Celia

Celia
OLD


__ADS_3

 Berita mengenai penangkapan Rian telah tersebar di seluruh penjuru negeri. Pemuda itu tampak menggunakan dua buah tongkat di sisi kanan dan kirinya dengan langkah kaki pincang. Perban putih membalut kedua kakinya yang konon ditembak oleh petugas kepolisian karena berusaha kabur saat penangkapan.


Menurut keterangan polisi yang menangani kasus Rian, Pria itu akan dikenakan pasal berlapis karena banyaknya tindak kejahatan yang telah dia lakukan. Bahkan mereka juga baru mengetahui bahwa Rian mengidap gangguan mental yang disebut Obsessive Love Disorder atau Obsesi berlebih terhadap sesuatu yang sangat dicintainya.


“Memang ada gangguan kejiwaan yang seperti itu?” tanya Celia kepada Collin yang saat ini tengah menyiapkan makan malam untuk Celia.


“Ada. Buktinya sudah kamu lihat sendiri, bukan?” jawab Collin enteng.


Sesungguhnya Collin sangat geram dengan Rian mengingat kejadian yang telah lampau itu. Collin pun sempat menduga kalau pemuda itu memiliki gejala yang mengarah kepada OLD karena begitu obsesinya pemuda itu kepada Celia.


“Mikirin apa?” Collin berjalan menghampiri Celia yang tampak melamun, bukan seperti tengah menonton siaran berita tentang Rian.


“Boleh jujur?”


Collin meganggukkan kepalanya. Tak lupa seulas senyum ia berikan kepada sang istri tercinta.


“Terkadang aku masih merasa jijik dengan diriku sendiri yang pernah disentuh oleh orang gak waras seperti dia,” ucap Celia setengah bergidik ngeri.


“Jadi kalau dia gak kena gangguan seperti itu, kamu akan biasa saja?”


“Ya, gak gitu juga. Mengingat Rian menyentuhku saja aku sudah merasa muak. Apalagi saat tahu dia gila. Kalau ada istilah muak berpangkat, mungkin aku akan memberikan pangkat seribu. Hiiy.”


Collin tampak menahan tawanya saat melihat Celia bertingkah seperti itu. Bagi Collin, itu sangat menggemaskan.


“Kenapa tertawa?” Celia menatap tajam suaminya.


“Istriku ternyata sangat menggemaskan,” ujar Collin seraya mencubit pipi Celia yang mulai berisi.


“Ngomong-ngomong, apa kamu tak lapar?” bisik Collin tepat mengenai telinga Celia.


Pria itu sengaja meniup lembut telinga istrinya, menggodanya agar sang istri mau mengajaknya untuk menikmati makanan yang lain. Makanan yang konon lebih menyenangkan dibanding mengenyangkan.


“Kita makan dulu,” ucap Celia bangkit dari sofa.


Dia lebih dulu berjalan ke arah meja makan sudah ada dua piring makanan di atasnya. Bahkan, ia melihat sebuah lilin menyala di dekat makanan yang panasnya masih mengepul.


Collin mematikan sebagian lampu ruang makan. Hanya dua buah lampu kecil yang berada tepat di atas meja yang masih dibiarkan menyala.

__ADS_1


“Wow! Terima kasih, Sayang,” puji Celia.


Wanita itu mengecup singkat pipi suaminya. Tanpa menunggu lama, dia memundurkan kursi dan duduk di atasnya, menghadap hidangan steak yang menggugah selera.


“Apa kau suka?” tanya Collin yang menghampiri kursinya lalu ikut duduk hingga berhadapan dengan istrinya.


Celia mengangguk. Semua perlakuan suaminya sangat disukai Celia. Hal itu yang membuat trauma yang dialami olehnya berangsur berkurang. Apalagi saat mengingat malam-malam yang telah mereka habiskan bersama.


"Besok ... kita hanimun, yuk!" ajak Collin.


"Kalau cuma buat pindah ranjang saja, mending kita gak perlu hanimun." Celia langsung pada intinya seraya fokus menikmati makanan yang ada di hadapannya.


Collin tertawa. Istrinya kini tak sepolos kelihatannya. Namun, kali ini Collin benar-benar berencana untuk pergi Honeymoon. Ralat! Pulang kampung!


Ya, dia merindukan papanya yang seorang diri hidup di negara mendiang Mamanya.


"Kita akan mengunjungi Papa."


"Kenapa bukan Papa saja yang mengunjungi kita?"


Collin tersenyum menanggapi perkataan istrinya. Sepertinya dia sedikit lupa bagaimana orangtua mereka yang sedikit tak akur.


Kedua mata Celia berbinar. Mendengar Collin mengatakan kalau mereka akan berkunjung ke Eropa itu berarti mereka juga akan berkunjung ke negara lain selain Jerman.


"Tapi, apa kamu sudah memiliki jatah cuti?" selidik Celia.


Collin menganggukkan kepalanya.


"Sejak kapan?"


"Itu bukan hal penting. Yang penting kita bisa jalan-jalan bersama."


Celia menganggukkan kepalanya dengan penuh antusias.


"Jadi kapan kita akan berangkat?"


"Dua minggu lagi."

__ADS_1


"Oke," jawab Celia santai.


***


Dua pekan berlalu dengan sangat cepat. Pasangan muda itu sudah mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Hanya tinggal menunggu waktu keberangkatan beberapa jam lagi, mereka akan tiba di negara di mana Collin dibesarkan.


Perjalanan yang ditempuh hampir enam belas jam itu tak sedikit pun membuat mereka kelelahan. Celia tampak ceria saat pertama kali menginjakkan kaki di negara itu. Banyak orang asing dengan postur tubuh yang tak jauh menarik seperti suaminya berseliweran di sana. Dan hal itu membuat Collin merasa sedikit menyesal melihat sang istri melihat pria di sana dengan tatapan kagum.


"Tangannya, ih!" Celia berusaha memindahkan tangan Collin yang menutup kedua matanya.


Pria itu menekuk wajahnya saat sang istri memalingkan wajah darinya.


"Aku cemburu!" ujar Collin secara terbuka.


Celia terkikik geli. "Kamu tak perlu khawatir. Meski banyak pria tampan di luar sana, hatiku tetap milikmu."


Celia meraih wajah suaminya dan mengecup singkat bibirnya. Hal itu membuat Collin kembali mengerucutkan bibir karena istrinya seolah sengaja menggodanya di keramaian. Bahkan mereka baru keluar dari bandara.


"Papa!" seru Celia seraya melambaikan tangannya ke arah sang mertua.


Pria itu tersenyum ke arah Celia yang sangat gembira dan tampak segar meski baru melakukan perjalanan panjang.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Jamie.


"Kabar kami sangat baik. Kami rindu," ucap Celia seraya memeluk mertua tunggalnya.


"Kalian akan tinggal di sini berapa lama?" tanya Jamie yang tampak berharap anak dan menantunya akan menghabiskan lebih banyak waktu di sana.


"Entah. Rencananya kami akan berkeliling ke negara lain. Apa Papa mau ikut?" tawar Collin.


Jamie tertawa. "Papa gak mau mengganggu pasangan yang telat bulan madu. Kalau Papa mengganggu, kapan papa bisa menggendong cucu?" Jamie menaik-turunkan kedua alisnya.


"Papa tenang saja. Cucunya masih on the way. Masih dalam proses produksi," kekeh Collin.


Wajah Celia memerah saat mendengar percakapan antara suami dan mertuanya. dua orang itu lebih tampak sebagai teman dibanding sebagai orang tua dan anak.


Jamie masih tampak awet muda meski usianya sudah hampir memasuki usia senja. Bahkan rambut hitamnya pun masih tak berubah warna. Kulit wajah pria itu pun tak sedikit pun mengeriput.

__ADS_1


Tatapan Celia tiba-tiba beralih kepada seorang wanita yang sejak tadi berdiri di samping Jamie seraya tersenyum menyambut kedatangan Celia dan Collin. Dari raut wajahnya, turut berbahagia saat melihat orangtua dan anak itu melepas rindu.


"Ngomong-ngomong, siapa dia, Pa?"


__ADS_2