat sang suami yang tertidur dengan sangat pulas. Hal itu sukses membuat tidur pria yang mendekapnya seperti koala terusik.
"Pagi, Sayang," sapa Collin dengan mata yang terpejam.
"Sudah pagi. Ayo bangun." Ajak Celia kepada sang suami agar bangkit dari tidurnya.
Celia berusaha melepaskan belitan tangan sang suami di tubuhnya. Bukan semakin mengendur, tangan Collin semakin erat melingkar di tubuh ramping istrinya.
"Ayo kita bersiap, sebelum subuh terlewat."
Collin dengan berat hati melepaskan sang istri untuk membersihkan diri, bersiap untuk ibadah di pagi hari.
***
Celia menjalani rutinitas paginya sebagai seorang istri, menyiapkan sarapan dan pakaian sang suami yang belum keluar dari kamar mandi. Setelah menyiapkan pakaian untuk sang suami, Celia kembali ke dapur, menata makanan di meja makan sebelum sang suami turun sarapan.
Collin dan Celia tak menggunakan jasa Asisten rumah tangga full time. ART di rumah baru mereka hanya akan datang saat siang hari hingga sore, hanya untuk membersihkan rumah dan laundry pakaian mereka, kecuali pakaian dalam tentunya. Selebihnya, pasangan muda itu melakukan segala sesuatunya berdua.
Bahkan Collin dan Celia kini sudah kembali menjalani aktivitas mereka, bekerja.
Sebenarnya Fabian sudah meminta Collin untuk menggantikan dirinya, melanjutkan pekerjaannya di perusahaan. Namun, pria itu menolak karena dia tak memiliki passion di bidang itu. Collin menikmati pekerjaannya sebagai dokter yang bertugas mulia, merawat dan mengobati orang sakit. Menjadi perantara menyembuhkan orang-orang dari penyakit.
Pria itu tersenyum menghampiri Celia yang hampir selesai menyiapkan sarapan mereka.
"Pagi, Sayang," sapa Collin seraya mencium pipi istrinya.
"Kamu tidak ada cuti?" Tanya Celia.
"Justru hari ini aku tak diperkenankan cuti karena berstatus seperti halnya dokter magang."
"Sampai kapan?" tanya Celia.
__ADS_1
"Aku sudah melewati empat bulan pertama. Jadi masih kurang dua bulan lagi," jawab Collin.
"Bagaimana kabar Dokter Almira?" tanya Celia.
"Dia sebulan lagi cuti. Kehamilannya sudah memasuki usia 7 bulan kandungan," jawab Collin.
Celia menganggukkan kepalanya seraya meletakkan masakan yang telah ia buat, menuangnya dari penggorengan ke atas piring saji.
"Kamu bukannya cuti?" tanya Collin yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Celia.
"Kamu apa tak ada niatan menggantikan pekerjaanku di kantor?"
Collin menggeleng. "Ya sudah. Terima saja sampai Aksa siap untuk menjadi penerus Daddy memimpin perusahaan," ucap Celia enteng.
"Ehm ... Tapi, aku sudah boleh buka puasa, bukan?" Tanya Collin yang kini sudah duduk menanti Celia selesai mengambil nasi ke atas piringnya.
"Emangnya besok cuti?" tanya Collin.
Collin yang hendak menyendok makanan ke dalam mulutnya mendadak menghentikan gerakannya. Pria itu menatap sang istri yang tanpa beban menyendok makanan dan mengunyahnya dengan sangat baik.
"Kenapa?"
Celia yang mulutnya saat ini sedang mengunyah makanan, hanya menganggukkan kepala, diiringi senyum tertahan yang ia sembunyikan dari Collin.
Sudah empat bulan lebih mereka menikah. Bahkan hampir lima bulan lamanya Collin menahan diri untuk tak menerkam istrinya.
Dia benar-benar menghormati Celia, berusaha membuat gadis itu nyaman hingga benar-benar menerimanya, melupakan trauma itu secara perlahan. Tak lupa sentuhan-sentuhan menggoda dia lakukan untuk mengetahui sejauh mana Celia bisa sembuh dari luka dalam hatinya. Bahkan, sering kali Collin membuat Celia cemburu agar istrinya mau membuka hati.
"Kalau begitu aku cuti saja." Collin hendak meraih ponselnya untuk menghubungi rekannya. Berniat mengajukan cuti mendadak karena tak ingin melewatkan kesempatan yang sudah ada di depan mata.
"Ngapain? Bukankah kamu berkata kamu belum mendapat izin cuti? Lagi pula aku hari ini harus ke kantor. Ada meeting dengan klien penting," ujar Celia dengan begitu santai.
Gadis itu menyembunyikan semburat merah di wajahnya yang dibarengi dengan degup jantung tak beraturan. Dia memberanikan diri mengajak Collin lebih dahulu karena mendapat info dari dokter Almira kalau banyak dokter muda perempuan yang naksir ke suaminya.
Celia dan Dokter Almira semakin hari semakin akrab. Terlebih saat Celia tahu kalau Dokter Almira ternyata sudah menikah. Bahkan suaminya pun sangat tampan karena merupakan keturunan Arab-Pakistan. Seperti halnya artis Emran Abbas pria beruntung yang berhasil memikat dokter Almira yang cantik.
__ADS_1
Selain menjadi konselor sekaligus terapis bagi Celia dalam menghilangkan traumanya, dokter Almira juga menjadi orang yang paling berperan dalam mengeratkan hubungan Collin dan Celia yang masih belum pernah melaksanakan ritual malam pertama.
Collin bergegas menghabiskan makanan dalam piringnya. Pria itu kemudian bangkit, mendekat ke arah Celia, mengecup pucuk kepala istrinya yang belum selesai sarapan.
"Kamu berangkat dengan sopir saja, ya. Aku takut kalau berangkat denganmu malah menerkammu di mobil," bisik Collin setengah menggoda.
Nyaris saja Celia tersedak karena ulah suaminya itu. Dia hanya menganggukkan kepala dan melambaikan tangan kepada pria yang kini sudah menghilang dibalik pintu.
Gadis itu tersenyum melihat tingkah suaminya yang sangat bersemangat pagi ini. Mengingat perkataannya beberapa menit lalu, sukses membuat wajah Celia kembali memerah. Dia sedikit terkikik membayangkan bagaimana suaminya akan melewati hari ini.
Usai membereskan sisa makanannya dan membersihkan alat makan dan alat masak, Celia kembali menuju kamarnya. Dia meraih benda pipih yang masih betah berada di atas nakas. Gadis itu mengusap layar benda pipih berukuran 5,5 inci miliknya dan mencari nomor seseorang.
Setelah ia dapati, ditekannya tombol hijau di layar ponsel itu. Belum ada jawaban dari seseorang yang ia hubungi. Hingga hampir bunyi bip ke sepuluh, barulah panggilan itu terhubung.
"Ada apa pagi-pagi menelepon, Princess? Apa kamu tak ke kantor?"
Suara seorang pria menyapa pendengarannya dan membuatnya tersenyum.
"Daddy, Celia izin ambil cuti dua hari, apa boleh?"
Tak terdengar jawaban dari seberang panggilan. Pria yang merupakan cinta pertamanya itu seketika terdiam mendengar permintaan putrinya yang tak biasa.
Biasanya Celia tak pernah memberi kabar jika hendak cuti. Bahkan saat tak bekerja selama berhari-hari, gadis itu tak pernah pamit meski dalam ketidakhadirannya sang putri tetap melaksanakan tugas dan menyelesaikannya dengan sangat baik.
"Daddy. Apa boleh? Kalau tak boleh, aku akan minta cuti seminggu saja kalau begitu," ujar Celia dengan suara yang sedikit kesal.
"Celia ... Apa Daddy tak salah dengar?" tanya Fabian yang sepertinya masih terkejut.
"Ya sudah. Itu berarti Daddy mengizinkan aku cuti selama seminggu-"
"Apa pabriknya sudah akan mulai beroperasi dan akan menghasilkan produk?"
"Hah??"
To be continued ♥️
__ADS_1
thanks for reading 🥰
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa