
Mumpung Senin jangan lupa vote yaa 😚
Selamat membaca ♥️
Renata mempersilakan tamu yang mengaku sebagai teman anaknya itu untuk masuk dan duduk di kursi ruang tamu rumahnya. Meski pria itu mengaku sebagai teman Celia, Renata dan Fabian tahu kalau pemuda yang saat ini bertamu ke rumahnya itu adalah kekasih Celia.
‘Cukup berani juga anak ini,' batin Fabian.
Pria itu memindai Collin dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Pemuda itu cukup sempurna dalam hal fisik dan penampilannya. Bahkan pemuda itu terbilang tampan dan tampak serasi dengan Celia.
Namun, hal itu bukan menjadi satu-satunya penilaian Fabian kepada pemuda itu. Dia tak akan membuat semuanya mudah. Putrinya terlalu berharga untuk diserahkan kepada pemuda asing begitu saja.
Pengalaman hidupnya membuat pria itu sangat berhati-hati terhadap ‘predator darat’ yang hendak memangsa putri kesayangannya. “Siapa namamu tadi?” tanya Fabian dengan wajah datarnya.
Sementara Renata meminta asisten rumah tangganya untuk menyiapkan minuman dan kudapan untuk mereka. Dia juga meminta asisten rumah tangganya itu untuk menyiapkan makan malam bagi Aksa dan Celia. Juga meminta untuk membiarkan Celia turun untuk makan malam bersama dengan Aksa Membiarkan anak-anaknya makan malam lebih dahulu.
“Nama saya Collin, Om.”
“Kamu yang membuat Celia pergi diam-diam saat malam hari, bukan?” tanya Fabian langsung pada intinya.
Collin menelan ludahnya dengan susah payah. Hal itu tampak dari jakunnya yang bergerak turun dengan sedikit dipaksakan “Untuk hal itu, maafkan saya, Om, Tante. Saya mengaku kalau saya sangat salah dalam hal itu.” Collin menundukkan kepalanya, tak berani menatap orangtua dari kekasihnya itu.
Pembicaraan mereka terhenti saat asisten rumah tangga mereka datang membawakan minuman dan juga kudapan yang diminta oleh Renata.
“Jauhi Celia. Lupakan putriku. Putuskan hubungan putriku dengan cara baik-baik. Dan aku akan memberi kamu waktu tiga hari.”
Pernyataan Fabian membuat Collin mendongakkan kepalanya. Pemuda itu tak percaya dengan perkataan lelaki yang merupakan ayah dari Celia itu.
“Maafkan saya, Om. Saya tak bisa menuruti permintaan Om untuk menjauhi putri Om. Saya tak bisa menuruti permintaan Anda tanpa alasan yang jelas.”
__ADS_1
Fabian mengangkat sebelah alisnya. Dia tak menyangka pemuda itu cukup berani untuk menentang perintahnya menjauhi Celia.
Sementara itu, diam-diam ada yang mendengarkan percakapan tiga orang di ruang tamu itu. Dia baru saja turun dari kamarnya, hendak menuju ruang makan. Namun langkahnya justru melangkah mendekati ruang tamu di mana dia mendengar sebuah suara yang sangat dia kenal. Suara seseorang yang sangat dirindukan olehnya. Padahal mereka sudah bertemu di malam sebelumnya.
Celia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Nyaris saja dia mengeluarkan suara saat mendengar Daddy-nya meminta pria yang dia cintai untuk menjauhinya. Dia tak habis pikir dengan Daddy-nya yang begitu mudah menekan pria yang mendekatinya. Bahkan waktu yang diberikan oleh pria itu terbilang sangat singkat.
Celia yang tadinya hendak makan malam, mengurungkan niatnya. Gadis itu masih penasaran dengan perbincangan orangtuanya dengan kekasihnya di ruang berbeda.
“Apa kau bisa menjamin kalau kamu tak akan menyakiti putriku?” sinis Fabian. “Aku saja yang sudah memiliki gelar suami, masih pernah menyakiti istriku. Apalagi kamu yang masih tak memiliki ikatan apa pun dengan putriku,” imbuh Fabian tak memberi jeda untuk Collin menjawab pertanyaannya.
“Kami juga perlu mengetahui dari keluarga mana kamu berasal. Coba katakan. Siapa orangtuamu dan apa pekerjaan kamu dan orangtuamu.” Renata mencoba berbicara dengan tenang. Dia ingin memastikan kalau pemuda di hadapannya bukan anak seorang lelaki yang pernah dikenalnya di masa lalu.
Fabian mengangkat sebelah alisnya. Dia sedikit terkejut dengan perkataan istrinya yang menanyakan tentang keluarga pemuda itu. Tidak mungkin kalau Renata mendukung hubungan mereka, bukan?
Namun, Fabian sebenarnya turut penasaran karena wajah pemuda itu sangat mirip dengan seseorang yang tampak familier.
“Saya rasa Om dan Tante mengenal orangtua saya.”
Keberanian pemuda itu patut diacungi jempol. Karena bagaimanapun pemuda itu yang pertama kali berani menghampiri mereka dan bertamu ke sana seorang diri. Tak seperti pemuda yang lain yang hanya berani mengajak Celia pacaran sembunyi-sembunyi dan pergi saat disuruh pergi.
“Saya anak dari Dokter Jamie,” ucap Collin menatap Fabian dengan pandangan lurus.
Pemuda itu tak mengalihkan pandangannya. Dia ingin melihat reaksi orangtua Celia yang tampak menegang mendengar pengakuannya.
“Kalau kamu sudah menghabiskan minumanmu, Kamu sudah diperbolehkan keluar. Pintu keluar dari rumah ini masih sama.” Fabian kemudian bangkit meninggalkan ruang tamu itu. Mengusir Collin dengan setengah kasar tanpa alasan jelas kenapa dia ditolak. Fabian terlalu terkejut saat mendengar nama seseorang di masa lalu mereka. Dan dia sangat menghindari nama orang itu sejak kejadian di masa lalu.
“Maafkan Om dan Tante. Kami harap kamu menyerah saja karena hubungan kalian tak mungkin diterima suamiku,” ujar Renata yang berdiri dari duduknya.
“Tapi mengapa, Tante? Aku perlu jawaban yang jelas alasan penolakan kalian,” ujar Collin masih tak ingin menyerah.
__ADS_1
“Pulanglah. Keluargamu pasti menunggumu untuk makan malam,” ucap Renata seraya tersenyum.
Wanita itu kemudian meninggalkan Collin yang juga bangkit dan pergi meninggalkan rumah kekasih hatinya. Renata kembali ke dalam ruangannya. Dia tanpa sengaja mendapati Celia yang terduduk dan bersembunyi di balik sebuah kursi yang ada di ruang tengah. Menutup mulutnya menahan tangis agar tak terdengar oleh orangtuanya saat dia mencuri dengar pembicaraan mereka.
Renata menghampiri putrinya dan menuntun gadis itu bangkit dan duduk di atas sofa yang menghadap ke layar 34 inci di ruang itu.
“Lupakan dia, Celia. Kamu sudah tahu bagaimana reaksi Daddy-mu. Untuk Collin, kami tak bisa menerimanya. Bukalah hati pada pemuda lain. Dan kalau memang dia serius, pinta dia untuk mendatangi orangtuamu ini.”
Renata menghapus jejak air mata yang mengalir di pipi anak gadisnya. “I really love him, Mom,” ucap Celia dengan suara lirih.
“I know. But, it’s impossible. Kalian berdua tak mungkin bisa bersama,” sahut Renata.
“Jadi, kalian sengaja membuka pintu kamar dan membiarkan aku keluar hanya untuk hal ini, bukan? Untuk mendengar penolakan kalian kepada Collin?” tanya Celia beruntun sambil terisak-isak.
Renata tak menjawab pertanyaan putrinya itu. Sebagian perkataannya benar. Tapi awalnya tak pernah terpikir kalau Fabian menolak pemuda itu dengan cara seperti itu.
“Siapa Dokter Jamie itu, Mom? Dan mengapa kalian sangat tak suka?”
“Itu hanya bagian dari masa lalu. Ayo kita makan malam dahulu,” ucap Renata mengajak putrinya.
Wanita itu tampak menghindar seolah tak ingin mendengar tentang seseorang yang bernama Dokter Jamie itu. Renata melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Namun, terpaksa terhenti karena pertanyaan putrinya yang frustrasi.
“Mengapa kami harus menanggung masalah kalian di masa lalu? Kenapa kami yang merupakan anak-anak kalian yang harus tersakiti? Kenapa, Mom?” seru Celia diiringi tangisnya yang kembali pecah.
Renata tak menjawab. Dia kembali melangkahkan kakinya menuju ruang makan di mana suaminya sudah menunggunya untuk makan malam. Dia mengabaikan Celia yang masih menangis di ruang tengah karena mengetahui hubungan asmaranya yang ditentang oleh mereka.
to be continued ♥️
thanks for reading
__ADS_1
jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚
Yuuuk kasih hadiah banyak2 biar aku semangat update nyaaa