Celia

Celia
Menyusun Rencana


__ADS_3

Selamat membaca ♥️


Davin menghentikan mobilnya di tepi jalan. Pria itu melihat ke kanan dan kiri jalan, memastikan bahwa tak ada lagi orang yang mengikuti ke mana dia akan pergi.


Keluar dari kendaraan roda empat itu, Davin berjalan melewati sebuah gang yang tak terlalu kecil. Sesekali dia menoleh ke belakang, waspada akan segala kemungkinan seseorang membuntutinya.


Pria itu mengetuk papan kayu di hadapannya. Sebuah kamar kost yang mirip dengan kontrakan satu kamar, sudah ia pastikan kalau ada penghuni di dalamnya. Pemuda itu bahkan sudah bertanya kepada sang pemilik rumah sewa, memastikan kalau orang yang menyewa tempat itu adalah Collin.


Sementara itu, pria yang ada di dalam ruangan, tak kunjung menyambut tamu yang datang berkunjung. Pria itu melihat dari celah jendela yang tertutup tirai untuk mengetahui siapa orang yang mengetuk pintu di luar.


“Collin, ini aku ... Davin,” ucap pria itu setengah berbisik.


Mendengar pria yang berbicara itu dan mengenali suara pria yang merupakan sahabat sekaligus sepupu Celia, Collin membukakan pintu bagi Davin.


Setelah masuk, pria itu kemudian menutup kembali pintu ruangan itu.


“Bagaimana bisa kamu tahu di mana aku tinggal?” tanya Collin.


“Aku mengikutimu pagi hari usai bertemu denganmu,” jawab Davin santai.


“Tadi aku merasa diikuti. Dan sepertinya benar tentang apa yang ku katakan,” imbuh pria itu.


“Tapi, kamu tak membuat penguntit itu mengetahui rumah ini, bukan?” tanya Collin.


Pria itu menggelengkan kepalanya. Saat dia turun dari mobil, dia sudah tak lagi merasakan kalau dirinya sedang diikuti.


“Syukurlah." Collin menarik nafas lega ketika mendengar itu.


“aku ke sini karena sesuatu,” ucap pria itu.


“apa?” tanya Collin seraya menautkan alisnya.


“Tentang Celia ... Aku tahu kalau itu tak mudah. Tapi aku yakin kamu bisa mencobanya, “ ucap pria itu.


Davin menatap mata lawan bicaranya dengan serius. Pria itu bersungguh-sungguh dalam hal ini.

__ADS_1


“Aku akan menyusupkanmu ke dalam rumah Celia. Aku yakin kamu bisa menyelesaikan semuanya dan meyakinkan Daddy.”


“Bagaimana caranya?” tanya pria itu.


Davin pun memberitahukan bagaimana nantinya mereka akan bergerak bekerjasama membuat Collin bisa masuk ke rumah itu. Hanya saja Davin tak bisa terlibat terlalu jauh karena memiliki hal lain yang perlu di urus. Dia yakin kalau Collin bisa menyelesaikannya dengan baik.


***


Sementara itu, Jamie saat ini sedang ada di rumah orangtuanya. Pria itu disambut dengan baik oleh Oma Hana. Wanita yang sudah berusia senja itu sangat merindukan Jamie yang hampir tak pernah pulang dari Jerman.


“Apa kamu sudah tahu kekasih Collin? Dia sangat cantik,” ucap Oma Hana begitu senang saat membicarakan Celia di depan Jamie.


“Ya. Sepertinya dia memang sangat cantik sehingga membuat Collin gila dan menemuinya di sini,” ujar Jamie seraya tertawa.


Oma hana sekali lagi tertawa. Wanita itu merasa lucu saat melihat Jamie yang bisa kesal dengan tingkah laku putranya.


“Rasanya aku ingin segera melihat pemuda itu menikah dan memiliki cucu sebelum aku tutup usia.


“Jangan berbicara seperti itu. Oma akan panjang umur selalu,” ucap Jamie menggenggam kedua tangan Oma Hana yang merupakan orangtuanya yang masih ada di Indonesia.


***


Setelah berkendara, dua orang itu akhirnya tiba di rumah Fabian. Davin menjelaskan mengenai maksudnya membawa tukang untuk membetulkan rumah Fabian, memperbaikinya agar tingkat keamanan tetap terjaga namun tak membuat rumah itu kehilangan nilai keindahannya. Kebetulan Fabian saat ini sedang ada di rumahnya dan tidak berangkat ke kantor. Sehingga pemuda itu bisa dengan cepat mendiskusikannya tanpa harus menunggu Fabian pulang kerja.


Davin meyakinkan Fabian bahwa memasang sirap kayu di luar jendela Celia bukanlah hal yang tepat karena merusak pemandangan indah rumah itu.


“Siapa pun pasti mengira kalau ada sesuatu tak beres di rumah ini,” ujar Davin meyakinkan.


“Lalu, Daddy harus bagaimana?”


“Aku membawa dia untuk memperbaiki semuanya,” ujar Davin menepuk pundak Collin yang saat ini sedang menyamar.


“Tapi, Daddy lihat pria ini kurang meyakinkan,” ujar Fabian menatap tampilan Collin dari atas hingga bawah.


“jangan lihat penampilan luarnya, Dad. Daddy harus melihat hasil kerjanya.” Davin masih berusaha meyakinkan pria itu lagi.

__ADS_1


“Baiklah. Selagi Celia sedang pergi ke kantor kamu bisa mengerjakannya dari luar,” ujar pria paruh baya itu.


Collin pun mengangguk dan berterima kasih. Dia bersyukur Fabian tak curiga dengan dirinya yang saat ini menggunakan jambang palsu yang cukup lebat. Penampilannya pun tak meyakinkan. Namun, Davin berhasil membuat Daddy dari kekasihnya itu yakin dengan apa yang dikatakannya.


“Kamarnya ada di lantai dua. Nanti kamu bisa meminta tangga kepada sopirku di luar karena tukang kebun saat ini sedang cuti, istrinya hendak melahirkan,” ujar Fabian cuek.


Pria itu kemudian kembali ke dalam ruang kerjanya, memantau progress perusahaan melalui layar berukuran 16 inci di dalam ruangannya.


Sepeninggal Fabian, Collin tanpa menunggu waktu lama lagi, melaksanakan tugasnya sebagai tukang serba bisa. Pria itu benar-benar cekatan saat melakukan segala sesuatunya


Pria itu bergegas membuka papan kayu yang sebelumnya menyilang menutupi jendela kamar Celia. Tak hanya itu, Collin membuat jendela kayu itu tak bisa dibuka dari dalam kamar namun masih bisa dibuka dari luar. Teralis besi yang terpasang dari dalam kamar kekasihnya, tak ia lepaskan karena akan mencurigakan kalau pembatas besi itu dilepas begitu saja. Semua rencananya tersusun dengan sangat baik di kepalanya. Rencana untuk membuat dirinya bisa masuk ke dalam rumah itu tanpa diketahui.


Setelah hampir satu jam, pria itu menyelesaikan semuanya. Jendela itu sudah tampak seperti baru dan tak meninggalkan bekas dipaku. Tak hanya itu, terdapat kunci jendela yang hanya bisa diakses dari luar, dan hanya bisa dibuka melalui luar jendela. Collin pun menjelaskannya kepada Fabian.


“Lalu, apa fungsi kunci ini kalau memang kunci kamar itu terpasang di luar?”


“Agar Anda bisa tenang kalau jendela di kamar putri Anda benar-benar aman dan tak bisa dibuka, Tuan,” ucap Collin menunduk saat berbicara dengan Fabian.


Selain menyembunyikan identitasnya, pria itu menghindari tatapan Fabian yang mudah sekali mengenali orang.


“Baiklah. Kalau begitu, terima kasih,” ucap Fabian.


Davin dan Collin akhirnya pamit kepada pria itu. Mereka kemudian meninggalkan rumah Fabian dan Celia yang telah ia modifikasi agar bisa masuk ke dalam rumah itu tanpa diketahui.


Saat ini, dia tak peduli kalau tak bisa keluar dari kamar itu bersama Celia. Asalkan gadis itu tak jauh dari jangkauannya.


“Tunggu aku, Celia. Aku akan datang,” ucap pria itu seraya menatap jendela kamar Celianl yang kembali cantik dan telah ia modifikasi keamanannya.


“Aku tak sabar untuk menemuimu ... Nanti,” gumam pria itu seraya melengkungkan senyum penuh arti.


to be continued ♥️


thanks for reading


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚

__ADS_1


maaciw 😚


__ADS_2