
Selamat Membaca ♥️
Ayo pergi !! bawa aku !! sebelum Mommy dan Aksa tahu aku tak ada di dalam kamar," Celia menarik-narik lengan Coliin agar lelaki itu segera membawanya pergi
Collin menggenggam erat tangan Celia dan berjalan di depan gadis itu. Pria itu menuntun gadisnya menuju sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari rumah Celia. Hanya berjarak tiga rumah dari rumah pujaan hatinya.
“Kita mau ke mana?” tanya gadis itu saat dirinya sudah memasuki kendaraan roda empat milik Collin.
“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Lagi pula ini masih belum terlalu larut,” ujar Collin seraya menyalakan mesin mobilnya.
“Tapi-“
“Sekali saja Celia. Kita habiskan waktu berdua,"
“Hanya jalan-jalan, bukan?” tanya Celia memastikan.
Pria itu menganggukkan kepalanya.
“Kalau kamu ingin makan malam lagi denganku tak masalah,” kekeh pria yang saat ini fokus berada di balik kemudi.
Wajah gadis itu bersemu merah. Seketika otaknya berpikir, ‘inikah yang disebut dengan kencan?’
“Kalau kamu keberatan untuk kita makan malam, setidaknya temani aku makan malam. Aku lapar dan belum makan malam,” ucap Collin tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di hadapannya.
“Sejak kapan kamu berdiri di depan rumahku?” selidik gadis itu.
“Kalau berdiri di depan rumahmu, sepertinya hanya sekitar sepuluh menit.”
“Lalu, kenapa tak makan malam dahulu sebelum ke sini?”
“Aku sudah tak sabar untuk bertemu lagi denganmu," jawab Collin apa adanya.
“Jadi?” tanya Celia sambil berkerut alis.
“Aku memantau keadaan rumahmu sejak petang tadi. Mencari tahu kapan bisa menculikmu, aku sungguh-sungguh ingin melihatmu lagi” kekeh kekasihnya itu seraya menolehkan kepalanya dan menatap Celia untuk sesaat sebelum ia kembali fokus pada jalanan.
Celia menahan senyumnya. Dia tak menyangka kalau lelaki yang kini duduk di sampingnya itu rela menunggu hingga melewatkan makan malam hanya untuk menemuinya.
“Baiklah. Akan tetapi aku pikir lebih baik kita tak makan malam di restoran.”
kekasihnya itu mengangguk. “Aku mengerti. Jadi, ke mana kita akan pergi?”
“Tunggu. Aku akan mengeceknya dulu di internet,” ujar Celia. Gadis itu mengeluarkan ponselnya yang sebelumnya ia bawa dan ia selipkan di saku celananya. Diusapnya layar benda pipih berukuran 5,5 inci itu dan mengetikkan pencarian lokasi yang ingin mereka tuju.
__ADS_1
“Kita ke taman ini saja. Di dekat sana ada kafe yang buka hampir dua puluh empat jam. Atau kita bisa ke night street market di sepanjang jalan menuju taman itu. Makanannya juga tak kalah enak.”
Collin menganggukkan kepalanya. Pria itu bergegas melajukan mobilnya ke taman yang dimaksud oleh kekasihnya.
***
Perjalanan menuju taman itu hanya sekitar lima belas menit menggunakan mobil. Lokasinya memang tak terlalu jauh. Selain menghemat waktu, Collin paham kalau Celia tak ingin terlambat pulang ke rumahnya.
Mereka keluar dari dalam mobil dan kemudian berjalan bergandengan tangan seperti layaknya pasangan kekasih muda seperti lainnya “Apa di sini aman untuk kita bergandengan tangan seperti ini?” tanya Collin seraya menunjukkan tangannya yang menggenggam erat tangan mulus kekasihnya itu.
“Berdoalah agar tak ada keluargaku yang tahu dan bertemu dengan kita nanti,” ujar gadis itu tanpa menatap lelaki yang berjalan bersisian dengannya itu.
Collin sontak menoleh ke arah gadis yang menatap jauh ke depan. “Kamu tak sedang bercanda?” tanya Collin serius.
Celia akhirnya tertawa lebar. Melihat pria yang menggenggam tangannya semakin erat itu khawatir, membuat gadis itu yakin kalau pria itu begitu cemas karena terlalu menyukainya.
Collin melepaskan genggaman tangannya. “Tunggu sebentar!” ucapnya agar Celia tak kecewa karena tiba-tiba melepaskan tangan yang sebelumnya bergandengan sangat erat dengannya.
Lelaki itu tampak melepas jaket dengan penutup kepala yang dikenakannya “Pakai ini!” ucapnya seraya menyerahkan jaket miliknya ke arah Celia.
Celia menautkan kedua alisnya. Dia sedikit terkejut dengan tindakan kekasihnya itu.
“Lebih baik kamu menggunakan itu juga agar tak ada yang mengenalimu. Aku yakin kalau misal ada sepupu atau anggota keluargamu yang lain di sini, mereka akan dengan sangat mudah mengenalimu,” ujar Collin menerangkan.
Tak ada yang salah dengan perkataan pacarnya itu. Keluarganya yang lain bisa saja menemukan dirinya dengan sangat mudah kalau dia masih menggunakan jaket miliknya. Bukan masalah besar menggunakan dua jaket karena memang malam itu cukup dingin. Dan saat ini Celia merasa semakin hangat karena sikap manis kekasihnya.
“Kamu sendiri tak kedinginan hanya dengan mengenakan pakaian tipis itu?”
“Ya, kalau aku merasa kedinginan, aku bisa berlari mengitari taman untuk membuat tubuhku hangat dan berkeringat,” bisik pria itu.
Collin kembali menggenggam erat tangan Celia. Pria itu kemudian melangkahkan kakinya menuju sebuah minimarket yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Ngapain?” tanya Celia terheran.
“Kita ke minimarket dulu. Ada yang perlu kita beli agar penyamaranmu semakin sempurna,” ucap lelaki itu.
Tanpa banyak bertanya lagi, pasangan itu berjalan menuju minimarket yang buka dua puluh empat jam setiap harinya itu.
Collin berjalan ke deretan rak yang menampilkan barang-barang kesehatan di sana. Pria itu mengambil sebungkus masker dan kemudian bergegas menuju kasir untuk membayar belanjaannya yang sangat sedikit itu.
“Kamu ingin membeli sesuatu? Kalau iya, pilih dan ambil. Aku akan membayarnya,” bisik pria itu yang dijawab dengan gelengan kepala Celia.
Setelah membayar belanjaannya, Collin mengeluarkan isi benda yang dibelinya itu lalu memakaikannya satu kepada kekasihnya. Dia pun menggunakan masker serupa yang mana satu bungkus masker itu isinya hanya tiga lembar saja.
__ADS_1
“Ayo kita berburu makanan,” kekeh Celia.
Malam itu baru pertama kalinya dia ke street market yang ada di sana. Meski jaraknya tak terlalu jauh dengan rumahnya, Celia hampir tak pernah bisa pergi ke tempat itu karena selalu dilarang oleh orang tuanya.
Jangan pernah lupakan daddy nya yang sangat pencemburu itu.
Meski gadis itu sudah beranjak dewasa, bahkan mungkin sebentar lagi akan menikah, dadfy nya selalu mengatur dan mengawasi pergaulannya. Tak heran kalau selama ini dia dicap sebagai jomlo sejak lahir. Siapa lagi kalau bukan karena daddy nya yang selalu mengusir teman prianya yang mendekati dirinya. Walaupun misalnya Celia memiliki kekasih, hubungannya itu hanya akan bertahan beberapa minggu saja hingga beberapa teman Celia menganggap gadis itu tak punya kekasih.
Malam itu sungguh malam yang luar biasa bagi Celia. Terlebih dia mengunjungi tempat ramai itu bersama dengan seseorang yang spesial dan berjalan bergandengan tangan dengan sang pujaan.
Mereka menghampiri berbagai stan makanan. Mulai makanan berat, makanan ringan, serta stan minuman, mereka kunjungi satu per satu. Tak hanya itu, mereka juga membeli barang yang dijual di sana. Tak lupa dengan pernak-pernik lucu yang menarik perhatian Celia.
Setelah puas berburu makanan, pasangan itu kemudian berjalan ke dalam taman yang penerangan lampunya masih sedikit temaram. Keduanya duduk di sebuah bangku besi panjang yang kosong menghadap air pancur di tengah taman itu.
“Apa kamu yakin bisa menghabiskan makanan sebanyak ini?” tanya Collin saat melihat banyak jenis makanan yang masih terbungkus dengan baik itu.
Celia menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
“Bukankah kamu berkata kalau sudah makan malam di rumah?” tanya Collin mengangkat sebelah alisnya.
“Kan ada kamu yang akan menghabiskan,” jawab Celia tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Collin tak bisa lagi berkomentar. Dia hanya bisa tersenyum terpaksa membayangkan akan sekenyang apa dirinya nanti.
“Lagi pula ini hanya sedikit. Dan aku yakin kamu pasti akan menghabiskannya,” ucap Celia memandangi makanan yang sudah berjajar rapi di hadapannya dengan tatapan penuh nafsu.
“Bagaimana kalau nanti aku menjadi gemuk setelah makan makanan ini?” tanya lelaki itu lagi.
“Aku yakin badanmu tak akan langsung gemuk. Ya, mungkin ... Hanya sedikit buncit saja di bagian perut,” kekeh Celia.
“Apa kamu akan bertanggung jawab kalau perutku membuncit?” tanya Collin mengunci tatapannya pada Celia yang masih belum menyadari kalau tatapan kekasihnya itu berbeda.
“Oh, ayolah. Kamu masih bisa berolahraga. Kapan lagi kita berkencan dan menikmati makanan seperti ini?”
“Baiklah. Aku anggap pernyataanmu tadi sebagai sebuah permintaan untuk kita berolahraga bersama,” ujar kekasihnya itu tanpa mengalihkan pandangannya.
Tatapan sensual pria itu membuat Celia kesusahan menelan ludahnya. Dia menatap manik mata kekasihnya yang menatapnya dengan sangat lekat.
“Bukan olahraga bersama dalam hal ‘itu’ bukan?” jerit Celia dalam hati.
to be continued ♥️
thanks for reading ♥️
__ADS_1