
selamat membaca ♥️
Fabian bergeming. Pria itu diam seribu kata. Ingin rasanya pria itu meminta maaf pada putrinya atas kesalahannya yang menyetujui permintaan Rian yang melamar putrinya.
Dalam pikiran Fabian, dia menyetujui Rian karena pria itu tinggal di Indonesia. Sehingga akan lebih mudah memantau dan bertemu dengan Celia kapan pun tanpa terhalang jarang dan menghabiskan waktu lama di perjalanan.
Sementara Collin, selain karena pria itu adalah anak dari Jamie, Dia takut kehilangan Renata juga. Masa lalu antara Jamie dan Renata, masih menjadi bayang-bayang dalam hidupnya. Bahkan, tidak menutup kemungkinan nantinya akan ada perasaan lama yang muncul kembali di antara Renata dan Jamie, Fabian sangat menghindari itu.
Belum lagi Collin bukan warga negara Indonesia karena pemuda itu sudah lama menetap di Jerman.
Renata yang ikut bersama dengan Collin ke rumah sakit, membantu putrinya yang saat ini terduduk sembari menangis tanpa henti.
“Tenanglah, Sayang. Dia pasti tak apa-apa,” hibur Renata kepada putrinya.
“Dia, Dia melawannya sendirian, Mom. Dia-”
“Mommy yakin dia pria kuat. Dia tak semudah itu untuk menyerah apalagi untuk kamu,” ucap Renata meyakinkan Celia.
Celia masih tak bisa menghentikan laju air matanya yang kian deras.
Hingga saat pintu ruangan itu dibuka dan seorang suster keluar dari sana, Celia mengusap air matanya dan bangkit mendekati perawat itu.
“Bagaimana keadaan mereka, Sus?”
“Mbak siapanya ya?”
“Saya walinya,” ucap Fabian yang mendekat dan menyela Celia.
Gadis itu membulatkan kedua matanya. Ia ingin menyangkal hal itu namun Mommy-nya menggelengkan kepalanya, memberi isyarat kepada Celia agar membiarkan Fabian mengurusnya.
“Keduanya sudah melewati masa kritis. Baik Nyonya Hana dan juga Tuan Collin, sudah bisa dipindahkan ke kamar rawat. Mohon bantuannya untuk mengurus administrasi,” ucap perawat itu menunjukkan jalan kepada Fabian untuk mengikutinya ke bagian administrasi rumah sakit.
“Tunggu di sini,” ujar Fabian kepada istrinya yang menganggukkan kepalanya.
Renata menggiring Celia agar duduk kembali di bangku panjang itu seraya menunggu Fabian mengurus administrasi dan menunggu Collin dan Omanya dipindahkan.
Beberapa menit setelah kepergian Fabian, Jamie yang baru tiba dari bandara, akhirnya menginjakkan kakinya di rumah sakit itu juga. Pria itu menuju ruang ICU sesuai informasi dari petugas resepsionis. Dia melangkah lebar agar segera sampai di tempat tujuan.
Langkahnya terhenti saat melihat sesosok wanita yang pernah singgah di hidupnya. Perlahan pria itu mendekat. Hingga wanita yang saat ini terduduk memeluk putrinya hanya beberapa langkah saja jaraknya.
“Renata,” sapa pria itu.
__ADS_1
Wanita yang disebutkan namanya itu mengurai pelukan dengan putrinya. Wanita itu menoleh ke arah sumber suara. Sesosok laki-laki yang ia kenal tersenyum ramah.
“Jamie,” desis Renata.
Keduanya bertatapan dalam diam. Membuat Celia bergantian menatap dua orang yang tak lagi muda itu.
“Siapa dia, Mom?” tanya Celia akhirnya.
“Oh, kamu Celia, kan? Hai, Princess,” sapa Jamie mengakrabkan diri pada Celia yang sudah beranjak dewasa.
Celia menoleh kepada ibunya.
“Dia Dokter Jamie, papanya Collin,” ucap Renata memperkenalkan pria yang menyapa putrinya itu.
“Oh, hai, Om,” sapa Celia sedikit kaku dan Jamie hanya tersenyum saja. Ia tahu pasti Celia lupa dengannya karena mereka bertemu ketika Celia masih sangat kecil.
“Bagaimana keadaan Collin?”
“Dia akan dipindahkan. Bersama dengan Oma Hana,” jawab Celia mendahului Mommy-nya yang hendak menjawab pertanyaan pria itu.
Renata hanya menganggukkan kepalanya, setelahnya dia menundukkan kepalanya tak ingin menatap Jamie terlalu lama.
Mereka tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang menatap mereka dari kejauhan. Fabian melihat bagaimana istrinya berinteraksi dengan orang di masa lalunya. Ada sedikit perih yang dia rasakan saat pria itu kembali bertemu dengan istrinya.
Berulang kali ia mengembuskan napas berat, mencoba menghalau pikiran buruk tentang istrinya. Lagi pula masa lalu istrinya dengan pria itu telah berakhir. Jadi untuk apa dia masih merasa risau.
“Celia?” panggil Fabian.
Tiga orang itu menoleh menuju sumber suara yang berasal dari kejauhan.
Pria itu tersenyum saat melihat istrinya tersenyum bahkan menghampirinya, meninggalkan pria yang hanya berjarak beberapa langkah saja di hadapannya.
“Aku memanggil Celia, kenapa kamu yang mendekat?” ledek Fabian dengan rasa cemburu yang mati-matian ditahannya.
Renata mengamit lengan suaminya yang ia tahu saat ini sedikit terganggu karena Jamie menemuinya.
“Jadi tak boleh?”
“Boleh, dong,” sahut Fabian seraya merapikan anak rambut istrinya ke belakang telinga.
“Hai,” sapa Jamie menyapa Fabian. Pria itu mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Fabian menyambut uluran tangan pria itu seraya tersenyum. “Kapan datang?” ucap Fabian berusaha mencairkan suasana.
“Baru saja,” jawab Jamie singkat.
Saat mereka hendak terlibat percakapan lebih jauh, pintu ruang ICU itu terbuka. Beberapa perawat mendorong dua buah brankar, di mana Oma Hana dan Collin terbaring di atasnya. Mereka hendak dipindahkan ke ruang rawat inap karena mereka telah melalui masa kritis.
Empat orang itu mengikuti perawat yang berjalan lebih dahulu menuju kamar yang telah disiapkan oleh pihak rumah sakit sesuai permintaan Fabian.
***
Collin dan Oma Hana ditempatkan di ruang berbeda. Awalnya, Fabian hendak meminta ruangan Oma Hana dijadikan satu dengan Collin. Namun, karena suatu hal, dokter menyarankan agar dua pasien itu ditempatkan di kamar terpisah.
Setelah dokter dan perawat meninggalkan ruang perawatan pasien, Empat orang berbeda usia itu terjebak dalam keheningan. Tak ada percakapan di antara mereka hingga akhirnya Fabian memecah kesunyian. Menghindar dari suasana canggung antara dirinya dengan Jamie yang beberapa saat lalu tiba.
“Aku akan menjaga Oma Hana,” ucap Fabian yang kemudian berjalan menuju ruangan di mana seorang wanita tua ada di sana.
Setelah Fabian memasuki kamar rawat Oma Hana diikuti dengan Renata di belakangnya, Jamie meminta Celia untuk menjaga Collin.
“Ada yang ingin Om lakukan. Om titip Collin sebentar,” pinta Jamie yang dijawab anggukan oleh Celia.
Setelah memastikan Celia masuk ke dalam kamar rawat Collin, Jamie berjalan menuju kamar Oma Hana di mana Renata dan Fabian ada di dalamnya.
Pria itu mengetuk pintu yang baru saja tertutup.
Seorang wanita yang masih cantik meski usianya tak lagi muda, membukakan pintu ruangan itu.
“Maaf mengganggu, bolehkah aku masuk? Ada yang ingin aku bicarakan,” tanya Jamie kepada Renata dan Fabian.
Fabian menganggukkan kepalanya, mengisyaratkan agar Renata membukakan pintu lebih lebar hingga pria itu bisa masuk ke dalam ruangan.
Tiga orang dewasa itu duduk di sofa yang ada di ruangan rawat VIP itu. Renata duduk berdampingan dengan Fabian di sofa yang sama. Sementara Jamie, di sofa lainnya yang tak jauh dari pasangan itu.
“Katakan, apa yang ingin kamu bicarakan?” ujar Fabian dengan nada dingin.
Jamie terdiam sejenak menundukkan kepalanya.
“Ini mengenai Celia dan Collin,” ucap Jamie yang kemudian mengangkat wajahnya, memulai pembicaraan.
to be continued ♥️
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa
__ADS_1