Celia

Celia
Menyetujui


__ADS_3

Happy reading ♥️


“Celia!”


Antara terkejut dan marah, Fabian menggebrak meja di hadapannya. Dia merasa tak dihargai atas tindakan Celia yang dianggap tak sopan dengan menguping serta menerobos masuk ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu.


“Aku dan Mommy-mu tak pernah mengajarkan untuk berlaku tak sopan saat ada orang lain berbicara!”


Pria itu masih menatap nyalang putrinya. Dia seolah menantang putrinya yang saat ini juga menatap ke arahnya dengan tatapan yang tak kalah sengit.


“Kau benar-benar berubah usai bertemu dengan pemuda itu, Celia!” seru Fabian kepada putrinya.


“Daddy yang berubah! Daddy yang tak pernah membentakku, kini sudah berkali-kali membentakku. Dulu kamu yang memanjakanku, sekarang justru mengurungku. Ada apa denganmu, Dad?”


Tanpa terasa bulir bening mengalir dari mata indah gadis itu.


Tubuh Celia bergetar menahan amarah hingga tangisnya akhirnya pecah. Gadis itu sudah berada dalam puncak emosinya. Dia masih bertanya-tanya mengapa Daddy-nya bersikap seperti itu padahal sebelumnya pria itu tak bersikap berlebihan.


Sebenarnya apa yang ada dalam hati Fabian?


Bukankah segala sesuatu antara dirinya, Renata dan Jamie sudah usai?


Renata yang melihat anak gadisnya menangis hingga akhirnya bersimpuh karena tak sanggup menahan diri yang kecewa, bergegas menghampiri gadis itu. Dia sendiri tak bisa berbuat apa-apa untuk membela anak gadisnya selain berusaha menenangkan putri tercintanya itu.


Fabian merupakan pria yang keras kepala. Meski Renata sanggup menaklukkan pria itu, terkadang dia masih kalah jika dihadapkan pada status mereka yang merupakan pasangan suami istri.


Bukankah seorang istri harus patuh kepada suaminya? Dan bukankah seorang istri harus mengingatkan suaminya jika berbuat salah?


Renata membantu Celia bangkit dan duduk di atas sofa yang berada tak jauh dari pintu ruangan itu. Wanita itu menatap tajam suaminya. Dia pun tak habis pikir dengan Fabian.


“Apa bedanya dengan menikahkan Celia dengan Collin kalau pada akhirnya kamu menikahkan Celia dengan Rian?!”


“Diam Renata! Kamu jangan ikut campur!” Hardik Fabian.

__ADS_1


Mendengar Renata menyebutkan nama anak dari pria yang tak ia sukai itu membuat Fabian meradang. Pikirannya semakin kacau. Kilasan masa lalu kembali terngiang di pikiran Fabian. Dia masih tak rela jika istrinya mendukung pria itu dan anaknya. Fabian cemburu. Apalagi kalau mulut istrinya menyebutkan nama itu di hadapannya.


“apa kamu masih ingin bernostalgia dengan pria itu sehingga lebih memilih anak pria itu dibanding orang lain?” tanya Fabian.


“Dia adalah saudaramu, Bi. Kenapa kamu masih saja cemburu dengannya?” tanya Renata.


“Karena dia menyukaimu, Re. Dan aku tak suka!” seru Fabian.


“Kamu benar-benar tak masuk akal, Bi.” Renata menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan pikiran suaminya yang begitu picik.


“Aku tak setuju kamu menikahkan Celia dengan Rian!” ujar Renata yang kemudian mengajak Celia bangkit pergi dari ruangan itu.


Celia menuruti. Dia mengekor Mommy-nya yang memilih keluar dari ruangan itu. Dia berniat untuk kembali melanjutkan niatnya membuktikan bahwa anak gadisnya masih suci. Dia berniat akan menggunakan bukti itu untuk menghentikan Fabian dari tindakan gilanya. Dia juga akan membuktikan bahwa Collin memang orang baik melalui bukti itu.


“Kita akan ke mana, Mom?” tanya Celia yang tangisnya masih belum reda.


“Kita tetap akan ke rumah sakit, Sayang. Kita akan membuktikan kepada Daddy-mu kalau Collin tak seburuk itu,” ujar Renata.


Saat dua wanita itu sudah hampir melewati pintu utama rumah itu, suara Fabian menggema menghentikan langkah mereka.


“Kami akan memberikan bukti kalau pikiranmu salah, Bi” ujar Renata membalas pertanyaan suaminya.


“Maksudmu?” tanya Fabian seraya menautkan alisnya.


“Kami akan pergi ke rumah sakit untuk membuktikan bahwa Celia dan Collin tak pernah melakukannya karena Collin adalah pria baik!” jawab Renata ketus.


“Rian, antarkan mereka!” titah Fabian kepada Rian yang mengekori pria itu dari ruang kerjanya.


“Baik, Pak.”


“Tak perlu. Kami akan pergi berdua,” ujar Renata yang kemudian berbalik hendak melanjutkan langkahnya untuk pergi.


“Di antar oleh Rian atau tidak keluar dari rumah ini sama sekali!” seru Fabian.

__ADS_1


Pria itu hanya memberi dua pilihan bagi anak dan istrinya. Pria itu takut dan khawatir kalau-kalau mereka akan pergi menemui Collin dan membuat Celia pergi dari rumah itu dan tak pernah kembali lagi.


Dia tak ingin kehilangan dua wanita berharga dalam hidupnya untuk ke sekian kalinya. Baginya, Renata dan Celia adalah miliknya. Dan tak boleh ada orang asing yang bisa menyentuh anak gadis dan istrinya tanpa persetujuan pria itu.


Renata saling berpandangan dengan Celia. Seolah bertukar pikiran mengenai jawaban apa yang akan diberikan, menyetujui atau menolak pergi dengan Rian.


“Baiklah. Kami akan pergi dengan diantar oleh asistenmu.”


Renata akhirnya menyetujui perkataan suaminya. Daripada mereka tak memiliki bukti mengenai hasil pemeriksaan, bukankah lebih baik jika dia tetap pergi dengan sang anak meski diawasi?


Fabian mendekat ke arah istrinya dan juga anak gadisnya. Pria itu mengangkat tangannya lalu mengusap rambut dua wanita berharga baginya itu.


“Hati-hati di jalan. Aku harap kalian mengabariku dan segera pulang usai melakukan pemeriksaan,” ujar Fabian yang dijawab dengan anggukan oleh Renata.


Renata tersenyum lalu menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. Hingga akhirnya wanita itu bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan setelah hasil tesnya keluar?”


Fabian tampak terdiam. Jujur dia masih takut kalau apa yang dia khawatirkan itu salah dan tak pernah terjadi. Namun dia tetap membutuhkan bukti untuk menguatkan apa yang dia percaya.


“Kita akan lihat nanti. Kita tunggu hasilnya baru kita akan memutuskan akan seperti apa ke depannya.”


Renata menganggukkan kepalanya. Dia berharap kalau pria itu tak akan mengecewakan mereka berdua.


Celia dan Renata akhirnya berangkat menuju rumah sakit setelah pamit kepada Fabian. Dua wanita itu diantar oleh Rian yang saat ini menjadi sopir dua orang itu sesuai perintah dari Fabian.


Mereka kemudian berjalan menuju petugas pendaftaran dokter yang akan mereka kunjungi.


Sebenarnya Celia malu jika harus ke dokter hanya untuk memeriksa apakah dirinya masih suci atau tidak. Namun, jika ini tak dilakukan akan membuat hubungannya dengan Collin harus berakhir.


Berbicara tentang Collin, di mana pria itu sekarang? Apa yang akan dilakukan pria itu? Apakah menyerah dengan Celia?


Celia merindukan lelaki yang hanya beberapa saat saja tak bisa ia temui. Pun dia tak tahu bagaimana untuk menghubungi pria itu dan mengetahui kabarnya.


“bagaimana keadaanmu, Collin? Apa kau tak merindukanku? Tak bisakah kamu ada di sekitarku dan sekali lagi membawa aku pergi, Collin?” desis gadis itu seraya duduk di bangku panjang tempat para pasien menunggu antrean.

__ADS_1


to be continued ♥️


thanks for reading ♥️


__ADS_2