
Happy reading ♥️
"a-aku sudah mengajukan cuti untuk satu Minggu ke depan, malam ini aku akan terbang ke Indonesia dan Papa tidak dapat menahan kepergian aku" jawab Collin seraya keluar dari ruangan Papanya itu tanpa memberikan kesempatan dokter Jamie untuk berbicara lagi.
Mendengar itu, dokter Jamie langsung berdiri untuk menyusul anaknya. Tapi gerakan Collin yang secepat kilat menghilang di koridor rumah sakit dan terhalang oleh beberapa orang yang berlalu lalang di sana. "siaalll," maki dokter Jamie kesal. Ia pun segera membereskan mejanya dan membatalkan semua janji di hari ini karena ia berniat untuk menemui Collin dan membujuknya agar tidak pergi.
"Hai, dokter Jamie ! seharian ini anakmu, dokter Collin tidak terlihat di rumah sakit. Padahal ia harus mengunjungi pasien rawat inap yang menjadi tanggung jawabnya." Langkah Jamie tertahan saat seorang perawat senior menghampirinya.
"Kenapa kamu, Nak ?" tanya dokter Jamie dalam hati. Ia tak paham kenapa Collin berperilaku aneh hari ini.
"Dokter Jamie ?"
"Aahh maaf, Collin sedang tidak fit dan untuk beberapa hari ke depan ia akan istirahat sakit. Kamu bisa menggantinya dengan dokter lain," jawab Jamie pada akhirnya.
"Oh ya ? padahal saya lihat dari pagi dokter Collin baik-baik saja,"
Dokter Jamie tahu jika Collin terlihat baik-baik saja hanya dari luarnya saja. Sudah satu Minggu terakhir ini anaknya terlihat lebih sering melamun dan puncaknya di hari ini Collin tak mampu berbuat apa-apa dan dokter Jamie pun yakin jika semua ini dipengaruhi sesuatu tentang Celia. "Apa sesuatu yang buruk terjadi pada Celia ? apa Fabian sudah tahu hubungan mereka ?" tanyanya pada diri sendiri dengan rasa cemas, wajah dokter Jamie memucat seketika.
"Kenapa dok?"
"Ah, aku harus pergi," jamie kembali melangkahkan kakinya dengan tergesa dan mengabaikan sang suster. Saat ini pikirannya dipenuhi rasa khawatir pada sang anak.
"Jangan temui Celia, kamu akan sakit hati," gumam dokter Jamie sembari berlari kecil mencoba mencari keberadaan Collin.
***
Dokter Jamie memarkirkan mobilnya asal di kawasan apartemen Collin, anaknya. Ia keluar dari mobil dengan tergesa dan sedikit berlari kecil. Berharap Collin masih berada di apartemennya dan belum pergi.
Cepat-cepat dokter Jamie menaiki lift, menekan angka 5 dimana unit apartemen Collin berada dan kembali berlari kecil dengan tergesa ketika pintu lift terbuka. Ia menekan bel pintu apartemen Collin berulang kali tapi tak ada jawaban sama sekali.
Tiba-tiba, pintu sebelah apartemen Collin terbuka dan keluarlah penghuninya seorang wanita muda yang sepertinya baru pulang kerja. "Dokter Collin baru saja pergi keluar dengan membawa koper, katanya dia akan pergi ke Asia untuk beberapa hari ke depan," ucap wanita itu tanpa perlu Jamie tanya.
"Aku bertemu dengannya tepat saat dia sedang mengunci pintu apartemennya," lanjutnya lagi menjelaskan.
Jamie yang mendengar itu langsung menebak jika kini Collin berada di bandara. "terimakasih," ucapnya pada wanita itu dan ia segera berlalu pergi.
__ADS_1
***
Collin duduk di ruang tunggu penumpang, di bandara seorang diri. kepalanya tertunduk lesu sembari membaca pesan yang dituliskan Celia untuknya berulang kali. Ia telah menuliskan balasan tapi akun sang kekasih tak juga aktif hingga pesannya belum juga di baca.
"Celia...," ucapnya lirih seraya meraup wajahnya frustasi.
Celia memang bukan kekasih pertamanya tapi perempuan itu adalah perempuan pertama yang benar-benar Collin cintai. Tak pernah ia merasakan bahagia dan juga sedih dengan mendalam hanya karena seorang perempuan tapi Celia mampu membuat Collin merasakannya.
Waktu terasa begitu lambat bergulir, Collin berkali-kali melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya berharap waktu penerbangan cepat datang.
Tadi, saat ayahnya sibuk menyelematkan pasien ia malah melarikan diri untuk mengurus segala keperluannya agar bisa pergi ke Indonesia. Collin sadar jika tindakannya tidak benar tapi ini masalah hati. Ia tak bisa mengendalikannya.
Merasa tak sabaran, Collin pun berdiri dan menatapi banyaknya pesawat di luar sana. Ia ingin segera pergi.
***
Jamie masih berusaha mengejar sang anak, ia berpikir sebaiknya Collin mundur dari hubungannya dengan Celia. Jamie tak ingin Collin merasakan sakit hati karena penolakan ke dua orang tua Celia. "Lebih baik merasakan sakit hati sekarang dan pelan-pelan lupakan," gumam dokter Jamie. Pikirannya disibukkan oleh Collin dan Celia.
Untuk bisa menemui anaknya itu, dokter Jamie membeli tiket pesawat yang tak akan ditumpanginya. Ia lakukan itu agar bisa memasuki area penumpang pesawat dengan mudah seolah-olah ia salah satunya. Beruntung bagi dokter Jamie karena ia sering bepergian ke Indonesia hingga langsung tahu di mana letak ruang tunggu itu.
Saat ini Jamie sedang menaiki tangga eskalator menuju ruang tunggu itu berada. Matanya langsung memindai keadaan sekelilingnya guna mencari keberadaan sang anak. Hati dokter Jamie mencelos ketika ia melihat keadaan Collin saat ini.
"Collin," sapanya pelan seraya menepuk halus pundak sang anak.
Collin melonjak kaget, ia pun membuka matanya dan terkejut melihat kehadiran papanya di sana. "Papa ? sedang apa disini ?"
"Katakan pada Papa apa yang terjadi padamu ?" tanya dokter Jamie, sembari meletakkan ke dua telapak tangannya di bahu Collin.
"A-aku...," jawab Collin sedikit ragu.
"Kamu bisa ceritakan apapun pada Papa. Papa yakin ini ada kaitannya dengan Celia," ucap dokter Jamie dan Collin mengangguk membenarkan.
"Apa yang terjadi ? apa kedua orang tua Celia tahu tentang hubungan kalian ? Apa om Fabian menentangnya ?" tanya dokter Jamie beruntun tapi kali ini Collin menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
__ADS_1
"Lalu apa yang terjadi ?" tanya dokter Jamie penuh tuntutan.
"Celia memutuskan hubungan kami tanpa alasan yang jelas, tapi Celia juga mengatakan bahwa dia masih mencintai aku. Aneh bukan ?. Aku tak bisa berdiam diri seperti ini, aku ingin menemui Celia untuk memastikan dirinya baik-baik saja dan menanyakan alasan kenapa hubungan ini harus berakhir. Aku sangat mencintainya, Papa," jawab Collin seraya meneteskan air bening di ujung matanya.
Apa yang Collin katakan membuat dokter Jamie menarik nafasnya dalam. Tak menyangka jika anak semata wayangnya itu begitu mencintai Celia dengan sangat dalam. Baru kali ini dokter Jamie melihat Collin meneteskan air matanya hanya karena seorang perempuan.
" I love her, Papa," Collin mengucapkan kata-kata itu seraya menarik nafas dalam.
"Tapi bagaimana jika kamu datang tapi Celia tetap ingin berpisah ?"
"Aku akan berjuang untuk mempertahankannya," jawab Collin cepat.
"Lalu bagaimana jika kedua orangtuanya tak memberikan restu padamu ?"
"Aku pun akan berjuang untuk itu. Bukankah cinta memang harus diperjuangkan ?" jawab Collin.
"Apa kamu yakin, Collin ? karena sepertinya ini tidak akan mudah," Dokter Jamie menatapi wajah Collin dengan seksama, berharap ada sedikit keraguan di sana, tapi ia tak menemukannya. Collin terlihat begitu yakin dengan jalan yang akan diambilnya.
"Aku tak pernah merasakan seyakin ini dalam hidupku. Apapun hasilnya nanti, aku tak akan kecewa karena aku telah berjuang untuk menggapainya,"
"Meskipun hal yang menyakitkan yang akan kamu dapatkan ?" tanya dokter Jamie lagi.
"Apapun hasilnya itu, akan aku terima. Tapi aku akan berjuang sekeras mungkin," Collin menjawabnya tanpa rasa ragu.
Lagi-lagi dokter Jamie menatap dalam mata sang anak sebelum ia memutuskan. "Baiklah, pergilah perjuangkan cintamu... Papa hanya berharap kamu bahagia," meskipun berat tapi dokter Jamie harus merelakan kepergian putra kesayangannya itu.
"Terimakasih, Papa," Collin berhambur pada tubuh sang Papa dan memeluknya erat. Dokter Jamie pun membalas pelukan itu sama eratnya. Dalam hati, dokter Jamie berharap agar Collin baik-baik saja.
Tak lama terdengar panggilan bagi para penumpang untuk memasuki pesawat yang sudah bersiap lepas landas. "Aku harus pergi sekarang," ucap Collin berpamitan.
Berat...
Itulah yang sebenarnya dokter Jamie rasakan dalam hatinya, ia tak mau sang anak merasakan sakit hati karena cinta. Tapi tekad Collin sudah bulat, ia tak bisa lagi mencegah kepergiannya. "Hati-hati, dan kabari Papa begitu kamu sampai," sahut dokter Jamie dan Collin pun menganggukkan kepala menyetujui.
Dokter Jamie tatapi punggung sang putra yang berjalan kian menjauh, rasa cemas ia rasakan dalam hati. "Semoga kamu baik-baik saja, Nak" ucapnya pelan dengan buliran air bening di ujung matanya.
__ADS_1
To be continued ♥️
Slow update yaa aku lagi demam ini 🤕