Celia

Celia
Sempurna


__ADS_3

selamat membaca ♥️


Waktu berjalan dengan begitu cepat. Perjalanan rumah tangga Celia dan Collin pun tak semulus yang orang kira. Banyak hal yang telah mereka lalui dan mereka selesaikan bersama. Hingga membuat pasangan muda itu semakin dewasa.


Seorang anak kecil berlari ke sana kemari dengan begitu riangnya. Diikuti oleh seorang pemuda yang tengah mengejar anak kecil itu dari belakang. Riuh tawa anak berusia empat tahun itu menggelegar membuat rumah yang cukup besar itu tak terlalu sepi meski penghuninya hanya beberapa. Hamparan rumput tebal di halaman depan rumah itu pun membuat bocah kecil itu merasa cukup aman dan nyaman berlarian tanpa mengenakan sandal.


Sementara seorang wanita dengan perut membuncit tengah duduk tak jauh dari dua prianya yang lari berkejaran. Sembari mengupas buah apel yang sesekali ia suapkan pada dua jagoannya yang sangat ia cintai.


"Sudah lari-larinya. Ayo makan dulu," teriak Celia kepada ayah anak itu.


Collin mengajak Langit mendekat ke arah Mamanya. Pria itu menggendong Langit di belakang punggungnya. Seolah sedang mengendarai kereta, Collin menggendong pria kecil itu dengan berlari perlahan.


Tanpa menunggu istrinya meminta untuk kedua kalinya, Collin mendekat dan menuruti satu-satunya perempuan yang bertahta di hati dan di istana yang telah dibangunnya.


Selain itu, Collin menghindari amukan Celia yang mengalahkan singa betina. Saat hamil Langit, Celia selalu ingin ikut ke tempat kerjanya dengan alasan ingin bertemu dengan orang-orang. Dia selalu mengekor bahkan hampir membuat Collin tak bisa menangani semua pasien karena ulah Celia.


Pernah suatu hari, Celia meminta agar Collin hanya menerima pasien perempuan. Sebuah hal yang sangat langka yang diminta oleh ibu hamil itu. Namun siapa sangka, Celia justru genit kepada setiap pasien wanita yang menurutnya cantik. Bahkan tak segan membuat pasiennya risih karena ulah Celia yang tiba-tiba menempel kepada pasien perempuan itu


Pun kini di tengah kehamilan ke-duanya, Celia cenderung lebih sensitif dan posesif kepada Collin. Berkebalikan dengan hamil pertama, Celia seperti tak rela Collin berada jauh dari pandangannya. Dia selalu ingin bersama pria itu bahkan ingin menyembunyikannya dari orang-orang yang selalu menatapnya dengan tatapan memuja.


***


"Yang, nanti aku ada jadwal praktik. Kamu di sini saja apa mau ikut?" tanya Collin kepada istrinya saat mereka berdua kini sudah ada di dalam kamar.


"Ikut dong. Kalau gak gitu nanti cewek-cewek genit deketin kamu," gerutu Celia.


"Ya ampun." Collin hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Pria itu tak ingin menyahuti istrinya yang sedang hamil. Hormon kehamilan yang tak stabil tak kalah mengerikannya dibanding wanita yang tengah pms.


"Tapi, bukankah kamu hari ini seharusnya cuti? Apa jangan-jangan kamu mau ketemu wanita lain?" Selidik Celia yang masih sering curiga dengan sang suami.


"Ada rekan yang cuti mendadak karena jadwal melahirkan istrinya lebih awal," ujar Collin seraya mematut dirinya di hadapan cermin.


Celia menganggukkan kepalanya. Untuk alasan itu, Celia tak ingin egois. Toh, tak lama lagi gilirannya melahirkan. Dia pun tak ingin suaminya harus tetap bekerja dan tak menemaninya saat persalinan.


"Alasan diterima. Tapi awas saja kalau genit sama yang lainnya!" Ucap Celia.


"Bagaimana dengan Langit?" Collin menghentikan gerakannya membenarkan krah kemejanya.

__ADS_1


"Mommy sama Daddy katanya mau ke sini. Mau bawa Langit jalan-jalan," jawab Celia santai.


"Kenapa kamu gak bilang kalau Daddy sama Mommy akan ke sini?"


Collin merapatkan tubuhnya ke arah istrinya. Celia paham dengan keinginan sang suami. Namun, kini sepertinya sudah terlambat. Collin harus berangkat bekerja.


"Tahu gitu aku menolak jadwal praktik dadakan ini," cicit Collin.


Celia akhirnya tertawa mendengar Collin yang mengeluh. Padahal biasanya dia selalu beralasan ingin pergi ke rumah sakit tempatnya bekerja.


"Emangnya kenapa? Kan di rumah sakit enak. Banyak cewek cantik di sana," ucap Celia memalingkan wajahnya.


"Mana ada! Aku sudah punya wanita paling seksi! Dibandingkan mereka, yang saat ini di depan mata lebih menggoda," bisik Collin tepat di telinga Celia.


Pria itu sengaja meniup belakang telinga Celia dan menggigitnya perlahan.


"Boleh tidak?" Pinta Collin.


Celia tak menjawab pertanyaan suaminya. Ia hanya menikmati sentuhan yang diberikan oleh pria yang sangat ia cintai saat ini sembari memejamkan matanya.


Kegiatan mereka terhenti saat suara bel berbunyi. Celia mengurai dekapan sang suami yang mengembuskan napas kasar.


"Sepertinya itu Mommy dan Daddy," ucap Celia mengabaikan Collin yang merengek.


Collin dan Celia menyambut kedatangan Fabian dan Renata yang sesuai rencana ingin mengajak cucunya jalan-jalan.


"Langit boleh menginap?" Tanya Renata.


Collin dengan penuh semangat mengiyakan. Setidaknya malam ini dia bisa berdua dengan Celia, menengok anak keduanya yang diperkirakan akan lahir minggu depan.


Renata dan Fabian dengan penuh semangat mengajak cucu pertamanya itu pergi setelah mendapat izin dari Collin dan Celia.


***


Rencana menginap Langit yang diperkirakan hanya sehari itu ternyata berlangsung selama satu minggu. Dengan dalih agar Celia yang tengah hamil tua, membuat Celia mau tak mau merelakan putra kesayangannya bersama Fabian dan Renata. Pasangan kakek nenek yang masih tampak muda itu sangat senang dengan hal itu.


"Yang, aku mau ke toilet dulu," ucap Celia usai berbagi peluh dengan sang suami.


"Aku antar." Dengan sigap Collin membopong tubuh Celia menuju toilet dan menurunkannya di sana.

__ADS_1


"Aku tunggu di luar. Kalau sudah, beritahu aku," ucap Collin seraya mengecup pucuk kepala istrinya.


Baru beberapa detik usai menutup pintu, Collin mendengar Celia berteriak memanggilnya.


"Yang, perutku mulas. Ini juga sepertinya ketubannya udah pecah," ucap Celia terengah.


Collin gegas membopong sang istri, memindahkannya keluar dari toilet. Pria itu pun meraih pakaian untuknya dan juga Celia. Setelah memasangkan pakaian untuk sang istri, Collin bergegas membopong wanita hamil itu menuju mobilnya.


Mobil melaju dalam kecepatan cukup tinggi. Collin menghubungi pihak rumah sakit untuk bersiap menyambut kedatangan istrinya yang hendak melahirkan. Meski ini bukan pengalaman pertama Celia melahirkan, tetap membuat Collin panik.


Sepuluh menit berkendara, akhirnya mereka tiba di lobi rumah sakit. Di sana petugas IGD telah menyiapkan brankar untuk membawa wanita itu ke ruang bersalin.


***


Collin berjalan mondar mandir di depan ruang bersalin di mana Celia tengah berjuang antara hidup dan mati. Mungkin karena anak kedua, proses persalinannya tak terlalu sulit seperti saat anak pertama.


Hanya setelah sepuluh menit pintu ruangan itu tertutup, Collin mendengar suara tangis bayi menggema. Seorang bayi mungil berjenis kelamin perempuan terlahir ke dunia. Paras yang cantik dengan hidung mancung dan bulu mata lentik itu benar-benar perpaduan pas antara Collin dan Celia.


Setelah sedikit dibersihkan, bayi mungil itu diletakkan di atas dada Celia untuk proses IMD. Collin pun diperkenankan masuk untuk mengadzankan bayi mungil itu.


"Setelah ini, Bu Celia akan dipindahkan ke ruang rawat. Nanti bayinya akan diantarkan ke ruang rawat setelah dibersihkan."


Collin dan Celia pun kompak menganggukkan kepalanya. Berulang kali Collin mengecup kening istrinya, menyalurkan rasa cinta dan terima kasih pada wanita yang telah banyak berkorban untuknya.


"Terima kasih."


Celia menganggukkan kepalanya. "Apa kamu sudah menyiapkan nama untuknya?"


"Zeline Kamaniya."


***


Kembali, keluarga besar Collin dan Celia bersuka cita dengan kabar kelahiran anak kedua Pasangan muda itu yang ternyata seorang anak perempuan. Sempurna sudah kebahagiaan pasangan itu saat ini. Collin yang menggendong Langit, menghampiri Celia yang tengah menyusui Zeline. Binar kebahagian tercetak jelas di wajah pria kecil itu. Langit menyambut kehadiran Zeline dengan penuh antusias. Anak kecil itu bahkan meminta izin orangtuanya untuk menggendong adik kecilnya.


"Selamat datang, putri Zeline," bisik Langit seraya menciumi wajah sang adik yang tengah tertidur.


-Tamat-


terimakasih yang sebesar-besarnya untuk para reader yang setia baca cerita Celia ini sampai tamat.

__ADS_1


Mohon Maaf jika ada kata, kalimat atau episode yang kurang berkenan di hati para reader semua 🙏


Sampai ketemu di novel aku yang lain


__ADS_2