Celia

Celia
Pergi


__ADS_3

Pria itu keluar dari kamar rawat Collin. Membiarkan pria yang baru sadar dari ‘pingsannya” sendiri di dalam kamar dengan kondisi jarum infus masih tertempel di lengan kanannya. Beban yang memberatkan hatinya sedikit terangkat. Dia merasa sedikit lega namun tetap egonya masih sangat tinggi.


Fabian kembali memasuki kamar Oma Hana setelahnya. Dia membuka pintu kamar itu perlahan, takut mengganggu Renata yang mungkin sedang beristirahat atau membuat wanita yang sedang terbaring di atas ranjang pasien itu terkejut.


“Fabian ... Tante Hana!” seru Renata.


Fabian mendekat ke arah istrinya yang saat ini sudah berada di sisi ranjang tantenya. Pria itu bergegas menekan tombol darurat di mana itu terhubung ke ruang perawat jaga. Berulang kali pria itu menekan tombol berwarna merah itu saking paniknya.


Beberapa orang memakai pakaian putih sergam rumah sakit itu, bergegas memasuki ruangan di mana seorang wanita tua terbaring di atasnya dalam keadaan mata terpejam.


Tindakan pertolongan pertama telah diupayakan oleh petugas medis itu. Namun tak mengubah angka yang tertera di layar yang berada di samping ranjang wanita itu membaik. Hitungan angka mundur tampak begitu jelas diikuti sebuah bunyi yang membuat orang-orang di dalam ruangan itu semakin panik.


Alat itu menunjukkan angka nol, diikuti sebuah garis lurus dan bunyi yang tak berhenti berdenging.


Petugas medis di mana beberapa perawat dan dua orang dokter yang sebelumnya menangani oma hana saling berpandangan, menggeleng lemah sebagai isyarat bahwa sesuatu telah berlalu dan tak bisa dikembalikan lagi.


Dua orang yang memakai sneli putih itu berjalan menghampiri Renata dan juga Fabian yang berdiri tak jauh dari tempat mereka. Dengan kepala tertunduk mereka mengucapkan bela sungkawa atas berpulangnya Oma Hana beberapa detik yang lalu.


Untaian kata maaf dilontarkan oleh petugas medis itu kepada pasangan yang masih terkejut, tak menyangka begitu cepat Sang Pencipta memanggil kembali Oma Hana ke dalam pelukannya.


“Kalian bercanda, bukan?”


Jamie yang baru saja kembali dari makan siang bersama dengan Celia terkejut mendengar pernyataan dua dokter yang sebelumnya menangani Mamanya.


Tanpa menunggu lama, pria itu meraih alat-alat medis yang ada di dekatnya. Termasuk menyambar stetoskop salah satu dari dua dokter itu dan memeriksa kondisi mamanya.


Tak terdengar detak nadi maupun suara detak jantung wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu. Melihat alat pacu jantung yang ada di sampingnya, pria itu meminta perawat untuk menyalakan kembali alat itu, mencoba mengembalikan detak jantung mamanya yang sudah tak terasa lagi.


Air matanya terus bercucuran, mengalir deras tanpa bisa dibendung melewati pipi pria itu. Seorang pria yang hampir tak pernah menangis itu kembali meneteskan air matanya, meraung seraya memeluk wanita yang terbujur kaku, tanpa denyut jantung di dadanya dan tanpa embusan napas dalam waktu yang cukup lama.


Fabian melangkahkan kakinya mendekati Jamie yang tak hentinya menangis. Dia menepuk pundak pria itu,

__ADS_1


“Bagaimana mungkin ini terjadi? Bukankah kalian berkata kalau mama sudah melewati masa kritisnya?!"


“Maafkan kami, Pak. Semua ini juga di luar kuasa kami. Kami juga tak paham kenapa jantung Nyonya Hana mengalami Anfal.”


“Kenapa kalian tak memeriksanya dengan benar?!” bentak Jamie kepada petugas medis yang masih ada di sana.


“Sudahlah Jamie. Kita ikhlaskan saja Tante Hana. Kita tak bisa melawan takdir. Semua orang di sini sudah berusaha semaksimal mungkin. Mereka telah melakukan penanganan sesuai kapasitas mereka. Namun, mereka pun tak bisa melawan takdir, menentang kehendak Yang Maha Kuasa.”


“Kamu bisa saja dengan mudahnya mengatakan itu Fabian! Kamu tak tahu rasanya kehilangan!” bentak Jamie yang untuk pertama kalinya marah sekaligus menangis karena kepergian orang tercinta.


Fabian terdiam mendengar perkataan pria itu. Dia tersadar kalau selama ini ketakutannya benar-benar berlebihan. Kehilangan yang dirasakan Jamie saat ini jauh lebih besar. Dia bahkan sekali lagi merasakan kehilangan setelah kepergian istrinya yang lebih dahulu berpulang. Dan kini, ibu dari pria itu meninggalkannya dan tak akan pernah kembali lagi ke dunia.


Pria itu hanya bisa menundukkan kepalanya. Sekali lagi dia merasa tertampar, disadarkan oleh setiap kejadian yang telah berlalu dan tak mungkin bisa diulang kembali apalagi untuk mencegahnya terjadi.


“Kami mengucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas kepergian Ibu Hana,” ucap seorang dokter mewakili rekannya yang lain.


“Kami juga akan membantu prosedur pemulangan jenazah agar segera dimakamkan hari ini,” imbuh dokter itu.


“Aku akan memberitahu Collin,” ucap Celia angkat suara.


Bagaimanapun pria itu harus tahu apa yang terjadi dengan neneknya.


***


Celia menarik napas dalam-dalam. Gadis itu berusaha menetralkan hatinya. Beberapa kali ia mengerjapkan kedua matanya agar bulir bening urung melewati kedua pipinya.


Saat kenop pintu itu terbuka, Celia tersenyum menatap Collin yang ternyata sudah duduk bersandar di ranjang pasien yang posisinya setengah dinaikkan.


“Hai,” sapa Celia.


Pria itu tersenyum lemah. Namun, saat Celia mendekat, Collin tiba-tiba memeluk gadis itu dengan sangat erat seolah tak ingin kehilangan gadis itu. Dia melupakan rasa sakit di punggungnya yang tengah terluka.

__ADS_1


“Syukurlah kamu tak apa-apa, Celia. Aku senang kamu tak lagi dibawa pergi oleh pria itu,” ucap Collin lirih.


Mendengar perkataan kekasihnya itu, air mata yang sudah payah ia tahan akhirnya lolos juga dari kedua matanya. Bahkan saat ini Celia menangis terisak-isak hingga tubuhnya ikut bergetar.


“Hei, kamu kenapa?” tanya Collin.


Collin kebingungan saat mendapati Celia menangis tersedu-sedu usai dirinya mengurai pelukannya. Pria itu kembali mendekap tubuh kekasihnya itu, mengusap punggungnya agar gadis kesayangannya kembali tenang.


Saat dirasa tangis Celia mereda, dekapan pemuda itu mengendur. Dipegangnya bahu gadis yang masih menundukkan kepalanya itu.


“Hei, katakan padaku. Ada apa? Apa ada yang menyakitimu?” tanya pemuda itu.


Celia mengangkat wajahnya yang telah basah karena air mata. Gadis itu masih tampak kacau. Terlebih usai kejadian malam itu, Celia masih belum sempat pulang untuk merias diri.


“Oma ....”


“Oma? Kenapa dengan Oma? Apa yang terjadi dengan Oma tanya Collin mengerutkan dahinya.


Detak jantungnya berpacu dengan cepat. Seolah dia merasa bahwa ada sesuatu yang buruk yang akan diberitahukan gadis di hadapannya.


“Oma baru saja berpulang, Collin.” Celia kembali menangis.


“Tidak mungkin!”


Collin menggelengkan kepalanya. Celia baik-baik saja. Seharusnya sang nenek baik-baik saja, bukan?


“Kamu tidak sedang bercanda, bukan? Oma seharusnya baik-baik saja, Celia. Bagaimana mungkin Oma berpulang?”


Pria itu langsung mematikan aliran selang infus yang ada di sebelah kanannya. Setelahnya dia melepaskan jarum kecil yang ada di lengannya perlahan. Collin meringis saat merasakan nyeri usai jarum itu tercabut.


Pria itu tak memedulikan keadaannya saat ini.

__ADS_1


“Antar aku ke tempat Oma.” Pinta pria itu.


__ADS_2